Satu Siang di Perpustakaan

Aroma khas lembar-lembar buku yang dibolak balik segera menyeruap ketika memasuki ruangan perpustakaan. Bau yang selalu saya rindu dimanapun berada.

Di depan pintu masuk, lampu kelihatan lebih terang dari biasanya. Beberapa langkah ke dalam, ternyata bukan karena lampu. Bagian depan ruang arsip telah kembali seperti semula. Memang sejak beberapa bulan sebelumnya disekat oleh petugas perpustakaan multimedia untuk berkantor sementara di sini. Rasanya jadi lebih terang dan lapang kembali.

Saya memilih duduk di bangku deretan awal, bersitatap langsung dengan loket. Waktu sudah menunjukkan pukul dua lebih lima menit. Sudah sejak sejam yang lalu, deretan meja bagian depan ini miskin penghuni. Hanya ditempati dua orang pengunjung. Perkiraan saya karena letaknya yang hanya berjarak tidak sampai dua meter dari loket peminjaman dan pengembalian buku. Barangkali orang-orang tidak ingin mendapat gangguan kecil jika para pengunjung melewati bahu-bahu mereka. Sesekali diselingi percakapan antara petugas jaga dan peminjam buku, hal yang normal.

Namun, bagi saya yang sengaja berada di bangku depan, meja ini dihindari demi ketenangan membaca buku. Terutama karena di loket ini kadang diriuhi perbincangan kecil yang tidak henti-henti dari petugas yang sebagian besar perempuan. Tiap kali kemari, ada saja satu hingga tiga orang yang menempati susunan meja paling pertama. Biasanya para pengunjung memanfaatkan sekring listrik untuk mengisi daya baterei laptop yang disituasikan di tiang bangunan yang dilapisi bahan sejenis kertas berpola.

Memang, loket ini sebenarnya bukan ruang permanen. Hanya berupa partisi yang menempel di ujung gedung perpustakaan lantai satu. Bahan partisi ini nampak kokoh dan elegan bila dipandang sejenak. Tersusun dari particle board -bekas penggergajian kayu yang dipadatkan- yang begitu solid dan diselimuti lapisan tipis menyerupai pola serat kayu alami.

Sisi depan dan belakang di biarkan bolong tanpa kaca sehingga meloloskan semua suara dan tatapan yang berada baik di luar maupun di dalam ruangan. Bagian depan digunakan untuk melayani pengembalian buku, sedangkan bagian belakang difungsikan pelayanan peminjaman.

Sebuah sistem klasifikasi Dewey disenderkan di ujung loket yang diposisikan menghadap barat dari posisi petugas sehingga dengan mudah disaksikan oleh. Klasifikasi paling tua bagi konten buku perpustakaan ini pertama kali terbit dan digunakan 1876 oleh Melvis Dewey pada suatu perpustakaan di Amerika.

Loket peminjaman bagian tengah menampilkan buket bunga artifisial yang panjangnya berukuran sekira dua puluh sentimeter. Tersimpan dalam sebuah pot kerucut terbalik berwarna cokelat.  Semua kombinasi warnanya sudah mulai pudar dan mencong mencuat ke kiri dan kanan. Tapi saya yakin kumpulan kuntum itu terdiri dari tulip, mawar, matahari, dan satu bunga lagi yang tidak saya kenali jenisnya.

Setelah setengah jam duduk, saya baru menyadari kehadiran kamera pengawas yang mengintai aktivitas saya di bawah sana tanpa jeda dan bosan sama sekali. Tidak sampai sehasta di sampingnya ada kabel merah hitam yang menjulur dan berakhir di sebuah silinder plastik berwarna hitam. Saya bisa pastikan itu alarm yang selalu mengingatkan pengunjung untuk pulang sebelum pukul empat sore.

Sebagaimana susunan yang lain, deretan depan ini gabungan dari tiga bilah meja kayu berpelitur berukuran satu kali satu meter. Dua meja disebelah saya peliturnya terlihat masih mulus dan halus. Sementara tempat saya bekerja sebagian permukaannya sudah dipenuhi bekas selotip yang menimbulkan garis-garis hitam yang tidak lain getah rekat yang sudah susah hilang. Bercak-bercak hitam juga menodai meja ini di beberapa tempat.

Jika pengunjung satu deretan maksimal, akan ada dua belas orang yang bisa menempatinya. Tiap meja jadi memiliki empat kursi. Jenisnya seragam, Chitose warna biru cerah dengan kombinasi dua huruf dan dua puluh angka yang menunjukkan nomor registrasi inventaris.

Sejurus kemudian, lelaki muda yang sederetan dengan saya tiba-tiba bercakap dengan lawan bicaranya, seorang perempuan yang nampak sebaya. Setelah beberapa lama berkutat dengan laptop dan bukunya masing-masing, mereka angkat bicara. Tidak pelan tapi cukup kedengaran bagi saya.

berapa kalimako bimbingan?” tanya lelaki muda.

enam kalimi” jawab si perempuan yang sama sekali tidak mengindahkan pandangannya dari pekerjaan yang ditekuninya sejak tadi di layar komputer.

kau iyya,” ia balik bertanya tanpa berkedip sama sekali.

ah, janganmi tanyakka, baru sampe bab tiga kukerja.” ungkapnya defensif untuk menghindari dialog selanjutnya.

Setelah itu, mereka kembali diam dalam lamunan masing-masing. Bukan sekedar lamunan, tapi impian akan masa depan yang tengah menanti setelah tugas akhir mereka selesai. Perpustakaan akan terus ada untuk orang-orang seperti ini. Saya pun kembali terpekur untuk beberapa lama hingga menjelang tutup.

Advertisements

One thought on “Satu Siang di Perpustakaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s