Kelas Menulis Kepo Angkatan Empat: Dimulai!

creative-writing-courses
http://www.ed2go.com

“Murid siapa saja, guru siapa saja, belajar di mana saja, makan apa saja”

Apa itu Kelas Menulis Kepo? Kegiatan ini merupakan kelas menulis intensif yang diprakarsai sejumlah pegiat komunitas di Makassar agar mereka bisa menulis lebih baik. Para peserta didominasi anak-anak muda yang banyak berkecimpung di dunia kerelawananan sosial.

Istimewanya, meski intensif selama tiga bulan (kelas sekali dalam sepekan), Kelas Kepo tidak memungut biaya seperak pun bagi peserta. Dari angkatan pertama, program ini bertekad untuk tidak memungut biaya sekalipun.

Alasannya cukup unik. “Kami dulu belajar dan mendapatkan ilmu ini dengan gratis, jadi kami juga (akan selalu) membagikannya cuma-cuma” kata Mansyur Rahim, seorang inisiator.

Harapannya, semakin banyak yang bisa menulis ‘dengan rapi’ tentu lebih bagus. Dengan menimbang keragaman peserta, dimaksudkan agar bisa menelurkan banyak cerita dan kabar-kabar menarik yang datang dari Makassar. Menulis tentang manusia dan produk-produk kesehariannya yang diciptakan dalam proses berkebudayaan. Seperti kata Pramoedya, menulislah tentang manusia, karena tidak akan pernah habis dan kering rekam jejak dan dan pemikirannya.

“Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari pada dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput” Pramoedya Ananta Toer.

Pendidikan orang dewasa (andragogi) diterapkan di sini. Kelas Kepo ini dijalankan dengan sistem saling berbagi. Materi di kelas akan dilanjutkan dengan praktek dan pendampingan. Setiap kelompok pendampingan pada jamaknya terdiri dari lima orang, tiga peserta ditambah dua pendamping. Jadi, setidaknya kita punya sudut pandang yang lebih kaya dan beragam. Setiap dua pertemuan akan ada tugas menulis yang harus dikonsultasikan lewat proses pendampingan sebelum akhirnya diposting.

Para pendamping merupakan alumni dari kelas angkatan sebelumnya, dari angkatan pertama hingga angkatan ketiga.

Sejak gelombang kelas angkatan pertama dimulai Juni 2015, Kelas Menulis Kepo telah menghasilkan tiga angkatan dengan 30 lulusan jurnalis warga. Angkatan pertama 13 lulusan, angkatan kedua 8 orang, dan terakhir angkatan ketiga 9 orang.

Sekali dua waktu, penyelenggara mengundang penulis/pegiat literasi yang punya nama untuk berbagi di Kepo. Keuntungannya, selain mendapatkan wawasan menulis secara mendalam, para peserta juga diuntungkan dengan networking ke sejumlah praktisi dan tokoh tersebut.

Beberapa nama yang pernah menghiasi para ‘pembagi ilmu’ di Kelas Kepo ada kak Jimpe (Anwar Jimpe Rahman), kang Maman (Maman Suherman), kak Dandy (Nurhady Sirimorok), kak Krisna (Khrisna Pabichara), Eko Rusdianto, Daeng Rusle (Muhammad Ruslailang Noertika), Kamaruddin Azis, dan beberapa lagi yang cukup populer.

Lalu, disinilah saya. Berada di jejeran peserta Angkatan Keempat bersama empat belas lainnya. Mengapa saya terpilih? Wah, kalau ini, saya juga tidak mengerti. Saya cuma menebak-nebak cara lulus. Penuhi semua persyaratan yang diminta. Pada umumnya, usaha yang lebih itu akan sangat dipertimbangkan.

Biasanya, persyaratan kelulusan memang sudah ditetapkan. Misalnya, postingan di blog, jumlahnya tidak boleh kurang dari sepuluh pada saat pendaftaran dan lain-lain.

Kelas ini tujuannya membekali peserta dengan kemampuan menulis yang baik dalam kerangka citizen journalism. Olehnya, sebelum mendaftar, peserta harus bisa memastikan (di blog masing-masing) bahwa mereka setidak-tidaknya memiliki postingan non-fiksi atau laporan-laporan warga dengan jumlah yang dominan. Pada akhirnya saya lulus.

