Sekali Lagi, Menangkap Pesan-Pesan dari Bisseang Labboro’ (1)

Posted: November 26, 2016 in Artikel, Reportase
Tags: , , , , ,
img_3902

salah satu kolam di Bislab (dok. Akbar)

Jam menandakan pukul sebelas ketika kami tiba di kawasan Bisseang Labboro’. Nama kerennya ‘Bislab’, supaya mudah diucap. Lokasi ini sebenarnya adalah ‘Kawasan Konservasi Gua Pattunuang’. Sekitar lima kilometer dari lokasi wisata Alam Bantimurung. Persisnya di Desa Samangki, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros.

“Ramaimi orang di dalam itu, banyak anak-anak sedang diksar.  Minggu depan juga itu ada 200 orang mau masuk” kata ibu pemilik kios tempat kami menitipkan motor. Lokasi kiosnya juga sekaligus rumah yang dilengkapi dengan penitipan motor, helm, dan segala macam perlengkapan outdoor.

Disampingnya bahkan sudah ada penitipan motor yang lebih modern. Tempatnya terbuka dengan luas sekitar 2 x 10 meter dengan alas keramik. Dua orang laki-laki dan perempuan sedang duduk berdampingan di kursi. Siap siaga menampung motor para penikmat aktivitas luar ruang.

Seringnya mereka anak-anak Mapala atau Sispala yang hendak menghelat pengukuhan anggota baru, pendidikan dasar pecinta alam, atau sekedar latihan rutin.

Seakan sudah akrab dengan kedatangan pada kelompok pecinta alam, si Ibu langsung menyuruh kami menaruh motor langsung di kolong rumahnya, dan menyimpan helm di bagian dalam kios.

Segera setelah kendaraan tersimpan rapi, kami minta izin dan mulai masuk menuju gerbang. ‘Gerbang’ menuju jalur Bislab ini tak lain halaman belakang rumah Ibu pemilik kios.

Ada  jembatan kecil yang hanya muat dua kaki yang berjejak sekaligus. Panjangnya hanya dua langkah anak-anak. Tapi dibalik rumah inilah para penikmat alam dan beberapa rombongan peneliti menjejak masuk menuju ranah eksplorasi atau sekedar bersenang-senang.

Dari dulu, jembatan ini seperti belum belum berubah sama sekali. Kali pertama kemari di tahun 2003. Waktu itu masih kelas dua SMP. Hingga menjelang kelulusan SMA, tiap tahun kami kemari. Berkemah dan menjelajah ala-ala anak-anak remaja dan menikmati sungai yang jernih.

Tapi, setelah melewati jembatan mungil, pemandangan yang ada benar-benar tampak berbeda.

Di depan kami alat-alat berat sedang bekerja. Dua buah tiang pancang tertanam deras ke dalam tanah. Pepohonan dan habitat kecil yang berada tepat di jalan masuk sudah rata dengan tanah merah yang dikeruk. Tebing karst di sebelah kanan sudah dihancurkan.

Empat hingga lima beton penyangga raksasa berukuran lima kali pelukan orang dewasa berdiri tegak namun belum selesai dibangun. Menyisakan rangka-rangka besi baja yang tajam menghunjam ke atas. Hanya sungai di sisi kiri yang tidak berubah sama sekali. Namun serasa begitu kontras dengan pemandangan proyek di sebelahnya.

Sejenak saya terkesiap. Hendak apa mereka di tempat ini? Ternyata jalan lingkar hendak dibangun.

Sebuah pendopo yang berdiri terletak di lokasi pembangunan itu. Tidak peduli dengan pembangunan di sekitarnya. Saya lihat, bangunan itu seperti milik sebuah jasa outbond dan kegiatan adventure. Pamflet usaha mereka terpasang di sebelah kiri jembaran kecil. Tepat di hadapan rumah itu, jaring-jaring besar yang dipasang di antara dua pohon besar saya kira adalah milik mereka juga.  Saya bisa tebak usaha mereka akan sedikit terbengkalai dengan jalan lingkar ini. Entahlah.

