Membangun Ekosistem Ekonomi Kreatif, maksudnya bagaimana?

Posted: January 3, 2017 in Artikel, Opini
Tags: , , ,
1

Retas Vol.2 Desember 2016

Buletin ‘retas’ menerbitkan edisi kedua. Masih di tempat yang sama, di selipan koran. Kali ini, pilihan tema yang dibahas BEKRAF adalah ‘ekosistem ekonomi kreatif’. Sebuah ide yang katanya harus terus digalakkan dan ditumbuhkan dari akar rumput.

Tidak hanya itu, harus dirawat sama-sama sehingga pelaku kreatif bisa semakin ramai, dan ekonomi bertumbuh. Sebab ekonomi kreatif, bagaimanapun juga, bukan melulu meramaikan pemain kreatif yang sudah besar, yang jago memainkan sosial media dan punya nama baik, tapi juga menggerakkan yang kecil-kecil bersama-sama. Katakanlah, perajin batu.

Dalam kenyataannya, sampai saat ini, masih banyak para pekerja kreatif yang bekerja sendiri-sendiri. Mereka sudah sejak dulu menjadi pilar penting dalam membentuk identitas tanah air. Salah satu alasannya karena mereka belum menemukan ekosistem yang ideal.

Padahal, kemajuan industri –apapun itu- tidak pernah terlepas dari sokongan ekosistem dari kumpulan pekerja dan unit-unit usaha kreatif. Jika tidak ada ekosistem, maka semua akan bekerja masing-masing. Kemudian pada akhirnya, tidak ada nilai tambah yang lebih untuk menggerakkan ekonomi kemasyarakatan.

‘retas’ dalam pengantarnya, lebih jauh mengungkap bahwa ekosistem ini harus seiring sejalan dari hulu hingga hilir. Harus pula dibangun dengan kokoh. Mulai dari eksperimen identitas produk hingga packaging, dari penelitian hingga pemasaran, dan dari dalam hingga ke luar negeri.

Maka dengan itu, penggiat ekonomi kreatif akan memiliki kesempatan yang jauh lebih besar untuk meningkatkan proses bisnis mereka dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Kegiatan yang ramai dalam ekosistem ekonomi kreatif juga dirasakan bakal terus merangsang dan menstimulus motivasi kreator-kreator muda agar terus berkarya di masa depan.

Pasar Ekonomi Kreatif? Ya, orang Indonesia.

Di sini, akan saya paparkan ringkas elaborasi dari beberapa poin penting yang disampaikan Mel Ahyar, perancang hebat yang dimiliki Indonesia dan Irawan Karseno Ketua Dewan Kesenia Jakarta.

“Kelembagaan yang ada dapat mendorong orang-orang kreatif menjadi lebih potensial, misalnya dengan merancang terjadinya crossing collaboration antara perajin dan desainer” kata Mel Ahyar, perancang Indonesia pada Arab Fashion Week 2016, Dubai.

Kemungkinan itu bakal terjadi bilamana ada koordinasi yang baik antar pelaku kreatif itu sendiri dengan komunitas UKM misalnya.

Menurut Mel, fashion designer pada umumnya sudah memiliki pasar dan penikmat sendiri-sendiri. Tapi, ini berbeda sekali situasinya dengan para perajin, terlebih handmade.

Produk mereka begitu unik dan tidak dimiliki dan dihasilkan dimanapun. Sayangnya, mereka mungkin hanya dapat berjualan di satu tempat tertentu saja, misalnya di pertemuan komunitas atau festival kecil, atau lewat online shop.

Nah, kesempatan yang demikianlah, yang hanya dipunyai para designer. Mereka dapat memasarkan dan mem-branding secara maksimal produk-produk langka tersebut. Ini bisa menggerakkan usaha-usaha kecil menengah.

“Jadi, tidak selalu direct selling” kata Mel.

Hambatan yang besar, barangkali terletak di kultur birokrasi yang dimiliki Indonesia. Irawan Karseno menilai bahwa ekosistem ekonomi kreatif di negara ini masih harus diperbaiki. Ia menyaksikan masih ada koordinasi yang belum sempurna antar kementerian misalnya.

Harus ada koordinasi segendang sepenarian antara birokrasi, Bekraf, kementerian perindustrian, hingga ke hulu. Sebab industri kreatif nilainya besar. Tidak ada batasan kreativitas. Inovasi akan selalu ada dalam produk-produk kreatif. Asal tidak bosan dan terus diasah, misalnya lewat RnD (Research and Development).

Makanya, kita harus menyiapkan produk sendiri, dan customer-nya kita siapkan sendiri, begitu Irawan berpesan.

