3 Pelajaran Baik Mengawali Tahun

Posted: February 2, 2017 in Artikel, Catatan Harian
Tags: ,
charles_bargue_-_moslem_at_prayer_-_walters_371339

shwebook.com

Catatan ini seharusnya beredar sebelum berakhirnya fajar 2016 atau beberapa hari setelah kalender 2017 berlaku. Sekarang sudah Februari tanggal dua. Nah, lho. Tapi sudahlah, yang penting sekarang tulisan ini telah mendapatkan tempatnya.

Saya merasa, setiap peralihan waktu itu (apapun bentuk dan modelnya) adalah sebuah pegelaran dan proses perenungan. Ibarat pelari maraton pada hentakan kaki yang melambungkan langkah ke meter selanjutnya. Di situ, sejenak ada nafas yang ditarik perlahan. Ada sedetik dua detik memikirkan strategi selanjutnya.

Seperti itulah tulisan ini saya maksudkan. Sebenarnya jadi refleksi pribadi. Tapi, sebagaimana sebuah kebaikan dan niat baik, idealnya selalu dapat bergulir ke banyak orang dan lalu bisa menghasilkan begitu banyak kebaikan lain ketika orang mencontohnya.

Niat saya ingin membagi tiga pelajaran sekaligus alarm (pengingat). Bahwa saya pernah sampai pada titik ini. Ketiga hal tersebut adalah titik balik yang membuat saya merasa lebih baik dan tenang.

Oke, ini bukan pesan moral. Bukan juga capaian tinggi-tinggi setahun ke depan. Ini mengenai sisi religiositas yang beberapa waktu lalu hilang dalam perjalanan hidup. Kemudian, muncul kembali seperti tamparan keras. Saya sadar, saya telah alpa.

Terlepas dari hal itu, saya bersyukur di antara lingkaran pertemanan, ada sahabat-sahabat yang tidak segan-segan selalu mengirimkan pesan-pesan bernilai agama. Menegur di kala lupa. Menyadarkan di saat berada dalam kepongahan. Dua atau tiga dari mereka tidak bosan-bosan memberikan nasehat agar tidak lupa ibadah dan selalu mawas diri dengan hakikat penciptaan manusia di bumi ini.

Di mana barangkali, semoga, akan jadi pengingat dan pelajaran seumur hidup bagi saya. Ketika tahun-tahun berulang-ulang, terus, dan lagi.

Semoga kita semua bisa berpulang dalam keadaan Muslim, dan dipertemukan kembali dalam kondisi yang lebih baik pada kehidupan akhirat tanpa ujung.

Istilah teman saya, “dunia ji ini, anu. Santai”.

Allah bilang, “tidaklah dunia ini berharga melainkan hanya senda gurau, permainan, dan sandiwara belaka” Kira-kira begitu.

Kemudian di ayat lain, Allah sambung dengan “walal aakhiratu khairullaka minal uulaaa” Dan, akhirat itu adalah lebih baik dan lebih kekal.

1. Ingat-ingatlah Allah (tapi dengan serius)

Dalam kenyataannya, pada kehidupan yang dipenuhi pekerjaan dan massifnya hubungan antar sesama manusia, begitu susahnya mencari waktu mengingat Allah (dengan serius).

Bahkan Chairil Anwar mengakui itu. Tuhanku | dalam termangu | Aku masih menyebut nama Mu | Biar susah sungguh | mengingat Kau penuh seluruh | Chairil Anwar dalam Doa.

Sajak itu ditujukan “Kepada Pemeluk Teguh”. Memang, hanya yang punya kekuatan iman besar-lah yang bisa mengupayakan dzikir yang tak henti-henti.

Ada satu alasan kenapa kita bisa tenang meskipun banyak melantunkan dzikir. Kurangnya khusyu’. Kita kekurangan spirit dan kesadaran akan pentingnya khusyu’.  Sikap serius betul-betul hanya pada Allah lisan, hati, dan pikiran kita tertuju saat beribadah.

Kita sering tidak serius dalam berdzikir pada Allah, dalam shalat misalnya. Barangkali, kita juga tidak pernah benar-benar serius ketika ibadah-ibadah lainnya.

Pikiran kita jauh mngembara dari ibadah. Yang hadir hanya fisik dan lisan yang kering. Lalu pada akhirnya, semua rutinitas ibadah (wajib dan sunnah) jadi momen yang tidak memberikan pengaruh besar bagi ketenangan jiwa.

