Banda Neira, Memutuskan Setop Bermusik

Posted: December 25, 2016 in Artikel
Tags: , , , ,
tumblr_md2tu0cs7u1rzex1n

dibandaneira.tumblr.com

Setelah puluhan purnama lewat, Banda Neira, grup musik asal Bandung yang mengambil jalur label indie, berhenti berkiprah. Album pertamanya lahir dengan nama Di Paruh Waktu (2013) lalu dipungkaskan Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang berganti (2016).

Hanya dalam kurun empat tahun, Album terakhir telah menunjukkan kualitas tarikan suara dan lirik-lirik ciptaan Banda Neira. Coba saja dengar sendiri. Meski secara nyata, saya lebih menyenangi kesederhaan dari album pertama. Semuanya, lirik dan spontanitasnya.

Banda Neira, didirikan akhir Februari 2012 oleh dua orang yang sama-sama bersikeras melanjutkan keisengan dalam bermusik. Adalah Ananda Wardhana Badudu dan Rara Sekar Larasati memanggungnya dengan nama Banda Neira.

Nama yang dipilih karena mereka terpukat dan terpukau sebuah pulau nun di Maluku sana: Banda Neira. Sekaligus karena nilai sejarahnya. Tempat pembuangan tahanan politik jaman Belanda.

Benar-benar proyek iseng dan eksperimen. Namun karena kemampuan mereka yang cukup berpotensi, mereka berdua kemudian didukung segera rekaman. Orang-orang di lingkaran mereka di Universitas Parahyangan lah yang mula-mula mendukung ide besar ini muncul. Bikin album. Mereka percaya ini bisa dilakukan.

“di Paruh Waktu” (2013)

Dalam jangka waktu enam bulan pengerjaaan, sepuluh lagu jadi, dan dituntaskan dengan dua hari proses rekaman. Penamaan album pertama  “di Paruh Waktu” sesungguhnya menggambarkan kondisi proses kreatif “lagu-lagu nelangsa” yang mereka ciptakan saat itu.

Semuanya dilakukan dengan tidak mengambil banyak waktu. Pokoknya harus “setengah waktu” dari yang mereka miliki masing-masing. Meski begitu, pengerjaan besar selalu membutuhkan pengorbanan yang setimpal. Album pertama hanya bisa rampung dengan cuti.

Bagaimana kualitas lagu-lagunya di album pertama, silahkan dengar sendiri.

Dari dulu, saya tidak pernah jadi fanatik dengan musik. Apalagi jenis musik tertentu. Ya, kecuali untuk hitungan band-band 90-an yang menemani perjalanan waktu kala itu. Jaman-jaman sesaat sebelum dan sesudah masa SD lah, kira-kira begitu. Masih kecil pokoknya.

Tapi pada Banda Neira, saya mulai menaruh hati. Sejak saya mendengarnya pertama kali mengalun di tahun 2013, saya jadi terserang fanatisme pada rasa, keunikan, dan lirik yang diciptakan.

Album pertama waktu itu, saya suka mendengarkan ‘Rindu’. Karya ini merupakan musikalisasi sajak Subagio Sastrowardoyo. Saya pertahankan terus bertahan di daftar putar. Barangkali karena sederhana, liriknya dan musiknya, yang cuma diiringi gitar dan suara khas Ananda Badudu.

“Kita Sama-Sama Suka Hujan” (2015)

Bila dihitung dengan “Kita Sama-Sama Suka Hujan” berarti total ada tiga album yang mereka telurkan bersama. Namun, di album ini mereka tidak sendiri.

Sejumlah musisi turut serta, seperti Gardika Gigih, Layur, Suta Suma Pangkeshi, dan Jeremia Kimosabe. Semuanya lagu keseluruhan berjumlah lima belas. Pentas musik mereka bersama secara live diadakan April 2015 di Dago Tea House Bandung dan Rossi Musik Fatmawati Jakarta.

Sebelum mengeluarkan album kedua, Banda Neira merilis single yang cukup hits. Hampir sebulan mondar-mandir di Jakarta waktu itu, saya menyaksikan single tunggal tersebut selalu nampil di layar tivi commuter line. Judulnya “Matahari Pagi”, sebelumnya secara resmi diputar di saluran Youtube sejak medio Januari.

Lalu setelah itu, berturut-turut Banda Neira merilis “Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti”, “Sampai Jadi Debu”, dan “Pelukis Langit” lewat kanal Soundcloud.

