Membangun Damai di Makassar (Catatan Peacetival 2017)

image6-e1487488825577
(Bincang Inspirasi Perdamaian) revi.us

Di depan saya berdiri seorang ibu dan anak laki-lakinya yang sekira masih dudu di kelas empat SD. Mereka berdua menyusuri jejeran booth pameran. Ia berusaha menemukan dua belas potongan-potongan meme komik demi buah hatinya.

Komik yang mengusung nilai perdamaian ini disebar di enam titik yang berbeda sepanjang tempat berlangsungnya festival. Setiap titik memiliki dua nilai yang bisa diserap pengunjung setiap saat. Sengaja di pasang terpisah dan tidak berurutan agar pengunjung dibuat penasaran tentang isi komik selanjutnya.

Setelah menemukannya satu persatu, dengan pelan, ia membacakan isi komik itu ke anaknya. Lalu sebisa mungkin menjelaskannya agar bisa diterima oleh si anak. “iya, ini sudah yang ke sepuluh, tinggal dua lagi.” katanya sambil menggamit lengan anaknya yang tidak sabaran.

Si Ibu ingin memastikan anaknya memperoleh semua nilai baru tersebut dengan cara kreatif dan praktis bagi anak-anak. Ia merasa harus mendidik anaknya dari sekarang, jika bukan saat ini, kapan lagi.

Mengajarkan perdamaian memang bukan perkara mudah, apalagi untuk anak-anak. Meme komik ini dibuat untuk mengajarkan nilai tersebut sehingga mudah dimengerti semua kalangan, terkhusus anak-anak.

ayahnya (anak ini) kemarin ikut pelatihan trainer nilai perdamaian, katanya bagus, saya ingin anak saya juga mendapatkan manfaatnya, makanya kami ke sini” sambungnya menjelaskan.

ayok kita cari yang lainnya nak. Mariki” katanya berlalu meninggalkan stand yang kebetulan saya jaga saat itu.

Kegiatan ToT (Training of Trainer) 12 Nilai Perdamaian dan Peacetival 2017 merupakan rangkaian satu dekade Peace Generation Indonesia. Sepuluh tahun sudah Irfan Amalee dan Eric Clinton menyebarkan 12 nilai perdamaian. Ribuan anak-anak, guru-guru, pegiat komunitas, dan masyarakat umum telah merasakan manfaatnya.

***

Sebagian besar pendidik menyadari bahwa mengajarkan toleransi dan perdamaian memang tidak semudah menyajikan pembelajaran dua jam di kelas atau lewat presentasi powerpoint. Inilah tantangan terberat bagi para pendidik.

Di saat sebagaian orang dewasa mempraktikkan intoleran dalam perilaku sosial media dan kehidupan nyata, mengupayakan anak-anak melakukan hal sebaliknya otomatis menjadi hal yang sulit.

Meski setiap guru berusaha keras menjadi panutan dan menciptakan suasana kehidupan keberagaman di sekolah, tapi itu saja tidak cukup. Barangkali, praktik yang bisa dilakukan para guru ialah mengajak siswa belajar di luar ruang (outdoor activites), atau melakukan live in sehari dua hari di lingkungan yang berbeda dengan mereka.

Saya membayangkan setiap institusi pendidikan bagi anak-anak dapat memberikan pengalaman nyata (seminimalnya sekaliiii saja) dalam mentransfer nilai-nilai baik dari toleransi antar sesama.

Mengapa demikian? Mengajarkan perdamaian tidak bisa lewat kata-kata manis berima dan kalimat-kalimat inspiratif. Mengajarkan toleransi tidak bisa hanya lewat seruan di media sosial. Anak-anak (dan barangkali kita semua) memang harus merasakannya. Harus dipraktekkan.

