DSC02977

Kampung Kaburbur

Biasanya, jika orang-orang ingin melepaskan penat dan menyegarkan kembali pikiran, mereka pergi jalan-jalan atau sekalian traveling dalam jangka waktu tertentu. Di tempat-tempat yang memanjakan mata, barangkali di sebuah pantai yang tenang atau di ketinggian dengan terpaan angin gunung: demi ketenangan.

Ada yang menjadikan ini sebagai rutinitas pekanan, bulanan, tahunan, atau tergantung momen. Ada yang menjadikan ini sebagai mata pencaharian (travel writer), atau hobi semata, bahkan yang semata-mata ikut-ikutan demi pencapaian strata di sosial media. Setiap orang unik dengan alasan masing-masing. Semua sah-sah saja dan benar.

Ini benar, tapi ada yang benar-benar penting dan (saya yakin) akan lebih membahagiakan lagi selain memikirkan kesenangan pribadi. Apa itu? membiarkan tubuh mendapatkan haknya memeroleh pelajaran dari alam dan masyarakat. Saya percaya bahwa traveling adalah tentang menunjukkan apresiasi sekaligus empati kepada lingkungan, termasuk manusia yang hidup di dalamnya.

Dan, disinilah saya setahun dua tahun silam, tepatnya 2014. Bepergian dalam jangka tiga ratus enam puluh lima hari lebih di Kabupaten Fakfak Papua Barat. Kramongmongga, sebuah distrik yang berada di daerah ketinggian 1000-1500 m di atas permukaan laut. Sebenarnya, tujuan sebenarnya memang jauh dari jalan-jalan, atau bersenang-senang barangkali.

Kontur alam mengharuskan saya banyak jalan. Just rely on my own two foot. Mencoba mengamati, mendengarkan, dan memahami begitu banyak orang-orang yang saya temui. Beruntungnya saya, masing-masing memiliki isi kepala yang berbeda yang digali dari sudut pandang yang beragam pula. Saya seperti hidup di alam nasehat.

Meski saya beberapa kali mengunjungi tempat-tempat yang luar biasa indahnya, atau selibat dalam petualangan-petualangan menyenangkan sekaligus mendebarkan, ini semata-mata karena keramahtamahan dan kebaikan masyarakat setempat yang begitu sangat.

Keragaman yang Terjaga

Mayoritas penduduk beragama Katolik dan Protestan. Tapi saya tidak tahu mana yang sebenarnya lebih mayoritas, total ada 6 Gereja Katolik dan 6 pula untuk Protestan yang tersebar di 14 kampung. Kampung-kampung ini ada yang letaknya di pinggir jalan utama –masih terhitung jalan lintas kabupaten- ada juga yang harus berjalan kaki atau menumpang perahu untuk sampai ke sana. Oh iya, ada juga 2 bangunan Masjid.

Masyarakat adat memang memegang teguh adat, “Satu Tungku Tiga Batu” namanya.  Mereka adalah satu keluarga dengan tiga pemeluk agama yang berbeda. Setiap marga, pasti memiliki saudara yang berlainan kepercayaan. Misalkan, marga Herietrenggi di gunung agamanya Katolik dan Protestan, sedangkan di pantai pesisir Herietrenggi nya beragama Muslim. Begitu sebaliknya.

Jadi, jangan heran jika kebetulan berada di Fakfak, kawan akan menyaksikan orang-orang akan merayakan Hari Raya secara bersama-sama. Saat Natal, yang Muslim naik (ke gunung), dan marga yang di gunung akan turun (ke pesisir) untuk bergembira secara bersama-sama ketika lebaran. Harmonis, bukan?

Masih ada lagi. Mereka bertemu sepekan sekali untuk merayakan sebuah kehidupan: Pasar. Ya, setiap hari Sabtu pukul 5 hingga 9 pagi, masyarakat gunung dan pesisir akan bertemu di Pasar Mambumbuni, jalan ke arah Dsitrik Bomberay. Lokasi ini letaknya di hulu sungai, katakanlah di tengah-tengah, antara gunung dan laut. Sebuah kegembiraan yang amat sangat bahwa saya bisa melihat orang-orang laut datang dengan perahunya, dan (saya ikut-ikut menjadi bagian) masyarakat gunung: berkumpul di satu titik. Jalanan ditutup!

