Bangunan Imajinasi Dongeng Ibu Nisfu

Posted: March 9, 2017 in Blogger Kampus, Blogger Makassar, Reportase
Tags: , ,
dress-up-your-kids-with-FABLE-HEART

cuteandkids.com

Seorang anak perempuan kecil berjilbab berjalan mendekati pintu kaca ruang baca anak. Kedua mata bulatnya dan susunan giginya yang ia tahan tak mengatup nampak sibuk meniti siapa yang sedang menuju ke tempat ini.

Ketika saya berada di depan pintu dan mulai membuka sepatu, ia kembali masuk ke dalam. Anak-anak selalu ingin tahu dan sangat greget menyaksikan sesuatu yang baru. Saya yang ‘terhitung asing’ tidak luput dari perhatiannya. Mungkin karena saya dianggap bukan mainan atau sesuatu yang menarik, cepat saja ia berlalu. Akhirnya ia kembali ke dalam, berkumpul bersama tiga anak lain seusianya.

Dua anak lainnya juga mengenakan jilbab dan satu anak laki-laki bertubuh paling kecil. Saya menduga itulah adik yang paling bungsu. Pipinya tembem dengan rambut hitam lurus belah samping. Mengingatkan saya dengan pemeran iklan shampoo anak. Mereka duduk saling berhadapan di satu meja baca.

Ukuran badan mereka sama-sama kecil. Mereka lincah bergerak kesana kemari mengambil buku cerita bergambar. Tebak saya mereka kelas dua atau kelas tiga SD. Satu anak perempuan yang paling tinggi mungkin kelas empat. Kecuali dia, mungilnya ketiga anak lain membuat pasangan kaki-kaki kecil mereka masih menggantung di kursi baca sambil bergoyang-goyang ke depan dan ke belakang. Sesekali jika bosan, mereka memelorotkan tubuhnya sedikit dan memakasa ujung jempol dan telunjuk kakinya menyentuh permukaan ubin.

Meja dibuat tidak seperti kerucut agar mata anak bisa mudah menangkap bahan bacaan yang dekat. Penahan diberikan di ujung meja agar buku tidak jatuh meluncur. Anak-anak tidak perlu lagi memegang, mengangkat dan memiringkan buku seperti yang biasa orang dewasa lakukan ketika membaca.

Anak laki-laki paling kecil duduk dengan serius menyipitkan kedua bola matanya ke buku bergambar sambil mengeja dengan pelan.  Di hadapannya, salah satu anak kecil perempuan berjilbab membuka buku dongeng dua dimensi. Sisi kedua halaman yang terbuka, secara ajaib menyembulkan tokoh dan latar cerita secara nyata secara vertikal. Secara spontan teman disebelahnya ikut berdiri dan menatapnya dengan kagum.

Lucu dan gemas menyaksikan mereka berempat rukun dalam meja yang sama. Tidak banyak suara yang ditimbulkan. Dua deretan lainnya kosong. Gambar bunga dan pepohonan menghiasi ketiga deretan meja untuk memberikan nuansa atraktif dan imajinatif anak-anak yang berkunjung.

Belakangan saya tahu, keempat anak ini bisa sibuk-sibuk membaca dengan tenang dan bergairah karena satu alasan: dongeng Ibu Nisfu. Ah, saya datang terlambat.

***

Ketika saya baru saja masuk, seorang perempuan paruh baya 50-an sedang tiduran di ujung perpustakaan. Di selembar karpet hijau tosca yang dibatasi dua buah meja kantor, sebuah almari administrasi dan sebuah rak buku yang dipenuhi sampul beragam warna.

Nampak ia dengan suntuk memainkan tombol-tombol ponselnya. Melihat saya datang dari pintu masuk, seketika ia melirik dan memerhatikan beberapa saat. Raut wajahnya menunjukkan keheranan. Tatapannya tak lepas selama beberapa saat, dan seketika saya langsung kikuk.

Beliau memicingkan matanya dan perlahan mulai bangkit. Seorang pengunjung datang, bukan anak-anak, bukan pula seorang ayah yang datang membawa anaknya. Cepat-cepat ia memasang jilbabnya. Meski belum beres dengan jilbabnya, ia datang menghampiri dan menawarkan bantuan jika saya memerlukan sesuatu.

bu, saya cari serial Lima Sekawan Enyd Blyton, atau komik-komik biografi untuk anak-anak. Adaji kira-kira?”dengan wajah yang belum pulih dari letih, ia segera menyambar rak-rak buku dengan cekatan. Di mulainya dari rak paling depan.