Saya teringat perkataan seorang alumni relawan guru dari Jakarta, Ayu Kartika. Dia pernah berlelah-lelah mengajar anak-anak SD di Halmahera Selatan selama setahun. Bersama rekan-rekannya, ia mendirikan sebuah gerakan Sabang Merauke, singkatan dari ‘Seribu Anak Bangsa Merantau Untuk Kembali’.

mengajarkan toleransi itu dengan mengajak mereka (anak-anak) merasakannya, bukan dengan melafalkannya”.

Program ini merupakan kegiatan pengiriman anak-anak SMP terpilih dari berbagai provinsi lalu berkumpul di Jakarta. Terdiri dari beragam latar belakang sosial, agama, suku, dan budaya yang berbeda, membuat anak-anak ini belajar memahami perbedaan satu dengan lain.

Tidak hanya itu, masing-masing anak memiliki orang tua angkat selama di Jakarta. Mereka tidak hanya harus intens interaksi dengan teman yang beragam, tapi juga tinggal dalam keluarga yang berbeda latar belakang selama dua pekan. Setelah mereka balik ke kampung masing-masing, mereka akan menjadi agen perdamaian kecil. Selanjutnya mereka akan menyebarkan nilai-nilai yang mereka dapat untuk dibagi ke teman-temannya yang lain.

Sebuah kegiatan yang diberi nama Peacesantren  yang digagas Irfan Amalee juga mengusung tema yang sama, perdamaian dan toleransi. Jadi, kegiatan ini merupakan pesantren perdamaian (Peace dan Pesantren).

Contohnya Ali. Seorang murid kelas VIII di Makassar ini menjadi volunteer termuda dalam kegiatan Peacetival 2017 di Mal Ratu Indah. Ia juga peserta Peacesantren setahun silam di Bandung. Di sana, diajarkan bagaimana masing-masing peserta yang terdiri dari anak-anak Muslim dan Kristen mengkaji ayat-ayat perdamian pada kitab suci masing-masing.  Semua agama menginginkan kehidupan yang selaras dan harmonis itu adalah sebuah kepastian.

(di Peacesantren), saya senang karena mendapat kenalan baru dan tentunya ajaran tentang perdamaian.” kata Ali di depan semua volunteer pada saat perkenalan dengan gerakan Peace Generation Indonesia.

Baik Sabang Merauke maupun Peacesantren, memiliki misi dan gelombang yang sama untuk mengajarkan perdamaian, khususnya pada anak-anak. Kata Gandhi, if you want to make peace the world, you have to start with the children. Jika pada diri anak-anak sudah tertanam benih perilaku adil dan toleran dalam keseharian, niscaya (kita bisa menerka dan berharap) ke depannya anak-anak ini akan menjadi penerus dan penyambung suara-suara perdamaian di kemudian hari.

Menanti Harmoni lewat Festival Perdamaian

Peacetival ini merupakan kegiatan yang kedua kalinya setelah dihelat di Bandung setahun lalu. Peacetival merupakan gabungan dua kata, Peace dan Festival, secara harfiah berarti Perayaan Perdamaian. Sejatinya, bentuk kegiatan ini berupa pegelaran musik perdamaian dari beragama komunitas. Pada akhir acara, ungkapan janji perdamaian Peace Promise diserukan bersama-sama sebagai komitmen membangun perdamaian.

Lantas di Makassar, konsep festival ini menjadi meluas. Perhelatan Makassar ini mencoba mengambil peran yang berbeda. Tidak hanya ingin meng-entertain masyarakat, kegiatan ini dijadikan juga wadah edukasi dan sosialisasi bagi warga Makassar untuk memperkuat rasa solidaritas akan kemanusiaan dan perdamaian.

Hal ini terlihat dari tiga area yang disedikaan. Peace area merupakan panggung utama tempat diadakannya teater, konser musik, dan paduan suara yang semuanya bertema perdamaian. Lalu ada respect area, lokasi pameran yang sedikit banyak menjadi magnit bagi keluarga yang datang. Meliputi sembilang booth, tujuh berukuran sedang dan dua berukuran besar.

