whatsapp-image-2016-12-06-at-14-14-13

dok. Kompak Tawwa

“awalnya, kita ingin buat sesuatu yang lebih Indonesia, yang bukan sekedar travel website. Tapi sebuah networking information yang menyeluruh bagi travel, karena Indonesia negara besar, problem utamanya ya bagaimana mereka berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain”  Gaery Undarsa (Co-founder dan Chief Communication Officer Tiket.com)

Suka tidak suka, permasalahan di atas memang terkonfirmasi benar adanya. Kita harus mengakui itu. Pasti ada saja orang-orang yang tidak tahu bagaimana jika dari Makassar, harus bergegas ke Pidie atau Bojonegoro. Atau dari Jakarta menuju  Sorong Selatan atau Manokwari, atau dari Bima menuju Hulu Sungai Selatan atau Maluku Tenggara Barat, misalnya.

Belum lagi sarana transportasinya, sudah ada atau belum. Apakah sudah terjangkau dengan darat atau laut?

Apakah menuju ke sana harus menggabungkan tiga platform transportasi, udara dulu, kemudian naik kereta, terus disambung dengan bus? Pertanyaan ini jelas akan selalu membayang, utamanya bagi masyarakat yang hendak bepergian pertama kali ke tempat tertentu.

Oke, untuk urusan itu, pemerintah punya kewajiban menyambungkan darat, laut, dan udara Indonesia . Tapi untuk urusan kemudahan dan efektivitas perjalanan, beberapa orang sudah memulainya, termasuk apa yang diupayakan Gaery Undarsa di perusahaan travelnya, Tiket.com. Itu setelah ia memutuskan kembali ke Indonesia untuk membangun ekosistem digital setelah sempat bekerja di perusahaan IBM.

“yang kita ciptakan adalah suatu ekosistem dan informasi dari poin A ke poin B di seluruh titik di Indonesia. Itu yang (sedang) kami diciptakan

“(kami ingin) menjadi sebuah solusi untuk Indonesia yang besar, dan itu kami mulai dengan mengatasai problem” katanya dengan nada optimis.

Informasi, ya informasi adalah jawabannya. Tidak hanya sekedar itu, saya membayangkan kita bakal punya beberapa alernatif pilihan informasi yang mendukung perjalanan, dan aplikasi mobile yang terintegrasi ke semua layanan transportasi di darat, laut, dan udara.

Ini bukan tidak mungkin, lebih dari setengah penduduk Indonesia (137 juta) terhubung dengan gawai elektronik yang terkoneksi internet. Belum lagi jumlahnya tiga kali lipat, yang berarti setiap orang rata-rata memiliki dua hingga tiga gadget dalam satu genggaman.

Memasuki akhir tahun kelima sejak diluncurkan Desember 2011, Gaery berhasil menciptakan koneksi ke 3500 hotel, 180.000 hotel bertaraf internasional. Barangkali pencapaian terbesar menurutnya adalah perusahaanya dengan marathon dapat menduduki peringkat satu agen online PT.KAI, kereta api. Tranportasi paling diminati sekaligus paling ekonomis bagi masyarakat khususnya yang bermukim di pulau Jawa.

Ini berarti kepercayaan masyarakat terhadap tiket.com begitu besar. Reratanya, dalam lima tahun ini, ada 3 juta pengguna mobile di Tiket.com, ada 15.000 online booking setiap harinya dengan ragam rute yang jumlahnya menembus 180.000.

Khusus di apps, Tiket.com menyediakan program Last Minute Flight dan Last Minute Hotels, jadi katanya, jangan takut kehabisan tempat nginap, terutama Hotel Murah dan Tiket Murah. Konon informasinya  memungkinkan masyarakat dan user Pesan Hotel dan Tiket Pesawat 3 jam sebelum keberangkatan atau check-in.

whatsapp-image-2016-12-06-at-14-58-46

Peserta #NgopiBarengTiket Makassar (Sabtu, 3 Desember 2016)

Kenapa Tiket.com ke Makassar? (Ngobrol Penuh Inspirasi: #NgopiBarengTiket)

Gaery yang lama bermukim di Kanada ini menyatakan ketertarikannya yang begitu besar dengan Makassar.

