Denyut Pasar Rakyat Mambuni-Buni, Fakfak

Posted: January 27, 2017 in Artikel, Blogger Kampus, Opini
Tags: , , , , , ,
javas_beuaty_travel_pangandaran_floating_market-5

javasbeauty.com

If you want to seed a place with activity, put out food | William H. Whyte

Di antara pasar tradisional yang pernah saya datangi, ada satu pasar yang menyimpan kesan mendalam. Pasar Mambuni-Buni. Letaknya di Distrik Kokas Kabupaten Fakfak Papua Barat. Distrik yang sebagian besar wilayahnya daerah pesisir, pulau-pulau kecil, lereng gunung, dan hulu sungai.

Kala itu, saya menetap di Distrik Kramongmongga. Sebuah distrik di pegunungan Fakfak. Namun, distrik yang lumayan besar itu tidak lagi memiliki tempat bertransaksi representatif. Dulu ada namanya Pasar Pendek, karena cuma sepenggal bidang yang tidak terlalu luas di daerah lembahan. Tapi karena letaknya terlalu jauh, berjalan kaki menuruni gunung menuju lembah dua kilo lebih, maka Pasar Pendek tidak difungsikan lagi.

Konon katanya, Pasar Pendek menerapkan sistem barter seratus persen dalam setiap transaksi. Hal ini diaminkan oleh masyarakat di sana.

Maka, beralihlah warga distrik menuju Kampung Mambuni-Buni di mana terletak pasar dengan nama sama. Sebab pasar inilah merupakan satu-satunya tempat kegiatan tukar-menukar terdekat. Sistemnya sama, barter. Meski ada satu dua warga yang bertransaksi menggunakan uang.

Keuntungannya, untuk menuju pasar ini warga tidak perlu berjalan kaki berjam-jam. Hanya perlu naik motor atau sewa taksi (angkot) sekitar setengah jam menuruni gunung. Kalau dari Kota Fakfak (Terminal Tambaruni Distrik Fakfak Tengah), pasar ini dapat ditempuh dua jam naik angkot.

Letak pasar pas berada di bahu jalan, di bagian hulu sungai. Di mana para pedagang dan masyarakat menambatkan perahunya. Memanjang hingga 10 hingga 15 meter. Meski jalanan ini sebenarnya lintas distrik bahkan lintas kabupaten (Kabupaten Bintuni via darat), tapi begitulah keadannya. Kebutuhan warga untuk saling memenuhi satu sama lain sangatlah besar. Tak ada tempat, jalanan pun jadi.

Pedagang pasar dari Distrik Kokas jualan pakaian, kebutuhan pokok sehari-hari, sampai kue-kue. Namun yang utama hasil laut. Orang-orang kampung Distrik Kramongmongga menyediakan keladi, bayam, kangkung, bawang, pinang, sirih, tembakau negeri (baca: lokal), dan banyak lagi.

Praktis, ketika pasar ini mulai riuh, orang-orang tidak bisa melewati jalan yang sebenarnya jalan umum. Pasar ini beroperasi hanya sekali seminggu. Ya, hari Sabtu. Hari yang begitu istimewa bagi masyarakat di dua distrik.

Pasar Mambuni-Buni ini layaknya pasar dadakan atau pasar tumpah istilah yang kita kenal.

Di pasar inilah sebagian orang gunung dan laut berjumpa. Ikan ditukar dengan bayam dan sayur-sayuran,  sirih-pinang-tembakau dibarter dengan kerang-kerangan, cabe rawit dan bawang ditaksir dengan kepiting, macam-macam. Sederhana saja. Tapi itulah sejatinya kebutuhan. Bukan ketamakan.

Nah, ada satu paket barang yang wajib dibeli, baik masyarakat dari gunung maupun dari laut. 3K:  Kahom, Keenan, Kabok (bahasa suku Iha) yang artinya pinang, sirih, dan kapur untuk digunakan menyirih sehar-hari. Biasa ditempatkan dalam lopa-lopa (dompet kecil yang terbuat dari anyaman bambu hutan).  Masyarakat Fakfak pada umumnya tidak bisa lepas dari paket lengkap ini.

Bagi laki-laki dewasa, yang tidak boleh ketinggalan dalam lopa-lopa adalah tembakau negeri dan daun pandoki untuk melinting rokok. Di pasar inilah, para warga, membeli kebutuhan dapur dan pribadi mereka dalam tomang dan lopa-lopa untuk seminggu berikutnya.

