fakfakadat

Tomang dikalungkan pada anggota masyarakat Adat (infofakfak.com)

Pagi itu, udara terasa segar menembus jendela ruang guru yang kehilangan sebagian kacanya. Melihat jam sudah menunjukkan waktu jam pelajaran pertama,  saya membunyikan bel beberapa kali.

Hanya saya dan Ibu Linda guru kelas empat yang berada di ruang guru. Ia juga bersiap-siap masuk ke kelas. Saya mengambil absen untuk diedarkan ke setiap kelas. Kami semua sibuk untuk mempersiapkan anak kelas enam mengikuti ujian di ibukota distrik.

Hari itu, menjelang ujian semester dua. Ini berarti, tidak sampai sebulan lagi saya akan tinggal di kampung ini, Kampung Bahbadan. Tepat sebelum keluar ruangan guru, Ibu Linda memanggil saya.

“pa’ guru, tunggu sebentar, ini beta ada mo kasi sesuatu.” sergahnya.

“Oh iya bu guru, itu apa eee.” jawab saya sedikit terkejut.

Ia merogoh sesuatu. Perlahan-lahan ia keluarkan barang itu dengan hati-hati agar tidak bergesekan dengan noken miliknya.

Ibu Linda Herietrenggi rekan guru saya di tempat mengajar, ia adalah anak dari Tete Rudolof Herietrenggi, Tokoh Adat di tiga kampung sekaligus ketua majelis gereja di kampung. Saya tidak menyangka Ibu Linda bisa membuat Tomang yang begitu elegan, jalinan yang terbuat dari bambu terluhat rapi, bahkan ada nama saya tersampir di punggung Tomang itu: Fadli Bahba.

Ia menyerahkannya kepada saya sambil berpesan, “supaya pa’ guru bisa ingat terus deng kampung ini, supaya pa’ guru bisa ingat katorang semua”

sampai di Makassar nanti, pa guru jang perna lepas barang ini eee” harapnya.

***

Tomang adalah tas selempang dari anyaman bambu hutan atau damar kecil. Ukurannya bisa bermacam-macam tergantung kebutuhan masing-masing pengguna. Tapi, secara umum, dimensi tomang hampir seragam di mana-mana di Fakfak. Ukurannya selebar pinggang orang dewasa. Panjangnya kurang lebih tiga puluh senti meter. Bagi masyarakat di distrik, penggunaannya mirip tas noken.

Perbedaannya terletak dari bahan. Jika noken menggunakan bahan elastis seperti serat kayu/bambu/damar hutan yang diolah sedemikian rupa sehingga menjadi serupa kain. Tomang memiliki bentuk kaku. Bentuknya kotak segi empat dengan mulut tomang berbentuk elips.

Seringnya, tali noken digantungkan di kepala, pada bagian pangkal tumbuhnya rambut. Lain halnya dengan tomang. Wadah ini selalu disampirkan di punggung. Namun kadang jika kelelahan menyusuri hutan, para mama-mama atau  anak-anak yang pulang berkebun sore hari menggantungkan tomang di ujung kepala.

Saya beranggapan kemungkinan karena bobot barang yang dikandung tomang kadang begitu berat. Jika menggunakan noken, saya yakin cepat atau lambat bakal koyak di beberapa tempat dan merusak seratnya. Saya menyaksikan isi tomang yang masyarakat bawa selalu melebihi kapastitas sebenarnya. Selalu terlihat lebih berat. Macam-macam isinya, ada keladi, petatas, ubi kayu (kasbi), daun pepaya, buah merah, bahkan durian sekalipun.

Bagi warga Kampung Bahbadan, Fakfak, tomang berfungsi sebagai wadah penyimpan cadangan makanan sehari dua hari. Di wadah kotak segi empat inilah, masyarakat menampung daun-daun sayur, keladi, maupun binatang hasil buruan yang  mereka peroleh dari hutan hujan yang berkelindan rapat.

Tidak hanya itu, tomang memiliki fungsi sebagai simbol tanggung jawab dan pengakuan kedewasaan seseorang. Siapa yang memegang dan diserahi tomang, maka ia dianggap sudah dewasa membantu mencari kebutuhan pangan keluarga di dalam hutan.

Dalam prosesi adat yang sebenarnya, Ketua Dewan Adat Mbaham Matta akan mengalungkan bunga pala dan tomang pertanda sahnya seseorang menjadi bagian dari masyarakat adat.

Mengapa mesti tomang, bukan yang lain?

