(Apapun) Cita-Cita Anak, Orang Tua (Harus) Mendukung

Posted: September 12, 2016 in Artikel, Reportase
Tags: , , , , ,
dsc00667

Pesawat Pikpik, Kebanggan Kelvin (dok.pribadi)

Cerita tentang Kelvin

Nah, saya akan memulai dengan sebuah cerita. Sekitar dua tahun silam, saya punya anak murid yang memiliki bakat dalam berkesenian, khususnya menggambar. Baginya, tiada hari di kelas tanpa mencorat-coret sebidang kertas dan menghiasinya dengan berbagai macam warna. Namanya Kelvin.

Kakaknya yang juga bersekolah di tempat yang sama, kadang kesal dan marah pada Kelvin karena baik di rumah dan di sekolah, kerjanya hanya menggambar dan menggambar. Begitu juga orang tuanya. Sekolah kami terletak di sebuah distrik pegunungan, Papua Barat.

Buku gambar yang dimilikinya selalu saja penuh, dan ini membuat saya harus mengambil stok yang baru di sekolah untuknya. Saya sangat paham, dan sangat mendukung setiap apa yang diupayakan oleh Kelvin. Ya, setiap anak unik dengan caranya masing-masing. Dan hal inilah yang saya sering saya sampaikan ke orang tua Kelvin.

Tugas saya ‘mengamankan’ posisi Kelvin jika keluarganya protes dan marah-marah. Sampai, pada suatu ketika, Kelvin menggambar sebuah model pesawat yang dikelilingi oleh latar kampung dan gunung gemunung yang mengelilinya.

“nak Kelvin, kamorang ini ada gambar apa?” selidik saya.

ooo, pa’ guru, ini pesawat Pikpik (nama Kampung kami). Beta mau buat yang seperti ini supaya kitorang nanti orang-orang kampung bisa pi (pergi) Manokwari (Ibu kota Papua Barat) trus bisa beli barang-barang, depu (dia punya) harga itu murah.”jelasnya.

Akses darat dan pulau-pulau terluar yang sulit di daerah Papua, harga-harga yang jauh dari normal dan biaya komunikasi yang juga tidak murah adalah hal yang biasa. Dan Kelvin, sudah lebih dulu ber-imaji bagaimana itu bisa dipecahkan dengan pikiran kanaknya. Ide dan jiwanya mendahului usianya.

Kelvin, kelas III SD yang belum lancar perkalian tujuh hingga sembilan karena sibuk dengan pensil warna dan kertas. Bahwa Kelvin punya cita-cita yang besar untuk terus berkreasi dengan tangan dan imajinasinya, itulah hal yang harus orang tua pegang sekaligus support dengan teguh. Juga orang-orang tua yang lain.

Tahun mendatang, tentu, Kelvin sudah duduk di kelas enam. Saya tidak bisa menebak, (tapi) semoga ada rencana kecil yang telah dibuat oleh orangtuanya untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat SMP.

Cerita tentang Ana Mustamin

Tersebutlah, pada suatu masa yang lampau ada seorang anak perempuan lincah, punya bakat berkesenian juga –sama dengan Kelvin-, dan jago eksakta di sebuah perkampungan kecil di Bone Sulawesi Selatan.

Sejak masa kanak, ia sudah memperlihatkan bakat dalam dunia kepenulisan. Tapi, tentu saja, ide-ide menulis yang bertumbuh di kepalanya, ia peroleh dari berbagai sumber bacaan yang terseia di rumahnya kala itu. Kondisi lingkungan yang direkayasa orang tua perempuan pengarang buku “Perempuan Perempuan”ini mendukungnya untuk belajar, membaca, dan menjelajah ruang-ruang ide. Apa saja.

“tulisan saya sudah dimuat di harian salah satu harian di Sul-Sel waktu itu, kolom anak-anak, namanya Mimbar Karya, sewaktu kelas 5 SD” kata Ibu Ani sumringah mengingat masa kanaknya.

Bakat yang menjadi keterampilan ini terus diasahnya oleh Ana Mustamin hingga memasuki masa remaja. Dan pada akhirnya, karyanya berhasil diterbitkan secara nasional dalam majalah Gadis! di umur 15 tahun. Orang tua, tak bisa dipungkiri, sebagai aktor yang sangat baik dalam menunjang apa yang menjadi passion dan kecintaannya, demi mewujudkan cita-cita anak.

Ada adagium terkenal di kalangan administrator,  “gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan”. Setelah sadar akan potensi dan minatnya yang cukup besar untuk menulis, Ibu Ana Mustamin masuk di jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Hasanuddin. Lalu, gelar kedua ia peroleh di Universitas Indonesia untuk spesialisasi marketing communication.

Dari staf biasa di Bumitera Makassar di awal 90-an hingga sekarang menempati jabatan di pucuk dewan direkasi, nilai plus “label penulis” begitu menguntungkan menurutnya. Ia sebut bahkan, ‘jalan tol untuk mempercepat kenaikan karirnya’. Dengan kata lain, cita-cita Ibu Ana, berbalas dengan sangat manis.

“Hobiku adalah pekerjaanku”Kesyukuran Ibu Ana sangatlah besar. Bakatnya menulis sejak masa kanak mengantarkan kariernya melesat jauh. Bahkan di sela-sela aktivitas, sampai saat ini beliau aktif menghadiri forum-forum bernafas literasi.

