Yang Bertumbuh Yang Bergeliat: Ekonomi Kreatif

Posted: December 16, 2016 in Artikel, Opini
Tags: , , , , , , ,

 

creative-industries-ad-1

everythingdifferent.co.uk

“To live a creative life, we must lose our fear of being wrong” Joseph Chilton Pearce

Di tengah selipan koran Kompas pagi yang terselip di ruas pagar, muncul sebuah buletin. Hampir saja terjatuh jika saya tidak sigap.

Warnanya putih bersih. Mulai dari sampul bagian depan, halaman konten, hingga sampul belakang. Jenis kertasnya ekslusif, glossy platinum mungkin, yang menimbulkan kesan mewah. Mirip kertas yang digunakan mencetak foto.

Jumlah halamannya tidak kurang dari 20. Selintas bakal terasa ringan jika dibaca sebelum berangkat kerja atau menuntaskan urusan pagi hari sembari minum teh atau kopi. Biasanya, saya baca korannya langsung. Tapi, tema buletin terlalu menarik perhatian. Oke, untuk kali ini, saya terpaksa mengesampingkan korannya dulu.

Desainnya juga menarik. Tidak terlalu padat, artikel yang ringkas, lugas, dan langsung ke titik pungkas. Namun hal penting yang menyita perhatian ialah tema bahasannya: Ekonomi Kreatif.

Tertulis di situ, buletin ini merupan terbitan pertama BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif). Sebuah Lembaga Pemerintah Non-Kementerian yang memiliki tanggung jawab di bidang ekonomi kreatif dengan enam belas subsektor.

Buletin ini diberi nama “retas”. Tidak main-main, cover story volume perdana ini menerjunkan Eko Nugroho (seorang seniman kreatif yang cukup produktif). Nah, lantas, apa sesungguhnya yang ingin di- “retas’ oleh buletin ini? Saya akan berikan intisari cuplikannya di sini.

Pada kolom pengantar, Kepala BEKRAF Triawan Munaf menjelaskan, “di era yang modern ini, sumber daya alam sudah semakin terbatas sehingga menyebabkan Ekonomi Kreatif sebagai alternatif utama yang sangat menjanjikan mengingat Indonesia mempunyai sumber daya yang melimpah”

“menghadapi hal ini, kita harus mengerti bagaiman cara mengembangkan industri kreatif secara optimal dan menghadapi tantangan-tantangan yang ada guna memaksimalkan industri ini menjadi model bisnis terkini

Sehingga meminimalisir kegiatan eksploitasi alam, dan sebaliknya mengandalkan kelimpahan sumber daya manusia Indonesia yang kreatif. Dari sini, kita bisa garisbawahi tujuan BEKRAF: menjadikan industri kreatif sebagai model bisnis terbaru.

Sudah pukang melintang perbendaharaan istilah “Ekonomi Kreatif” dalam ritus perkabaran media mainstream kita hari ini. Tapi, apa sebenarnya bidang ekonomi yang bersifat kreatif ini?

Tim “retas” menjelaskan dengan ilustrasi menarik.

“gambarannnya, kayu gelondongan yang dipotong dan dijual begitu saja akan menghasilkan 7000 rupiah per potongan. Jika kayu tersebut diolah menjadi palet kayu, maka ia akan menghasilkan 30 ribu rupiah. Namun jika kayu tersebut diola secara kreatif, misalnya saja menjadi stapler kayu, maka harganya menjadi 100 ribu rupiah. Bayangkan, berapa rupiah yang akan dihasilkan dari sebuah gelondongan kayu jika diproduksi menjadi stapler kayu?”

bekraf1

sampul belakang

Sejenak barangkali, kondisi ini mirip dengan gerakan kewirausahaan (enterpreneurship) yang digalakkan beberapa tahun sebelumnya. Pada intinya, bagaimana masyarakat mengembangkan sesuatu dengan menambah unsur kreativitas di dalamnya sehingga meningkatkan nilai jual dengan sendirinya.

