Magnet Losari Sebagai Ruang Publik Kreatif

losari
dok. http://www.berdikarionline.com 

“Lokasinya di Anjungan mana?” saya bertanya via pesan singkat ke seorang panitia.

Sore itu saya sudah berada di Pantai Losari, dan saya sudah membuang beberapa menit mencari tempat kegiatan yang dihelat sebuah komunitas.

“di depan Anjungan Mandar kak. Belumpi mulai, ditunggu kedatanganta’ kak” jawab seorang relawan yang cemas-cemas harap agar peserta terus berdatangan.

Sekitar dua puluh relawan telah membentuk lingkaran di depan Anjungan Mandar, Pantai Losari. Di tengah-tengah, Daeng Ical dan seorang perempuan warga negara asing memegang hati-hati seekor merpati putih. Dengan hitungan mundur, mereka melepas dua ekor merpati ke angkasa. Melepas sebuah nilai kebebasan dan perdamaian ke tempat yang tinggi.

Mereka merupakan anak-anak muda yang tergabung dalam komunitas KITA Bhinneka Tungga Ika dan beberapa undangan. Sore itu, di akhir bulan September mereka mengadakan renungan perdamaian dalam rangka memperingati Hari Perdamaian Internasional. Sambil berhujan-hujan, Daeng Ical memberi sambutan dan sekaligus renungan mengenai nilai-nilai perdamaian.

Padahal hari itu hujan turun dan angin bertiup seperti hendak mengacaukan jalannya acara. Tapi saya melihat sesuatu yang lain pada hari itu. Para relawan tetap bertahan di tempatnya masing-masing dengan perlidungan diri seadanya. Mereka seakan tidak rela momen renungan perdamaian di sore itu rusak karena hujan yang datang sebentar.

Ketika saya datang, hal yang saya bayangkan sebenarnya adalah ada sebuah tenda besar dengan jumlah kursi yang setidak-tidaknya terdiri dari sepuluhan baris ke belakang. Atau minimal tenda tiga kali tiga meter yang bisa melindungi perlengkapan mereka dalam melakukan kampanye. Tidak sama sekali meski acara ini menghadirkan Wakil Walikota Makassar, Syamsu Rizal (Daeng Ical).

Tapi begitulah jamaknya kegiatan di Pantai Losari, sederhana. Namun banyak hal menarik yang bisa terjadi di sini. Tidak perlu nyaman, yang penting semua orang datang. Tidak perlu mewah, yang penting substansi.

***

Teriakan menggema di Anjungan Mandar dari seorang berbusana serba hitam.

“tigaaaaaaaaaaaa,,,duaaaaaaaaaa,,,satuuuuuuu,,”  semburnya dengan lantang seperti hendak mengakhiri suatu sesi kegiatan.

Orang tersebut adalah salah satu dari lima orang yang berdiri memutar di samping X-Banner dengan gambar Pikachu di tengah. Mereka terlihat tertawa puas. Sepertinya mereka adalah panitia yang malam itu tengah bertugas. Sepertinya meraka bangga dengan pancapaian malam ini dengan menunjukkan antusiasmenya di hadapan peserta. Lima orang ini bertindak sebagai trainer Pokemon yang memiliki banyak Pokecoins.

Di hadapan mereka duduk puluhan –menurut informasi, hingga ratusan- pemain Pokemon Go yang rerata anak usia belasan. Beberapa di antara mereka rentang dua puluhan. Mereka Berkumpul di satu titik di salah satu anjungan. Raut mereka jelas harap-harap cemas. Mata mereka tidak sedetikpun lepas dari display smartphone.

“biasanya kak, setiap malam selaluji begini” kata seorang pemain. Saya hanya bisa terheran-heran mendengar penjelasannya tentang kelompok ini yang saban malam terus berburu Pokemon. (kapan buru jodoh yak? Hehe)

Nah, kira-kira di mana lagi mereka akan berkegiatan sebesar ini setiap malam, jika bukan di Anjungan Losari yang luas?

Sejak dulu, Losari selalu menawarkan daya tarik. Waktu masih kecil, saya sering kemari. Belum ada yang namanya Jalan Metro Tanjung Bunga. Dan areal di sepanjang jalan penghibur merupakan periuk nasi bagi tukang Pisang Epe’. Beberapa orang menjuluki areas ini sebagai restoran paling panjang se-Indonesia.

