The 100-Year-Old-Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared

Posted: July 10, 2016 in Artikel
Tags: , ,

1408599374378.jpg-620x349

Dibanding The Girls Who Saved The King of Sweden, buah tangan Jonas Jonasson satu ini benar-benar menyenangkan. Tak ada yang lebih menggembirakan selain menyusupi tingkah para tokoh-tokohnya dari awal hingga akhir. Saling menelikung sebab percakapan yang terjadi begitu cepat bagai berada dalam naskah drama.

Upaya yang dilakukan Jonas cukup cerdas menggabungkan dua alur waktu yang saling berganti-ganti. Petualangan Allan Karlsson –tokon utama- ketika mencapai umur 100 yang beriring dengan kilas balik perjalanan fantastisnya mengelilingi dunia. Latar sejarah masa muda Allan merujuk ke masa antara dua perang dunia hingga berakhirnya komunisme.

Sebuah kenyataan konyol bahwa dia terbiasa merakit bom sejak kecil karena pernah bekerja di pabrik TNT dan dianggap sosiopat sejak remaja. Pengetahuannya membawa dirinya ke dunia yang penuh kekacauan politik dan perang. Di tahun-tahun berikutnya, ia belajar diam-diam cara kerja bom atom dari jenius Fisikawan, Rutherford dan ilmuwan lainnya yang bekerja dengan Amerika.

Sehingga bukan sebuah kebetulan jika pada waktu itu mampu mengejutkan orang-orang dengan menciptakan sebuah perumpaaan sederhana yang diekstrak dari ratusan persamaan kompleks untuk bom atom pertama di dunia. Sang tokoh kemudian menjadi terkenal di antara para pemimpin dan mata-mata dari bangsa-bangsa yang bertikai pada saat itu.

Karakter Allan Karlsson digambarkan sebagai orang yang luar biasa santai, tidak tahu berbasa-basi, tidak tertarik dengan wanita, penggemar vodka kelas berat, dan membenci politik 100 persen karena ketertarikannya hanya pada cara membuat bom, dari yang biasa sampai skala atomik.

Kepiawaiannya merakit bom atom -sesuatu yang membuat bergidik Soviet, Tiongkok, dan Amerika- membuatnya di masa muda dikenal baik bahkan dianggap sahabat oleh Mao Tse Tsung hingga Ronald Reagan. Sementara semua teman-temannya berkalang tanah, ia masih tetap melanjutkan hidup di renang rata-rata usia orang Jepang. Seratus Tahun.

***

Nah. Buku ini dimulai dengan tingkah yang cukup ganjil. Seorang Allan tua –mari kita sebut sebagai kakek Allan- yang akan berusia 100 tahun, sebuah usia yang pasti tua renta, ingin mengalami proses melarikan diri dari kehidupannya yang membosankan di Panti Jompo.

Kota kecil Malmkoping di Swedia sedang berbahagia dan akan mengalami perisitiwa yang sangat langka. Merayakan hari jadi keseratus bagi seorang penduduknya yang ajaib, tidak lain adalah Allan. Sebuah pesta diselenggaran untuk merayakan kejadian langka ini. Walikota, beberapa pejabat yang berwenang, tak ketinggalan pula para wartawan semua turut hadir.

Tapi, Allan Karlsson belum muncul….

Sebuah pikiran merasukinya sepersekian detik sebelum perayaan ulang tahunnya dimulai, “melarikan diri”. Tanpa diduga-duga, Allan keluar melompat jendela dari kamarnya.

Yang terpikirkan hanya stasiun terdekat. Mulailah ia berjalan dengan perlahan mengingat usianya. Ia lantas pergi sejauh mungkin dari kota Malmkoping sesuai dengan jumlah uang yang ada di sakunya. Upayanya menghindari para pengasuh di Panti Jompo terhitung sukses.