Wooww. Sebuah pertemuan keluarga, sekaligus ajang hiburan, dan saling bertukar barang kebutuhan masing-masing. Jangan membayakan di sini ada spekulan pasar. Atau perasaan tamak mencari untung banyak. Sekedar memenuhi kebutuhan, lalu pulang, itu lebih dari cukup. Masih ada yang menggunakan barter lho.

DSC00767

Pasar Mambumbuni (pertemuan masyarakat gunung dan laut)

DSC00755

Pemandangan menuju Pasar Mambumbuni

DSC02935

Berangkat menuju Kaburbur

Kaburbur, Titik Paling Eksotik

Nah, di salah satu waktu menjelang akhir pekan, saya memutuskan ke Kampung Kaburbur. Salah dari dua kampung di distrik pegunungan yang penduduknya Muslim. Hal menariknya bukan sekedar itu, inilah kampung dengan keterbatasan akses paling mininum se-distrik.

Teman saya, dokter PTT di distrik yang telah setahun bertugas, menyarankan saya ke sana. Dan betapa saya sangat bangga dengannya sekaligus haru ketika saya mengetahui masyarakat se-distrik memujanya sedemikian hebat, dengan dedikasinya yang luar biasanya agar masyarakat dapat hidup dengan sehat dan terhindar dari penyakit. Pendeta sampai anak-anak mengaguminya.

Kampung Kaburbur terletak di daerah lembah yang berada di tengah-tengah Pegunungan Fakfak. Hanya sekitar 20 puluhan rumah yang menghuni kampung ini. Seluruhnya berada di pinggir aliran sungai yang begitu bening.

Seluruh isi kampung ini dikepung oleh perbukitan yang senantiasa mengeluarkan kabut. Berada di kampung ini layaknya seperti di tengah mangkuk. Sepanjang penglihatan bukit, hutan, dan sungai. Burung-burung hutan dengan suara menarik, cemerlang dan bulu yang penuh rupa warna terbang kesana kemari di antara vegetasi hutan hujan diseilingi bakau.

Tapi demi menuju ke sini, juga bukan perkara yang mudah. Starting point adalah Terminal dan sekaligus Pasar Tambaruni Fakfak, setelah itu mengambil Taksi jalur Distrik Kramonggmongga yang biasa mangkal di depan kios-kios mace-mace yang menjajakan sirih pinang dan hasil-hasil alam.

Perjalanan memakan waktu sekitar sejam. Sejak berangkat, perjalanan selalu menanjak. Mendaki dan memutari gunung. Hingga nanti tiba di Kampung Ubadari. Desa ini dialiri sungai yang sangat jernih, jeram-jeram kecil yang tersusun rapi dan geometrik. Dan yang paling memukau bagi saya, sesusunan air terjun kecil yang mengalir di tengah-tengah desa. Seperti dalam gambar kalender-kalender waktu jaman SD.

DSC02766

Sungai di tengah-tengah kampung Ubadari.

Hulu sungai Ubadari merupakan dermaga mini bagi perahu-perahu yang akan menuju dari dari Distrik Kokas, tetapi utamanya bagi kepentingan pasokan bahan makanan bagi masyarakat setempat yang masih berlokasi di sepanjang aliran sungai yang sama, misalnya Kampung Kaburbur, Kayuni Kawagas, atau bahkan Rangkendak yang berbatasan dengan Distrik Teluk Patipi.

Dari hulu sungai, perjalanan dilanjutkan dengan perahu katinting. Selama 15 menit mengarungi sungai ini, saya dimanjakan dengan pemandangan hutan bakau kiri kanan. Saya merasa jalur sungai ini seperti Kalimantan-nya Distrik Kramongmogga. Menjelang sore kami tiba.

Kepala Sekolah bukan asli masyarakat Kaburbur. Ia dari kampung yang dekat ke arah pesisir, Distrik Kokas. Tapi, meski demikian, beliau orang yang paling dihormati di sini, selain Bapak Imam. Bapak Kepala Sekolah tahu saya dari Kampung Pikpik yang berada di puncak, akan turun berkunjung. Menginap semalam, dan berbagi dengan anak-anak keesokan pagi. Beliau akhirnya datang di tengah langit yang sudah menunjukkan gelapnya yang pekat.

Saya ingat, kami, Bapak Rufinus Mandpoma -Kepala Sekolah-, beberapa pemuda setempat, seorang anak yang sejak tadi sore mengekor di punggung saya -namanya Ismail- dan Kakak Lahaji –guru honor- saling memperdengarkan kisah dan Mop hingga menjelang tengah malam.

