img_3903

sebuah jeram, 50 meter dari Kolam Air Mata (dok. Akbar)

Hujan berubah rintik. Tapi bulirannya masih tetap menembus pakaian yang sebelumnya sudah basah. Kanopi hutan yang berada di atas kami memang tidak seberapa tebalnya. Sore memunculkan jingga nya yang kegelapan. Air sungai berubah semakin deras. Buih-buih muncul dari tiap hantaman riak yang terlewat disela-sela batu.

Air sedang tinggi-tingginya. Hujan sedari siang membuat kami hanya bisa bisa bertahan di sekitar camp dan di samping kompor.

Kami membiarkan kompor tetap bekerja demi menghangatkan badan. Masakan sederhana berupa nasi dan goreng telur cukup mengimbangi rasa lapar dari pagi hingga sore. Nikmat sekali rasanya. Tidak banyak, tapi mampu membuat mata berbinar dengan hadirnya sesuatu yang bisa kami makan. Hal substansinya: rasa cukup.

Saya ingat, di tengah jalan turun dari Jatiya, kami berpapasan dengan seorang warga lokal yang sudah dua kali pulang balik-balik. Enam jergen merah bekas oli mobil tersampir di pundaknya. Tiga di kiri dan tiga di kanan yang ditopang oleh potongan bambu yang diletakkan horizontal di pundak kanannya. Isinya berupa air nira (Aren) untuk membuat minuman tradisional ballo’ dan gula merah.

Gerakannya lincah mengikuti naik turunnya jergen sembari menghindari batu-batu sungai. Saya duluan menyapa, “mariki’ pak”

Satu senyum yang malu-malu ia sampirkan di wajahnya. Saya menangkapnya sebagai, “hai anak muda, beginilah hidup. Tidak perlu terlalu pusing. Jalani dengan bahagia”. Barangkali begitu. Hehe.

Saya sejenak tersadar bahwa kenikmatan itu terletak pada rasa syukur atas apa yang dimiliki dan selalu merasa cukup atas apapun. Sebab terkadang, jumlah yang banyak belum tentu membuat orang lain senang dan bahagia.

Selalu mencari dan meminta lebih barangkali sumber ketidaktenangan hidup seorang manusia. Tapi rasa kecukupan, akan memuat semuanya jadi lebih enteng dan lebih menghargai kehidupan.

Sembari bersantai, kami menyaksikan serombongan pengunjung datang dari seberang sungai. Kira-kira lima belasan orang. Mereka hendak menuju kemari.

Mau tidak mau mereka harus menyebarang bagian pinggir Kolam Air Mata untuk sampai. Tapi mereka cukup sigap. Beberapa lelaki dan perempuan yang merasa cukup berani langsung membentuk jembatan manusia. Tujuannya agar mereka bisa menyeberangkan satu sama lain dan perlengkapan camp serta bahan makanan yang tidak sedikit.

Rasanya mengejutkan dan tidak biasa. Terlalu banyak untuk ukuran sehari dua hari. Mereka membawa sekitar enam hingga tujuh galon air, gas melon, sekantong hitam penuh berisi ikan, dan berbungkus-bungkus bahan makanan yang terisi dalam kemasan plastik cap merek toko swalayan di kota.

Setelah menaruk semua barang di pinggir sungai, seorang pria yang mereka tuakan lebih dulu naik ke lokasi camp. Badannya paling tinggi dan besar di antara semua rombongan. Mulut bagian atasnya sengaja dibiarkan dengan terpeliharanya kumis tipis yang membelah.

Kelihatannya usia lima puluhan, tempat tumbuh rambutnya sudah mundur beberapa senti ke belakang. Bagian perutnya juga mulai bongsor ke depan. Tapi wajah dan sekilas pergerakannnya yang gesit, menunjukkan intensitas pergaulan yang lebih kerap ke anak-anak muda.

Senyumnya mengembang tak pernah henti, meski kaos oblong dan celana trainingnya membawa penuh kandungan air.

“ayo dek, kami Ikut gabung-gabung, kami lumayan banyak, tapi santai saja

“sebentar kalian ikut bergabung dengan kami, ya” kata pria itu dengan sopan dan suaranya yang riang dan berat.

Ia berusaha menggapai bagian-bagian dari pakaiannya yang bisa diremas. Air mengucur menetes-netes dari sana. Mungkin tadi ia menawarkan diri berada di sungai yang dalam untuk jembatan manusia.

Dari penjelasannya, sejurus saya tahu beliau yang merencanakan liburan. Lengkap dengan jamuan-jamuan yang akan disiapkan nantinya. Anggota rombongan yang lain merupakan jurnalis foto dan TV di Makassar. Sebagian besar perempuan. Sisanya anggota rombongan yang lebih muda usianya. Mereka adalah teman-teman Mapala UMI yang sukarela membantu kelancaran aktivitas outdoor.

Saya begitu senang melihat kerjasama mereka rombongan di sebelah kami. Mentari baru saja terbenam, tapi mereka sudah menyelesaikan semuanya. Pasang tiga tenda, masak nasi, masak sayur, menjerang kopi dan teh, membuat ikan bakar, macam-macam. Jumlah mereka memang lumayan. Tapi semuanya tidak akan berhasil jika tidak ada koordinasi yang baik, dan tentu saja, inisiatif untuk menyelesaikan apa saja tanpa musti disuruh-suruh lagi.

