Ada Air Terjun di Balik Batu: Wisata Alam Lacolla

img_3924

Keindahannya tersembunyi. 12 batu berukuran sebesar minibus membentuk benteng mengelilingi air terjun. Untuk mencapainya, Anda harus berjalan nyaris 200 langkah melewati jalan setapak menaik menurun yang hanya bisa dilalui satu orang. Sungguh membuat jantung berdegup, rasanya seperti menemukan jalan keluar dari tebalnya hutan.

Dari Makassar, sekitar 65 kilo dari Makassar, dan ditambah jalan masuk ke lokasi sekitar empat hingga lima kilo. Jadi, totalnya 70 kilo kurang lebih. Oke, dari Makassar Anda menuju kabupaten Maros. Pokoknya, terus saja hingga melewati jalur Camba. Tapi jangan keterusan sampai perbatasan Bone. Hehe. kejauhan.

Setelah menghabiskan jalur Camba yang penuh kelokan ular, tidak usah memacu kendaraan terlalu kencang. Belum ada 15 menit berkendara, Anda akan menemukan jalan menurun di sisi kanan berupa rabat beton. Saya lupa lokasi persisnya, tapi intinya di Desa Cenrana, Kecamatan Cenrana. Tidak jauh dari warung makan pertama di mana mobil-mobil jalur Bone singggah beristirahat. Ada plang putih bertuliskan “Jual Madu” dengan tinta hitam. Wisata yang tergolong baru ini memiliki letak administratif di Dusun Malaka, Desa Cenrana Baru, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros.

Sejatinya, ada dua jalur masuk yang tersedia.

Dari plang, jalur pertama dimulai dengan area jalan beton. Jalan rabat beton di sini cukup lebar dengan panjang dua meter. Terhitung masih baru karena terlihat mulus. Warna putih keperakannya menunjukkan belum seberapa lama kering dari campuran semen pasir kerikil. Sialnya, jalan ini hanya kurang lebih sekilo.

Pertunjukan kedua berupa jalan makadam* (jalan yang dibentuk rapi dari bongkahan batu-batu gunung yang dipecah kecil-kecil), yang kadang menaik curam dan diselingi lubang di sana sini. Celah-celah menganga ini begitu sulit dihindari apalagi jika dalam kondisi menanjak. Area menurun pun menimbulkan perasaan waswas. Jalan ini, punya panjang sekilo juga.

Nah, akan ada bonus untuk Anda setelah melewati jalan makadam yang runcing itu. Anda akan melewati satu tempat yang menurut saya keren. Ada bangunan sekolah dasar (rumah mungkin, saya lupa-lupa ingat) dan di depannya terbentang halaman rumput yang luasnya lebih dari satu lapangan bola.

Tanaman rumputnya begitu rapi. Hanya di beberapa titik saja rumput gajah tumbuh. Beberapa ekor sapi merumput dengan tenangnya. Tidak ada seorang pun di situ. Alam cuma ingin menampakkan momennya. Kilau matahari membias di sana. memantul di  hijaunya rerumputan dan atap rumah.

Seperti ada efek freeze ketika kami melewatinya. Tempatnya begitu photogenic, mengingatkan saya tentang lukisan-lukisan natural dan foto-foto kalender.

Dua kilo sisanya adalah jalan terserah. Hehe. Jalan ini merupakan kombinasi rabat beton yang umurnya mungkin sudah lima atau sepuluh tahun. Beberapa masih lumayan mulus untuk dilalui, tapi selebihnya meninggalkan lubang-lubang yang menghamburkan bebatuan. Salah sedikit, bisa-bisa kendaraan mengalamai selip. Mirip-mirip dengan jalur menuju Desa Latimojong Kab.Enrekang. Meski jalan di sini masih lebih stabil. Oiya, meski begitu, mobil bisa masuk lho.

Sebagaiman umumnya jalan pedesaan bagian dalam, hanya beberapa saja rumah yang terletak di pinggir jalan. Selebihnya adalah hamparan bedengan sawah, ladang, rombongan ternak, dan perbukitan.