Kami terus berjalan. Sekitar dua ribu meter masih masuk ke dalam dari titik tadi. Terlihat tiga buah kemah pekerja berdiri di bawah timbunan tanah merah hasil kerukan. Baju-baju dan helm pelindung pekerja proyek tergantung tidak keruan. Tapi tidak terlihat pekerja satupun.

Hal mengejutkan lainnya adalah rumah warga. Tak kurang dari enam rumah warga yang didirikan permanen di jalan masuk sebelum kubus kawat penangkaran hewan kuskus. Sudah sembilan tahun lalu sejak terakhir ke mari. Saya hanya bisa memaklumi perubahan yang nampak di sana-sini.

Anak-anak bemain dan berlarian di halaman rumah. Ayam betina dan anak-anaknya sibuk mematuk-matuk kesana kemari mematuk-matuk tanah mencari makan. Seekor anak anjing baru lahir menggonggong lemah.

Seorang lelaki usia awal paruh baya mengisap rokok di beranda rumahnya. Kami tersenyum dan menyapanya ramah, “mariki’, pak”. Senyum balasannya tak kalah sopannya.

Pos penjagaan masih bangunan yang itu. Tanpa pengawas sama sekali. Kelihatan benar-benar tidak pernah disentuh perbaikan dari masyarakat setempat. Bangunan ini panjangnya lima empat meter melintang jalan. Ada bilik kecil di kiri kanannya yang lantainya habis dimakan usia.

Dinding-dindingnya dibiarkan kumuh dengan debu. Rayap sudah menandai wilayah dan jalur sabotasenya di hampir semua area dinding. Nyaris semua pasir di dalamnya menyembul keluar. Dahulu, ini tempat favorit kami berfoto sebelum pulang maupun pergi.

Aliran sungai yang mengalir di sisi kanan kami masih seperti yang dulu. Batu-batu besar setinggi orang dewasa berserakan beberapa titik sungai, lalu menyempit, dan membentuk jeram-jeram setinggi satu hingga dua meter. Senang kami melihantya. Suara gemuruhnya juga besar.

Namun di kebanyakan bagian lain sungai, air mengalir jernih, tenang, tapi terkadang begitu dingin. Permukaannya menampilkan efek pantulan biru langit yang cerah. Menyegarkan setiap mata yang menyaksikan. Suara riak serta gemuruh dari jeram-jeram yang dihasilkan mampu membuat efek ritmis yang membawa ketenangan. Udara segar dari pepohonan di kawasan hutan konservasi menambah sejuk dan damai suasana.

Tipe sungai-sungai di sini memang begitu biasanya, permukannya rata dan tenang tanpa riak, tetapi menyimpan arus yang deras jika segera menerobos bawahnya.

Di Bantimurung, sejumlah titik genangan yang menjadi kolam di sungai diberi tanda khusus untuk tidak berenang di sana. Tapi, di Bislab, kebanyakan aman-aman saja. Tak ada tanda seperti itu. Biasanya memang para pecinta alam sudah tahu bahwa di lokasi tertentu bisa menjadi rawan kecelakaan.

Utamanya kolam yang terbentuk dari jeram dan air terjun kecil. Belum lagi batu-batu karst yang tajam mengiris dan bebatuan sungai yang berpadu di aliran sungai membentuk kombinasi resiko yang bisa berakibat fatal.

Serem? Ah, tidak. Banyak kok kolam dan tempat mandi-mandi yang lebih asyik dan menyenangkan di bagian dalam. Hehe, tenang saja.

***
Tiba di jembatan besar, hujan mulai turun dengan perlahan. Kami beristirahat sejenak dan mengambil beberapa gambar. Jembatan tua sederhana itu telah direnovasi. Dulunya hanya kayu yang tak berpelindung di kiri kanan. Sekarang sudah menggunakan pengaman.