Yang luar biasa lagi, lantai tanah lokasi camp sudah langsung disulap sedemikian rupa menjadi meja makan panjang ukuran 1 x 5 meter yang dialasi dengan kertas minyak. Di atasnya sudah dilengkapi dengan kepulan nasi untuk masing-masing anggota, sambal ricar-ica, sayur yang ditaburi potongan bakso, dan ikan bakar yang merekah kehitam-hitaman. Dua lampu cash dipasang miring di cabang pohon untuk menerangi acara dan memeriahkan situasi komunal macam begini.

Janji beliau untuk mengajak kami dalam acara besar ini segera ditunaikan. Mata saya seperti hendak keluar bunga-bunga saking senangnya. Kerongkongan sudah hendak menelan ludah menyaksikan kegirangan sekaligus rasa lapar yang masih tersisa. Ah, beruntungnya.

Makanan malam itu sungguh berlimpah. Ikan bandeng besar-besar di bakar sejak sejak tadi sore. Sabut kepala (kaddaro’), cairan spritus, dan alat pembakaran dari besi bekerja terus menerus tak henti-henti.

Sebenarnya, ada orang satu orang lagi yang berperan di balik suksesnya acara ini. Seorang perempuan penjaja minuman dan makanan ringan di dekat situs Bislab. Beliau diikutkan oleh rombongan.

“kasian si Ibu nya jago toko sendirian, belum tentu pula dagangannya laku hingga jauh-jauh malam,

“sengaja kami panggil ke sini (menyewa tenaganya), untuk ikut bantu-bantu” kata si bapak pimpinan rombongan, yang oleh anggota-anggota muda Mapala UMI dipanggil kak Salah (mungkin versi lengkapnya Salahauddin).

Ternyata beliaulah yang memutuskan untuk membawa si Ibu. Setidak-tidaknya, si Ibu bakal mendapat sedikit rejeki untuk ia bawa pulang ke rumah untuk anak-anaknya, yang paling besar kelas dua sekolah menengah.

Kami semua makan bersama, dan bercerita mengenai apa saja. Kak Salah, sebagai yang dituakan memberikan beberapa nasehat. Termasuk suami si Ibu yang menyusul datang di tengah pekatnya malam yang di tengah-tengah kepungan tebing karst.

Bicaranya yang cukup lantang, blak-blakan membuat kami semua terfokus padanya. Terlebih humornya yang segar yang diselipkan di sana-sini. Ia alumni Fakultas Hukum UMI hingga menyandang gelar master. Kisah-kisah heroik, kenekatan, dan kenakalannya semasa kuliah menjadi bumbu renyah kumpul-kumpul malam itu.

Tapi, di antara semuanya, ada hal yang benar-benar serius yang kak Salah sampaikan malam itu. Terkhusus, sebenarnya, ia sampaikan ini pada suami si Ibu.

“pak, mari duduk sebentar, ada yang ingin saya beritahukan agar anak-anak dan keluarga bapak sukses dan selalu bahagia” ia memulai dengan nada yang diseriuskan meski dengan seulas senyum.

Ini barangkali pelajaran untuk yang muda-muda, bahkan bagi yang sudah berkeluarga. Untung,  saya masih terjaga dengan kopi hitam yang disediakan.

“tahukah bapak kalau hidup yang bapak jalani sekarang adalah sebenar-benarnya hidup Sang suami terdiam. Masih belum bisa menerka apa maksud ucapan kak Salah.

“Pertama, jangan pernah bawa uang haram masuk ke dalam rumah.

“Kedua, perbaiki pendidikan anak, paksa anak untuk terus sekolah, kalau perlu pukul sampai pingsan kalau ia tidak mau,

“Ketiga, bapak harus selalu bersyukur dan tidak menuntut lebih banyak dari apa yang sudah ditetapkan Tuhan. Bahagia ada sama bapak, bapak punya hidup yang sederhana. Itulah hidup yang sesungguhnya”

Kalimat terakhir dari kak Salah menohok dan kena sekali di pikiran dan relung batin kami malam itu, minimal di diri saya.

Sejak dulu waktu masih sering ke Bislab, tiap malam kami juga sering mendapat nasehat-nasehat. Malam ini, sebagaimana dulu kami selalu sering dapat pelajaran, hari ini pun kami meneguk hal yang sama.

Poin lain barangkali, menjadi seseorang pecinta alam, berarti juga harus lebih taat dan tunduk pada Yang Maha Menciptakan alam (dan segala isinya). Karena hidup kawan, cuma sekali.

Salam.

img_3906

salah satu sisi sungai yang tenang (dok. Akbar)

img_3913

Rasakan jeramnya (dok. Akbar)

img_3915

Air sungai mereda ketika pagi (dok. Akbar)

img_3917

foto dulu sebelum pulang (dok. Akbar)

Advertisements
Comments
  1. […] Sekali Lagi, Menangkap Pesan-Pesan dari Bisseang Labboro’ (2) […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s