Anak-Anak, Bagaimana Kabarmu?

DSC05638
Rasanya memiliki hutang itu, tidak enak. Saya masih memiliki janji yang hingga hari ini belum tertunaikan. Bukan dengan orang dewasa, tapi dengan anak-anak.

Anak-anak di ujung gunung sana begitu spesial dengan caranya masing-masing. Setiap mereka menyimpan kisah dan memberikan pelajaran sendiri bagi saya.

Anak-anak, yang menjadi teman dan kawan yang sangat berarti ketika penempatan. Anak-anak, yang berperan sebagai guru yang paling setia mendampingi saya seharian. Belajar dan bercerita tentang apa saja.

Tentang panen Pala, tentang Tete manis, Persipura, angkat pasir untuk proyek, durian yang melimpah, kisah bermalam di hutan, kondisinya di rumah, jumlah ikan gabus yang dipancing di sungai, rusa yang dijerat di hutan, kue lontar, atau hari raya (Natal) yang seperti kata mereka selalu, “pa’ guru, hari Raya su deka”. Dan, masih banyak lagi.

Waktu itu, di hari-hari terakhir saya berada di kampung, saya telah mengikat janji dengan mereka.

“pa’ guru harus janji untuk kirim surat ke kitong, pa’ guru eeee?

Mereka ingin, jika saya sudah tidak di Fakfak lagi, mereka masih bisa membaca surat berisi dorongan untuk terus belajar, dan dengar-dengaran deng perintah orang tua dan guru di sekolah. Meski, setiap hari, dulu, nasehat seperti itu sudah sering kali kuberikan.

“iya nak, pa’ guru akan kirim surat semangat ke kamorang smua”

Menjelang setahun, saya belum bisa berkirim apa-apa. Sedih juga rasanya. Padahal saya tinggal memulai. Mengambil kertas hvs, lalu menorehkan pesan-pesan yang beraneka rupa warna, serta menyelipkan beberapa lembar potret saya yang sudah berada begiiiituuu jauh.

Bukan lagi di kampung yang nun di pelosok sana. Menemani mereka les sore atau bermain bola, atau memanjat manggis dan jambu air, ke sungai dan air terjun.

Waktu perpisahan, anak yang paling pendiam di antara mereka berceloteh,

“pa’ guru, jang lupakan kitong di kampung ini”

Alih-alih ingin menghambur ke anak ini karena membuat saya tersentuh, saya ingin menjitak kepalanya.

Ada kerisaukan dalam kalimat anak ini.

Saya berpikir keras untuk menemukan tangkisan yang tepat dan membalikkannya menjadi sebuah kegembiraan.

Lagipula saya tidak begitu bodoh untuk mau melupakan segala kebaikan yang saya peroleh di kampung ini, Pikpik.

“nak, di kepala pak guru ada otak yang terus bekerja. Seperti kamorang semua punya. Otak punya fungsi kasi simpan semua yang kitorang su pelajari.”

“ pak guru menyisakan banyak bagian otak untuk menyimpan kamong pu cerita-cerita semua.”

 “jadi, sampai kapanpun, jika Tuhan berkenan, bapak akan terus ingat kamorang satu-satu.”

Jika memang surat semangat itu tidak akan pernah jadi saya kirim, berarti saya benar-benar dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk itu. Biarlah tulisan ini sebagai tanda bahwa saya (selalu) mengingat mereka. Kapanpun itu.

Salam.
Bapak Guru Fadli.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s