Kenapa saya diberi hanya satu tomang dan tidak dibarengi cenderamata lain? Sebenarnya ada kalipan, tikar pandan hutan yang dianyam. Ukurannya begitu besar dan digunakan sebagai pengganti alas tidur dan makan. Jadi, praktisnya, benda ini milik semua orang.

Ada juga lopa-lopa yang merupakan anyaman serat bambu hutan. Bentuknya kecil sekira lima kali tujuh senti meter. Digunakan untuk menyimpan tembakau dan daun pandoki (daun pisang kering). Lopa-lopa ini dibuatkan penutup untuk menghindari basah. Tokoh-tokoh adat dan orang-orang tua biasanya memilikinya.

Nah, beda dengan tomang. Tomang lah satu-satunya barang yang kelak akan dimiliki semua orang. Baik laki-laki maupun perempuan. Benda paling mewah dan paling utama yang mereka punya adalah tomang. Bagi orang-orang kampung dan saya sendiri, tidak ada yang lebih membanggakan saat melihat laki-laki dewasa memanggul tomang, parang, dan seekor anjing berburu. Olehnya, satu-satunya benda yang punya nilai personal di kampung adalah tomang.

Jika teman-teman punya waktu menengok kampung Bahbadan, kalian boleh meminjam apa saja dari masyarakat, parang, panci dan benda-benda lain yang ada di rumah mereka, terkecuali tomang.

Pada intinya, tomang tidak sekedar alat, ia adalah penghidupan. Jika kita sudah diberi tomang, maka itu berarti seseorang menjadi dewasa atau dianggap sudah dewasa. Dewasa menentukan kehidupan pribadinya sendiri maupun keluarganya. Mereka sudah dapat pergi mencari nafkah masing-masing.

Setiap keluarga inti yang terdiri dari bapak, mama, tete, dan anak pergi ke kebun setiap hari demi mengepulnya dapur. Di antara mereka, para pemanggul tomang adalah bapak, mama, tete, dan anak muda. Kewajiban memanggul tomang dibebankan sepenuhnya bagi orang dewasa.

Lalu, jika ada anak-anak yang memanggul tomang, berarti anak itu dipercaya oleh keluarga, entah karena kondisi yang memaksa atau karena memang anak ini punya fisik yang jauh lebih kuat dari seusianya.

Saya punya murid namanya Agus, masih kelas dua SD. Tapi karena adik-adiknya banyak, ia turut diperbantukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sangat sering ia terpaksa harus menggantikan orang tuanya ke kebun dan memanggul tomang yang berisi kayu bakar, dan macam-macam. Lain lagi dengan Robet, murid saya kelas enam. Ia tidak hanya dipercaya memegang tomang, tapi sekaligus mengoperasikan parang, hak ekslusif bagi orang dewasa sepenuhnya.

Meski tidak semua anak-anak memegang tomang, tapi jumlah mereka cukup banyak. Itulah alasannya mengapa jika les sore di sekolah, tidak sampai sepertiga anak-anak yang datang. Mereka masih di kebun mencari hasil hutan atau bahkan ke pasar kota untuk menjual hasil kebun.

Kadang, jika kami hendak piknik ke air terjun Nenuherekrek di hari Sabtu sepulang sekolah, beberapa anak terlihat membawa serta tomang dan parang. Di dalam tomang itu, tersedia bahan makanan yang akan kami eksekusi setelah puas bermain di air.

Tomang tersebut mereka gunakan menyimpan ikan sungai hasil pancingan di pinggir air terjun dan di sela-sela bebatuan sungai. Pulang dari piknik, tomang itu mereka gunakan lagi untuk sekedar mencari daun-daun sayur seperti daun gedi  dan jantung pisang hutan.

Menjadi bagian keluarga Bahba

Dari isi tomang itulah setiap hari saya bisa makan bersama keluarga. Bapak dan ibu piara saya setiap hari ke kebun, nanti mereka pulang ketika sebentar lagi langit mulai gelap. Dua orang adik angkat saya, Nelsi dan Nini, masing-masing berumur 3 dan 6 tahun saban hari diajak pula ke kebun.

Saya tinggal di rumah Bapak Esten Bahba. Beliau kepala kampung sekaligus tetua marga Bahba.  Ada juga Tete Gode (dibilang begitu, karena badannya besar), Tete Jacob Bahba (Tete Kepala Sekolah) dan Tete Ruben Bahba (Tete mantan guru) yang sehari-hari tinggal di kampung. Pada ketiga orang itulah saya selalu mendapatkan banyak nasehat, dan cerita-cerita tentang kehidupan warga kampung.