Tempat ini menawarkan misi penyebaran informasi perdamaian. Mulai dari IPYC (International Peace Youth Corp) dari Korea Selatan, Gerakan Islam Cinta dari Jakarta, hingga Yayasan KITA Bhinneka Tunggal Ika dan Komunitas SiGi (Sahabat Indonesia Berbagi) Makassar.

Terakhir ada love area bagi Anda yang menginginkan hal yang lebih serius tapi santai, dan tidak menyukai keramaian serta kebisingan panggung musik. Di lokasi yang berhadapan dengan mural Harmoni ini, bagian arcade di Mal Ratu Indah, panitia menyediakan dua sesi bincang-bincang perdamaian bersama tokoh ‘Talk The Peace’ dan lomba membaca puisi perdamaian.

Ketiga area ini dirancang untuk menampilkan perwajahan ide-ide tentang perdamaian. Sehingga, di area manapun mereka bertahan, mereka sama-sama bisa tergerak untuk saling merayakan perdamaian.

Dalam sesi bincang-bincang inspirasi perdamaian, Eric Clinton membagikan cerita menarik. Katanya, setelah seminggu berkutat bersama warga Bugis Makassar dalam serangkaian agenda Peace Generation, Eric Clinton tidak bisa menyembunyikan kekagetan dan antusiasmenya mengenai Makassar

dulu waktu kami masih kecil, orang tua kami menegur jika berbuat salah, ia bilang begini ‘if you do bad thing, the boogey man will hunt you’. Katanya sambil tersenyum. ‘Boogey man’ adalah karakter yang diciptakan oleh bangsa Eropa dulu untuk menakuti anak-anak mereka jika tidak segera beranjak tidur kala malam. Hal ini terjadi hingga sekarang.

Konon kabarnya, Boogey man merupakan orang Bugis Makassar yang menjadi perompak dan aktor jahat di perairan Malaka. Digambarkan dengan wajah sangat jelek, hidung panjang, dan gigi taring dan cakar yang tumbuh tak terkendali. Bisa dibayangkan bagaimana kuat sekaligus menyeramkannya pelaut Bugis di masa lalu jika seandainya histori ini benar. Sebagian cerita asal usul lain mengacu ke daratan Norwegia, Jerman, dan negara bagian Eropa lainnya, lalu menyebar ke tanah Amerika.

Wow, kita boleh sedikit berbangga. Masa kecil anak-anak di barat dihantui orang Bugis yang masa kecilnya banyak dihabiskan di sawah berlumpur.

ternyata, kemarin hampir 40 orang Bugis saya latih untuk menjadi insprator perdamaian, dan semuanya baik-baik saja.” Sambilnya sambil tersenyum lebih lebar. Sontak nyaris semua hadirin tertawa dan bertepuk tangan. Ada-ada saja. Hehe.

The Charter for Compassion untuk Makassar

Hal yang menarik  diputuskannya Makassar sebagai lokasi penyelenggara bukan keputusan pihak Peace Generation yang berada di Bandung dan Jakarta, melainkan dari aktor-aktor lokal. Mereka ini adalah sejumlah relawan di Makassar yang sudah lama mengenal Peace Generation dan telah berkecimpung lama dalam mengajarkan perdamaian di komunitas masing-masing.

Eddy Nazmuddin, Agent of Peace Jakarta yang mendampingi relawan panitia Makassar menjelaskan jika kegiatan ini memiliki tujuan utama, yakni mempercepat pergerakan Makassar sebagai compassionate city, kota welas asih.

Di bagian penonton panggung musik, terpampang spanduk putih yang ditandatangani oleh pengunjung yang menghadiri festival. Tanda tangan yang terkumpul ini akan diserahkan ke Walikota Makassar sebagai bentuk soft campaign dan sebagai bukti otentik bahwa warga menginginkan terciptanya sebuah kota (tempat) yang aman.

