Mengintip Geliat Volunteering di Fakfak

img_3063
Kegiatan Fakfak Menginspirasi (dok. relawan Fakfak Mengajar)

Dalam dua tahun ini, ada tiga komunitas berbasis kesukarelawanan yang terbentuk dengan ratusan volunteer yang terlibat di Fakfak. Mereka bergerak dan mengambil bagian dalam bidang pendidikan, lingkungan hidup, hingga sosial.

Saya akan memulai dengan cerita. Selama setahun, saya bergumul sebagai tenaga pengajar bantu di jenjang sekolah dasar. Pengalaman tersebut membuat saya sedikit banyak punya wawasan bagaimana masalah-masalah yang ada di sana, utamanya terkait pendidikan dasar. Apakah itu di kampung, di distrik, bahkan hingga di tingkat kabupaten.

Meski kami banyak menghabiskan waktu di kampung, namun upaya mendorong keberlanjutan dan terciptanya komunikasi antar elemen kampung hingga level kabupaten terus kita bangun secara intens. Patut diketahui, ini bukan hal yang mudah sebenarnya.

Makanya waktu itu, kami sepakat untuk menggerakkan aktor-aktor lokal untuk bekerja sama dan mendorong partisipasi mereka dengan kepercayaan diri yang tinggi lewat beragam inisiasi-inisiasi.

Hampir dua tahun berlalu sejak saat itu, dan hasilnya luar biasa mengesankan. Saya menjadi orang paling bersyukur karena pemuda-pemuda di Kota Pala cukup punya banyak energi untuk menjalani jenis aktivisme sosial.

Kami pernah punya pengalaman sedikit “pahit” seperti ini.  Bagaimana gambaran sulitnya menerobos dinding birokrasi dengan sistem pengelolaan anggaran yang ketat. Hehe.

Jadi, saat itu kami mengajukan ToR kegiatan “Festival Anak Fakfak 2014” ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga. Harapan kami jelas, agar kegiatan ini dapat diterima dengan baik oleh pihak pimpinan dan jajarannya.

Kegiatan ini juga bukan ujug-ujug langsung jadi. Ada hasil diskusi dan analisis kebutuhan yang sudah kami lewati bersama dengan relawan pengajar yang sudah setahun membersamai gerakan pendidikan di Fakfak.

Waktu itu, niat kami sederhana. Bagaimana cara mempertemukan anak-anak sekolah dasar dari berbagai distrik yang ada di Fakfak di kota kabupaten. Termasuk juga dari Distrik Karas di ujung timur.

Tujuannya agar mereka saling mengenal satu sama lain. Anak-anak dari distrik gunung berjumpa dan berakrab-ria dengan mereka dari distrik pesisir dan pulau-pulau. Anak-anak gunung yang Kristen dan Katolik bertemu dengan kerabat mereka yang se-marga dari pesisir dan pulau.

Juga tak kalah pentingnya, menyatukan berbagai lintas perguruan sekolah. Ada YPK (Yayasan Pendidikan Kristen), YPPK (Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik), dan YAPIS (Yayasan Pendidikan Islam).

Selain itu, mereka diharapkan dapat berbaur dalam semangat toleransi, bukan untuk berkompetisi, tapi saling bekerja sama antara satu dengan yang lain.

Hari itu tidak ada yang lebih menggembirakan bagi kami semua. Proposal dan ToR itu sudah dalam genggaman dan siap dipresentasikan di kantor dinas.

Pada akhirnya? Ini juga memang kegagalan tentang hal yang tidak dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. Hiks. Kegiatan ini ditolak dengan halus oleh pimpinan dengan dalih klasik. Ditunda hingga jangka waktu yang belum ditentukan dan belum jelas tahunnya kapan.

Alasan keterbatasan anggaran dan adanya program prioritas menjadi dalih sangat kuat untuk menunda kegiatan ini hingga waktu yang belum ditentukan.

Waktu itu memang ada sinyal positif dari beberapa pertemuan selanjutnya dengan pimpinan dinas karena masih ada harapan untuk dinegosiasikan dalam rapat anggaran perubahan bersama DPRD Fakfak. Katanya begitu. Setelah itu, kami pun menunggu, menunggu, dan menunggu. Tapi hasilnya tetap saja sama.

Bukan salah siapa-siapa, hanya saja, kegiatan ini benar-benar membutuhkan support lebih dari pemerintah. Minimal uang transport dari distrik dan biaya makan hari-hari selama di kota untuk anak-anak.