“saya orang yang benar-benar tidak suka nginap di satu tempat untuk urusan kerjaan, saya harus balik ke rumah. Tapi untuk Makassar, saya merasa harus menghabiskan waktu dua malam mengenal Makassar”

Ada sejumlah alasan sebenarnya. Jika menelisik data beberapa waktu terakhir untuk online buyer, Makassar memang selalu menjadi the number one and the only biggest one di luar Jawa. Jadi, istilahnya, cuma ada dua pusat. Jawa dan Makassar.  Sekitar 141% pertumbuhan pengguna perangkat mobile terjadi di Makassar. Ini menunjukkan penetrasi digital yang cukup tinggi sedang menggeliat dan bergairah di kota Daeng.

Saya menduga, barangkali inilah alasan dan faktor mengapa Makassar selalu disebut-sebut sebagai top cities: digital penetration. Jajaran Top 5 pasti masuk. Dikerucutkan top 4, kemungkinan besar masuk. Dikerucutukan lagi jadi top 3, insya Allah masuk. Kalo top 2? Saya nggak yakin, belum yakin. Saya tidak berani mengganggu dua posisi yang tidak bakal tergantikan, Hehe.

“sepertinya orang Makassar, selalu punya uang untuk menghabiskan waktu naik pesawat ke mana-mana” canda Gaery.

Hehe. saya juga baru tahu. Iya juga. Sepengamatan saya, bandara tidak pernah sepi dari orang-orang. Belum lagi penerbangan ke Toraja, Mamuju, Banggai, dan sejumlah  penerbangan yang menghubungkan Makassar dengan kota-kota kecil di Pulau Sulawesi. Ruaaameee nya minta ampun.

Mungkin karena orang-orang Makassar memang benar-benar punya banyak uang, atau karena budaya saling mengunjungi yang membuat seperti itu, lalu silaturrahim yang tadi bakal mengundang rejeki lagi, dan seterusnya dan seterusnya. Hehe.

Itu baru penerbangan, belum lagi kalau kereta api nanti sudah jadi (ngomong-ngomong, PT. KAI punya rencana besar lho untuk Makassar). Kalau nanti benar-benar jadi, wah, jappa-jappa itu jadi urusan wajib. Semoga segera terwujud Amiin.

“Di Makassar, pertumbuhan mobilenya luar biasa, semua nge-gugling pake smartphone” lanjut Gaery tentang Makassar.

Menurut data yang mereka punya, antara Januari hingga September 2015, 61 persen pengguna di Makasssar menggunakan smartphone untuk mencari penerbangan, hotel, dan macam-macam. Tidak kalah mengejutkannya, ia menyajikan estimasi bahwa hingga di akhir tahun 2016 ini, pertumbuhan akan meningkat menjadi 75 persen.

Setelah semua keterkejutan Gaery dengan Makassar, nah, selanjutnya adalah hal yang cukup menggembirakan, (sambil bisik-bisik) rencana mau buka branch di sini tahun depan. Wow. Can’t wait.

Dalam rangka menggiatkan perekonomian dan agar lebih semakin merekatkan Indonesia, ia meng-create sebuah apps baru di mana wadah ini menghubungkan Corporate + Online + Travel + UKM (Usaha Kecil Menengah) + Komunitas untuk membentuk an integrated travel information platform yang berkelas. Blogger dan masyarakat umum bahkan bisa terlibat dalam menjadi partner, boleh affiliate (widget di blog) atau offline agent reseller.  Semuanya gratis.