Ia berangkat dengan jalan kaki, memilih menggunakan jalur alternatif. Motor disimpannya di ujung jalan utama, lalu sekitar 15-20 menit berjalan kaki melewati jalan setapak yang masih padat dengan hutan-hutan masyarakat.

Sekarung beras ukuran kecil dibawanya, dan beberapa bungkus indomie, telur, dan ikan kaleng. Hanya demi malam ini. Saya terenyuh ketika mengetahui beras itu basah dan belepotan lumpur sehingga hanya bisa disimpan beberapa liter. Jalur ini memang menurun cukup terjal dan licin jika masuk musim menghujan. Tapi, segala yang disajikan dan disantap malam itu, benar-benar nikmat.

Di balik ketenangan sungai, tersimpan hasil kekayaan alam yang berlimpah bagi masyarakat: Kepiting. Sayang sekali, tiga kali kunjungan dan dua kali acara menginap, saya tak pernah di ajak menangkap kepiting. Karena, selalu saja saya di ‘rampok’ untuk crita-crita dengan orang-orang kampung. Mengitari temaram lampu minyak yang disediakan oleh tuan rumah. Selesai saya cerita, mereka pun membagikan kisahnya.

Setelah itu, kami lanjutkan dengan sebuah kegiatan nongkrong berkualitas yang sangat membekas dengan beliau di atas sehelai kalipan. Tentang apa saja. Tentang kehidupan kampung, tentang sekolah, tentang perpustakaan yang kosong, ruang-ruang kelas yang mendekati ambruk.

Beliau juga membagikan kisahnya selama menjadi tenaga pendidik. Kami berhenti bicara setelah Bapak Kepala Sekolah menguap. Tandanya, kita semua sudah boleh tidur. Alhamdulillah. Akhirnya. Hehe.

“Terima kasi nak Fadli su mau datang kemari, datang liat-liat kitorang pu kampung, begini sudah”

“Apalagi, anak (saya) mau kasi pelajaran ke murid-murid. Terima kasih”

Bapak Kepala Sekolah yang setiap hari pengorbanan jarak, waktu, dan tenaga untuk sampai ke sekolah, Ibu guru agama yang terus mengajar anak-anak baik di dalam dan di luar kelas. Juga Kakak guru Lahaji, Kakak guru Nurjani, dan Kakak guru Saripuddin yang cuma tamatan sekolah menengah atas yang selalu membantu mengatasi kekurangan guru di kampung dengan ikut mengajar.

Sayalah yang sejatinya menemukan pelajaran, dan banyak kebijaksanaan. Malam itu, saya istirahat dengan rasa yang bergairah. Tidak sabar menunggu esok, berbagi, belajar, dan bermain dengan anak-anak SD Kaburbur.

Hari ini, 2016 pertengahan, saya tidak pernah lagi tidak dapat kabar apa-apa lagi dari Kaburbur.

Hingga bulan kemarin saya dapat info dari Bapak Kepala Sekolah. “Nak guru, kitong masih begitu-begitu saja, tarada sinyal telfon, listrik juga belum, perpustakaan kurang buku”.

Kabar gembiranya, “murid-murid kelas enam kemarin semua lanjut sekolah nak guru, ada yang lanjut SMP di Kokas, ada yang di kota, termasuk Ismail.” kata bapak.

Namun yang paling buat saya kesal adalah belumnya ada guru PNS baru yang diterjunkan di SD Kaburbur hingga detik ini. Tidak terbayang bagi saya melihat Kakak Guru Lahaji, Kakak Guru Nurjani, dan Kakak Guru Saripuddin mengelola sekolah dengan segala keterbatasan mereka dan fasilitas.

Semoga Tuhan memberikan jalan Ismail dan anak-anak di sana untuk tetap terus bersekolah. Dan, semoga PAUD akan berkembang dengan baik, dan semoga guru PNS akan segera mungkin ditempatkan di sana, dan banyak harapan-harapan saya yang lain.

Semoga buku-buku yang sempat kami titipkan waktu itu atas bantuan dari beberapa pihak termasuk Perpusda Fakfak bisa membantu para pendidik di sana agar semakin maju. Demikian juga anak-anak.

Advertisements
Comments
  1. Zahid says:

    Keren ko punya kisah

    Liked by 1 person

    • mujahidzulfadli says:

      haha,,, tarada pace Zahid. biasa saja. Kenangan ini terjebak ruang dan waktu, jadi baru sempat curhat di blog. Bapak Zahid, beta tunggu ko pu crita2 di Borneo eee. Gantian toh.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s