Dua Potong Biskuit untuk Semua Teman Sekelas

Posted: October 19, 2016 in Opini, Reportase
Tags: , , , ,
dsc08288

Martha, pakai topi kebanggaan (dok.pribadi)

Guys, pagi ini, saya benar-benar tidak menyadari bakal menyaksikan sebuah -katakanlah ini kejadian langka. Sebuah pesan kebaikan yang tidak saya duga sama sekali. Dari seorang Martha, murid saya di kelas dua SD.

Martha memiliki wajah yang imut, bola mata yang selalu besar dan antusias, rambut keriting khas Papua dengan wajah manis apalagi bila tersenyum ramah. Ia tergolong pemalu. Namun, sekilas anak ini tampak beda dibanding yang lain.

Ia dihormati dan disayang sama semua teman-temannya. Anak ini jarang mendapat gangguan yang berarti dari kejahilan teman-temannya. Apa yang membuatnya seperti itu? saya juga belum tahu. Umumnya memang anak-anak di kampung pegunungan di sini, Fakfak, cukup rukun antara satu dengan lain. Mendengar dan menjalankan nasehat orang tua dan tetua adat/kampung merupakan hal yang wajib dilaksanakan.

Pagi ini, saya mendapat jawabannya. Bukan melalui sebuah penjelasan yang terlontar dari mulut anak-anak, tapi melalui sebuah tindakan yang layak diteladani. “Martha, terima kasih. bapak guru berutang nilai pengorbanan lewat dirimu”saya membatin.

Ceritanya begini.

Beberapa saat sebelum bel istirahat berbunyi, tugas anak-anak sudah selesai. Lalu, saya mulai berjalan dari satu bangku ke bangku yang lain. Memeriksa satu-satu dan menjelaskan soal yang tidak dipahami oleh masing-masing dari mereka.

Untuk kegiatan ini, saya sering dalam posisi setengah jongkok di depan bangku. Sehingga posisi kepala saya sejajar dan sama tinggi dengan kepala anak-anak. Ketika sedang asyik bercengkrama dengan masing-masing anak, tiba-tiba tanpa sepengetahuan saya Martha berdiri dan mulai berkeliling dari bangku ke bangku.

Ia membawa dua potong biskuit mirip Gabin di tangan mungilnya. Lalu, sepertinya ia telah memberi isyarat terlebih dahulu pada semua teman-temannya untuk tenang dan tidak mengganggu bapak guru.

Dua potong biskuit itu dia potong lagi kecil-kecil sehingga cukup untuk dimakan semua. Ia membuka mulut sebagai isyarat agar teman-temannya yang didatangi segera membuka mulut. Tanpa suara riuh sama sekali. Tanpa meninggalkan bangku, teman-temannya siap menerima makanan pagi dari Martha. Makanan yang sangat sedikit namun memiliki gizi ‘kekayaan batin’.

Maka Martha dengan sigap menyuapi teman-temannya satu persatu. Tanpa suara berisik apa-apa. Juga tanpa suara ribut kunyahan biskuit yang merangsek lembut di mulut anak-anak. Begitu senyap proyek ‘berbagi’ ini dilakukan oleh Martha sehingga saya benar-benar tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi hingga semuanya selesai.

“ko buka mulut sudah,,,,”

“aaaaa,,,,,nyam,,,nyam,,,”

Saya menyadarinya ketika entah mengapa kelas tidak berisik sama sekali. Ketika semua sudah selesai saya periksa, saya berdiri dan mencoba mengecek kelas yang tumben sekali tidak ‘kacau’ dan tidak berlarian ke sana ke mari.

Saya mulai mengernyitkan dahi beberapa saat. Di samping saya masih ada Martha yang berdiri setelah sukses menyelesaikan project nya yang luar biasa. Mereka semua serempak tersenyum pada saya seperti baru saja mengalami sesuatu yang luar biasa menyenangkan. Tapi saya tidak tahu itu apa (bodohnya saya.hehe). Setelah itu, barulah saya diberitahu Beti, anak paling mungil dan menggemaskan di kelas. Oooo,,, saya langsung segera paham.

Martha kelihatan begitu girang bukan kepalang tak henti tersenyum karena telah berbuat sesuatu bagi teman-temannya yang beberapa tidak sempat/tidak punya sarapan pagi di rumah.

Padahal saya tahu, anak-anak kadang mencari uang sendiri. Begitu susahnya mereka mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari. Sekedar beli gula, kopi, teh atau sagu kering. Pergi ke hutan sendiri atau bersama bapa mama kaka ade yang ada di rumah.

Saya tahu, anak-anak susah cari uang, tidak terkecuali Martha. Kadang mereka mencuri les sore, ijin ke saya tidak masuk demi mengangkut pasir kalengan ke atas bukit sana yang dihargai ribuan rupiah. Atau juga tidak masuk karena harus bermalam di rumah kebun (hutan adat masyarakat) untuk membantu orang tua mencari setandan pisang atau keladi untuk dijual ke pasar distrik.

Ya, susah. Martha susah cari uang beli biskuitnya. Butuh pengorbanan, tapi juga dengan keras kepalanya, ia begitu tulusnya membagikan itu pada teman-temannya. Teman-temannya sama pentingnya dengan dirinya.

Plaaaaakkk! Sebuah tamparan keras bagi saya yang dulu bahkan hingga sekarang kerap memiliki ego pribadi begitu tinggi. Saya seperti jadi rendah di hadapan anak-anak ini. Kadang enggan berbagi ketika punya sesuatu yang jumlahnya lebih dari cukup untuk dibagi-bagikan ke orang yang membutuhkan.

Hari ini Martha adalah pahlawan kami semua. Dari sini, saya tahu mengapa anak ini begitu disegani dan disayangi oleh kawan-kawannya. Dia begitu penyayang. Kami semua pun, tersenyum.

Hari ini, bukan saya yang beri pelajaran. Martha yang beri pelajaran, dialah guru di hari itu. Saya berutang padanya. Oiya, ini ada satu puisi dari Martha, yang dia bacakan sewaktu memperingati Hari Sumpah Pemuda dalam sebuah rangkaian lomba di distrik sebelah.

Seandainya Aku Jadi Presiden
seandainya Aku jadi Presiden
saya akan berupaya
agar rakyat Papua
dan khususnya Kabupaten Fakfak
tidak bisa dikategorikan
rakyat miskin.

*sebuah catatan: Oktober 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s