Ide, Sudut Pandang, dan Kerangka Tulisan (Pertemuan Kedua Kelas Menulis Kepo IV)

Posted: February 19, 2017 in Blogger Kampus, Blogger Makassar, Kelas Menulis Kepo, Reportase
Tags: , ,
angle

blogher.com

Kira-kira (seminimalnya) ada tiga hal yang menghalangi orang-orang untuk memulai menulis: tidak ada keinginan, (merasa) tidak punya waktu, dan (paling sering merasa) tidak punya ide” Daeng Ipul.

Nah, di pertemuan kedua ini kami mendapat pembahasan mengenai poin terakhir yang disampaikan Daeng Ipul secara lebih mendalam. Ketiadan ide adalah hal yang dialami hampir semua penulis pemula, atau bahkan penulis profesional sekalipun. Meski demikian, I have no ideaini merupakan halang rintang terbesar bagi yang ingin memulai menulis.

Oke, hal menarik yang bisa saya temukan di Kelas Menulis Kepo adalah kolaborasi. Maksud saya bukan kerjasama antar peserta, tapi solidnya kerjasama ‘pendamping’ dan ‘pembagi ilmu’. Dua pihak ini saling bergantian satu sama lain meramaikan suasana kelas sehingga lebih cair dan komunikatif.

Saya kemudian mendapat insight penting dalam proses pembelajaran orang dewasa. Pihak pemateri (pembagi ilmu) tidak lantas menjadi memonopoli sebuah bahan diskusi. Bahan-bahan itu, kadang diinterupsi, ditambahkan dan diperkaya dengan sudut pandang dan pengalaman dari para pendamping yang turut serta bergabung di kelas.

Situasi ini ada kemiripan dengan Lesson Study, metoda belajar yang berasal dari Jepang di mana sebuah kelas dikelola dan dievaluasi oleh beberapa guru, termasuk guru utama.

Mari kita mulai

Kenapa tidak menulis? Tidak ada ide? Menurut Alya (pemateri sore itu), memulainya dengan sebuah ujaran yang dimodifikasi dari ujaran terkenal, “(pergilah, eksplorasilah, berjalanlah kemana saja) dimanapun engkau memalingkan wajahmu, disitu ada rupa-rupa ide

Manusia dilahirkan untuk berpikir, homo rationale. Bersama fisiknya, ada instrumen otak, nurani, insting, kehendak bebas, dan macam-macam yang secara langsung memengaruhi mereka untuk bisa unggul dan berpikir lebih jauh dan kompleks dibandingkan makhluk lainnya.

Manusia jika tidak bergerak sama sekali (menggerakkan saraf neurotik dan motorik alias berpikir dan bergerak) berarti telah menyalahi kodratnya.

Dalam The Geograhpy of Genius, saya menemukan relevansi kuat ini. Konon katanya, orang-orang cerdas yang pernah hadir di muka bumi ini, terutama di Yunani, melahirkan banyak persona genius yang mendapatkan ide kelahiran mahakarya melalui proses berjalan sejauh mereka bisa.

Berpikirlah dan bergeraklah. Terlalu banyak ide tulisan yang bisa dihasillkan tertampung jika memang seandainya para penulis pemula, mulai untuk serius.

Ambil balpoin dan secarik kertas, lalu mulailah menulis sesuatu dengan lebih baik dan terencana. Ingat, menulis itu bukan hanya tentang diri Anda sendiri, tapi tentang orang lain. It’s not just about your life, but the life of others. Pengamatan terhadap manusia adalah bahan yang tidak ada abis-habisnya.

Kemudian, dua hingga tiga peserta mulai mengeluhkan problem:

  1. Menulis adalah beban, karena saya harus bertanggung jawab dengan apa yang saya tulis.
  2. Menulis itu menyeramkan, saya takut dikritik dan dikomentari.
  3. Menulis itu susah karena saya harus memahami banyak data dan mengelola informasi yang ada.

Ada jawaban untuk itu.

