Anak Papua (Juga) Ingin Melihat Indonesia

Posted: October 30, 2016 in Uncategorized
Tags: , , , , , ,
dsc09615

Ceria Anak-Anak di depan Rumah Kepala Sekolah (Foto dok. pribadi)

Tinggal di sebuah kampung di ujung ketinggian seribu meter dari permukaan laut, sungguh bukan perkara mudah. Apalagi di Papua Barat. Apalagi orang baru seperti saya, yang kebetulan hanya menetap sementara. Demi menunaikan tugas selama setahun mengajar di sebuah sekolah dasar. Tanpa sinyal telfon. Juga tanpa penerangan di malam hari. Dengan fasilitas belajar yang juga minim.

Sekitar dua tahun silam, saya adalah Guru Wali Kelas III SD YPK (Yayasan Pendidikan Kristen) Pikpik Distrik Kramongmongga. SD ini merupakan satu-satunya fasilitas pendidikan dasar yang ada di tiga kampung: Pikpik, Bahbadan, Kwamkwamur.

Untuk keperluan komunikasi, mau tidak mau warga harus turun ke kota langsung atau membeli sebuah gawai elektronik yang dijuluki orang-orang kampung, HP Ceria. Tapi tidak seceria namanya. Perangkat digital khusus ini dioperasikan dengan menggunakan tower yang membutuhkan tenaga surya.

Tower ini dipasang di tengah-tengah wilayah distrik, berdiri pas di depan kantor distrik. Alat digital ini juga hanya dapat dioperasikan bila menggunakan perangkat dan kartu telepon dengan merek yang sama: ‘Ceria’. Gawalnya lagi, perangkat ini berfungsi baik jika matahari bersinar ceria. Hehe,cukup rumitlah waktu itu.

Lewat sudah setahun saya meninggalkan Kampung Pikpik, Distrik Kramonggmongga. Namun pengalaman yang saya peroleh, masih begitu dalam membekas. Setahun mengajar, rasa-rasanya, sayalah yang memeroleh banyak pelajaran pelajaran berharga, dari masyarakat, pemuka adat, tokoh agama, bahkan anak-anak sekalipun.

Seperti umumnya masyarakat di perkampungan, akses informasi cukup terbatas. Masyarakat hidup dengan begitu sederhana dengan mengandalkan hasil-hasil hutan (kebun masyarakat dan adat) dan sungai. Jangankan beraktivitas secara daring di internet, mengoperasikan komputer pun hanya beberapa orang yang bisa, termasuk Ibu Linda guru kelas empat.

Pada sisi yang lain, pemerintah ingin agar data pendidikan bisa termutakhirkan dalam satu platform yang disinkronisasi secara online, idealnya rutin setiap bulan berjalan. Padahal, tidak semua sekolah dan tempat punya infrastruktur dan sumber daya yang memadai untuk menjalankan itu semua.

Waktu saya masuk ketika itu, sekolah sedang dalam posisi khawatir-khwatirnya karena tidak punya tenaga guru yang bisa menjalankan aplikasi Dapodik (Data Pokok Pendidikan). Laman ini menyimpan seluruh data mengenai siswa, guru, kondisi serta fasilitas sekolah.

Nah, ceritanya saat itu. Informasi sinkronisasi data datang terlambat ke telinga bapak Kepala Sekolah. Saat itu saya sedang mengajar di kelas. Tiba-tiba bapak Kepala Sekolah memerintahkan saya untuk segera bersiap-siap.

nak guru, bapak minta tolong, kitorang harus ke kota sekarang” jelasnya.

Tanpa bertanya lagi, saya mengiyakan dan segera mengikuti beliau. Angkutan juga bisa dikata tidak begitu lancar. Menjelang sore taksi –sebutan untuk angkot- baru tiba dan kamipun segera meluncur ke kota.

Bapak Abraham, yang saya anggap bapak angkat di kampung, memastikan semua data-data terbaru di tahun ajaran baru sudah terangkut di tas coklat tuanya. Mengecek lagi. Meyakinkan dirinya lagi sekiranya data-data guru juga sudah berada dalam genggamannya. Semua berisi kertas-kertas yang disela-selai dengan map.

Hampir semuanya tulisan tangan beliau. Beliau memang mengerjakan semua dengan tulisan tangan rapi. Waktu itu, saya sudah berniat agar suatu saat dan sesegera mungkin, akan men-digitalisasi berkas-berkas tersebut. Menjadi satu dalam sebuah drive penyimpanan di laptop milik sekolah.

Setelah beristirahat sejenak, kami langsung bergegas dengan ke warnet (warung internet) yang menurut informasi memiliki koneksi paling cepat se-Fakfak. Saya lupa namanya, yang jelas tempatnya begitu nyaman.