Yuk, teman-teman, ke Makassar juga. Siapa tahu Anda ingin merasakan sensasi bermalam tahun baru 2017 dengan lanskap langsung menghadap ke Pantai Losari. Bisa dipastikan di sana akan bertabur kemegahan bunga api setelah detik pertama pergantian tahun. Ada banyak penginapan yang tersedia di Makassar (83 hotel). Tapi saat ini cuma 32 yang tersedia. Mulai dari kelas bintang lima seperti The Rinra Makassar di Jalan Metro Tanjung Bunga hingga POD House Losari (sisa tiga kamar lagi, buruan) tepat di Jalan Penghibur.

Terus Menulis dan Belajar adalah pencapaian tertinggi Konten Blog.

Setelah sharing session bersama Gaery Undarsa, #NgopiBarengTiket menampilkan pembicara yang tidak kalah ciamik dan profesional, Mugniar Marakarma atau Ibu Mugniar. Seorang blogger perempuan aktif di Makassar yang aktif tergabung dalam sejumlah komunitas blogger di Indonesia. Pengalaman 10 tahun dalam nge-blog membuat dirinya selalu terdorong berbagi pengetahuan dengan yang lain.

Bahasan kali ini ialah mengenai bagaimana cara membuat personal blog menjadi lebih berarti (cieee). Sesi ini bertajuk “Magnetize and Monetize: How to Attrack Brands and Monetize Your Blog” yang dipandu langsung oleh Nuniek Tirta Sari, pemiliki Nuniek.com sekaligus pendiri Indonesia Lifestyle and Digital Influencer Group.

Pada intinya, me-monetize blog berarti membuat blog yang tidak sekedar personal blog, tetapi blog digunakan sekaligus mencari uang. Lalu, ujung-ujungnya, para blogger akan berupaya untuk membuat dirinya sendiri menjadi daya tarik (magnetize) dalam setiap aktivitas bloggingnya.

Apakah itu tercermin dalam kualitas tulisannya, keseriusan dan kefokusannya dalam ber-media sosial, atau tingkat kreativitas yang dihasilkan dalam setiap menelurkan sesuatu lewat blog. Nah, kira-kira seperti itu.

“kekuatannya selalu (dan selalu) ada pada konten (tulisan)” katanya.

1. Konten adalah Raja.

Patut diingat bahwa sejak dimunculkan situs-situs penyedia blog gratisan, atau katakanlah sejak 1998 saat orang-orang mulai nge-blog, perkembangan blog sebagai referensi bermutu/bahan konfirmasi ketika ingin mengulik sesuatu, sangatlah lambat.

Media sosial yang lebih sederhana selalu menggantikan posisi blog sebagai arena pertukaran informasi yang begitu cepat. Ditambah lagi, minat baca masyarakat Indonesia yang tergolong rendah. Ilustrasinya, dari 1000 orang Indonesia, hanya akan ada 1 hingga 3 orang dari mereka yang membaca serius dan bahan bacaan serius (UNESCO: 2012)

Olehnya itu, konten blog menjadi begitu penting. Blogger harus selalu senantiasa mendayagunakan segala kemampuannya untuk menghasil tulisan yang bagus, mudah dimengerti, dan pesan yang selalu sampai pada pembaca. Semuanya dilakukan agar banyak orang yang melirik dan singgah ke dalam ruang baca yang kita siapkan.

Kedua, selalu tampilkan sifat khas dalam tulisan (niche). Misalnya, saya suka tulisan travel story yang bergaya reflektif, seperti Agustinus Wibowo, dan lain-lain. Saya suka juga menulis tentang kejadian sehari-hari tentang politik format esai dengan gaya penulisan bertutur seperti esainya Goenawan Mohamad. Nah, saya akan menjaga itu dalam setiap karya yang saya cantumkan di blog.