Ia membacakan puisi, membincangkan karyanya di berbagai tempat, menerbitkan buku, menjadi editor, dan banyak lagi.

Memang tidak adil rasanya, saya membandingkan kisah Kelvin dan Ana Mustamin, tapi, saya berhasil memetik pelajaran baru dari segi perencanaan pendidikan anak. Atau dalam skala lebih besar, bagaimana perencanaan tersebut memengaruhi percepatan pembangunan manusia Indonesia ke depan dengan bekal pendidikan yang lebih baik.

Jika disimpulkan, ada beberapa nasehat dari seorang Ana Mustamin tentang bentangan hidupnya, utamanya kepada para orang tua ataupun calon orang tua kelak:

Pertama: sedia payung sebelum hujan. Untuk anak, orang tua harus selalu punya perencanaan yang baik untuk keberlangsungan hidup (kesehatan dan pendidikan) mereka ke depan. Perencanaan yang baik adalah bentuk kewaspadaan orang tua dalam mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Nah, sehingga ketika hujan dan segala bentuk resiko benar-benar datang menghampiri, orang tua bisa dengan lega berucap, “saya sudah menyiapkan payung”. Salah satunya, dengan ikut ber-asuransi.

Kedua: penuhi ambisi anak, bukan ambisi orang tua.Orang tua memaksakan sesuatu yang bukan merupakan kemauan anak sendiri. Pada akhirnya, anak hanya menjadi alat untuk memenuhi dan memuaskan sejumlah keinginan orang tua. Jamaknya, pola-pola seperti ini sering terjadi pada lingkungan keluarga yang seragam.

Anak harus menjadi dokter seperti ayah ibu nya lah, menjadi arsitek seperti bapaknya lah, meneruskan usaha keluarga dengan menjadi pengusaha lah, dan sebagainya. Ambisi-ambisi seperti ini sah-sah saja, tapi tidak dengan mematikan karunia terbesar yang mereka miliki: bakat dan minat anak.

Ketiga: Ciptakan lingkungan di rumah yang membantu mengenali dan membentuk cita-cita anak. Di sini, kata kuncinya adalah ‘rekayasa lingkungan’. Di dalam rumah, orang tua membantu menciptakan situasi yang merangsang anak untuk menemukan kesukaan mereka. Misalnya, dengan mengatur sedemikian rupa buku-buku di dalam rumah –dibuat dengan kesan rapi atau berantakan tidak masalah- dengan berbagai macam gambar dari berbagai bidang, fiksi hingga ilmu pengetahuan.

Perlakuan yang datang dari orang tua untuk mendukung tumbuh kembang ke arah yang diinginkannya, barangkali, saya pikir pilihan yang begitu bijaksana dan demokratis.

Semua poin di atas, bukanlah jaminan tentunya. Atau pakem agar kehidupan anak bisa lebih baik . Tetapi, saya percaya bahwa seperti bangsa-bangsa di dunia lain yang memiliki punya basic value, Indonesia mesti punya semacam kultur yang bisa kita bangun keroyok bersama-sama. Jepang punya “Bushido” misalnya. Semangat dari nilai-nilai inilah yang mempersatukan kita semua untuk memberikan kekuatan terbesar pada bangsa: investasi sumber daya manusia.

Kita tahu bangsa yang kuat ialah bangsa dengan gabungan dan kumpulan individu-individu yang cemerlang. Sialnya, pendidikan benar-benar merupakan satu-satunya katrol untuk menghasilkan pribadi-pribadi yang demikian. Tidak ada jalan lain.

Bonus demografi di tahun 2030 dengan jumlah usia produktif yang jauh lebih besar, insya Allah bakal menjadi tidak maksimal dengan anak-anak bangsa yang tidak kompetitif dan tidak punya daya saing tinggi. Sekali lagi, prioritas pendidikan, harus jadi yang terdepan.

Finlandia butuh lebih 35 tahun menyukseskan sistem pendidikannya yang membuat Amerika terpaksa jadi iri. Memakan waktu yang lama? Iya, tidak ada masalah. Investasi pendidikan akan sangat jauh lebih berharga.

Future value-nya memiliki nilai yang begitu besar. Karena, kita semua, berinvestasi pada perencanaan pembangunan manusia.

Atau, jangan-jangan,,, kita perlu tidur dan bermimpi bahwa Indonesia langsung bisa berada dalam percaturan internasional tanpa pendidikan dan pola pikir yang lebih baik? Atau, jangan-jangan,,, kita ingin melihat lebih banyak lagi Kelvin-Kelvin yang lain tidak bisa meneruskan sekolah karena minimnya biaya? Tentu tidak, bukan?

***Selengkapnya di Kompasiana***

Advertisements
Comments
  1. leniaini says:

    sebuah pe-er, bagi siapapun. anak, orangtua, maupun calon orangtua untuk memajukan pendidikan biar sekolah ga cuma sekadar “mesin pencetak” dengan nilai akademik

    Liked by 1 person

    • mujahidzulfadli says:

      terima kasih sdh berkunjung leniani, utk komennya. yap,sepakat. nilai akademik tidak akan pernah bakal memberikan jaminan lolosnya mereka dari kompleksnya tantangan di kemudian hari. Mempersiapkan mereka dengan karakter itu begitu jauh lebih penting.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s