Bangunan dua lantai, seluruhnya terbuat dari kayu, terletak memanjat di tebing batu. Sehingga pemandangan laut lepas terhampar bebas di depan mata. Pemilik tempat menggunakan menggunakan IndiHome, produk andalan. Telkom Indonesia yang diluncurkan medio 2013.

Begitu kami masuk, sudah ada beberapa rombongan guru dari sekolah-sekolah yang ada di kota. Mereka bermaksud mengerjakan aplikasi Dapodik juga. Untunglah waktu itu kami tidak sendiri, jika ada kendala kami bisa bertanya. Begitulah kondisinya, guru-guru di kota sudah mulai mahir memainkan teknologi dan mereka punya informasi langsung. Guru-guru di kampung, belum lagi di pulau-pulau terluar di distrik-distrik jauh, hanya bisa menerima informasi ketika berita itu sudah basi.

Hampir empat jam kami berkutat dengan data-data dan sekolah siswa. Sebenarnya, saya merasa begitu bersalah sekaligus tak enak hati dengan Bapak Abraham. Beliau sudah memasuki usia senja, tapi bersikeras dan semangatnya tidak kendur-kendur. Meski malam sudah begitu larut.

bapak, pulang sudah, nanti beta kerja sendiri” desak saya.

ah jang nak guru, kitorang kerja sama-sama ini barang. Ini juga demi anak-anak dan guru-guru yang lain pu data” jelasnya.

kalau kitorang kasi selesai ini malam, kirim, terus sinkron, dana BOS kitorang pu sekolah tidak akan datang terlambat. Kitorang bisa manfaatkan cepat untuk beli anak-anak sekolah pu kebutuhan dan kebutuhan guru-guru” tambah beliau.

Alasan beliau yang terakhir membuat saya luluh. Jaket pemberian Dinas Pendidikan yang dipakai kepala sekolah sudah mulai menipis. Sambil berbatuk-batuk, beliau terus memerhatikan data yang ia tulis di kertas, lalu mencocokkan dengan apa yang saya ketik di layar laptop.

Saya benar-benar tidak tega. Tapi apa boleh buat, bapak Kepala Sekolah ingin menunaikan tanggung jawabnya. Jika malam ini juga selesai, besok pagi-pagi, kami akan carter mobil kembali ke atas pegunungan tempat sekolah kami berada. Membayangkan hal itu, saya jadi bersemangat lagi untuk menyelesaikan data ini. Tak sabar untuk segera kembali mengajar, bertemu dengan anak-anak. Meski baru sehari ditinggal, rasanya sudah begitu lama.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga dini hari. Proses penginputan data baru selesai. Saatnya untuk mensinkronkan dengan server yang ada di pusat pangkalan data. Proses ini memakan waktu kurang dari sepuluh menit jika koneksi mendukung. Kami bersyukur, meski semua guru-guru yang ada di warnet juga sedang mengerjakan Dapodik, kecepatannya juga tidak masih tetap stabil. Sekali lagi, kami bersyukur.

Menjelang puku tiga. Kami saling berpandangan, tersenyum lebar bersama-sama. Bahagia rasanya melihat bapak Kepala Sekolah tersenyum sepuas itu. Saya menjabat tangan kepala sekolah. Proses akhirnya selesai, dan kami bisa pulang ke kontrakan.

Insiden kecil tapi lucu di perjalanan pulang, juga menambah keakraban saya dengan beliau. Seekor anjing penjaga dengan tidak disangka-sangka, datang menggonggong sekali di hadapan bapak lalu menggigit bagian belakang sepatu. Tak perlu tahu saya ada di mana saat itu. Saya sudah meninggalkan beliau dengan mengambil jarak yang sejauh-jauhnya. Haha.

Sepanjang jalan, kami terus tertawa terus mengingat kejadian ini. Menurut pengakuan beliau sendiri, katanya baru sekali itu beliau dapat pengalaman digigit anjing. Maklum, bapak kepala sekolah punya anjing pemburu yang penurut.

Ibu Linda yang Selalu Ingin Tahu

Di sekolah kami, juga ada seorang guru yang begitu berdedikasi dalam mengabdi dan mengajar di sekolah. Segala urusan yang tidak penting di kota, jika itu harus meninggalkan anak-anak, tidak akan ia hiraukan. Ia adalah guru PNS yang asli dari Kampung Pikpik sendiri.

Namanya Ibu Guru Linda. Selain itu, dia juga Bendahara Persekutuan Jemaat Pemuda di tiga kampung. Kepeduliannya terhadap anak-anak dan pemuda, membuatnya cukup disegani di sekolah, meskipun masih berusia muda.