Tapi sial, ia pergi dengan bus dan tak sengaja membawa sebuah koper yang dimiliki oleh geng kriminal yang ia temui di stasiun. Nilainya 50 juta krona.

Semenjak itu, hidup Allan Karlsson yang usianya seabad itu, seperti kembali jadi anak muda. Petualangan seru, kocak, dan mendebarkan menunggu di depan mata.

***

Tanpa saya sadari, buku ini mengajarkan bagaimana sesekali keluar melompat dari jendela. Keluar dari kebiasaan. Bukan lewat pintu, jendela, ya, jendela. Jalan pintas yang kemungkinan tidak akan ada orang-orang yang tahu. Bahkan diri sendiri tak tahu mau kemana setelah itu. Dan apa tantangan dan keberuntungan yang mungkin saja menghampiri. Tapi kita tidak akan tahu sebelum mencoba, bukan?

Juga, bagaimana belajar untuk menikmati hal-hal yang kita tidak tetapkan tujuannya. Allan ingin pergi. Dan pergilah ia kemana kakinya melangkah bersama rombongan kriminal kecil yang kemudian menjadi teman dekatnya.

Kata Jonas, setiap orang sesekali wajib mengambil aksi melompat “jendela” nya masing-masing. Dan katanya, dalam hidupnya, ia telah “melompat jendela” beberapa kali dalam hidupnya. Anda mau mencoba?

Barangkali banyak yang bisa kita lakukan di luar sana. Menikmati pengalaman yang tidak kita rencanakan. Namun intensi hanya difokuskan untuk benar-benar meresapi dan menikmati kejutan apa yang bakalan terjadi selanjutnya.

Bagi saya, setiap adegan-adegannya sungguh luar biasa menghibur. Saya begitu yakin yang membaca akan mengembangkan senyum dan mungkin akan menghasilkan tawa yang berderai-derai. Ada yang bilang, humor itu ada karena ia sesuatu yang singkat dan spontan. Buku ini, memang penuh dengan itu.

Keluasan pikiran pengaranga dalam politik dan sejarah bangsa-bangsa di dunia dikemas dalam satire yang gilang gemilang lewat bumbu humor telah mampu menyulap karya ini menjadi sangat layak dibaca oleh siapapun.

Oiya, kondisi Indonesia selama kurang lebih tiga dasawarsa –sejak Orde Baru- dirangkum dalam dua alinea berikut.

…..Di Jakarta, Suharto menggantikan Soekarno, dan pemimpin baru ini tidak akan bersikap lembek terhadap penyimpangan-penyimpangan politik yang terjadi seperti pendahulunya. Terutama, Suharto memburu orang-orang yang komunis, dianggap komunis, disangka komunis, kemungkinan komunis, sangat tidak mungkin komunis, dan orang-orang tak bersalah lain. Tidak lama kemudian, antara 200.000 sampai 300.000 orang tewas; jumlahnya tidak pasti karena banyak etnis Tionghoa yang dicap komunis dan diasingkan keluar dari Indonesia, dan mereka harus turun di Tiongkok tempat mereka diperlakukan sebagai kapitalis.

Ketika asa telah hilang, tidak seorang pun dari 200 juta penduduk Indonesia yang masih menganut ide-ide komunis (supaya aman, komunis dinyatakan sebagai kejahatan). Misi berhasil diselesaikan oleh Suharto, yang sekarang mengundang AS dan dunia Barat untuk turut menikmati kekayaan negeri itu. Ini membuat roda ekonomi berputar, orang hidup lebih baik, dan terutama Suharto sendiri menjadi sangat kaya raya. Lumayan juga untuk serdadu yang mengawali karier militernya dengan menyelundupkan gula…..

Dibanding menanti karya penulis fiksi yang lain, saya justru menantikan karya Jonas yang baru. Kita semua suka humor yang cerdas, kan?

* Oiya, buku ini sudah difilmkan, ini dia trailernya.
* Sumber foto: di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s