Desain Kreatif di tangan Paulus Mintarga dan Hari Basuki

Posted: January 4, 2017 in Artikel, Blogger Kampus, Opini
Tags: , , ,
img_0336

(Rempah Rumah Karya) galeri-nasional.or.id

Bangunan yang baik ialah bangunan yang direncanakan matang, dan dikomunikasikan hati-hati bersama unsur manusia dan alam (Paulus Mintarga)

Menyaksikan desain bangunan dari aneka material sisa karya Paulus Mintarga membuat kita bakal berdecak kagum. Lalu kemudian mengguman, “wah, ada juga ya, bangunan yang terlihat begitu pas, elegan, dan begitu natural, dan mengesankan persona pemilik

Salah satu contohnya ialah Rumah Rempah Karya yang didirikan dibilangan kawasan Gajahan, Colomadu, Solo, Jawa Tengah. Konstruksinya dibuat dengan material yang sebagian besar merupakan bahan siswa, mulai dari kayu, besi, rotan, hingga paralon. ‘Rempah’ konon memang merupakan singkatan ‘remahan sampah’.

“sebuah bangunan memang harus kontekstual dalam menjawab kebutuhan, yakni rumah yang murah, mudah, bermutu, dan memuaskan” katanya.

Banyak yang menilai Paulus selalu berkarya dengan total dan melihat karyanya sebagai sebuah desain yang harus komprehensif. Baik itu dari aspek lingkungan, keberlanjutan, dan intensitas estetika ruang.

Paling penting barangkali ialah hubungan sebuah bangunan dengan alam di sekitarnya. Hal ini nampak pada karyanya yang lain, Green Host Hotel yang berada di kawasan Prawirotaman, Yogyakarta. Sejumlah kamar dirancang bersama dengan tim Rumah Rempah Karya. Tentu saja, juga menggunakan material sisa.

Paulus yang menjadi sosok kunci dalam Bamboo Biennale 2014 mengungkap kunci karya desain kreatif yang komplit dan memuaskan. Kuncinya: ada di komunikasi. Terjadinya titik temu antara team work, calon pengguna bangunan, aspek fungsional, budget, hingga cita rasa ruang dan sisi estetis.

Lewat wawancara dengan tim ‘retas’, dia menyaksikan pula bagaimana ekosistem dunia para arsitek harus dinamis, dalam arti selalu sadar dengan perkembangan. Sebab, jika itu terwujud, akan terbuka peluang begitu lebar bagi arsitek untuk berkreasi dan menciptakan berbagai macam kemungkinan inovasi yang tidak kering-kering.

Beruntungnya, arsitek-arsitek muda Indonesia telah mempersembahkan keberagaman karya yang membanggakan, di tingkat regional, bahkan di tingkat global. Jelas, hal ini memungkinkan dengan sistem informasi yang terbuka lebar, dan jangkauan koneksi tanpa batas.

Di mana-mana, ruang menjadi penting bagi pertemuan manusia dan interaksi budaya. Juga, ruang adalah tempat bertemunya satu kreativitas dengan kreativitas yang lain. Sehingga ruang kreatif diyakini besar potensinya dalam pengembangan inovasi dan kreativitas. Oleh Paulus, hal ini diterjemahkan dalam konsepsi yang ia bangun: Revitalisasi Colomadu, di Karanganyar, Jawa Tengah.

Ia punya tujuan, tidak hanya menjadikan Colomadu sebagai objek wisata, tetapi bertransformasi dari fungsi manufaktur ke fungsi peradaban kreativitas. Dia percaya bahwa “kereativitas dalam berbagi aspek seperti heritage, art, media, dan creative function, yang sekarang menjadi leading sector pertumbuhan ekonomi, maupun peradaban manusia modern.”

Riset, Riset, Riset, baru kemudian Pengembangan

Setiap bangunan, beda pula penataan interiornya. Apakah si pemilik ingin membuat perabot material kayu semua, bambu semua, atau logam semua, atau mengombinasikan material tersebut.

Inilah yang dikerjakan oleh Hari Basuki selama 20 tahun lamanya. Bergelung di dunia bisnis furnitur bersama kakak kandungnya, JB Susanto SB membangun perusahaan keluarga.

Sekarang, ia merupakan pelaku sukses industri kerajinan dalam negeri yang sukses. Bahkan, pasar pertamanya difokuskan menembus pasar luar negeri di bawah nama PT. Wisanka (Wirasindo Santakarya). Hari mengisahkan jika ia memulai usaha dengan menggandeng pengrajin-pengrajin terlatih untuk membuat sampe produk, di kota asalnya, Sukoharjo, di Solo sana.

Tanpa lelah, mereka mencari tahu desain dan produk yang di pasar global ketika itu, lalu membuat sampel, dan menawarkan ke eksportir mapan. Lalu, kemudian mereka melihat lagi peluang menjadi subkontraktor eksportir tujuan Eropa dan Asia.

Bosan dengan proyek menggarap mebel yang setengah jadi, Hari tergerak untuk mengerjakan finishing product sendiri pada waktu setelahnya. 10 tahun lebih ia hanya mengerjakan order sesuai pesanan.