Kesimpulannya, melalui jalan pertama ini, insya Allah Anda akan mengalami pegal-pegal. Hehe.

img_3989

img_3991

img_3992

img_3994

img_3995

img_3999

Jalur kedua, kita masuk dari jembatan biru yang berada di sisi kanan jalan dari arah Maros yang menuju Bone. Saya menyebutnya jembatan biru karena penyeberangan ini punya tiga penyangga utama berwarna biru terang. Di bawahnya sungai dengan batu-batu lancip menganga membentuk labirin-labirin bagi mengalirnya sungai.

Penghabisan jembatan langsung terkoneksi dengan satu-satunya jalan. Sebuah rabat beton dengan panjang kira-kira sekilo harus ditempuh. Jalan ini cukup sempit, hanya satu meter lebarnya.

Jalur ini bukan jalur umum ke Lacolla. Saya menebak jalan ini dikhususkan bagi masyarakat lokal yang hendak berkebun dan bertani. Tiga motor tanpa beban bisa lewat bersamaan, tapi jalan ini hanya bisa menampung dua motor pus beban seperti, padi, gabah atau hasil tani lain.

Jadi, saya sarankan untuk tidak melewati jalur ini dengan menggunakan mobil. Kasian kendaraan roda dua yang bolak-balik menangkut hasil sawah dan kebun. Hehe.

Kami lewat sini karena tidak ingin pengalaman saat pergi terulang lagi dengan perjalanan pulang. Susahnya minta ampun. Kenapa kami bisa tau ada jalan ini? Ada pepatah yang selalu benar, malu bertanya sesat di jalan. Keramahan warga setempat membuat kami bisa menyingkat dan memintas dua kilo perjalanan. Terasa jadi jauh lebih cepat serta bebas pegal dan kram. Hehe.

Untuk lahan parkir masih berupa lahan tiga kali tiga meter yang langsung menghadap ke tubir perbukitan. Waktu itu, ada sebuah mobil yang parkir, selebihnya roda dua. Di atasnya, ada spanduk 50 x 50 cm yang sudah usang dan robek sana sini.

Air Terjun Lacolla Dua

Wisata alam Lacolla memiliki dua air terjun sebagai objek utama. Dua air terjun ini terpisah sejauh setengah kilo kurang lebih. Objek pertama berada masih ke dalam lagi, yang kedua ada di bawah. Air tejun kedua adalah yang pertama kali bakal kita ditemui.

Dari lahan parkir, kita akan menemukan jalan dan tangga menurun berupa rabat beton (lagi-lagi). Tapi ini benar-benar beda, lebarnya tidak sampai semeter, dan, kemiringannya 70 hingga 80 derajat. Akses ini nantinya akan berujung pada tubir air terjun kedua. Pengerjaannya memang belum selesai.

Tiga puluhan anak tangga masih setengah kering. Dan masih tersisa hitungan meter lagi sebelum benar-benar sampai di air terjun kedua. Asli yang ini bikin saya bergetar setengah mati. Kalau mendaki saya masih mampu, tapi kalau menurun saya sering berasa ngeri sendiri.

Terpaksalah saya harus lewat samping jalan dan pinggirnya rawan longsor ke bagian bawah yang entah ujungnya ke mana. Pedih rasanya, mo nangis.

Di bagian jalan yang sudah kering pun saya ragu. Saya khawatir grid alas kaki gunung tidak mempan mengikat molekul-molekul pasir halus yang berhamburan di beton licin dengan kemiringan 75 derajat. Beberapa sendi saya jadi ngilu sendiri tak bisa dikendalikan. Akhirnya saya memutuskan bertelanjang kaki untuk merasakan bagian-bagian kesat yang bisa dilewati. Kalau tidak begitu, saya bakal meluncur dan terjungkang. Hehe.

Barangkali karena akses menujuk air terjun yang curam –benar-benar berada di  kaki sebuah perbukitan- makanya butuh tenaga, anggaran, dan waktu yang cukup untuk menyegerakan Lacolla objek sebagai wisata potensial.

Dibanding air terjun pertama, air terjun kedua memiliki banyak penggemar dibanding sodaranya. Muda-mudi menghabiskan waktu di bawahnya. Ber swafoto dengan aneka macam gaya, atau sekedar duduk-duduk santai di atas air terjun.