Kios-kios ini ditutupi oleh tenda yang warnanya begitu bervariasi, ada biru, biru pudar, hijau, hijau pudar, oranye, oranye pudar, tergantung si pemilik ingin warna apa dan tentunya tergantung umur kios juga.

Tenda-tenda ini membentuk kanopi yang rapat. Tubuh kecil saya dulu masih bisa lewat di bawahnya. Berkeliling, berlari, dan berpindah-pindah dengan cepat dari satu kios ke kios yang lain tanpa perlu merasa panas ketika panas atau kena hujan ketika hujan.

Nah, meski tidak seperti yang dulu, Losari selalu saja menyimpan daya pikat untuk dikunjungi, kapan pun itu.

Salah satunya adalah adanya Ruang Pamer Seni Rupa yang buka setiap hari. Ini menarik pengunjung untuk datang sekedar mengintip karya seni para perupa yang bergiat di sana. Gratis, tapi ingat, jangan disentuh. Hehe.

Di luar ruang eksibisi, mereka menampilkan contoh-contoh hasil ilustrasi yang mereka telah buat dengan sketsa wajah pengunjung Losari. Ada yang tertarik? Tapi tidak gratis.  Silahkan bayar sekian rupiah. Heheh. Setidak-tidaknya pengunjung menghargai kerja-kerja seni para seniman yang bergiat di sana.

Kemudian, yang pastinya, empat anjungan (Anjungan Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja) menamapilkan sensasi tersendiri. Dua hingga tiga replikasi yang khas dari etnis ditunjukkan bagian depan marka. Misalnya di Anjungan Toraja ada rumah adat Tongkonan, Tedong Bonga, dan penari perempuan Toraja.

Kemudian, fasilitas tempat ibadah. Losari adalah ruang publik, jadi seyogyanya ada sarana umum yang bisa digunakan masyarakat secara luas. Nah, salah satunya adalah Masjid Amirul Mukminin yang kerap dijuluki Masjid terapung. Meski ini tempat ibadah identik dengan ketenangan, masyarakat umum banyak berbondon-bondong naik ke lantai atas untuk menyaksikan terbenamnya sang fajar. Ada lho komunitas dan kelompok tertentu yang setiap bulan memasang teleskop bintang untuk melihat hilal bulan baru.

Magnet paling besar barangkali adalah kebijakan CFD (Car Free Day) di daerah Jalan Penghibur sepanjang pantai Losari di hari minggu pagi, dari pukul 06.00 hingga pukul 09.00 WITA. Sejumlah komunitas begitu aktif pada waktu ini. Meski yang lain kadang mengambil waktu di sore hari di hari Sabtu dan Minggu, tapi tetap saja CFD meng-cover sangat banyak pengunjung sehingga kegiatan komunitas kemungkinan besar bisa diketahui oleh banyak orang yang berujung pada efektifnya kampanye publik yang mereka laksanakan.

Puncaknya ketika Mei kemarin, kurang lebih 240 komunitas berkumpul di Anjungan Losari. Para relawan-relawan dari setiap komunitas datang merayakan bergeliatnya kehidupan berkomunitas yang kreatif di Kota Makassar. Pantai Losari menjadi saksi kebesaran modal-modal sosial itu yang terhimpun dalam tubuh setiap komunitas yang ada.

Salah satu keuntungan lain adalah akses. Akses Losari ke pusat kota juga cukup dekat. Dari Losari, menuju ke Pelabuhan juga sama dekatnya. Ke bandara tinggal ambil jalan lurus ke arah pelabuhan dan masuk ke tol yang langsung menuju Sultan Hasanuddin International Ariport.

***

Akan tetapi, saya selalu membayangkan Losari bisa jadi jauh lebih baik dari hari ini. Bisa lebih berbenah dengan fasilitas publik yang lebih maju lagi. Lebih banyak lagi jalur hijau dan taman-taman kota. Barangkali seperti Bandung atau Surabaya. Kegiatan komunal yang selalu berkreasi dan berinovasi dengan segmentasi yang luas begitu merebak. Karena fasilitas yang disediakan juga lumayan memadai.

Dan satu hal yang penting, adalah karena semua perencanaan itu memikirkan dampak dan manfaat pada warganya.

Membincangkan perencanaan kota, saya terngiang Enrique Penalosa, mantan Walikota Bogota Kolombia itu. Dia bilang, “each detail in a city should reflect that human being are sacred”. Warga, adalah elemen paling vital untuk didahulukan dan diprioritaskan, apapun yang direncakan. Warga harus terlibat di dalamnya. Begitu kira-kira pemikirannya.