Akhirnya, pasar, menjadi tempat bagi saya -dan kita juga- menyaksikan kebudayaan. Menyaksikan masyarakat berkarnaval. Saling merayakan hidup. Tidak ada tempat bagi strata dan identitas sosial.

Keunikan lain pasar ini adalah kedisiplinan. Jadi ada semacam kentongan besi yang dipukul pada pukul enam pagi menandakan pasar ini dimulai, lalu ditutup pukul sembilan pagi. Sebelum kentongan ini dimulai, warga tidak boleh memulai transaksi sama sekali. Hal ini menihilkan kesempatan mengeruk barang.

Kecenderungannya hanya ada penjual dan pembeli. Warga yang butuh dan membutuhkan. Bukan menimbun barang. Karakteristik sosial masih dipertahankan. Barangkali, alasannya, karena mereka perlu.

Sudahkah Pasar Tradisional dijadikan Prioritas?

Cerita di atas adalah nostalgia pribadi tentang nilai-nilai masyarakat. Value tertanam dalam interaksi kebudayaan dalam pasar patut dipertahankan. Sudah dua tahun berlalu, dan saya berharap semoga nilai-nilai di dalamnya masih tetap bertahan di tengah gempuran modernitas.

Ribuan pasar rakyat tersebar di seluruh Indonesia. Pasar Mambuni-Buni hanya satu dari sekian banyak itu. Barangkali dengan adanya momentum Hari Pasar Rakyat Nasional akan menjadi titik balik perubahan pola pikir masyarakat dan pemerintah terhadap pasar tradisional.

Mengapa demikian. Sekarang, mari coba kita bercermin dari situasi terkini. Indonesia mengalami kecenderungan kehilangan pasar tradisional di Indonesia secara perlahan. Survey yang dilakukan AC Nielsen pada 2013 mengonfirmasi hal tersebut. Jumlah pasar rakyat di Indonesia terus mengalami penurunan.

Data yang dirilis Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) memperlihatkan kurva penurunan yang tajam dari 13.540 menjadi 9.950 pasar tradisional dalam kurun waktu empat tahun (2007 – 2011).

Ketua IKAPPI, Abdullah Mansyuri dalam wawancara dengan Bisnis menegaskan dampak jika hal ini terus berlanjut, akan menghilangkan periuk nasi para pedagang eceran tradisional kecil. Asumsinya, setiap pedagang pasar tradisional menghidupi keluarga inti mereka berjumlah 5 orang (suami, istri, dan 3 orang anak). Maka kira-kira ada sekitar 62.5 juta jiwa akan kehilangan mata pencaharian.

Kondisi ini tentu saja memprihatinkan sebab selain banyak masyarakat yang bergantung pada pasar rakyat murah dan terjangkau, para pedagang kehilangan lahan mencari sesuap nasi.

Sejatinya tokoh-tokoh pemerintahan punya kapasitas lebih dalam mengimbau masyarakat. Irman Gusman dan DPD RI pada awal 2014 mencanangkan Gerakan Nasional Belanja Pasar Tradisional yang dimulai di Solo. Inisiatif ini ada karena kegelisahan yang besar dengan keberadaan pasar ritel modern, yang tidak hanya tumbuh di perkotaan tapi juga di pedesaan kecil. Sedikit demi sedikit menggeser lahan ekonomi para pedagang pasar rakyat.

Sebagai Penyokong Ekonomi Kerakyatan

Industri mikro dalam pasar tradisional merupakan elemen vital perencanaan ekonomi dan pembangunan bagi banyak kota di seluruh dunia. Cohen (1986) menunjukkan bahwa nilai penjualan tahunan pasar tradisonal seluruh wilayah Bogor mencapai 67 juta dollar.

Mempertahankan pasar tradisional menjadi krusial sebab sektor informal pasar rakyat tumbuh sangat cepat daripada pertumbuhan formal sektor di daerah urban pada banyak negara.

Anggapan paling logis menurut Farbman (1980), alasannya adalah pertambahan penduduk kota yang signifikan (termasuk perpindahan penduduk desa-kota) dan bertumbuhnya lapangan pekerjaan informal akibat pembangunan industri skala besar. Ini mengakibatkan kebutuhan masyarakat akan kebutuhan mendasar (makan-minum) pada pasar rakyat mewujud semakin besar.

Pada umumnya, pasar tradisional berlokasi di tempat yang kecil dengan kios-kios yang juga berukuran kecil. Pedagang pun hanya membutuhkan kemampuan dasar, fasilitas umum standar, dan sumber daya yang kecil. Meski demikian, di balik semua itu, pasar rakyat menyimpan potensi pendapatan yang besar dan lapangan pekerjaan yang terbuka lebar bagi masyarakat kecil.