Tulisan juga harus selalu dibukat memikat, barangkali dengan penggunaan lead atau jenis-jenis pancingan yang lain dalam penulisan feature biasa atau human interest. Intinya, pesan yang ingin disampaikan sebisa mungkin dapat sampai pada pembaca dalam sebuah paragraf pembuka.

“Ornamen” pendukung tulisan juga patut diperhitungkan. Sekarang, ada banyak blogger ataupun situs berita yang menampilkan ornamen untuk memperkuat tulisan. Apakah itu sebagai ilustrasi atau tujuannya untuk menambah informasi yang ingin disampaikan ke subscriber. Misalnya video, grafis, hasil survey, dan lain-lain. Akhir-akhir ini saya menikmati blog walking yang punya konten menarik seperti itu, misalnya Tirto.id. Saya merasa, cerita-cerita itu jadi lebih informatif dan atraktif. Tidak hanya melulu tentang tulisan saja.

Pembaca yang cerdas, tau mana cerita yang jujur dan mana yang dilebih-lebihkan. Blogger tahu pasti bahwa mereka harus jujur dalam mengungkapkan apapun. Sebab jika tidak, mereka akan ditinggalkan para pembaca. Tidak perlu berakting sama sekali, karena sekali ketahuan tidak sportif dalam menulis, orang tidak akan ke sana lagi untuk yang kesekian kalinya. Misalnya dalam aturan mengutip dari sumber lain atau mengulas suatu produk dengan cara yang berlebihan. Plis jangan dilakukan ya, soalnya, sekitar 40% netizen bakal cari review barang dulu sebelum membeli. Hihih (Nielsen Global Survey of E-Commerce: 2014)

Terakhir, buatlah konten yang benar-benar menarik untuk pembaca dan menarik juga buat mesin pencari, begitu kata Ibu Mugniar. Hehe.

2. Ide Ada di mana-mana

Mengenai ide dalam pembuatan konten, blogger tidak perlu ragu untuk kehabisan stok. Ide kerapkali bisa ada di mana saja. Mulai dari buku, majalah, koran, blog orang lain, bahkan anekdot yang kerap terjadi di masyarakat lokal. Namun, yang paling punya pengaruh “saat ini” adalah trend di media sosial.

Cukup dengan memerhatikan sejumlah media seperti Facebook, Twitter, atau konten-konten viral di Line, Whatsapp, Telegram, dan macam-macam. Laman media warga nasional (citizen journalism) seperti Kompasiana juga menyediakan beberapa trend dalam satu box khusus yang bisa langsung diulas oleh para blogger atau citizen journalist.

Nah, di sini semua orang berlomba untuk menampilkan konten yang terbaik di antara yang terbaik. Siapa yang bakal dapat menuai pembaca yang banyak? Tentunya ia yang menyajikan hal yang paling menarik dengan sudut pandang yang baru.

3. Optimalkan “senjata” blogger.

Ada tiga tools yang harus dimaksimalkan sejak dini oleh blogger, utamanya agar blog yang mereka kelola dapat menghasilkan uang dan menuai banyak pengunjung. Perangkat-perangkat ini juga sebenarnya yang akan mendorong seorang blogger memunculkan dirinya dalam kerangka ‘personal branding’.

Pertama adalah sosial media (termasuk email). Pada umumnya, blogger yang baik memiliki media sosial yang di-maintain (dipelihara dan dikelola) secara baik pula. Seorang blogger wajib memiliki akun-akun jejaring aplikasi sosial yang mencerminkan aktivitasnya dalam dunia blogging. Misalnya, barangkali Ibu Mugniar dua hingga tiga kali dalam seminggu memunculkan opininya dalam kultwit (kuliah twitter) tentang tulisan yang baru saja ia ulas dalam sebuah artikel blog.

Kedua adalah perilaku. Dalam kesehariannya, misalnya, Ibu Mugniar juga menjaga perilakunya dalam ber-media sosial ria. Hal itu dikarenakan orang-orang yang mengikuti Ibu Mugniar akan selalu menguntit apa saja yang dimunculkannya. Perlahan tapi pasti, orang-orang akan memunculkan trust pada seorang blogger yang bernama Ibu Mugniar atas sikap konsistennya dalam ber-konten.