Intinya, butuh sokongan dana yang besar untuk menanggung segala biaya. Menggunakan dana BOS juga sulit dilakukan. Kasian sekolahnya. Pada saat itu, kami sadar bahwa untuk menggerakkan sesuatu yang besar, kami juga butuh tenaga yang besar dalam jumlah yang banyak.

Jalannya satu: volunteering. Istilahnya, kami ingin mendorong keterlibatan melalui sistem bottom-up. Menggerakkan relawan/masyarakat dari level bawah hingga nanti perlahan-lahan menguat lalu bisa berimbas pada level pemerintah dan stakeholder yang berada di piramida bagian atas. Demi mencapai tujuan gerakan pendidikan yang lebih humanis dan juga berkualitas.

Pada dasarnya, kami ingin menciptakan kesadaran akan sebuah ‘rasa kebersamaan’ dan ‘rasa solidaritas’ yang bermula dari anak-anak muda. Kami selalu percaya bahwa ini akan berhasil. Tidak tahu kapan, meski kami sudah tidak bertugas lagi pada saat itu.

Nah, mari kita tengok beberapa di antaranya bergeliatnya kegiatan volunteering hingga saat ini. Siapa orang di balik layar dan apa-apa saja ragam kegiatan mereka. Yuk.

komposTIFA (komunitas positif Pemuda Fakfak)

Saida Husna Wokas. Itu nama lengkapnya. Kerap dipanggil dengan sapaan ‘kak Ida’. Mace satu ini adalah founder komposTIFA dan sekaligus pemimpin para “provokator positif” atau pasukan “propos”.

Sejauh yang saya tahu (belum sempat konfirmasi ke kak Ida. Hehe), ide ini sudah ada sejak 2015 kalau tidak salah. Sudah ada yang menyebut-nyebut tentang nama komunitas ini. Siapa ya? Hehe. lupa. Waktu itu kami semua memang masih sering diskusi bareng dengan kak Ida yang sehari-hari bekerja di perusahaan swasta di Fakfak.

Hajatan besar yang baru mereka rampungkan adalah PBI 2016. Apa itu? ‘Parade Budaya dan Inovasi’ yang mengangkat tema “Bangga Berbudaya, Berani Berkreasi, dan Berkarya Mencerdaskan”. Kegiatan ini dilaksanakan pada 29 Oktober kemarin untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda.

Ada tiga kegiatan dan kompetisi yang mereka langsungkan dengan keterlibatan dari masyarakat. Pertama, Karnaval Budaya, kedua Lomba Parade Daur Ulang, ketiga yaitu Beta Pangaru (sejenis lomba Rangking Satu di tivi itu lho).

Sebelumnya, menjelang akhir April lalu, komposTIFA juga dipercaya sebagai panitia lokal dalam penyelenggaraan RUBI (Ruang Berbagi Ilmu) 2016 yang mengundang keikutsertaan relawan-relawan dari luar daerah. Datang ke Fakfak dengan biaya sendiri. Para peserta yang kebanyakan usia belasan hingga dua puluhan mendapatkan materi-materi yang begitu bermanfaat, ada “volunteering as a life style”,  “pengelolaan rumah baca”, dan “leadership for youth”.

Kalau saya melihat perkembangannya, mereka sedang mengupayakan dengan keras mendirikan Rumah Baca di setiap distrik di Fakfak. Agustus 2016, Rumah Baca komposTIFA Siboru di Kampung Siboru Distrik Fakfak Barat resmi berdiri, setelah sebelumnya pada bulan Februari Rumah Baca perdana komposTIFA Arguni-Taver di Pulau Arguni di Distrik Kokas juga diluncurkan.

Secara rutin, para relawan yang terdiri dari anak-anak SMA, mahasiswa, dan fresh graduate ini melakukan pembinaan di rumah baca yang mereka bina. Selain kampanye membaca, mereka kadang menyelipkan materi kreatif seperti Bahasa Inggris anak, Wawasan Nusantara, dan Story Telling. Seperti yang mereka lakukan di bulan Oktober bulan lalu di Pulau Arguni.

Para relawan cukup giat melakukan kampanye dan permohonan pengadaan buku untuk calon rumah baca mereka. Bulan Januari mereka launching Gerakan SATUSATU (Satu Orang Satu Buku) dan Gerakan SUSATU (Seribu untuk Satu Juta Buku) yang disosialisasikan ke sekolah-sekolah di Fakfak.