Di kampung Bahbadan, kebahagiaan itu terjadi setiap hari. Ketika orang tua piara saya pulang, mereka membawa tomang yang berisi penuh. Ada ikan sungai, petatas, pepaya muda, sagu, dan keladi makanan pokok. Atau kadang buah-buahan seperti durian dan cempedak.

Keluarga Esten Bahba mengenal saya dengan nama: Fadli Bahba. Mereka mengenal saya sebagai anak angkat, yang harus selalu di-maki jika buru-buru ke sekolah tanpa meski hanya segelas kopi atau seiris keladi rebus. Mereka mengenal saya sebagai kakak bagi keempat anak-anaknya yang masih kecil-kecil.

Mereka mengenal saya sebagai anak angkat mereka yang Muslim. Mereka mengakrabi saya sebagai anak yang suka cerita berlama-lama di depan tungku (di sana cukup dingin) sampai larut malam di depan bara kayu.

Mereka mengenal saya sebagai Tuan Guru –di sana sebutannya begitu- yang mengajarkan anak-anak mereka ilmu pengetahuan bagi anak-anak di kampung Kampung Pikpik, Kampung Bahbadan, Kampung Kwamkwamur.

Meski saya seorang guru yang dihormati selayaknya pastur dan pendeta, saya juga adalah anak-anak mereka. Saya adalah pemain bola yang tangguh dan tak kenal lelah bagi anak-anak, saya sering bergabung di acara kumpul-kumpul persekutuan pemuda gereja, dan saya juga masuk hutan dan memancing di sungai bersama penduduk kampung. Begitulah saya jadi bagian dari keluarga, dengan kehidupan keseharian yang dijalani bersama masyarakat kampung.

Menjadi anggota baru marga Bahba

Di acara  perpisahan, semua anak-anak datang. Saya memamerkan tomang ini ke anak-anak, dan kami berfoto bersama. Mereka gembira, karena punya saya begitu bagus dan masih baru.

Singgah di Jakarta selama beberapa hari pun saya masih menyampirkan tomang itu di samping. Tidak peduli apa kata teman-teman. Saya bahkan masih bertelanjang kaki jika keluar dari penginapan. Tomang ini setia menemani hingga ke Makassar. Sekarang, tomang ini tersimpan rapi di atas rak kecil sehingga mudah kelihatan setiap saat.

Kemudian, ketika saya tiba di Makassar, guru relawan yang menggantikan saya menelfon.

“halo, pak guru Fadli kabar baek?” tanyanya.

eh, iya. Kamong baek-baek juga di sana to?” saya menjawab.

“ah, baek-baek pak guru, jang khawatir, ini beta mo sampaikan pesan dari Tete Jacob Bahba” katanya lagi.

“oke, bilang su” kata saya tak sabaran.

Tete tara bisa datang di nak guru Fadli pu acara perpisahan, ada-ada kurang sehat. tolong sampaikan ke bapak guru Fadli, kalau de pu anak pertama lahir nanti, Tete minta tolong de kasi pu anak deng (marga) Bahba di belakang” katanya.

Setelah itu, saya tidak bisa bilang apa-apa lagi, saya cuma bilang terima kasih atas pesannya dan menutup saluran telfon.

Saya tak bisa berkata apa-apa lagi. Perasaan saya begitu penuh, campur aduk. Ini bukan masalah seminggu atau setahun saya di sini, tapi persoalan penerimaan masyarakat yang begitu luar biasa.

Sebab saya datang dengan keyakinan dan usaha yang besar untuk dapat mengabdi dengan tulus, barangkali itulah balasan maksimal serupa yang saya terima. Tidak ada ritus-ritus adat yang dilaksanakan terkakit anak saya nanti yang kelak (jika sungguh-sungguh terjadi) bermarga Bahba.

Hanya siklus kehidupan setahun yang saya jalani bersama mereka. Setiap hari. 365 pelajaran hidup yang selalu terngiang di kepala. Sungguh sebuah kehormatan. Bahkan, saya pikir, masyarakat memberikan lebih banyak kepada saya.

Hal itu membuat saya akan selalu mengingat keluarga nun di ujung timur sana, bahwa saya punya keluarga baru: Bahba, karena saya sudah punya nama lain: Fadli Bahba. Nah, hadiah apa lagi yang paling besar selain penerimaan tulus dari sebuah keluarga?

Advertisements
Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s