Pertama, menulis memang membutuhkan keberanian, seperti kata Pramoedya.  Kita akan bertarung dengan opini dan self-judgement jika harus menulis fakta. Proses selanjutnya, jika kita harus menuliskan fakta, kita  harus berimbang dan berusaha untuk disiplin dalam memverifikasi sebuah data/informasi benar atau tidaknya. Baru setelah itu, kita  Belum lagi dengan dampak (sosial misalnya) yang ditimbulkan.

Makanya, Tom Rossenstil dan Bill Kovach, duo begawan jurnalisme di kancah global memasukkan unsur “berpegang pada kebenaran” sebagai unsur paling pertama dan utama dalam etika jurnalistik.

Oleh karena di sini kami diajarkan menjadi perekam kehidupan (citizen journalist). Barangkali, kecuali konteknya fiksi dan imajinasi. Itu boleh-boleh saja.

Menulis memang berat, tapi hanya dengan jalan ini pengetahun bisa tersebar. Ajaran-ajaran Socrates tidak akan tersebar jika tidak dituliskan oleh Plato lalu disebarluaskan oleh Aristoteles.

Pengetahuan itu juga tidak akan pernah sampai ke daratan Eropa jika filsuf-filsuf Muslim seperti Al-Ghazali tidak membaca tuntas seluruh karya alam pikiran Yunani, lalu menuliskannya kembali hingga bisa tersebar ke seluruh dunia. Kita bisa mengenal dunia dengan lebih baik jika ada yang menuliskannya. Jadi, mari menulis.

Kedua, kritik dan komentar itu anggap saja sebagai diskusi yang memperkaya gagasan kita. Kalau kita benar, kita bisa saling bertukar wacana. Sebaliknya bila kita keliru, berarti ada pelajaran baru yang bisa kita petik dengan kebesaran jiwa untuk mengoreksinya.

Alangkah baiknya, jika kita semua menulis. Sebab saya percaya, di manapun di muka bumi, merangkai kata dengan rapi hanya sepersekian dari proses menulis. Gagasan yang saling diperkaya, kebenaran yang tersampaikan, terkuaknya selubung-selubung misteri yang belum pernah kita temui, adalah bonus terbesar yang pernah umat manusia dapatkan sejauh ini dengan menulis (dan membaca).

Ketiga, saya cuma ingin bilang, sejarah akan mencatat dengan baik siapa yang pernah berusaha keras untuk mengolah sesuatu menjadi lebih bermanfaat.

Disinilah tantangannya. Ada banyak orang menulis. Tapi kering informasi pelengkap seperti data, figures, wawancara, dan selipan-selipan lain.

Di Indonesia, ada kalangan sejarawan sekaligus Indonesianis yang masyhur. Mereka bukan orang Indonesia, tapi akedemisi barat yang menghabiskan seluruh hidup dan karirnya untuk menulis Indonesia. Baiklah, contoh berikut ini terlalu besar memang, tapi biarkan saja begitu agar jadi inspirasi kita semua untuk menulis.

Kita tidak bakal mengenal peristilahan dan pembagian hirarki di Jawa jaman kolonial (kaum santri-abangan-priyayi) jika seandainya tidak ada yang berusaha keras untuk menafsirkan hal tersebut. Tidak terbayang bagaimana orang ini mewawancarai begitu banyak masyarakat lokal, tingggal bersama mereka, membaca begitu banyak naskah kuno, lalu dianalisa dan ditafsirkan untuk sebuah sumbangan besar bagi penulisan sejarah Indonesia.  Orang yang berjasa ini bernama Cliffort Geertz.

Kemudian ada Benedict Anderson, dari karyanya, kita mengenal istilah “imagined community” atau komunitas yang dianggit bagi negara-bangsa Indonesia yang satu. Lalu, Robert W. Hefner yang merekam begitu ragam perubahan sosial dan politik suku Tengger di tahun-tahun yang lampau. Christian Pelras mendedah sejarah Bugis dengan karyanya ‘Manusia Bugis’.

Satu lagi barangkali yang paling besar, ada nama Denys Lombard, yang menyusun sebuah ensoklopedi terbesar sejarah kebudayaan Jawa: Nusa Jawa Silang Budaya (Le Carrefour javanais). Sampai-sampai ada seloroh, “jika ingin mengetahui informasi masa lalu, cek Nusa Jawa dulu!”