Seandainya jika kita berusaha menggapai sikap khusyu’ ini, dengan ijin-Nya, akan memberikan ketenangan bagi seorang Muslim. Sebab, bagi orang yang beriman, ketika disebut nama-Nya, maka akan bergetarlah jiwanya.

Seorang teman yang sekarang kuliah di Amrik, bertanya pada saya tentang seberapa serius saya mengingat Allah.

“kawan, seberapa sering kau lembur dan begadang menyelesaikan pekerjaan?”

“sering, tapi tidak selalu”

“lalu, pernahkah kau coba hal yang sama begadang dan lembur untuk shalat tahajud? Atau membaca ayat-ayat Quran hingga larut?”

“hampir tidak pernah”  

Begitu gambarannya. Beberapa dari kita rela berlelah-lelah demi kenikmatan yang hanya bisa dirasakan sebelum masuk liang lahat. Tapi hanya sedikit yang rela bersusah-susah waktu-tenaga-harta demi janji pahala dan kenikmatan yang tak ada habisnya di akhirat nanti.

2. Hafal-hafallah Qur’an (meski beberapa ayat)

Ramadhan kemarin, saya menemukan kesenangan baru. Membaca Quran dan mencoba menghafal beberapa ayat (Serius, ini bukan pekerjaan ringan).

Jadi ceritanya, tahun kemarin, seorang teman menyarankan shalat tarwih di masjid bilangan Skarda. Kebetulan rumahnya dekat situ. Masjid Hasanuddin namanya (bila tidak salah ingat). Bacaan Imamnya bagus, katanya. Lalu, saya coba datang sekali.

Menurut cerita, di masjid ini tiga tahun belakangan dihadirkan seorang penghafal Quran. Khusus menjadi Imam Shalat Tarwih. Beliau memimpin shalat tarwih 33 rakaat yang kesemuanya menghabiskan bacaan 1 juz tiap malam (nama Bapak Imam nya saya lupa).

Pertama kali ke sini, langsung merasa tenang dan mendapatkan momen khusyu’. Ukuran masjid relatif kecil, muat 40 – 50 jamaah. Meski jamaah yang ikut shalat berkisar hanya 20-an. Pendingin ruangan yang bekerja dengan baik. Anak-anak yang masih bisa dikontrol sama orang tua mereka sehingga tidak ada keributan. Sangat nyaman. I felt like at home.

Tapi, faktor utama ketenangan itu datang dari Imam. Kami shalat selama hampir dua jam. Bacaan Imamnya mengalir begitu bagus. Saya bahkan tidak merasa capai yang berarti.

Suara serak-serak nya khas orang tua menjadikannya seperti alunan musik klasik. Terkadang melengking dengan wajar, terkadang memainkan nada syahdu, dan sesekali mengubah nada agar tidak bosan. Suka sekali saya mendengarnya.

Di masjid inilah kekaguman diam-diam saya pada Quran bermula. Saya bayangkan betapa bahagianya bila saya punya hafalan Quran untuk disenandungkan dengan merdu saat shalat atau mengaji. Membaca Quran itu, mendatangkan rahmat.

Ternyata, yang awalnya cuma coba-coba, saya jadi ketagihan. Mulanya hanya niat tarwih dan mendengarkan bacaan Quran. Eh, sebulan saya tarwihnya di situ. Lalu, perlahan-lahan timbul rasa iri pada mereka yang senantiasa menjaga isi Quran dalam dada dan jiwa mereka.

Kadang Imam ini menangis tatkala ada ayat tentang adzab atau siksa neraka. Kadang jadi optimistik jika ayatnya tentang syurga. Saya jadi merasa bodoh sekali tentang Quran.

Barangkali tak sebiji pun yang saya tahu. Padahal, Allah sudah memastikan bahwa Quran “laa raiba fiihi, hudan lil muttaqiin”. Sesuatu yang tidak ada cacatnya sama sekali, tanpa ada keraguan secelah pun: inilah petunjuk bagi orang-orang yang bertqawa”

Bagaimana mau dijadikan petunjuk jika hafal pun tidak apalagi jika tidak dimengerti?

Sejak saat itu, saya mulai membaca Quran sering-sering supaya lancar, lalu menghafalnya, untuk suatu saat bisa saya pelajari lebih dalam.

Oya, sudah tau belum ada perkataan Nabi: seorang penghafal Quran itu punya satu tiket untuk memasukkan langsung orangtuanya ke dalam surga?