Langit tidak menunjukkan sisi gelapnya, cerah. Tapi hujan turun semakin deras. Kami tidak bisa berlama-lama dan harus segera melanjutkan perjalanan mencari perlindungan. Untung saja, situs Bisseang Labboro’ sudah dekat. Kami berteduh di bawahnya. Lumut-lumut yang menghitam menghias permukaannya.

Di seberang, mahasiswa pecinta alam dari Universitas Pancasakti sedang berkegiatan Diksar. Lebih sepuluh panitia sedang menghangatkan diri di dalam kemah dan gazebo tua.  Kebetulan sekali. Di dalam pasti lebih ramai. Sahut-sahutan dari dalam hutan mulai terdengar.

Asal usul Bislab punya versi tunggal sepanjang pengetahuan saya. Konon katanya ada saudagar dari Cina yang menaruh hati pada keelokan paras perempuan Desa Samangki. Ia datang dengan sebuah kapal bermaksud membawa serta calon tuan putrinya ke tanah Tiongkok. Tapi sebagaimana lazimnya kisah cinta, selalu ada drama.

Sang saudagar ditolak.  Karena barangkali waktu itu belum ada dukun cinta, ia melenakan dirinya dengan keputusasaan yang dalam (hehe).

Lalu barangkali pula, ia ingin mengekalkan perjuangannya lewat sebuah bukti. Makanya ia mengkaramkan sendirinya kapalnya di titik itu.

Kapalnya lantas berubah menjadi batu. Bongkahan batu besar menyerupai bongkahan badan kapal itu dipercaya milik si saudagar. Patahan kapal itu bertengger miring di pinggir sungai dengan kokoh.

Nah, itulah alasan penamaan Bisseang Labboro’. Bisseang berarti kapal atau perahu, dan Labboro’ bermakna karam atau tenggelam. Kapal yang terdampar atau tenggelam.

“dulu (sebelum ada bukaan jalur ke Bislab) orang-orang Cina (baca: Tionghoa) sering datang ke batu perahu bakar-bakar dupa” kata bapak yang sehari-hari bersama istrinya menjaga warung kecil di sekitar lokasi batu perahu.

Barangkali untuk menghormati arwah saudagar yang meninggal di tempat itu.

“tapi setelah itu (suatu kejadian yang entah apa) sudah tidak pernah lagi (mereka ke sana), dan anak-anak Mapala UMI mulai masuk ke sini, dan orang-orang datang semuami” lanjutnya.

Konon masih menurut cerita sang Bapak yang ia sebut juga dari cerita-cerita ayahnya, bahwa daerah ini dinamakan Bislab ada sejarahnya. Intinya, dia bilang, aktivis Mapala Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar punya peran penting dan panjang.

Para pendahulu mereka begitu akrab dengan masyarakat setempat. Mereka bahkan sering melakukan ekslorasi bersama-sama. Sejak saat itu, mereka menamakan kawasan ini dengan sebutan Bislab. Hingga sekarang, tempat ini saban tahun menjadi arena ‘latih’ para anggota baru.

Meski cerita saudagar itu terasa fiktif dan terkesan rekaan, tapi sejarah tidak pernah mencatatkan dirinya sendiri dalam ruang hampa, bukan? Selalu saja dibutuhkan narasi pelengkap.

***

Bebunyian alam dari dalam hutan begitu jelas terdengar. Burung-burung hutan mencoba memancing keriuhan natural di alam. Pada sejumlah titik, kami bertemu rombongan kelompok peserta diksar dan pendampingnya. Saling bertegur sapa adalah hal yang wajib dilakukan.

Kami sudah berjalan 2200 meter. Dua kilo lebih ke dalam dengan medan berupa tanjakan yang sebenarnya tidak seberapa. Tapi hujan membuat langkah sedikit berat. Irama aliran sungai tidak terdengar lagi sama sekali. Sungai sudah jauh di bawah.