Ada fakta menarik dari Profesor rendah hati ini. Bila jamak di kalangan akademisi melakukan sabbatical selama beberapa bulan (proses menyendiri/cuti untuk mendapatkan ide dan menuliskannya hingga rampung), Lombard tidak pernah melakukan itu sama sekali, idenya mengalir terus ditengah kesibukannya. Tidak ada kata cuti.

Nah, pertanyaannya, maukah kita berusaha menulis dengan lebih baik? Jika orang asing melakukannya, mengapa kita tidak?

Oke, kembali ke topik.
Bagaimana siasat memancing Ide?

Dalam rangka menghasilkan ide-ide baru setiap saat, seorang Amerika bernama Jeffrey Baumgartner (founder jpb.com) menyarankan 10 hal berikut yang barangkali bisa membantu:

  1. Mendengarkan musik
  2. Brainstorm
  3. Bawalah selalu catatan kecil dan pulpen ke mana saja Anda pergi
  4. Saat Anda kehabisan ide, buka kamus, pilih satu kata secara acak, dan mulailah menulis dengan itu
  5. Rumuskan masalahmu
  6. Saat Anda tidak dapat berpikir, cobalah untuk keluar dan berjalan-jalan
  7. Mengurangi intensitas menonton TV
  8. Jangan sentuh narkoba
  9. Membacalah sebanyak mungkin tentang beragam topik
  10. Latihlah otak Anda.

Pada diskusi ini, kak Iqko memberi komentar. “Brainstorming sebelum menulis itu penting dilakukan agar ide kita lebih kaya”. Misalnya begini, jika kita menuliskan tentang Coto Makassar, buat cabang-cabang lain yang masih saling berkaitan.

Setelah bagian itu dirasa cukup, kita akan menyaksikan sendiri apa bagian paling menarik. Katakanlah kita sudah membuat satu konsep brainstorming, di situ kita menemukan ‘rempah-rempah’ bisa dijadikan bahan tulisan menarik: kisah di balik rempah Coto Makassar.

Masih kak Iqko, di bilangan jalan Abdul Kadir contohnya, ada pertanyaan yang muncul jika kita jeli melihat situasi. Jejeran tukang cuci motor di pinggir jalan bercokol di situ. Anehnya, usaha ini di dominasi para pekerja perempuan. Jika kita bertanya mengapa? dari sinilah ide akan banyak bermunculan. Ajukan pertanyaan dan tantang terus pertanyaannya. Itu tipsnya.

Lalu, ia tutup dengan “jalan-jalan (menemukan ide) paling murah adalah dengan blogwalking” Tanpa perlu ke mana-mana, cukup berkonsentrasi di depan layar handphone. Lewat jalan-jalan itu, seseorang bisa menemukan sejumlah tulisan yang diramu dengan beragam sudut pandang dan detail yang menarik yang belum pernah ia baca sebelumnya.

Lain lagi dengan Daeng Ipul. Ia memberi tips mencari ide dengan melemparkan isu di media sosial. Misalnya dengan mencoba memancing gelombang komentar di Facebook melalui pertanyaan yang sedang hangat diperdebatkan. Seluruh feedback itu akan menjadi ide baru lagi. Belum lagi jika ada yang sekedar nyamber secara positif dan negatif. Ini bisa jadi second bahkan third opinion bagi tulisan kita nanti di medium blog.

satu keuntungan yang dimiliki masyarakat yang sejak kecil  tinggal di Makassar adalah mereka punya (otoritas) mengenai banyak hal untuk dituliskan mengenai dinamika kota” begitu kata Daeng Ipul mengimbau.

Daeng Ipul mendapat inspirasi dari ahli tata kota Marco Kusumawijaja. Ia ingin agar orang-orang Makassar sendiri yang aktif menuliskan tentang kotanya. Banyak perubahan pastinya yang telah terjadi. Secara nyata kita merasakan perubahan tersebut.