Salah satu cara yang paling ampuh lewat pendidikan. Dunia akademik menghasilkan outcome yang menjadi pengguna dari produk-produk kreatif hasil bangsa sendiri.

 “Dengan pendidikan seni yang intensif dan masih di sekolah hingga perguruan tinggi, beberapa tahun kemudian akan tercipta pasar seni yang besar di Indonesia.” tutur Irawan.

Membangun Ekosistem dari Grass-root

Idealnya, ekosistem ekonomi kreatif harus tumbuh karena sebuah lingkungan yang sehat, baik institusinya, pembinaan, dan pertumbuhannya, kata Garin Nugroho.

Selama ini, selama ini jika kita bicara ekonomi kreatif, perhatian difokuskan pada semua bentuk yang sedang populer di kalangan menengah ke atas. Dalam kata lain yang sedang booming, baik itu dari segi pemasaran melalui media sosial ataupun galeri-galeri pertunjukan yang mahal. Sementara ekonomi kreatif dalam tataran grass root tidak tersentuh.

Disinilah tantangannya paling hebat berkecamuk dalam tubuh wacana pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia.

Dari sisi mikro, industri kecil belum banyak disentuh oleh pemerintah (Bekraf dll), lalu pada ranah makro, industri yang menjadi payung, sebagian belum mau kesiapan masih kurang.

Oke ilustrasinya begini:

Pada level mikro, label indie atau musisi independen dibiarkan bertumbuh sendiri oleh pemerintah, bekerja sampai pada taraf yang mereka bisa untuk berkembang sendiri.

Sementara, di level makro, apakah industri musik (asosiasi musik/musisi dan lembaga lain) mau dan siap mematenkan potensi musisi Indonesia? Seperti yang tadi saya bilang, belum tentu.  

Banyak alasan, terlebih musik atau seni abstrak, selalu kreatif, unik, dan punya daya imajinasi masing-masing. Tidak bisa distandarkan dengan apapun.  

Cara-cara pengembangan ekosistem ekonomi kreatif pun selalu nampak terlihat elitis sifatnya, termasuk cara sosialisasi luar biasa yang berbasis media sosial. Ini tidak salah, hanya saja yang ditakutkan ialah bila rekomendasi kebijakan-kebijakan nantinya akan condong ke kiblat fokus para pelaku besar, keluh Garin.

Ini bakalan tidak akan sempat menyentuh segmen yang berada di bawahnya dan di bawahnya lagi yang bahkan sama sekali tidak mengenal media sosial. Kebijakannya jadi melayani media sosial, bukan melayani warga.

Saya pribadi setuju, yang bisa saya imajinasikan saat ini adalah kesetaraan dan kemerataan.  Misalnya, para perajin tomang, noken, lopa-lopa, buah kerajinan tangan bernilai etnik dan berseni tinggi yang berada di pedalaman Papua bisa dijangkau oleh BEKRAF atau lembaga indsutri kreatif lainnya yang dikelola asosiasi atau pemerintah.

Ekonomi kreatif membutuhkan perhatian untuk melayani rakyat, tidak pada tataran elitis yang memerhatikan permukaan.

Contoh lagi di Thailand, industri kerajinan berkembang luar biasa. Gambarannya, jenis kerajinan yang ada di Thailand semuanya mudah dibeli di mana-mana, dibawa, ruang publiknya ada, hidup, dan permintaan selalu datang secara reguler. Pasarnya tersebar dan berkesinambungan, dan ruang publisitasnya luar biasa.

Bandingkan di Indonesia, rata-rata industri kreatif mengalami persoalan ketika ruang publiknya menjadi ruang publik yang mahal. Lalu, kemudian melulu internet lewat online shopping adalah kuncinya. Padahal tidak semua bisa dijual secara online. Ini juga yang dirasakan oleh Mel Ahyar.

Mari bersiap

Yang harus dipersiapkan ialah pemetaan masalah-masalah industri kreatif hingga pada masyakat yang ekonominya rendah, seperti yang kita sebutkan di awal. Karena pada hakikatnya, industri kreatif itu bisa menghidupi masyarakat ekonomi rendah.

Persoalannya, ya, kita selalu menggemborkan kelas menengah atas terus karena itu viral, elit, dan canggih pengorganisasiannya. Apa pernah kita mendengar para perajin batu alam atau batu bata di salah satu sudut kabupaten Gowa di Sulawesi Selatan misalnya?