Namun, pada hari ini, tantangannya semakin sulit. Kreativitas selalu dibutuhkan tanpa kenal waktu. Nyaris perebutan pasar terjadi secara online melalui apps (aplikasi berbasis web dan smartphone) yang “harus, harus, dan harus” memberikan inovasi nya setiap hari. Sekali lagi, insan kreatif dipaksa always creating masterpiece after masterpiece.

Sejalan dengan hal itu, untuk memperkuat Ekonomi Kreatif, BEKRAF mendorong agar para pelaku usaha kreatif menggeliatkan dirinya dalam komunitas.

“budaya kita banyak, beda dengan negara lain. Ini menariknya Indonesia. Kita punya batik, juga punya tenun ikat. Kalau ini digabungkan, potensi pasti besar. Kita memiliki orang kreatif yang juga banyak,

“Ya, orang-orang kreatif ini harus berkumpul, harus memiliki komunitas. Jadi ada ABG, academy, business, and government. Mereka harus bersatu untuk mengembangkan ekonomi kreatif.” kata Solihin Sofian, pimpinan Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya APINDO.

bekraf2

keterhubungan antar stakeholder

Peranan komunitas boleh dikata begitu penting, agar monetisasi bisa terus merangsek masuk ke dalam pasar nasional bahkan internasional.

Coba deh kita tengok salah satu subsektor Ekonomi Kreatif sebagai contoh, yakni developing game (pembuatan game). Pada bidang ini, Indonesia punya banyak developer game yang hasil karyanya sanggup bersaing di kancah internasional.

Game Tahu Bulat misalnya adalah game ke-20 yang diciptakan Eldwin Viriya (Own Games), sejak dirilis pada 15 Mei 2016 telah diunduh sebanyak 6 juta kali di Play Store Android hingga Agustus 2016 kemarin.

“boleh saja kita mengharapkan keberuntungan, tetapi yang pasti kita harus mau bekerja keras dan terus meningkatkan kemampuan kita karena persaingan di industri ini sangat tinggi. Kalau kita merasa sudah mengerahkan seluruh kerja keras dan kemampuan, biarkan waktu yang menentukan datangnya kesuksesan itu,” komentar Eldwin yang pernah beroleh pemasukan ribuan US dollar selama Juli – Agustus 2016 dari In-App Purchases.

Sebelum Tahu Bulat, sudah banyak game developer Indonesia yang menciptakan permainan interaktif lalu kemudian mengharumkan nama Indonesia di panggung internasional. Ini berarti Indonesia sudah punya kualitas dan nama karena telah berhasil me-monetize (menghasilkan uang) karya-karya yang ditelurkan.

Narenda Wicaksono, CEO Dicoding Indonesia terus memberikan semangat bagi para developer game Indonesia.

“membuat produk tidak ada bedanya dengan orang menyerir mobil. Di tahap awal orang mungkin tidak sempurna atau mahir dalam menyetir. Itu butuh proses, semakin sering membuat sesuatu, produknya akan semakin bagus.” pungkasnya kemudian.

Untuk saat ini, pasar bidang digital memang sedang mencari game yang punya konteks ke-Indonesiaan kuat, yang selain meng-entertain para penggemar game, juga dapat mengedukasi banyak orang tentang budaya Indonesia.

Selain Tahu Bulat atau Duel Otak, para insan kreatif harus terus berupaya lagi tembus ke mana-mana dan menciptakan produk andalan lagi. Nah, disinilah tantangannya.

Intinya, ekonomi kreatif Indonesia diduga jumlahnya terus meningkat. Dan, menurut analisa wacana “retas”, bahwa muncul anggapan kelak Ekonomi Kreatif akan menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.