Di album ini, saya terkesan dengan rasa musikalitas hasil kolaborasi “Suara Awan”. Benar-benar Bandung. Ciri khas Bandung yang berhujan dengan orang-orang yang otomatis selalu suka dan sungguh-sungguh suka pada hujan. Simak di sini.

“Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti” (2016)

Kata Rara dalam pengantar album ini, pembuatan album kedua membutuhkan eskplorasi hingga tahap ekstrem, melewati limit yang ia sanggup sebelumnya. Juga, tiap bait yang mereka ciptakan dipikirkan cermat dan matang sebelum dipentaskan di studio.

Mereka jadi ketularan serius dalam menelurkan karya. Istiwemanya lagi, duo Rara Sekar dan Ananda Badudu yang mampu menuntakan album kedua lewat kolaborasi yang lebih intens dengan musisi-musisi lain.

“proses kolaborasi inilah yang sesungguhnya mempengaruhi dan mewarani kualitas musik dari Banda Neira” yakin Ananda.

Album kedua memang terasa istimewa, selain empat orang di atas yang lebih dulu mereka ajak kolaborasi, Banda Neira juga bekerja sama dengan Dwi Ari Ramlan, dan Leilani Hermiasih alias Frau.

Menikmati musik bagi saya menikmati lirik-lirik yang sederhana, seperti “di Beranda”. Bait-bait yang mengimbau, yang menyadarkan akan sesuatu. Musik yang bagus, pasti akan selalu punya penikmat sendiri-sendiri. Tidak ada sejarah lagu tanpa penggemar, lagu kematian pun tidak. Kecuali yang dibungkam sebelum kemunculannya.

Penikmat lah yang kemudian menilai, musik yang dihasilkannya bagus atau tidak. Konsistensi mereka dalam berkarya. Jadi, bagi saya, apapun aliran dan mediumnya, Banda Neira akan selalu menjadi menarik. Tetap bernilai.

Penghabisan Banda Neira

Lalu pada 23 Desember 2016, nyaris sedetik dua detik pergantian hari ke 24 Desember, sebuah postingan baru muncul di laman Facebook resmi Banda Neira. Orang-orang memang tidak akan mengira. Keputusan membubarkan Banda Neira dalam sebuah surat yang mengatasnamakan mereka berdua.

Hingga hari ini, laman resmi di Facebook itu memiliki 12.420 pengikut setia yang sebagian juga mengikuti mereka di Youtube sekitar 10.769 pelanggan.

Setelah menempuh diskusi yang panjang nyaris setahun lamanya, akhirnya kami sampai pada sebuah kesepakatan. Kami bersepakat untuk tidak meneruskan Banda Neira.

Bukan hal yang mudah membubarkan Banda Neira, terlebih kini karya Banda Neira bukan hanya milik kami berdua, tapi juga milik kalian para pendengar.

Namun keputusan sudah bulat. Setelah menimbang-nimbang semua kemungkinan, kami yakin dari semua opsi yang ini adalah keputusan paling baik.

Dengan berat hati, melalui surat ini kami umumkan bahwa kami telah bersepakat untuk berpisah dan mengakhiri perjalanan Banda Neira.

Kami meminta maaf sebesar-besarnya karena tidak bisa memenuhi harapan teman-teman yang ingin agar kami bisa terus bermusik bersama.

Kami hanya bisa berterima kasih sebanyak-banyaknya buat semua pendngar juga teman-teman yang banyak berperan dalam perjalanan Banda Neira. Semoga segala apresiasi, dukungan, kehangatan dan pertemanan yang kami dapatkan dari teman-teman dibalas dengan kebahagiaan dan kebaikan yang berlimpah.

Terima kasih telah menjadi bagian penting dalam hidup kami. Sebuah kenangan yang akan selalu mengiringi ke manapun kami melangkah selanjutnya.

Salam
Ananda Badudu dan Rara Sekar
23 Desember 2016

Padahal, masih segar, enam bulan lalu, Banda Neira mengunggah video rencana setelah album kedua. Memang tidak ada penjelasan dan tampak bingung keduanya tentang kabar apa selanjutnya setelah album kedua? Rara menuju New Zealand belajar Antrolopogi Budaya selama dua tahun. Ananda melanjutkan kerjaan di Jakarta.