Tanah jadi becek dan licin karena hujan yang tak henti mengguyur. Pakaian kami sudah basah kuyup semua. Tapi tempat camp yang sesuai hati belum kami peroleh. Kami terus menanjak ke menuju ke tebing karst putih yang terentang di puncakan. Sering disebut ‘Jatiya’.

Banyak pohon jati di atas. Anak-anak pecinta alam rajin menggunakannya sebagai arena rock climbing. Mapala UMI langganan menggunakan tebing-tebing di atas untuk keperluan diksar. Otot, Otak, dan Nasib.  Tiga hal itu mereka percaya berpadu dalam keselamatan panjat tebing.

“sepertinya buat camp samping sungai lebih baik, ke atas air bakal semakin susah” teriak saya dengan teman-teman. Saya yang sudah basah benar-benar merasa carrier semakin berat saja.

Kami akhirnya turun, masih di tengah hujan. Kami memilih menyusur sungai saja, daripada menuruni jalan yang licin minta ampun. Keringat bercucuran di tengah hujan deras. Stamina mulai sedikit menurun. Saya bahkan belum makan dari pagi hingga menjelang pukul dua itu.

Tibalah kami di sekitar 50 meter dari Kolam Air Mata. Ah, tidak, lokasinya berbatu. Dulu masih ada tanah berpasir yang muncul untuk nge-camp. Sekarang dipenuhi batu semua. Konturnya juga miring. Air semakin deras saja. Takut nanti bah datang tiba-tiba.

Dari cerita-cerita, sudah berulang kali peralatan kemah teman-teman pegiat alam bebas kehilangan karena dihajar bah. Datangnya memang tidak disangka-sangka. Jadi, semua orang sebenarnya harus selalu waspada.

“….kalau di atas tidak hujan, meski di bawah sini hujan deras, biasanya banjir tidak datang (bah). Tapi kalau di atas hujan keras, biar bagaimana pasti banjir datang.

“tapi itu (bah) bisa kita tau tanda-tandanya. Sekitar 30 menit sebelumnya sudah ada bunyi-bunyi gemuruh keras seperti gesekan batu-batu yang terbawa arus air” kata seorang warga lokal.

Pada akhirnya, kami kembali menelusuri sungai kembali ke Kolam Air Mata. Beberapa meter di atas pinggiran kolam ada tempat berkemah.

Tak menghitung sampai tiga, kami bergegas membuka carrier bag dan semua perlengkapan. Fly sheet, tenda, matras, dan bahan serta peralatan masak portable semua jadi prioritas. Satu orang menjerang air untuk minuman hangat. Kami berdua memasang kemah sesegera mungkin. Hujan masih menguyur. Nyaris jam tiga baru rampung.

Kosong di atas sini, hanya ada kami. Tapi tempat pembakaran menyisakan sampah-sampah plastik nyaris setinggi satu jengkal. Gulungan tali rafia bekas kemah sengaja ditinggalkan pada beberapa cabang terendah pohon di sekitar.

Kelihatan jelas air di bawah berubah menjadi coklat dan derasnya bisa tiga kali lipat. Hingga menjelang pukul lima sore, guyuran air dari langit masih awet membasahi pohon-pohon tirus di kiri kanan kami. Perlahan-lahan kami menyesap kopi sambil menunggu hujan reda.

Sekali Lagi, Menangkap Pesan-Pesan dari Bisseang Labboro’ (2)

img_3880

Pas hujan, enaknya ngopi di dalam kemah. hehe (dok. Akbar)

img_3892

Kolam Air Mata dari atas lokasi camp (dok. Akbar)

img_3862

Jeram-jeram yang deras dan batu sungai yang tajam (dok. Akbar)

img_3868

Satu-satunya jembatan di Bislab (dok. Akbar)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s