Tak kalah penting juga yakni jaringan pertemanan atau komunitas. Pepatah bilang, banyak teman banyak rejeki. Seorang blogger misalnya harus menceburkan diri dalam berbagai kegiatan komunitas apa saja, atau lebih khusus lagi komunitas blogger atau netizen. Dari situ, mereka bisa saling berbagi, saling belajar, dan saling meng-endorse satu sama lain. Kalau kata Mugniar, “pertemanan itu lebih berkah dari uang”.

4. Monetize: Pintu-pintu Rejeki

Selain menyuguhkan konten, tentu kita ingin blogger dapat menghasilkan uang dengan hobi/pekerjaan yang ia lakukan. Setidak-tidaknya, me-monetize blog itu punya tujuh cara sebagai berikut: review produk (endorsement), link dalam konten, content placement, content writer di media lain, affiliate, buzzer di media sosial, administrator.

Agar dapat dilirik, tentu jam terbang seorang blogger dalam menuliskan konten juga harus cukup. Minimal, ia dikenal sebagai seorang blogger apa, fashion blogger atau travel blogger misalnya. Sekali lagi, sikap konsisten, termasuk gaya tulisan mengalir dan mudah dipahami pembaca, para klien yang membutuhkan jasa seorang blogger akan menjadi lebih terbantu.

Contoh, pada beberapa kesempatan Ibu Mugniar diajak untuk menjadi seorang kontributor buletin (cetak dan online) dari sebuah yayasan yang bergerak di bidang pengembangan kawasan timur Indonesia. Beliau dipilih karena gaya bahasa dan penulisan runtut serta runut yang ia miliki. Hal itu diinginkan dan disenangi pengelola yayasan. Lalu, apa yang Ibu Mugniar lakukan pada yayasan yang meng-hire jasanya? give them something more beside your job.

5. Proses adalah keharusan.

Blog walking, jangan lupa mengunjungi, membaca, memerhatikan konten, dan meninggalkan komentar positif di blog orang lain. Secara tidak langsung, jalan-jalan ke sebuah blog akan menambah daftar panjang ide kita. Memberi kita inpirasi dan insight untuk menuliskan konten-konten selanjutnya. Pada prinsipnya, jangan pernah berhenti belajar dan tidak pernah lelah dalam bersabar mencari ilmu-ilmu baru.

Membaca, jangan lupa membaca apa saja. Membaca sambil menelaaah membuat kita tahu bagaimana sebuah tulisan disajikan dengan cermat, rapi, informatif, tapi tetap menghibur. Sambil membaca, kita juga bakal ngerti sedikit-sedikit bagaimana mengelola dan meng-eksplor penggunaan bahasa sehingga lebih variatif dalam mengelola rangkaian kata.

Sesedikit-sedikitnya, perbendaharaan kata bertambah dengan sendirinya. Lalu, kita juga –seiring dengan proses menulis yang terus menerus- akan menemukan sendiri gaya bercerita yang khas, yang mana itu akan menjadi stempel seorang blogger, yang menandai mereka dalam setiap berkarya.

Mengusahakan visitor, jangan lupa untuk mengupayakan penambahan jumlah pengunjung. Tentunya pertama-tama dengan terus menulis dengan kualitas yang baik, kedua adalah menumpang tenar di akun orang lain.

Menurut Mbak Nuniek, jangan takut untuk melakukan pendekatan (approaching) dengan orang-orang tenar (blogger profesional/public figure), sering-sering memembuat komentar atau meng-endorse mereka di laman media sosial, misalnya. Ada pepatah bunyinya begini, “mintalah, maka kau akan diberi”. Begitu kira-kira maksud Mbak Nuniek. But, you have to bear in mind to enjoy all of the process. Hehe.