Dulunya begini sekarang berubah; tempat saya bermain dulu sudah berubah jadi supermarket; jalanan Hertasning itu dulunya lapangan main bola saya sekarang jadi arena pertarungan commuter pulang pergi tempat kerja, dan banyak lagi yang bisa kita catat.

Secara umum, siapa saja yang pernah bermukim lama di suatu tempat, ia punya hak (kewajiban juga) untuk memotret situasi sekelilingnya.

Terlepas dari dua pandangan tersebut, kak Anchu (Mansur Rahim) lebih menekankan pada pentingnya membaca buku dalam menulis. Katanya, Aan Mansyur pernah selama setahun tidak menulis sekarya pun karena memfokuskan dirinya membaca buku. Khrisna Pabhicara memerlukan membaca lebih dari 60 buku sebelum mematangkan ide bagi novel terbarunya.

Puthut EA lain lagi, cerpen-cerpennya yang lahir karena ia memaksa dan melatih otaknya bekerja menelurkan ide. Sosoknya bertekad agar keras terhadap dirinya sendiri dalam berkarya. Konon kabarnya, ia mewajibkan dirinya menulis 5000 kata per hari.

Kak Enal memberi satu jembatan keledai yang menarik. IDEA (Ingat Darimana Engkau berAsal). Nah, masihkah kita berpikir tidak memiliki ide (satu pun)?

Sudut Pandang

Materi ini dibagikan oleh Nunu Al Marwah Asrul, akrabnya dipanggil kak Nunu. Katanya, new something appears is always a matter of perspective. Sesuatu yang baru itu datangnya dari cara memandang kita yang berbeda terhadap sesuatu. Berfikir dari sisi yang belum dijamah penulis-penulis sebelumnya.

Pernah suatu kali ia menulis perihal kebiasan anak umur 13 tahun. Lihat di “Ketika Umurmu 13 Tahun Apa yang Kamu Lakukan.” Alih-alih menampilakn informasi secara langsung, ia justru mengambil sisi seorang kakak kandung dari Uud. Anak umur 13 tahun yang secara kebiasaan unik dan senyatanya berbeda dengan anak seumurannya.

Dari situ, ia membangun tulisan personal aktivitas Uud yang ganjil. Lalu membandingkan dengan kebiasaan-kebiasaan lain yang dimiliki oleh teman-temannya ketika berada pada umur yang sama. Terakhir, ia mengedukasi para pembaca dengan uraian mengenai teori psikologi perkembangan bagi anak di usia tersebut.

Tulisan yang menarik adalah tulisan yang memiliki sentuhan personal” katanya mengakhiri.

Contoh lain lagi tulisan Daeng Ipul pada “Kedai Kopi dan Obrolan Tentang Samsung Galaxy Note 5.” Menurut kak Nunu, tulisan ini diterangkan dengan sudut yang memikat. Meski bentuknya review terhadap sebuah produk, tapi ditampilkan ditampilkan dengan bentuk yang beda dari biasanya: dialog imajiner. Interaksi canggung sekaligus humor antara telfon genggam dan tuannya.

Hal yang cukup rumit bagi penulis adalah mencari sudut pandang. Setidaknya begitu pengakuan Mansur Rahim, akrabnya disapa Om Lebug (Lelaki Bugis). Apalagi cakupan yang akan digarap sudah diceritakan oleh banyak orang berulang-ulang. Sehingga kita menganggap tidak ada lagi yang dapat kita lakukan dalam rangka memberi sentuhan baru.

Satu hari ia berpusing-pusing tentang Karebosi. Apalagi yang harus orang-orang ketahui tentang kaum waria di lapangan Karebosi? Rasa-rasanya semua sudah diceritakan dalam koran-koran uang terbit di Makassar. Setelah pencarian angle tulisan yang memakan waktu, ia akhirnya menyadari satu hal. Para kuli berita cenderung menggunakan pola dan sudut pandang yang hampir seragam.