Senang, sekaligus khawatir ada rintangan yang tidak memungkinkan saya mengikuti hingga rampung. Jika itu benar-benar terjadi, berarti saya menyia-nyiakan kesempatan satu orang yang belum beruntung namun punya keinginan besar belajar menulis.

Lalu, sebagaimana lazimnya, ada pemilihan Ketua Kelas setiap angkatan. Entah bagaimana, saya juga tidak mengerti, sistem pemilihannya begitu kocak dan random, saya dipilih jadi Ketua Kelas (hehe). Oke, ini sejarah. Jaman baju sekolah merah putih sampai berganti abu-abu saya belum pernah menyentuh posisi ketua kelas.

Ketua kelas adalah jabatan keramat. Posisi ini mengharuskan kita duduk di bangku paling depan, selalu bawa sapu ijuk tiap pagi, bawa taplak meja dan vas bunga, datang paling cepat, tidak boleh sekalipun terlihat mengantuk, dan kalau hari Jumat keliling kelas minta sumbangan. Tapi, yakinlah, jaminannya minimal nilai rapor delapan semua.

Nah, saya kebalikan dari itu semua. Upacara pun kadang-kadang saya selalu di barisan tambahan (anak-anak yang susah bangun pagi). Kalau datang cepat, saya pasti langsung sibuk menulis PR.

Saya tidak bakal menyangka ditunjuk jadi ketua kelas. Tanpa acara kampanye dan debat publik. Tanpa perlu bermanis mulut di depan konstituen. Seandainya politik Indonesia bisa begini. Saya yakin, masa depan bakal cerah.

Bagaimana Kelas akan berjalan?

Pertemuan perdana Kelas Kepo IV membahasa teknis dari awal hingga akhir, apa-apa saja yang perlu kami ketahui sebelum memulai starting point. Diantaranya mengenal lebih jauh Kepo Initiative sebagai penyelenggara, Kelas Menulis Kepo, kurikulum, tata tertib, pembagian kelompok dan pendamping, dan terakhir pemilihan ketua kelas.

Gambaran kurikulumnya bisa dilihat lengkap di sini. Secara ringkas, dimulai dari ide tulisan dan sudut pandang, teknik wawancara dan mencari data, menyusun kerangka tulisan, fotografi, dan etika blogging. Kesemua itu, seperti yang saya utarakan sebelumnya, diselingi dengan tugas, turun lapangan, dan pendampingan dengan frekuensi yang sering.

Dalam pertemuan teknis sore tersebut, dijelaskan ada satu tambahan materi yang hendak diintrodusir dengan memerhatikan evaluasi yang diperoleh: Analisis Sosial.

Tujuannya agar peserta bisa memahami situasi-situasi sosial yang paling dekat, dan bisa menerjemahkannya dalam bentuk laporan warga. Hal paling utama barangkali adalah supaya peserta bisa menumunculkan dan menumbuhkan simpati dan empati terhadap kondisi-kondisi sosial kemasyasrakatan yang meliputi mereka.

Saya pribadi, awalnya senang, tapi cuma sedetik dua detik. Selebihnya adalah khawatir. Ini lumayan berat juga. Inisiasi yang dikelola berlelah-lelah oleh sejumlah orang yang terlibat, pastinya menginginkan bayaran yang lebih. Bayaran kesediaan dan komitmen untuk mengikuti sampai akhir. Kepo Initiative menginginkan hasil yang terbaik, yaitu semua bisa melalui ini tanpa halang rintang berarti. Semua lulus.

Tapi, daripada itu, mari kita memandang ke depan dan memulai saja apa yang sudah terpampang di depan mata. Tempota mutantur et nos mutamur in illis, dalam pepatah latin, waktu terus berjalan dan kita (harus / mau tidak mau) berubah seiring dengan bergulirnya waktu. Semoga menjadi lebih baik bagi kita semua.

Pertemuan Perdana
Waktu: Jumat, 3 Februari 2017
Pukul: 17.00 – 21.00 WITA
Tempat: Brewbrothers, Jl. Pengayoman

kelaskepo-angk-iv-01
kelaskepo.org
Advertisements