Dia salah satu pemimpin paling KEREN yang dipunyai Amerika Selatan. Meski hanya tiga tahun menjabat, ia mengubah 50 persen dari sejumlah ruas jalan utama di Kolombia menjadi jalur sepeda dan pejalan kaki.

Membangun dan memperbaiki 1200, saya ulangi, SERIBU DUA RATUS taman kota dan lapangan bermain di seluruh pelosok kota, dan menanam 100.000, saya ulangi, SERATUS RIBU pohon, dan layanan air bersih untuk 100 persen, saya ulangi  SERATUS PERSEN masyarakat di daerah kumuh. Bayangkanmi bede’ kalo ini di Jakarta, atau Makassar mo saja dulu. Hehe. (Sanggupji kah?)  

Warga Makassar yang jauh di Asia Tenggara begini, tentunya ingin merasakan kebahagiaan yang sama dengan masyarakat Kolombia yang jauh sekali di Amrik sana. Orang-orang Makassar pasti akan senang jika pemerintah mengajak mereka merumuskan akan ke mana dan mau bagaimana ke depannya Pantai Losari.

Tidak terbatas orang Makassar, silahkan menikmati proses bertaut dan bertemunya banyak orang-orang dari pelbagai sudut kota, bahkan luar kota.

Setiap orang boleh singgah di Losari. Menikmati Warung Apung, banana boat, shalat di Masjid terapung, menikmati sunset, dan menikmati atraksi dan kegiatan komunitas yang tidak ada habis-habisnya, terlebih jika akhir pekan. Losari adalah milik semua, milik publik. Kecuali pemandangan Losari plus pulau-pulau terluar yang cantik itu, itu bukan hak publik, khusus pengunjung hotel lantai atas di sepanjang Jalan Penghibur. Hehe.

Ada yang bilang, Losari adalah tempat kembali bagi mereka yang pergi. Kita semua berkumpul di sini. Ada yang pulang dari merantau, mereka akan segera didekap rindu dan bertanya,  “bagaimanami kabarnya Losari?  “lamaku’ mo nda ke sana”

Kehidupan di Losari, benar-benar beda dengan kehidupan di Facebook. Di sini orang saling mengeluarkan status, saling mengomentari, dan muncul dialog. Bukan monolog dan hasut menghasut ala Facebook dan teman-temannya. Kalau ini hilang? Saya belum tahu jawabannya. Hehe.

Nah, jika kita bertanya, “mengapa terus saja ke Losari?” Kita tahu ada dampak dari reklamasi, ada pattude (pencari kerang) yang kehilangan tempat cari nafkah, dan akibat-akibat lain. Kita tidak senang akan hal itu. Belum lagi proyek CPI (Centre Point of Indonesia) yang titiknya berada di Losari.

Tapi orang-orang tetap saja berdatangan, sebelum Losari benar-benar ‘menghilang’. Barangkali karena memori kolektif. Tentang bau laut yang khas, tentang pisang Epe yang disantap di hadapan kilau emas mentari yang kembali ke pangkuan bumi, tentang anak-anak kecil bertelanjang dada yang selalu saja pamer-pamer salto sebelum menceburkan diri ke laut.

Menghilangkan Losari dan segala hal di atas dari benak orang-orang Makassar, barangkali itu berarti mengacaukan identitas orang Makassar akan kampung halamannya.

Dan, pada akhirnya, janganmi lagi saya berpanjang lebar, mariki’ ke Pantai Losari

*************************************************************
***tulisan ini dibuat sebagai tugas Workshop Blogger Pemula Anging Mammiri***

Advertisements

4 thoughts on “Magnet Losari Sebagai Ruang Publik Kreatif

  1. Saya tertarik mengomentari soal pemimpin yang bagus, bangsa ini tidak kekurangan calon pemimpin maupun pemimpin yang baik saya rasa, lebih jauh dari itu, bangsa ini kekurangan rakyat baik yg mau dipimpin. Sinergi atas kedua komponen itu yang akan menciptakan perubahan baik.

    Like

    1. Yap, betul. tapi pemimpin itu sedikit banyak adalah cerminan rakyat jg. Atau krn sistem, siapapun org baiknya (pemimpin), selalu saja reformasi birokrasi sulit dilakukan.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s