Tempat di mana semua elemen terkhusus pemerintah kota berupaya menghargai dan menerapkan nilai-nilai perdamaian. Walikota Danny Poemanto juga ikut menandatangani pernyataan ini menjelang ditutupnya kegiatan. Ini berarti sebuah hal yang positif. Dari informasi yang saya dengar dari panitia langsung, Bapak Walikota Makassar sudah bersepakat untuk merealisasikan hal ini pada bulan Agustus atau September.

Kampanye ini sebenarnya merupakan gerakan kampanye global dengan pusat di Seatle Amerika Serikat. Pendirinya, Karen Armstrong, penulis The History of God menginginkan sebuah kota yang: “semua orang memiliki tempat tinggal dan terbebas dari kelaparan, setiap anak dicintai dan diberikan kesempatan yang beragam untuk tumbuh dan berkembang, dan setiap komunitas memperlakukan dengan baik tetangganya sebaigamana ia juga ingin diperlakukan dengan kebaikan.

Sebanyak 231 kota di dunia sedang berproses menjadi compassionate city, kota welas asih. Indonesia sendiri memiliki pencapaian yang bagus dengan jumlah enam kota. Meliputi Bandung,  Purwakarta, Sragen, Bojonegoro, Sumedang, Banyuwangi. Makassar diancang-ancang akan menjadi kota ketujuh yang mendeklarasikan Charter for Compassion, Piagam Welas Asih. Semoga.

Dari Makassar, Membangun Perdamaian

“Islam mengajarkan kedamaian, maka itulah praktek yang harus kita lakukan.” Prof. Qasim Mathar. Dalam rangkain sesi Talk The Peace “Makassar Tanpa Hoax”, guru besar UIN Alauddin Makassar tersebut menyebutkan tiga bentuk kekacauan yang ditimbulkan dengan beredarnya hoax bulan-bulan terakhir ini.

Mengapa mengangkat hoax? Hoax ini seperti bola salju yang semakin lama semakin membesar tak terkendali. Tidak hanya berakibat pada penggiringan masyarakat pada kesalahan dan kekeliruan kolektif, tapi juga berakibat pada pelanggaran hak-hak dasar manusia dalam perpesktif HAM dan tindakan intoleran lainnya. Seseorang dengan bebas menghina dan merendahkan komunitas masyarakat lain yang berbeda dengan berita yang belum jelas kebenarannya.

Menurut beliau Prof. Qasim Mathar, ada tiga bentuk kekacauan yang ditimbulkan oleh hoax. Pertama, mengacaukan keummatan Islam, membuat kebangsaan menjadi retak, dan merusak relasi antara Ulama’ dan ummat. Jika hal ini tidak diperangi secara nyata, maka kerusakan yang ditimbulkan bakal lebih besar lagi.

Mochtar Pabottingi, budayawan dan profesor riset politik LIPI turut membenarkan fenomena tersebut. Kemunculan hoax, salah satunya karena tidak ada sikap kritis yang terbangun dalam masyarakat. Ia memberi tips menhadapi hoax dengan tidak gampang menerima berita yang tidak jelas asal usulnya.

saya menyarankan Anda mengambil contoh yang baik dari Prof. Nasaruddin Umar (Imam Besar Masjid Istiqlal) dengan membaca 100 hingga 200 halaman setiap hari  ,” sarannya. Membaca buku membantu mantan Wakil Menteri Agama ini untuk lebih kritis dan ojbektif dalam menilai sesuatu. Buku membantu kita memahami persoalan dengan lebih dalam dan menyeluruh.

saran saya Anak muda, membacalah. Jika tidak bisa bacalah buku di awal, di tengah-tengah, dan di akhirnya. Pasti kamu akan mendapatkan suatu pelajaran” katanya dengan lantang kepada mayoritas pemuda yang hadir saat itu.

Bagi saya, pesan dua profesor sudah cukup untuk kita memulai membangun perdamaian dan berkata tidak pada tindakan intoleran dan memusuhi perdamaian. Bukan besok, tapi saat ini juga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s