Cerita Relawan Patriot Energi: Menikmati Ragamnya Tradisi, sekaligus Menjadi Belajar Rendah Hati

whatsapp-image-2017-01-05-at-22-12-56
Ma’ruf M Nur (Alumni Patriot Energi Angkatan I dan II)

Sekitar 15 tulisan dihasilkan Ma’ruf M Nur, demi merekam kehidupan di kampung Dayak nun pelosok sana, Sumentobol, Kalimantan Utara. Kemudian, enam buah jurnal menjadi wadah utamanya menyimpan ratusan catatan saat mengabadikan perayaan hidup di Kampung Werifi-Bamana, Kaimana, Papua Barat.

Mengawasi, mendampingi, mengedukasi, dan memberdayakan masyarakat  dalam menjaga serta memelihara jaringan listrik tenaga surya di kampung adalah tugas penting Ma’ruf M Nur sebagai relawan Patriot Energi Indonesia. Meski demikian, selama setahun itu, ia belajar banyak dari masyarakat, menghargai tradisi dan kebiasaan, dan sekaligus belajar menjadi pribadi rendah hati.

Setelah menyelesaikan masa penugasan sebagai penggerak masyarakat Patriot Energi angkatan pelopor di Kalimantan Utama, Ma’ruf merasa lantas menjadi keras kepala dengan Indonesia. Keras kepala berkontribusi untuk perubahan yang sustainable dalam masyarakat. Ia terjun lagi dalam penugasan Patriot Energi angkatan kedua di Kaimana, Papua Barat.

Di Kampung Sumentobol, Nunukan, Kalimantan Utara, ia saban hari melewati jembatan gantung setinggi sekira 20 meter menyeberangi sungai. Pembangkit listrik yang ia kelola bersama masyakat terletak di seberang sungai beraliran deras. Terpisah dengan kampung.

Di sini, ia menjadi minoritas. Baik dari suku, agama, dan kebiasaan sehari-hari. Ia asli suku Bugis Makassar, yang mencoba tinggal selama enam bulan di komunitas suku Dayak. Ia Muslim di tengah pemeluk agama Kristen. Ia terbiasa hidup di tengah keramaian kota dengan individualitas intens, lalu tiba-tiba berangkat menuju kehidupan perkampungan. Di mana jalinan perkerabatan rekat dan dialog keseharian yang hangat, massif, sehat, dan bersahabat.

“di kampung ini (dari manapun asal Anda), hanya dua bahasa yang digunakan,

“pertama, bahasa kebaikan. kedua, adalah bahasa Dayak.” tuturnya.

Semua penduduk di tujuh kampung di sekitar lokasi penempatannya, menggunakan bahasa Dayak untuk komunikasi sehari-hari. Mulai anak-anak, pemuda, orang dewasa, hingga orang tua angkatnya di rumah. Butuh sebulan hingga dua bulan baginya untuk bisa mengerti sedikit bahasa lokal yang digunakan.

“mereka tidak pernah meninggalkan bahasa Dayak dalam keseharian, tapi mereka sangat menghargai. Jadi mereka –termasuk anak-anak- menggunakan bahasa Indonesia jika berinteraksi dengan saya”

Sambil menunjuk sebuah gambar, Ma’ruf menunjukkan kampungnya dengan latar hutan belantara Kalimantan.

“di gugus perbukitan belakang sana, disitulah terletak Malasyia”

Pada kawasan hutan, gunung, dan sungai itulah penghidupan masyarakat Sumentobol bergantung. Jadi boleh dikata, tidak ada mata pencaharian lain masyarakat selain mengandalkan hasil hutan. Hutan, termasuk hutan adat menyimpan begitu banyak hasil yang menopang kehidupan mereka sehari. Sayur-mayur, buah-buahan, dan sebagainya.

“jika di Luwu kampung halaman saya cuma terdapat satu jenis durian, hasil hutan Kalimantan menyediakan enam jenis durian yang beraneka ragam rasa, bentuk, dan warnanya”

Enak betul ya, di sana. Hehe.

Meski begitu, sehari-hari, masyarakat mengandalkan berburu rusa dan babi sebagai kegiatan utama.

“pekerjaan orang-orang di sana, tidak ada yang lain selain berburu babi dan rusa. Setiap hari, ketika pulang berburu, masyarakat dan pemuda setempat melewati jembatan sekitar rumah saya dengan menggendong hasil buruan babi yang besar-besar,

“biasanya, babi yang besar dipotong menjadi tiga bagian dan dipikul masing-masing satu orang dewasa” kenangnya.