Bulan Juni, mereka mendapatkan bantuan buku dari relawan dan donatur dari komunitas Penyala Makassar dan bulan berikutnya bantuan buku juga ikut meramaikan dari komunitas Share for Love.  Wow.

Project nonton bareng juga pernah dilaksanakan dengan tujuan fundraising, dan yang terakhir tidak kalah mengejutkannya adalah relawan-relawan yang didominasi anak SMA ini rela berpanas-panas dan berhujan-hujan ria dalam kegiatan “Pasar Murah komposTIFA”. Hebat, kan?

Info lebih lanjut, silahkan tengok kompostifa.org

JeFa (Jelajah Fakfak)

Eits, jangan salah sangka. Komunitas ini bukan grup yang berisi orang-orang urban di Fakfak yang suka hepi-hepi, traveling ke sana ke mari tanpa mengindahkan lingkungan dan masyarakat. Justruk sebaliknya. Hehe.

Perkumpulan relawan anak-anak muda Fakfak ini digaungkan secara resmi pada 5 November 2015. Berarti sudah lewat setahun sejak didirikan. Selamat ulang tahun JeFa. Hehe. Mereka punya tagline “Hidup dari Alam, Besar Bersama Budaya.”

Oke, mari langsung saja lirik agenda-agenda mereka. Secara  berkala, para relawan mengunggah foto-foto dan info-info tentang budaya dan kekhasan daerah yang ada di kabupaten Fakfak. Dikenal dengan nama “Info JeFa” yang diunggah ke media sosial. Sehingga, para netizen bisa mengetahui hal-hal unik yang ada di sana dengan mudah.

Kemudian, ada juga ‘Jelajah Bersih’ di sepanjang jalan baru daerah reklamasi pantai. Para pegiata menggunakan drum berukuran setengah yang bertuliskan Jelajah Fakfak lalu mengumpulkan sampah-sampah yang berserakan.

Kepedulian akan lingkungan yang bersih menggerakkan mereka mendirikan sebuah Landmark Peduli Kebersihan di salah satu jalan protokol di sana, Jl. Dr. Salasa Namudat di akhir tahun 2015.

Mereka tidak bekerja sendiri, mereka menggaet komunitas-komunitas pemuda lain yang memiliki kperihatinan yang sama. Diantaranya ada Fokal Pemuda, Cewek Matic Community, Fakfak Mengajar, Kelas Inspirasi Fakfak, Pemuda Peduli Kesehatan, dan beberapa lagi.

Paling menarik dan membuat saya kagum adalah mereka mendirikan stand pada pegelaran Pekan Daerah III Kontak Tani Nelayan Andalan Kabupaten se-Pronvinsi Papua Barat selama seminggu di bulan Agustus.

Dalam stand tersebut, ada aplikasi Kamus Bahasa Iha (bahasa daerah salah satu marga paling besar di Fakfak), dan berbagai macam galeri kreatif yang menyajikan foto dan  video hasil ‘menjelajah’.

Mengenai Jelajah Fakfak, saya mengutip kalimat dalam akun sosial resmi Jelajah Fakfak yang ditulis oleh salah satu pegiat: “Dibentuk dari para pemuda pemudi Fakfak yang rindu untuk kembali mengangkat kembali nilai-nilai leluhur di Tanah Mbaham Matta, juga ingin lebih memperkenalkan pesona keindahan alam serta kearifan lokal yang ada di kabupaten Fakfak”

“Lebih dari pada itu, komunitas Jelajah Fakfak dituntut berkarya nyata dan turut menjawab fenomena yang tengah tumbuh dan berkembang ditengah kehidupan saat ini. Dengan demikian, makan komunitas ini merupakan wadah belajar untuk mengembangkan tanggap pribadi, tanggap kelompok bahkan tanggap masyarakat dan lingkungan yang lebih luas lagi”

Jika teman-teman ingin menyaksikan keindahan sejumlah tempat karya teman-teman di  Jelajah Fakfak, silahkan saksikan di kanal Youtube JelajahFakfak.

Info resmi, silahkan pantau di: jelajahfakfak.blogspot.co.id

Fakfak Mengajar (FM)

Nah, karena concern kami di bidang pendidikan diharuskan mengambil porsi yang lebih besar, oleh karenanya dari awal kami banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang dikelola secara bersama-sama.