Kemudian, ia putuskan untuk menulis sekelumit tentang bahasa (peristilahan dan frasa) para waria di Karebosi. “tantangan paling berat ialah penerimaaan wawancara dengan kaum minoritas” akunya. Upaya aktifnya tidak sia-sia. Ia menyambangi Karebosi setiap malam selama dua pekan demi mendapatkan bahan-bahan tulisan seperti detil, suasana, dan tentu saja mini riset tentang bahasa. Artikel ini muncul dengan judul “Di Balik Temaram Karebosi.” Tulisan ini diganjar sebagai salah satu tulisan jurnalisme warga dalam buku “Makassar Nol Km” terbitan Ininnawa.

ketika saya menulis itu, saya dapati fakta bahwa ternyata hanya 30% saja waria di sana yang fokus pada mencari penghasilan (uang), selebihnya mereka seperti kita, berkumpul dan berkomunitas seperti biasa,

saran saya, sebisa mungkin jagan terlalu dekat dengan objek. Mendekat, menjauh, lalu kembali mendekat, itu tipsnya” terangnya.

Mendekat pertama adalah untuk mengenali objek dengan baik, mengonfirmasi, dan menjauhkan prasangka serta asumsi yang sering disudutkan pada kaum waria. Setelah itu menjauh demi melihat gambaran yang lebih jelas dan objektif. Kemudian kembali mendekat untuk penulisan deskripsi dan detil-detil yang akan menghidupkan tulisan.

Mengakhiri materi sudut pandang, tips lain yang diberikan Tari Artika (kak Tari) dalam menemukan angle ialah selalu berpikir dan bertindak dalam pihak yang berseberangan dengan asumsi jamak.

Kerangka Tulisan

Mengapa harus ada kerangka? Kerangka ini akan membantu memfokuskan diri pada ide awal. Sebab terlalu banyak bahan, tulisan bakal susah ditutup nantinya.

Berikut model menyusun kerangka tulisan yang efektif:

  1. menentukan tema dan sudut pandang tulisan
  2. menentukan alur tulisan
  3. menyusun pertanyaan-pertanyaan
  4. menjawab pertanyaan tersebut dalam paragraf pendek-pendek

Mengapa harus membuat pertanyaan? Karena akan menolong penulis menyampaikan dengan jelas apa yang ingin Anda informasikan pada orang lain. Tentunya sesuai dengan alur yang telah disusun sebelumnya.

Setelah empat soal itu terjawab dalam draft tulisan yang disusun, proses menulis akan berjalan lancar dengan sendirinya. Keempat hal di atas juga menghindari penulis dari menuliskan hal yang tidak relevan. Beberapa tulisan yang saya rencanakan dengan baik, hasilnya juga baik dan memuaskan.

Dalam menyusun argumentasi dalam paragraf logis dan terkait satu sama lain (koheren), ada lima langkah yang semestinya diperhatikan demi berimbangnya sebuah tulisan.

  1. buat klaim
  2. dukung dengan alasan-alasan
  3. dukung alasan dengan bukti-bukti
  4. menimbang pandangan lain
  5. jelaskan prinsip dan alasan Anda dengan anggapan tersebut

Tulisan yang djadikan contoh pada bagian ini bisa ditengok pada dua artikel berikut. Pertama-tama ada “Lethologica”, tulisan Tari Artika, seorang penyiar radio tapi memiliki kesulitan mengingat kata-kata. Kemudian ada Rizky Amalia Wakano, seorang dokter yang menjelaskan tentang patah hati (Takotsubo Cardiomyopathy) yang bisa menyebabkan kematian, “Bukan Iklan Layanan Masyarakat: Sakit Hati Membunuhmu.

Menulis ringkas tapi padat, ngena, tapi berisi itu sulit. Tapi bisa dicoba berulang-ulang. Daripada menulis panjang memang mudah, tapi cenderung melebar kemana-mana sehingga tidak dapat dikontrol. So, I think the better is short. It doesn’t matter your work is small but powerfull, daripada large but unmanaged.

Pertemuan Kedua
Waktu: Jumat, 10 Februari 2017
Pukul: 17.00 – 21.00 WITA
Tempat: Brewbrothers, Jl. Pengayoman

Advertisements
Comments
  1. evhyajah says:

    Terima kasih sudah ditulis. Bermanfaat sekaliii

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s