Bakti pada orang tua apalagi yang lebih hebat daripada ini? Mau? Silahkan diamalkan.

3. Belajar-belajarlah agama (tapi dengan rendah hati)

Kenyataannya, kita memang belajar agama pada tingkatan formal pendidikan. Mulai dari jenjang SD sampai SMA (bahkan hingga di tingkat satu universitas) kita punya guru dan dosen agama.

Hal paling hebat yang pernah kita lakukan adalah menuntaskan LKS Agama Islam jaman SD sampai SMA. Dalam waktu semalam sebelum esok paginya ulangan umum digelar. Yah, meski itupun sesekali diperoleh dari contekan.

Beberapa dari kita merasa cukup diri dengan semua yang kita peroleh. Lantas, setelah tamat sekolah, masuk universitas, kemudian lulus dan bekerja, hal ajaib sekaligus konyol yang kita lakukan ialah tidak lagi belajar agama.

Tidak lagi punya niat membaca buku-buku agama, mendengarkan penjelasan satu dua petikan ayat dan hadits, dan terlalu keras kepala untuk tinggal sebentar mengikuti pengajian dari ustad. Alergi.

Namun demikian, tipe orang ini jika giliran diajak cerita agama, mereka paling depan. Terlalu merasa pintar dengan persoalan agama. Rasa-rasanya, seperti tidak ada lagi ajaran agama yang mereka tidak mengerti. Terlalu banyak berdebat dan beretorika tentang Tuhan.

Tapi baca Quran nya malas, shalatnya bolong-bolong, tidak pernah ke Masjid tapi paling getol mencaci ajaran agama yang menurut isi kepalanya tidak benar.

Hal lain yang bikin sedih, ya kejadian-kejadian beruntun belakangan ini.

Fenomena menunjukkan betapa mudahnya masyarakat ikut-ikutan mengolok-olok para ulama dan cerdik cendekia Muslim secara terang-terangan maupun di media sosial. Ulama di Indonesia, junjungan dan tauladan Umat Muslim di negara ini dihina dan diperlakukan tidak selayaknya.

Padahal, Ulama itu adalah al-waratsatul anbiyaa’ (pewaris para Nabi dan Rasul). Sebab para utusan Allah sama sekali tidak mewariskan harta dan kekayaaan berupa-rupa. Hanya ilmu agama yang mereka wariskan. Berisi petunjuk pada jalan ke Surga.

Betapa parah kita melihat situasinya. Umat Muslim sudah miskin ilmu agama, hilang pula kesantunan dalam dirinya. Jenis kesombongan apa lagi yang paling besar selain sombong kepada-Nya dan pada isi Al-Qur’an?

Setidaknya, jika Iman masih bercokol dalam diri, Umat Muslim semestinya lebih menghargai dan menghormati para pewaris Nabi. Kitalah yang jadi garda depan jika ada gangguan yang tidak pantas pada mereka.

Jangan pernah pula mengharapkan mereka sempurna, karena kita lebih-lebih-lebih jauh berada dari kesempurnaan.

Tapi yakinlah, menghina mereka berarti turut menghina Nabi dan semua warisannya mengenai agama Islam. Maukah kita menggadaikannya dengan secuil preferensi politik dan alasan remeh lainnya? Silahkan tentukan sendiri.

Kata Nabi, hanya satu jalan memperoleh dunia dan segala isinya, juga akhirat dan segala isinya: bil ‘ilmi (dengan ilmu).

Rendahkanlah hati dan suara-suara egoisme kita di hadapan para pelanjut risalah Nabi. Semoga dengan kerendahan hati dan kesediaan kita menghormati para Ulama, kita membiarkan cahaya masuk ke dalam jiwa.

Cahaya itu adalah ilmu agama itu sendiri. Sehingga pesan-pesan ilmu agama bisa merasuk ke dalam jiwa dan batin dengan mudah.

Oya, orang yang menuntut ilmu Agama itu akan dimudahkan baginya jalan ke surga.

Sebuah akhir dalam Quran (Al-Fajr 27-30) menyenandungkan dengan indah panggilan Tuhan di saat akhir hidup seorang Muslim:

“Wahai jiwa-jiwa yang tenang
“kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang Ridha dan di-Ridhai”
“Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku”
“dan masuklah ke dalam Surga-Ku”

i-am-moslem-and-i-proud-of-it

keepcalm – 0 – matic.co.uk

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s