Curahan airnya tidak sederas yang pertama, tapi bentuknya menyerupai tangga layak menjadi daya tarik. Bebatuan sungai dengan diameter satu meter berserakan di lintasan air sungai di kaki air terjun.

Air Terjun Lacolla Satu

Inilah air terjun yang jadi daya pesona Lacolla. Dari air terjun pertama, kita masih terus berjalan ke atas, sekitar 200 langkah lagi. Menanjak, menurun, dan berliku-liku.

Kondisi jalannya berupa setapak tanah berbatu yang dibiarkan alami. Sayangnya, jalan ini hanya bisa dilalui satu orang dewasa. Sehingga jika ada dua orang yang ingin melalui jalan ini secara bersamaan, satu orang harus mengalah. Segera sebelum mencapai air terjun, deru air yang yang jatuh dari puncak sudah terdengar jelas.

Uniknya, air terjun ini sama sekali belum bisa kelihatan rupanya sebelum sampai di tempat. Selama perjalanan, pandangan kita selalu terhalangi oleh bebatuan besar seukuran mobil minibus yang setia berada di sisi kanan.

Bahkan tidak kurang dari 12 batu dengan ukuran yang sama membentuk benteng melindungi air terjun dari depan. Jadi, lanjutkan saja terus perjalanan hingga akhir sebelum menemukan setitik surga tersebut.

Percaya, kelelahan yang kita peroleh bakal terbayar di Air terjun Lacolla satu. Dari balik bebatuan, muncullah sepandangan objek yang begitu luas, memutar, dan memanjang. Saya memutar mata 180 derajat di hadapan air terjun juga belum habis-habis landscape yang disajikan. It was such a breathtaking, impressive view.

Pandangan saya berganti-gantian hadir warna biru air kolam air terjun, putih buih, dan keperakan batu-batu sungai. Kombinasi yang memanjakan mata.

Anak-anak kecil bermain sembu-sembur air di pinggiran, tidak berani terlalu jauh. Mereka berasa senang sekali. Seorang dari kota memanjakan mereka dengan rebutan wafer coklat yang di lempar di pinggir kolam.

Berbeda dengan air terjun kedua, di sini pengunjung tidak bisa beramai-ramai. Hanya dua bongkahan batu besar yang punya permukan relatif rata dibanding yang lain. Sehingga, pengunjung yang datang hanya punya dua pilihan. Mencelupkan diri langsung di air, atau hanya melihat dan keindahannya dari balik bebatuan yang berserakan.

Kolam air yang terbentuk memiliki kedalaman hingga sembilan meter, kata pemuda lokal. Kesegarannya airnya langsung terasa setelah setengah badan menyentuh air. Mungkin karena saya lelah berpeluh di perjalanan makanya terasa segar. Hehe. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul dua lewat siang hari, tapi saya tidak bisa berlama-lama bermain dalam air. Dingin. Brrr.

Nah, saran saya, kalau kemari, jangan lupa bawa alat masak portable, dan tentu saja kopi Toraja. Menyeduhnya di atas batu sambil duduk santai adalah pilihan yang begitu

img_3971

img_3967

img_3943

img_3942

img_3933

img_3926Sebelum pulang, kami menunaikan dua waktu shalat sebelum terlewat. Bagi yang muslim, kemana-mana jangan lupa shalat bro. hehe. Tiap langkah yang terjejak, harus ada bukti bahwa kening kita pernah bersujud di tanah-Nya. Kalau cuma bukti foto, ya sia-sia doang. Hehe. tul gak?

Itulah tanda kepasrahan dan kerendahan diri seorang manusia pada Tuhan-Nya. Dan juga bentuk apresiasinya pada rupa-rupa ciptan-Nya yang indah. Mencintai alam harus dibarengi dengan ketundukan kita yang lebih pada Yang Menciptakan Alam. Bukan begitu, my bro?

Eh ini nge-blog ato mo ceramah (ups). Yah, sekian dulu.
Nanti dilanjutkan edisi yang lain.

Sampai jumpa. Hehe…

Foto: dokumen Muh. Akbar Salman

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s