Lalu, apa bukti lain Ekonomi Kreatif sedang mengalami masa kegairahan di negeri ini? Mari Elka Pangestu, pengamat industri kreatif Indonesia membeberkan datanya,

“Ekonomi kreatif mengalami pertumbuhan 5.7% selama tahun 2011-2014. Sub-sektor yang tumbuh di atas rata-rata adalah periklanan, fashion, musik, desain, arsitektur, dan seni pertunjukan. Sub-sektor ini tumbuh sekitar 7% Sementara sub-sektor TV dan radio mengalamai rata-rata pertumbuhan tertinggi yakni 12,5%. Selain itu ekonomi kreatif juga menyerap tenaga kerja yang meningkat, dari 14,2 juta orang menjadi 16 juta orang,

“Pasar dalam negeri untuk produk kreatif sangat menjanjikan karena jumlah penduduk dan daya beli masyarakat yang juga meningkat untuk membeli produk-produk kreatif.”

Tentu saja hal ini berjalan dengan tidak tanpa adanya hambatan sama sekali. Setidak-tidaknya, ada tujuh isu. Rintangan tersebut ialah peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia kreatif, akses sumber modal budaya dan alam untuk berkreasi, akses pendanaan dan modal, akses teknologi dan infrastruktur, akses pasar dan jaringan, ekosistem yang mendukung, dan kelembagaan (lembaga pemerintah yang menjamin iklim usaha akan selalu senantiasa sentosa selama-lamanya kondusif).

Oke, kita tinggalkan saja hal yang berat-berat itu. Suka tidak suka, hal yang selalu diidam-idamkan oleh insan kreatif ialah selalu berkarya.

Selalu menjaga kreativitasnya tidak hilang atau memudar. Barangkali pudar karena si pelaku kreatif ini terlalu mengikuti pasar (kapitalistik), dan tidak menyentuh human being sebagai pengguna produk-produk kreatif.

Ikuti Tips Ini Agar Selalu Kreatif

Irwan Ahmett -perupa- yang muncul dalam “Profil” di buletin ini mencoba meringkaskan apa yang ia lakukan agar semangat berkreasinya tidak pudar.

Tujuannya, agar selain dapat memperkenalkan karyanya, ia juga beroleh manfaat dengan mengajak orang lain sebanyak mungkin untuk mengalami “experience”dalam setiap kreasi seni miliknya.

Irwan sadar bahwa berkesenian bukanlah berarti meciptakan benda mati yang berada di ruang “steril” galeri. Karya seni juga bukan melulu komoditas yang diperjualbelikan, tetapi sebagai sebuah refleksi sekaligus konstruksi gambaran dunia sesuai apa adanya.

Ia sadar, seni punya penikmat dan pengagum sendiri-sendiri. Kreativitas menambah nilai ekonomi dari karya tersebut. Irwan percaya dengan pasar, percaya seni sebagai komoditi, dan permintaan masyarakat.

Meskipun begitu, Irwan yang akrab disapa Iwang ini memiliki prinsip teguh yang tidak bisa ditawar-tawar.

“Kreativitas itu harus punya nilai sertau value. Jadi bukan semata-mata ekonomi, melainkan ada muatan lain yang layak untuk diapresiasi, diciptakan untuk sebuah pengalaman, untuk kemudian ditularkan” terang Irwan, yang karyanya, Freedome, dilibatkan dalam London Design Biennale 2016 baru-baru ini.

Experience lebih penting ketimbang materi saya kira” tegasnya. Tipsnya ialah: menghindari kerumunan.

“Menghindari kerumunan adalah dengan tidak menggunakan cara-cara yang biasa dilakukan untuk memperkenalkan karya-karyanya kepada publik”

Salah satu caranya ialah menggelar pameran di LBH karena menampung di galeri jelas biayanya mahal.

“Saya waktu itu membuat pameran di sana (LBH) dan gratis. Itu salah satu cara saya bergerak menghindari kerumunan (dan tentu saja lebih banyak orang merasakan experience-nya dibanding harus di galeri).”

Menurut Irwan, yang terpenting (dalam berkesenian kreatif) ialah terus mengeskplorasi.

Harapan saya, semoga edisi pertama ini akan diisi dan dilanjutkan oleh edisi kedua ketiga dan seterusnya. Tidak mentok sampai di sini.

Ada yang bilang, yang pertama kali selalu merupakan sejarah, selanjutnya adalah pengulangan-pengulangan yang tidak perlu dan penting. Eh, tapi semoga saya salah. hehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s