Penelitian Chapman (1984) di Bogor menunjukkan, dengan penduduk berjumlah 250 ribu, ada tersedia 18 ribu kios-kios tradisional, yang artinya perbandingan setiap 14 jiwa berkumpul, ada 1 pasar yang terbentuk di komunitas tersebut.

Kecenderungan yang sama diperlihatkan di Amerika Tengah, di mana organisasi internasional tenaga kerja (ILO) menemukan serapan tenaga kerja aktif di kota-kota besar memiliki angka 29 persen pada pasar-pasar tradisional.

Para pedagang pada umumnya tertarik dengan pekerjaan ini karena kemungkinan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi itu jauh lebih besar. Pada lingkup Asia Tenggara, menurut satu perhitungan, rata-rata sebuah kios memiliki kesempatan memperoleh tiga hingga sepuluh kali lipat penghasilan minimum pada para pekerja terlatih di formal sektor.

Sebagai Ruang Konektivitas Sosial

Sophie Watson (2006), profesor Sosiologi di Inggris meneliti tentang dampak sosial dari eksistensi pasar-pasar tradisional. Riset yang ia lakukan di sana cukup sukses dalam menghasilkan perubahan cara pandang orang-orang tentang bagaimana peran pasar rakyat yang sebenarnya.

Ternyata, pasar tradisional menjadi ruang-ruang kunci bagi intekrasi sosial dan terbangun dan terjaganya harmoni dalam hubungan antarkomunitas di masyarakat.

Dengan peran nyata tersebut, sekarang, oleh pemerintah lokal dan nasional Inggris, pasar tradisional tidak lagi dianggap sebelah mata dan selalu menjadi bagian penting dalam perencanaan ekonomi dan pembanguna industri pasar skala makro.

Selain itu,  Sophie juga menemukan pasar rakyat juga bersalin rupa menjadi ruang vital bagi pertemuan berbagai gerakan sosial (spirit komunitas), sosial inklusi, termasuk membangun kebiasaan makan sehat, hingga mendukung kesempatan warga membangun bisnis rintisan (start-up).

Segendang sepenarian, di negara bagian Amerika Serikat, Atlanta, Georgia, pasar tradisional secara historis telah sejak lama menjadi pusat perkumpulan warga. Kemudian seiring berjalannya waktu, wadah komunal tersebut juga berkontribusi secara dalam menguatkan identitas lokal, penghubung beragam komunitas, dan sebagai katalisator pengembangan lingkungan.

Di Atlanta, orang-orang tidak perlu jauh-jauh datang ke toko-toko dan pasar modern besar, pasar rakyat tersedia banyak di sekita pemukiman-pemukiman warga. Tersedia berbagai macam pasar-pasar rakyat yang mempertemukan banyak orang. Ratusan orang dari seluruh kota dan barangkali seluruh dunia, berkumpul di sini mencoba sajian makanan lokal.

Tidak hanya itu, pasar-pasar di Atlanta memberikan kesempatan para seniman lokal menyajikan karya dan menjualnya, pedagang-pedagang kecil menjual makanan dari jendela-jendela mereka yang di-branding sendiri.

Semua aktivitas tersebut, baik sosial maupun ekonomis menghasilkan stimulus ekonomi dan perumahan meningkat secara secara tajam di daerah sekitar pasar rakyat Atlanta. Hal ini yang membuat penduduk Atlanta menjadi bangga dengan kotanya.

Alangkah baiknya, di Indonesia, pemerintah lebih serius mengelola pasar-pasar tradisional, bukan dengan menggusur, tapi mempertahankan nilai-nilai lokal dalam setiap pasar. Mengapa? karena ratusan juta masyarakat Indonesia bergantung hidup pada ketersediaan nutrisi di pasar-pasar rakyat.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah membantu pemerintah lokal bersama komunitas mengenali potensi pasar tradisional dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, dan potensi sosial ekonomi lainnya. Melakukan penjagaan dan penelitian untuk meningkatkan standar makanan tradisional di pasar-pasar.

Semoga pasar rakyat bisa semakin lebih baik ke depan. Tidak kalah dengan atmosfir modern pasar-pasar modern lainnya.

Bacaan:

  1. Street Food in Developing Countries: Lessons From Asia
  2. Changing Perceptions of Street Markets
  3. The Role Modern and Traditional Markets Play in Cities and Food Culture
Advertisements
Comments
  1. Tari Artika says:

    Kereeen.. ternyata masih ada yah pasar yg pakai sistem barter.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s