Selain di makan dagingnya, kulit utuh babi utamanya badan, dikeringkan, diawetkan, lalu digunakan untuk membuat tas gandeng tempat menyimpan hasil-hasil hutan milik masyarakat.

Ma’ruf bisa menilai jika perempuan Dayak di Kampung Sumentobol dan kampung sekitar memiliki ketangguhan yang luar biasa. Tidak mengherankan bila perempuan berseliweran sekitar kampung dan hutan memunggungi badan babi atau wadah seperti tomang khas Papua yang terbuat dari damar hutan dianyam, lalu diisi penuh hasil berkebun.

“di kampung ini, para perempuan-lah yang bertugas memikul dan membelah kayu, berladang di kebun (hutan masyarakat), dan memanggul semuanya di punggung dengan berat mencapai 30 hingga 50 kilogram hanya dengan sekali angkut. Semua dilakukan perempuan” ungkap Ma’ruf yang  juga sesekali mengajar di SD jika guru-guru berhalangan hadir di sekolah.

Ma’ruf termasuk orang yang percaya bahwa berinteraksi, apalagi mengajar anak-anak adalah cara paling jitu menyebarkan nilai-nilai baik di masyarakat. Semua dimulai dari anak-anak. Baginya, paling penting untuk memberikan inspirasi dan kontekstual dengan kondisi masyarakat, nilai budaya, adat yang mereka anut.

Dengan sedikit kegigihan, ia berhasil mendapatkan bantuan dana pendidikan dan fasilitas belajar mengajar untuk murid-muridnya dari PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Fukuoka Jepang.

Kampung Werifi-Bamana, Kaimana

Pernah dengar “Senja di Kaimana”? Jika belum, barangkali satu ketika Anda bisa menengok senja di sana.

Horizon yang begitu luas terpampang di kedua belah mata, pijaran  bias kuning kemerahan matahari yang mencapai 4 kali lebih besar dari ukuran normal mentari jika terbenam di tempat biasa, dan langit jingga luas yang menawarkan pesona keunikan setitik kecil jagat raya.

Nah, mari sama-sama menyenandungkan, “Sendja di Kaimana”. Hehe.

Di sinilah pertama kalinya, Ma’ruf menginjakkan kaki di Tanah Papua. Dulu ia hanya mendengarnya dari cerita teman-temannya yang bertugas di sana, dan dari masyarakat perantau Bugis yang bermukim di daratan besar Papua.

Sekarang, ia ditugaskan di sini, selama enam bulan. Merasakan sendiri cerita-cerita yang pernah ia dengar. Dari hutan belantara dan sungai dengan jeram ekstrim, ia bergerak menuju pesisir di Teluk Etna, Kampung Warifi-Bamana.

Namun lagi-lagi, ia mendapatkan posisi minoritas.

“masyarakat pesisir di Papua Barat, umumnya memeluk agama Islam. Tapi, dasar memang sudah nasibnya begitu, meski saya di daerah pesisir, tapi penduduknya semua beragama Kristen,

“di sini, saya kembali lagi menjadi minoritas.” kisahnya.

Tapi sekali lagi, dari Papua, Ma’ruf kembali belajar tentang perbedaan yang begitu dihargai. Tanah paling timur Indonesia ini setiap hari menyuguhkan dan menampilkan nuansa toleransi yang kental.

Maka, nikmat apa lagi yang Ma’ruf dustakan dari keragaman Indonesia? Hehe.

Ma’ruf yang akrab dengan beberapa para pemilik bagan ikan, merasa beruntung dengan “vitamin sea” yang tak ada habisnya di lautan. Tidak ada waktu yang terlewat tanpa menyantap ikan dan hasil laut protein tinggi. Makanya, berat badannya bisa naik hingga sejauh ini.

Laut Kaimana menyimpan potensi seperti halnya bagian Papua Barat yang lain.

“masyarakat di sini, kerjanya hanya memancing ikan merah. Begitu selama seminggu. Tapi jangan salah, mereka bisa beroleh 30 juta hingga 50 juta bersih di tangan” katanya mengenang.

Hal unik lain, menurut Ma’ruf adalah Kayu Gaharu dan Masohi yang dihargai begitu mahal. Sekilo senilai 30 juta lebih, Ma’ruf berkisah Kepala Kampung tempat ia bertugas pernah mendapatkan hasil inti Gaharu dengan berat sekilo namun dihargai 300 juta. Sepuluh kali lipat dari harga biasa. Woooww.