Dalam diskusi yang sejuk menjelang siang itu, Mbak Nuniek mencoba juga berbagi  dua tips utama dalam me-menotize blog.

Ini prinsip yang pertama: berani menonjolkan diri.

“Anda harus berani stand out sendiri, pertahankan kualitas diri sendiri. Intinya, Anda dibayar, sehingga Anda harus mempertaruhkan nama pribadi masing-masing” kata Mbak Nuniek.

Untuk menggapai hal tersebut, blogger perlu menetapkan goal-nya sendiri-sendiri. Apa yang menjad impian dan tujuannya di masa-masa yang sudah ia tentukan. Memang tidak bisa ujug-ujug buat blog, sebulan kemudian bisa menghasilkan uang. Semuanya harus tersusun dan terencana dengan matang.

Langkahnya bukan sesuatu yang instan seperti yang dijelaskan ibu Mugniar dan Mbak Nuniek. Perlu ada step-step yang jelas, seperti dalam prinsip personal branding : AIDA (Awareness, Interest, Design, dan Action). Dalam kata lain, dimulai dari ciptakan kesadaran orang-orang tentang eksistensi Anda di perseliweran dunia digital, tentukan isu yang menjadi ketertarikan Anda, memformulasikan segala apa yang Anda inginkan (perencaan), kemudian bergeraklah terus.

Dalam dunia digital influencer, ada yang namanya Rate Card. Rate card ini semacam dokumen yang menjadi offerance para blogger/influencer kepada klien yang menghendaki kerjasama. Di dokumen inilah terletak catatan seperti rekam jejak mereka, mulai dari traffic, google analytics, jam terbang, dan tingkat kepopuleran mereka di media sosial.

Meski begitu, poin yang harus selalu dicamkan baik-baik ialah rejeki tak melulu dalam bentung hitung-hitungan uang, juga tak harus selalu menegosiasikan fee (ada saatnya), daaaaan, berikan kerja berkualitas sebelum menuntut hak.

Prinsip yang kedua: perkuat konten di blog.

Tidak satupun blogger populer punya konten yang biasa-biasa saja. Setiap postingannya selalu mengundang banyak pembaca dan perhatian dari netizen. Blogger yang baik pasti tidak akan mengijinkan sesuatu masuk ke dalam “ruang pamer”-nya kecuali itu dari hasil karyanya sendiri. Karena yang mereka ciptakan adalah mahakarya. Tidak akan sama, hasilnya selalu beda dan mencerminkan karakternya sendiri. It’s always really me. Istilah inovasinya, creating masterpiece after masterpiece.

Nah, apapun itu, yang terpenting, kuncinya adalah tetap bertumbuh sebagai seorang blogger. Jangan pernah berhenti belajar sedikit pun.

Oiya, sudah bilang belom kalau saya dapat doorprize? Tiket.com di akhir acara kasi saya voucher tiket sebesar 500 ribu rupiah. Alhamdulillah. Memang, rejeki ga bakal kemana, apalagi ketuker. Kalo Putri ketuker sih banyak di sinetron. Hehe. tul gak?

So, are you ready for starting your an awesome blog? Magnetize yourself, and monetize your medium. Here we go! KeepBlog! StayOnYourBlog!

***Sumber gambar: Koleksi Kompasianer Makassar (Kompak Tawwa)***

whatsapp-image-2016-12-06-at-14-03-34

Mbak Nuniek dan Ibu Mugniar (dua di tengah) berfoto dengan Kompasianer.

whatsapp-image-2016-12-06-at-14-06-37

Inilah kami, Kompasianer yang hadir berfoto dengan Mbak Nuniek

whatsapp-image-2016-12-06-at-14-07-44

Sepertinya mereka lagi Live Tweet (atau lagi Wassap-an, bisa jadi-bisa jadi)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s