Buruk-buruknya, jika ekosistem tidak berjalan, individu akan berjalan sendiri-sendiri. Hanya orang-orang tertentu dan punya semangat tinggi yang bisa maju dan tumbuh. Sedangkan harapan untuk pemerataan ekonomi dan melesatkan pertumbuhan setiap pelaku ekonomi tidak akan terjadi dengan baik. Itu konsekuensinya, jelas Garin.

Menurut Garin, pemerintah harus mentransformai banyak hal, misalnya budaya penyuluhan. Terjun langsung ke masyarakat ini yang penting. Memberikan pemahaman dan pengurusan ekonomi-ekonomi rakyat yang mampu berdaya saing dengan baik. Buat penyuluhan agar transformasi teknologi dan pertumbuhan ekonomi kreatif bisa menyentuh seluruh lapisan masyarakat secara merata.

Jika misalnya, yang level nasional bisa didorong go international seperti yang sudah dilakukan beberapa kali oleh BEKRAF, maka level kabupaten hingga desa bisa diberi suntikan pula untuk maju. Lalu, mendorong mereka untuk masuk asosiasi.

Bekraf, dalam kaitannya dengan pembibitan lahan subur ekonomi kreatif, menurutku, badan ini harus gigih dalam memperjuangkan 4 hal dalam membesarkan peluang kreator-kreator kreativitas di manapun mereka berada.

  1. Mempermudah kolaborasi yang terjadi antar pelaku ekonomi kreatif, dari hulu hingga hilir. Misalnya antara para perajin murni yang karyanya begitu khas dan desainer yang sudah terkenal.
  2. Membantu pelaku ekonomi kreatif sesegera mungkin dapat menemukan asosiasi yang dapat menunjang kompetensi mereka dan meningkatkan kesempatan mereka berkompetisi secara global.
  3. menjadi pemersatu dan pengumpul para perajin dan pelaku ekonomi usaha kecil yang masih merangkak dan nilai ekonominya masih kecil.
  4. Menyokong penuh dua belas sub-sektor kreatif agar tidak ketimpangan dengan indsutri sub-sektor kreatif yang sudah mapan.

Berapa lama membangun Ekosistem kreatif?

Sebenarnya, ekosistem jenis ini ada dua. Ruang kreatif dan ruang apresiatif. Jadi, tempat di mana pelaku kreatif memproduksi dan mengapresiasikan karyanya. Keduanya memiliki nilai yang sama-sama penting. Ada nilai kultural, ada yang berfokus pada nilai ekonomi.

Kultural itu sangat perlu olehnya harus ada subsidi pada bagian ini karena manfaatnya tidak bisa diukur dengan angka ataupun profit ekonomi. Dia bisa menjadi simbol kebersamaan, bisa menjadi perawat kebudayaan, dan juga menjadi ruang produksi.

Misalnya, yang kultural ada Festival Lima Gunung. Ini kultural, karena mempersatukan banyak orang. Lalu, misalnya ada Jakarta International Fashion Week yang bersifat sebagai tempat pameran yang sepenuhnya bernilai ekonomi. Masing-masing punya ekosistem yang berbeda.

Jadi, ekosistem itu harus dideskripsikan dalam ekosistem-ekosistem yang lebih kecil. Umpanya seperti hutan hujan, kita harus cermat memilih dan mengidentifikasi polanya. Di danau misalnya, ekosistemnya beda. Di sungai, ekosistem beda lagi. Di lembah, ekosistem lebih beragam lagi. Jadi, harus ada strategi budaya (dan harus intens) dari ekosistem yang makro dan mikro.

Garin tidak ingin lembaga ekonomi kreatif hanya menangani dan mengurus kelompok-kelompok yang sudah mapan, lalu mengindahkan masyarakat level bawah.

Pertumbuhan yang seimbang ini, jelasnya, harus dimulai dari ekosistem. Membangun landasan ekosistem yang kuat, mulai dari bawah.

Kenapa? Jika mengambil ekosistem yang sudah mapan, jelas tentu hasilnya selalu lebih baik. Lebih me-nasional, lebih ng-trend, yang semuanya dipenuhi produk yang sadar ‘sosial media’. Tapi, lihat tingkatan ekonomi kreatif yang terendah, akan selalu berjalan tertatih-tatih.

Gambarannya, kita mengambil buah yang ranum-ranum saja hasil petik dari mana-mana, tanpa berupaya menanam pohon yang sama pada setiap lahan yang ada.

Inilah kemudian yang kita harapkan. Setelah ekosistem terbentuk, selalu disemai dengan sebaik mungkin, dipelihara tanpa membeda-bedakan kualitas.

“(ekosistem ekonomi kreatif) yang organik dan hibrida, sama-sama harus dirawat dengan baik” Garin Nugroho

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s