Begitu juga dengan Kayu Masohi yang nilai jualnya tidak jauh beda dengan Gaharu.

Tapi, dua jenis kayu tersebut masih kalah dibandingkan jenis yang satu ini. Kayu paling mahal bagi Ma’ruf bukan keduanya. Bukan Masohi ataupun Gaharu.

“kayu termahal adalah Kayu Palang”. katanya terbahak.

“jenis ‘kayu palang’ ini meski kecil (jenis kayu boleh apa saja), tapi jika dipasang melintang memalangi jalan atau jalur lintasan proyek, akan menjadi sangat mahal,

“sekitar 30 hingga 50 juta bisa didapatkan dengan memasang kayu ini” sambungnya.

Setelah memalang jalan atau jalur masuk areal hutan dengan kayu dan tanda larang lainnya, cuma dua jalan keluarnya. Pergi dari wilayah itu sama sekali sebelum warga menjadi marah (kasus sejenis ini difilmkan dengan baik oleh Dandhy Dwi Laksono, lewat The Mahuze’s). Kedua, dengan jalan damai seperti menyerahkan uang pengganti dengan angka minimal di kisaran 50 juta.

Kebiasaan masyarakat untuk memalang sebenarnya merupakan bentuk protes keras. Mereka protes atas tidak adanya ijin kerja proyek-proyek swasta atau pemerintah pada komunitas adat, kadang seperti itu. Lain kesempatan, hal ini juga bisa berarti pelanggaran hak agraria pada masyarakat dalam arti yang sebenarnya.

Padahal mereka telah bermukim di lahan-lahan tertentu dan sudah mereka kelola bersama selama bertahun-tahun yang ditinggalkan turun temurun. Di mana mestinya lahan itu merupakan lokasi pencaharian masyakat atau kebun marga/suku tertentu, namun dijadikan lahan tambang atau apalah misalnya.

Di manapun, Ma’ruf tidak bisa lepas dari anak-anak. Selain menjadi relawan patriot di bidang penyadaran energi, ia kembali mengajar di sekolah, seperti yang ia lakukan di Sumentobol. Ia kadang diserahi mengampu murid-murid kelas satu dan dua.

Terakhir, pesan Ma’ruf, “jika masuk ke kampung, –dimanapun itu- sampaikanlah hal-hal yang baik pada masyarakat, informasi yang benar, dan sampaikanlah dengan bahasa-bahasa yang sopan dan mudah dimengerti”.

Alumni Fisika UNM Makassar ini mengajak anak-anak muda untuk ikut serta menjadi penggerak di Patriot Energi Indonesia Angkatan III. Turut menyalakan sumbu energi bagi Indonesia yang lebih terang di masa mendatang.

Catatan Blogger Kampus

Dirangkai apik oleh Andi Mawaddah Hamzah, pada ‘Bincang-Bincang Awal Tahun’ Blogger Kampus: Setahun Mengabdi dan Menulis di Perbatasan Nusantara, Kamis 5 Januari 2017, DiLo (Digital Lounge) Makassar.

Indonesia bukan negara miskin
Jika ingin, tak ada yang tak mungkin

Ada anak muda yang pantang menyerah menjawab persoalan
Sebab mereka yakin Tuhan selalu menjanjikan perubahan

Patriot bukan tentang tersakiti
Tapi syukur yang selalu dinikmati

Tanpa syukur langitpun tak kuasa
menampung keluh orang-orang serakah

Patriot itu tak diam meski tersisih
Tetap melawan dengan literasi
Kuat bukan soal fisik
Tapi hati yang utuh untuk menghormati dan membangun negeri

Tak henti menulis dengan tangan sendiri
Cerita nyata pengalaman pibadi saat mengabdi
Demi menginspirasi anak negeri
Agar mampu berjuang mulai dini

Tak perlu takut berkenala sampai jauh
Selama senyum dan mengangguk masih kau mampu
Dua bahasa yang universal
Mereka paham walaupun mungkin kau masih ayal

Patriot kadang lupa tren
Yang selalu ada menjawab harap dan permohonan

Inilah tugas mulia kita sekarang
Menjaga perjuangan untuk bangsa

Menulislah selama kau bisa
Agar kau abadi dalam sejarah

*foto: dok. Blogger Kampus

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s