Teman-teman relawan di Fakfak Mengajar sejatinya adalah sekumpulan anak-anak muda baru lulus dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang sebagian besar mendapatkan beasiswa dari pemerintah Fakfak. Mereka digerakkan oleh sebuah kesadaran untuk  memajukan kualitas pendidikan di Fakfak, utamanya pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang mereka pernah rasakan di luar sebagai penerima beasiswa.

Ada yang dari IPB, Universitas Cendrawasih, UMI Makassar, Universitas Negeri Papua, bahkan dari sekolah kedinasan seperti STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik). Kami benar-benar bersyukur mendapatkan partner yang benar-benar memiliki smenagat yang tidak habis-habis dan selalu berpikiran maju.

Dalam akun resmi, terkutip, “bermula dari kesadaran bahwa keberhasilan penyelenggaraan suatu pendidikan di suatu wilayah bukan hanya tanggung jawab pemerintah namun merupakan tanggung jawab bersama dengan masyarakat. Bersama kita membangun generasi muda Fakfak yang terampil, kreatif, serta berdaya saing”

Ketika ditanyakan siapa foundernya, saya juga turut bingung. Hehe. Soalnya, persoalan siapa yang menjadi founder tidak pernah dibahas. Bukan jadi hal yang penting mungkin. Hehe. Namun sewaktu kami masih bertugas, Ketua dipegang oleh Rodiah Rumata dan saat ini dipercayakan pada Imanuel DY Hindom. Keduanya adalah alumni IPB Bogor.

Salah satu pencapaian terbesar dari para relawan ini adalah bisa terus berbagi dengan para penggerak dan aktor pendidikan yang lain di Fakfak, terutama para guru, jajaran Dinas Pendidikan, dan sejumlah komunitas pemerhati pendidikan.

Awal terbentuknya, komunitas ini langsung menggebrak dengan agenda Fakfak Menginspirasi di awal tahun 2015. Sebuah kegiatan yang diadopsi dan Kelas Inspirasi namun menggunakan konten dan gaya lokal. Kegiatan ini menyerap puluhan relawan dan berakhir dengan sukses dan mendapat banyak aplause dari berbagai pihak.

Dua bulan setelahnya di bulan Maret 2015 dan 2016, diadakan Fakfak Bedah Kampus edisi satu dan dua untuk memberikan sosialisasi universitas-universitas di Indonesia pada anak-anak SMA se-kabupaten Fakfak yang akan melanjutkan perguruan tinggi termasuk dengan sejumlah beasiswa yang ditawarkan. Mereka menggandeng teman-teman komunitas dokter internship yang sedang bertugas. Kami semua begitu akrab, bahkan terkadang teman-teman internship yang jadi pelopor.

Kemudian, menggandeng beberapa komunitas lain, Fakfak Mengajar menjadi motor kegiatan Kelas Inspirasi Fakfak untuk pertama kali di bulan Oktober 2015.

Sejumlah relawannya kemudian di belakang hari menjadi komunitas tersendiri. Dengar-dengar, mereka akan menggelar Kelas Inspirasi Fakfak edisi kedua. Hehe,wow. Luar biasa ya teman-teman di sana.

Bulan Oktober kemarin, Fakfak Mengajar menggelar agenda ‘Fakfak  Sehari Membaca” dengan tema “Mari Berkeliling Menebarkan Manfaat Membaca ke Pelosok Kota Fakfak Tercinta” di sejumlah sekolah dasar.

Sejauh ini, yang paling menggembirakan dan menyejukkan yakni keseriusan para relawan untuk terus mendampingi secara intensif guru-guru sekolah dasar di Fakfak dalam kegiatan KKG Learning Group di tiap distrik sepanjang semester terakhir tahun ini. Materi yang disampaikan bermacam-macam, termasuk Motivation Leadership.

Mereka mengajak dan mendorong para profesional dan guru-guru teladan yang tersebar di sekolah-sekolah dasar unggulan di Fakfak untuk membagi ilmu mereka pada guru-guru di pelosok, misalnya di SD Inpres Kampung Ugar di Pulau Ugar.

Cek selengkapnya di web KI Fakfak

Hingga saat ini, banyak komunitas-komunitas positif yang muncul demi melebihkan upaya mereka ketimbang selalu berkeluh kesah melihat kondisi di sekitar. Banyak perkembangan yang sudah terjadi yang tidak bisa lagi saya rekam, dan saya bisa bilang: saya senang sekali. Bahagia.

Selamat Ulang Tahun Fakfak ke 116.
Semoga terus jaya dalam lintasan tantangan dan waktu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s