Kekonyolan di Mana-Mana

caricatures-carl_gustaf_folke_hubertus-carl_xvi_gustaf_of_sweden-cartoon---mhan17_low.jpg
Carl XVl Gustaf | The King of Sweden

Perbedaan antara kebodohan dan kecerdasan adalah bahwa kecerdasan ada batasnya | Anonim

Ini sebuah cerita tentang Nombeko, gadis cilik tidak beruntung dari kawasan pemukiman terkumuh terbesar di Afrika Selatan sana. Jika di survey, maka hanya akan terdapat satu jenis pekerjaan di tempat terbobrok tersebut: menguras jamban. Tapi beruntungnya, dia pintar. Otaknya menjangkau segala hal yang bisa dihitung. Matematis dan non-matematis. Sayangnya, si Nombeko seorang buta huruf.

Nombeko menguras jamban dari usia belia sampai umurnya sudah mencapai dewasa untuk dikatakan menarik oleh Thabo, paruh baya yang begitu gendut.

Meski si Thabo ini tinggal di gubuk dan juga temasuk dari ribuan penguras jamban, diam-diam dia menyimpan seluruh harta kekayaannya di bawah tanah di balik gubuknya yang reyot. Dan, juga, ribuan buku dari perjalanannya mengelilingi beberapa tempat di dunia.

Nombeko sudah tahu jika Thabo menyimpan banyak buku.

Dengan penuh tipu daya alias kecerdasannya, Nombeko menjadi salah satu pemimpin dari penguras jamban setelah beberapa tahun bekerja. Dan, dia berhasil mempermalukan manager sebelumnya karena telah berani berdebat dengan Nombeko.

Pier du Toit, nama pemuda gagal itu, salah mengkalkulasi keuntungan dan kerugian perusahaan. Karena ternyata jawaban Nombeko lah yang benar. Kasian.

Suatu ketika, Thabo mengundang Nombeko ke gubuknya. Ternyata, undangan Thabo ke Nombeko adalah merayunya. Tapi tidak, belum lagi Thabo berbuat apa-apa, sebilah gunting sudah masuk ke paha Thabo. Sakitnya jelas, di hati dan di paha.

Thabo sepertinya tidak kapok. Kali lain Thabo lebih hati-hati. Tapi Nombeko lebih awas. Maka Nombeko terpaksa harus mencancapkan gunting kesayangannya untuk kedua kalinya ke paha Thabo yang sebelah lagi. Dan kali ini, menancap dengan lebih dalam.

Nombeko tidak punya harta apa-apa. Maka, untuk kali ketiga dia datang ke gubuk Thabo. Tujuannya? Mengambil gunting yang masih tertancap di paha Thabo. Sebab hanya itulah benda berharganya.

Adegan Thabo dan Nombeko berakhir damai. Thabo mengajari Nombeko membaca dan mengisahkan kisah-kisahnya selama mengelilingi sebagian dari dunia, meski Nombeko tahu sebagiannya adalah karangan.

Nombeko jelas dengan sangat lahap membaca habis semua buku-buku langka dan bermutu yang dimiliki Thabo. Dan juga semua buku yang ada di perpustakaan Soweto, tempat administrasi pengurasan jamban ini berada. Semakin cerdaslah si Nombeko.

Tidak beruntungnya, guru membaca Nombeko ini mati diserang perampok. Nombeko mengucapkan salam perpisahan, mengambil guntinya, dan sejumlah berlian yang nilanya jutaan dollar milik Thabo. Dengan ini pula, Nombeko lalu pergi jauh-jauh dari Soweto.

Setelah menimbang-nimbang dengan berbagai pertimbangan statistik, ia menuju ke Pretoria, salah satu kota teraman di Johannesburg, Afrika Selatan.

Maka, dengan ini, dimulailah pengalaman dan perjalanan gila Nombeko. Bertemu dan dikelilingi oleh orang-orang konyol, bodoh, dan bebal dari berbagai penjuru. Mulai dari Soweto, Pretoria, Johannesburg, tanah Swedia, dan akhirnya balik lagi ke Afrika Selatan.

Yah, seperti itulah orang pintar. Dalam cerita ini, Jonas Jonasson merasa bahwa kepintaran Nombeko itu harus diimbangi –meski biasanya Nombeko yang selalu kawalahan dan terbebani- dengan orang-orang bodoh dan konyol disekelilingnya.

Persis seperti hari-hari ini, kita sering geram dengan orang yang begitu konyol, tanpa hati-hati berbuat tanpa berpikir terlebih dahulu. Maka, sebaiknya, dari sekarang, mari kita hindari orang-orang ini. Sebelum mereka menghancurkan hidup kita lebih jauh.

Hehehh…

Nah, bacalah buku ini sekarang juga. Bisa dipastikan Anda akan sangat kesal dengan Insyinyur Van der Westhuizen yang tidak bisa menyelesaikan finishing bom atom dan Nombeko yang harus menyelesaikan formula yang sangat kompleks tersebut, Agen Mossad Israel A and B yang katanya cerdas tapi tetap selalu bisa dikelabui oleh Nombeko.

Juga kepada beberapa saudara Tiongkong yang selalu membuat Nombeko khawatir akan dipenjara seumur hidup, juga kepada Holger Satu dan Celestine –pacarnya- yang selalu membuat ulah sampai detik-detik terakhir.

Tapi orang-orang cerdas juga harus ada menemani Nombeko untuk menanggulangi kebebalan dan kekonyolan di dunia ini. Seperti Raja dan Perdana Menteri Swedia, Presiden Hu Jintao –kenalan lama Nombeko-, dan tentu saja, kekasihnya, Holger Dua.

***

Saya sangat puas. Happy ending. Tapi karya ini memang sangat layak untuk jenis akhir yang seperti itu, karena perjalanan yang begitu panjang. Sehingga suka tidak suka, kita barangkali tidak akan protes dengan pengakhiran kisahnya. Sebuah cerita tentang Nombeko, gadis cilik dari Afrika Selatan, dan kekonyolan yang tak terhingga yang menimpa dirinya.

Penuh humor di sana-sini. Meloncat dari satu baris ke baris yang lain. Dari satu halaman ke yang lain. Berkelindan dengan dialog-dialog yang sangat tidak mungkin diprediksi. Jonas mengaku kalau karyanya ini, “as a very stupid book”.

Nikmatilah sajian yang begitu meletup-letup ini, dari Jonas Jonasson, “The Girl Who Saved The King of Sweden”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s