Rasa-rasanya memang tidak besar optimisme mereka untuk bergabung kembali setelah nanti dua tahun akan berlalu. Waktu dimana mereka berdua bisa bertemu lagi di Jakarta atau di manapun menggarap apa saja, yang penting Banda Neira. Memang, hal itu tidak ada. Banda Neira – Tentang Album kedua

Nyatanya memang, pada perayaan keluarnya album kedua 30 Januari kemarin, menjadi kabar perpisahan mundurnya Banda Neira dari panggung yang senantiasa riuh.

“segala kegiatan Banda Neira otomatis berhenti hingga waktu yang belum ditentukan” kata Rara.

Lalu kemudian, penghabisan tahun ini, dengan cukup mengagetkan dan tidak saya harapkan dan begitu pula begitu banyak pengagumnya yang lain, Banda Neira mundur memutuskan mundur total. Semuanya sudah diputuskan bersama oleh masing-masing Rara Sekar dan Ananda Badudu.

Karya mereka selalu dinanti. Tapi, dua hari silam itu menjadi saat yang mengejutkan. Harapan penggemar seakan pupus menantikan live pasangan Ananda dan Rara selanjutnya.

Bahkan banyak sekali penggemar di luar Bandung terutama yang sama sekali belum mendengar lincahnya suara mereka di panggung.

Momen jelang dini hari itu ternyata menjadi ucapan pisahnya dan stopnya Banda Neira. Tanpa album ketiga dan seterusnya. Kolom komentar lantas menjadi sasaran ekspresi penikmat musiknya. Menunculkan beragam komentar apresiasi, penghargaaan, dan curhatan rasa kehilangan dari para pendengar Banda Neira.

Postingan keputusan ‘Banda Neira Setop Bermusik’ diganjar langsung oleh pendengar. Setidak-tidaknya ada 2000 klik ekspresi keterkejutan, 267 komentar, dan dibagikan sebanyak 1600 kali. Jumlah yang fantastis.

Beberapa komentar saya selipkan di sini:

Ayu Amalya Ma’as: Terima kasih mba Rara mas Ananda, musik kalian jadi penawar rindu. Terima kasih sudah menulari kami sunyi yang menyenangkan. Pasti akan rindu sekali. Pasti.

Lukman Hakim: Terima kasih karena melalui lagu ‘di Beranda’ menjadikan rasa rindu akan rumah kian begitu berharga saat itu.

Khurrotin Nadhifah: untuk segala yang berharga Banda Neira selesai sudah? *mendadak nelangsa* Terima kasih untuk 4 tahun yang indah, selamat menuntaskan mimpi dan harapan, berbahagialah sudah menjadi angin segar bagi penikmat karyamu. Banda Neira mungkin harus selesai, tapi karya tetaplah karya, tidak akan berkurang esensinya meski berulang kali coba dimatikan #Goodmusician

Nindya Lubis: So very sad. Me & Primaldy were dreaming to have you guys singing at our wedding. Your music played a big part in our journey together.

Dedi Koswara: Terima kasih, Banda Neira. Kalian sudah meninggalkan jejak manis, di musik Indonesia.

Apa ya? Saya melihat dan mendengar kesederhanaan dari mereka. Ananda yang bahkan tidak mengerti not balok kemudian jadi harus belajar. Kualitas permainan gitarnya, akunya jadi lebih mantap dengan ilmu klasik.

Suara mereka dalam bernyanyi kadang lirih, kadang tinggi dengan lirik yang sedikit tapi menuju ke sasaran. Permainan gitar Ananda yang selalu asik didengar sejak dentuman pertama dikombinasi dengan tiupan xylophone dari Rara selalu saja bikin rindu untuk didengarkan.

Band jenis folk post-rock ini tidak membawa pesan yang cengeng. Bahkan menyadarkan tentang sejumlah hal. Jika ditambah dengan pesan-pesannya itu, bagi saya lengkap sudah keapikan dan kepiawaian merek bermusik. Superb.

Namun bila Anda seorang penggemar kualitas tarik suara mereka, karakter vokal dua alumnus Universitas Parahyangan ini begitu unik, begitu bebas. Silahkan dengar sendiri.

Apa kehilangan Banda Neira di jajaran musik indie Indonesia akan terbalas seperti judul album kedua? (Apakah) Banda Neira yang patah (bakal) tumbuh lagi, dan yang hilang (segera) berganti?

banda-neira

gigsplay.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s