Ia lantas terantuk pada satu ide besar: fokus pada RnD (Research and Development). Inilah jalan yang terus mengantarkan Hari dan perusahaannya sukses besar hingga sekarang. Hari Basuki yang sebentar genap berusia enam dekade, menekankan potensi pentingnya R&D dalam perkembangan industri mebel, khsususnya di tanah air.

Kemudian, potensi lain yang berhasil dimanfaatkan Hari adalah digitalisasi produk. Tidak main-main, ketikan internet mulai masuk di Indonesia, ia dengan berani langsung membeli 30 domain sekaligus. “Orientasi kita kalau mau dagang itu ya tokonya di dunia maya yang tak terbatasi jarak dan waktu” yakin Hari.

Perusahaan Wisanka, dijalankan dengan bertumpu pada pijakan masa depan yang berwujud indsutri mebel dan kerajinan berbasis R&D. Dan akan selalu seperti itu.

Sebab, riset dan pengembangan memungkinkan keluaran produk bisa sangat bernilai di mata masyarakat karena dapat menjembatani antara pembeli dan kreativitas di perajin. Pastinya, produk tersebut sangat kompetitif dengan karya pelaku kreatif yang lain.

Muncul tantangan kemudian. Hari menilai industri mebel saat ini perlu unuk memasuki ranah riset dan pengembangan. Namun, industri yang mau menjalankan R&D masih sangat sedikit. Kalaupun ada, industri ini kurang terbuka dan sering kali menyembuyikan karya. Alasannya karena takut ditiru oleh kreator lain. Kita takut jika gejala ini memang benar adanya seperti yang dikatakan Hari.

Saya menilai, apa yang dikatakan Hari ini bisa mendapat sambutan oleh Bekraf sehingga ada konsentrasi penuh untuk menuangkan segala gagasan produk dalam frame R&D. Mengapa? karena proses ini tidak mudah. Diperparah lagi, tidak ada lembaga keuangan di Indonesia yang mau melakukan pembiayaan karena dianggap cost jangka panjang.

Wisankan sendiri baru membangun Studio R&D di tahun ke enam belas mereka berkiprah, 2010. Setelah setahun sebelumnya di 2009, Wisanka dianugerahi IGDS (Indonesia Good Design Selection) di Solo.  Sebuah keputusan besar yang mengubah Wisanka benar-benar menjadi pemimpin sektor industri mebel di Indonesia.

Riset ia jalankan tidak langsung melalui pasar, tetapi lewat ajang lomba dan pameran. Di tahun itu pula, Hari merumuskan struktur kerja Wisanka yang menyerap investasi nilai tinggi.

Hingga lima tahun kemudian (2015), buah manis Studio R&D nampak begitu jelas. Tahun itu, Wisanka menghasilkan 500 desain. Pada akhirnya, ini membuat Wisanka memutuskan akan membuat modul sumber daya material dan standarisasi desain di tahun 2017 ini.

Merasa cukup pada pasar ekspor selama dua dekade, Wisanka mulai menapaki langkah national branding –pasar dalam negeri- sejak tiga tahun lalu, 2013. Namun dengan brand lain, Piguno, yang merupakan generasi kedua Wisanka.

Tantangannya berikutnya? Nah, pasar dalam negeri ternyata sulit ditembus. Ini bukan karena tidak ada pembeli, tapi karena kultur yang sudah jadi dari sananya. Kompleksnya sistem komunikasi, birokrasi, dan sistem dagang dalam negeri adalah wajah seram industri di Indonesia.

“Selama ini kiblatnya eskpor, dan pasar dalam negeri malah beli barang impor” kelakar Hari Basuki. Pembeli dari mana lagi yang  Hari mau tawarkan? Jelas sulit, bukan?

Padahal? Kebutuhan dalam negeri begitu melimpah sejatinya. Ada tiga lapis besar, yakni pasar ritel, korporate, dan APBN. Potensi ini yang belum termanfaatkan dengan maksimal.

Penekanannya lagi, ya, pemerintah punya peran krusial di sini, termasuk Bekraf sendiri. Hari berharap bahwa ada strong enough goodwill dari pemerintah untuk menjadi contoh masyarakat dalam menggunakan produk kerajinan mebel dalam negeri.

Lalu, langkah kedua pemerintah juga seharusnya lebih aktif memanfaatkan lembaganya sebagai etalase produk-produk kerajinan dalam negeri. Masyarakat butuh teladan, itu poinnya.

Hari Basuki punya mimpi ke depan. Sebuah Rumah Kriya Indonesia berdiri lewat tangannya sendiri. Galeri ini akan menjadi rumah etalase produk kerajinan dalam negeri yang sudah terakurasi atau terancang bangun. Ia memimpikan rumah menjadi rujukan pemerintah dalam standardisasi produk-produk yang dibutuhkan dalam negeri.

*intisari dan elaborasi kolom “Profil” Buletin “retas” Vol.2 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s