Saya begitu senang dengan beliau. Ia adalah guru yang bersedia mengawal pekerjaan Dapodik secara rutin sebagai operator sekolah. Biar bagaimanapun, saya akan meninggalkan sekolah ini, dan harus ada guru atau orang lokal yang dengan ikhlas mengawal keberlanjutannya.

Ibu Linda adalah orang yang menyediakan dirinya untuk terus belajar. Rutin, setiap bulan, mencari sela-sela waktu kosong mengajar, kami turun ke kota untuk mengisi aplikasi Dapodik. Proses pembelajaran dan pendampingan ini harus saya laksanakan sesegera dan seintensif mungkin sehingga Ibu Linda bisa semakin percaya diri dengan kemampuannya.

Suatu ketika, warnet yang biasa kami datangi sedang berada dalam masalah. Padahal tinggal sedikit lagi data tersebut rampung kami kerjakan. Keseruan tercipta karena waktu itu kami dikejar tenggat waktu dan harus segera kembali ke kampung untuk mengajar.

oh bu guru, beta ingat ada pu kenalan di kantor Telkom” kata saya yang mulai sumringah karena ada harapan.

Pada akhirnya, saya berinisiatif meminjam fasilitas internet nirkabel di kantor Telkom Fakfak yang diberikan cuma-cuma oleh seorang staff nya yang begitu baik hati. Namanya, Bapak Abu. Saya tidak akan pernah melupakan jasanya ketika kami para relawan pengajar yang tersebar di beberapa distrik membutuhkan akses cepat mengirimkan laporan rutin, kampanye pendidikan via sosial media dan blog, atau juga mengunduh data-data penting.

Dengan fasilitas itu juga, saya mengajak Ibu Linda mengerjakan data-data yang belum rampung dan menyelesaikan secepatnya. Ibu Linda terus bekerja meski masih selalu gagu, tapi saya bersikeras, beliau yang harus melakukannya sendiri. Dua laptop kami sediakan. Laptop sekolah dan laptop saya sebagai bahan pembelajaran. Saya bersyukur Ibu Linda bisa menuntaskannya.

Di lain hari, pada sela-sela mengerjakan Dapodik, Ibu Linda tumben mengeskplorasi banyak hal di internet dan bertanya pada saya. Sambil memerlihatkan gambar-gambar di Google, beliau bertanya.

“pak guru, gambar-gambar ini beta mo simpan, de pu cara bagemana?” Ini beta mo pake untuk ajar ponakan di ruma, sama untuk anak-anak kelas satu nanti” tanyanya.

“Kalo ada depu gambar, kan lebih bagus. Terus mo pasang di kelas-kelas supaya anak-anak murid bisa liat dan cepat belajar” jelas Ibu Linda.

Setelah itu, dalam hitungan beberapa menit saja, Ibu Linda sudah bisa membuka beragam jendela di laman pencarian dan menyimpan gambar-gambar itu dalam sebuah file sehingga mudah di cetak ketika kembali ke kampung. Ibu Linda memang punya kemauan besar untuk terus belajar. Saya harap ada akan bertumbuh terus Ibu Guru Linda lain. Senantiasa belajar dan mencari tahu banyak hal meski dilanda banyak keterbatasan.

Saya punya harapan besar agar PIK (Pusat Internet Kecamatan) yang terletak di SMP negeri di pusat distrik bisa beroperasi lagi. Sebab, anak-anak lulusan SD dari sebelas kampung di distrik yang tidak punya kesempatan untuk bersekolah di kota, juga bisa merasakan hal yang sama dengan kawan-kawannya yang bersekolah di kota. Listrik dan internet yang menjangkau pelosok-pelosok nusantara adalah bagian dari mimpi anak-anak.

Sebab rasanya sayang sekali meninggalkan murid-murid di kampung hanya untuk memasukkan data hasil sinkronisasi di Dapodik. Bila seandainya listrik masuk, dan tower juga bisa dipasang sesegera mungkin, anak-anak dan masyarakat juga bisa merasakan manfaatnya.

Bukan hanya sekedar melihat foto-foto di kartu pos yang datang dari pelbagai daerah yang sengaja kupamerkan di kelas-kelas dan majalah dinding sekolah. Tapi mengeksplorasi pengetahuan-pengetahuan yang ada di dalamnya.

Saya membayangkan itu adalah manfaat yang begitu tinggi untuk anak-anak di daerah timur Indonesia, khususnya di Papua. Mereka bisa melihat Indonesia nya. Karena mereka juga bagian dari Indonesia | #IndonesiaMakinDigital

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s