Ujung jemarinya terus berjalan sambil menyentuh pinggir-pinggir buku. Seperti memainkan jemari tangan pada tuts piano, mencari Enyd.

Enyd,,,Enyd,,,Enyd,,,,” berulang kali ia menggumamkan pengarang itu agar tidak lupa. Sudah empat rak ia susuri namun hasilnya masih nihil. Nafasnya tersengal-sengal tapi teratur. Ia masih kelihatan capai karena belum pulih kesadarannya dari rebahan. Tapi ibu Nis belum berhenti mencari, ia pasang matanya baik dan terus menggumam Enyd.

ah, iya, Enyd itu punya anak saya, iya, saya melihatnya di rumah.” sampai ia kegirangan sendiri setelah menyadari sesuatu. Ternyata, ia melihat Enyd itu di rumahnya, bukan di ruang baca anak. Saya yang membantunya mencari buku itu, juga menghadapi hasil yang sama. Oh iya,

Serial Lima Sekawan Enyd Blyton, Sherlock Holmes, dan komik biografi merupakan bacaan kegemaran saya sejak bangku sekolah dasar. Saya menemukan edisi barunya sudah beredar luas di mal-mal Makassar. Saya pikir bisa menemukannya di sini. Ah sudahlah, yang terpenting saya akhirnya punya kesempatan menghirup udara di ruang baca anak, setelah tujuh belas tahun lamanya. Beberapa adegan memori masa lalu terputar ulang di kepala saya. Banyak cerita dan kenangan di ruangan ini.

sekitar dua atau tiga tahun lalu, ruang baca anak dipindah ke sini, ke belakang,” jawab ibu penjaga ruang baca anak. Belakangan saya tahu, nama beliau adalah Ibu Nisfu, yang kerap kali disapa Ibu Nis oleh rekan sekantornya. Jadi, ruang anak dipindahkan pada bangunan yang terpisah dari bangunan utama. Sebuah ruangan kira-kira berukuran lima kali lima meter.

Dulu, waktu masih di depan dekat loket penitipan, pandangan kanak-kanak saya melihat ruang anak begitu luasnya dengan beberapa petugas yang kesemuanya perempuan berjilbab. Bagian tengahnya yang melompong –dengan meja dan kursi yang dipinggirkan- bisa digunakan untuk bermain bulu tangkis. Dahulu, banyak anak-anak yang bisa ditampung. Sekarang, keempat anak mungil itu akan sulit untuk bermain kejar-kejaran di dalamnya.

Meski begitu, ada ayunan kecil yang terpasang depan salah satu rak. Juga di sebelahnya ada kurungan plastik slinder dimater sekira satu meter yang dinding selimutnya di ganti dengan jaring-jaring. Isinya bola bermacam warna. Mereka bisa menjatuhkan dirinya ke kurungan dengan aman.

Setelah pencarian buku yang tidak membuahkan hasil, ia duduk di kursi mejanya yang berhadapan dengan keempat anak itu. Ngantuknya sekarang nyaris hilang, pada akhirnya ia bahkan meladeni saya berbincang hingga hampir dua jam lamanya.

Ibu Nis memulai karirnya di kepegawaian sejak 27 tahun silam. Ia seorang penjaga perpustakaan yang tidak biasa. Ia bisa menggambar, melukis, dan menyanyi. Meski dengan rendah hati ia mengaku terlatih dengan hal itu semasa muda, tapi itu semua hanya sebatasa minat yang ia tidak asah dengan baik.

Dalam hati, saya bergumam, “bu Nis, Anda punya modal luar biasa untuk menjadi pendidik yang bakal dicintai oleh banyak orang

nak Fadli, ketika masih awal tiga puluhan, saya melukis lalu kemudian di jual ke teman-teman terdekat. Tidak bagus sebenarnya, tapi saya kasi bingkai kaca supaya kelihatan bagus,

Lalu saya jual seharga 150 ribu hingga 300 ribu.” sambungnya tetap dengan rendah.

Lama kami berbincang, tiba-tiba ia mengalihkan topiknya ke saya. menyinggung saya. Dengan wajah yang sumringah, ia mengaku begitu senang karena saya datang kemari mencari bahan-bahan cerita bagi anak-anak. Tidak biasanya orang tua atau siapa saja datang mencari bahan-bahan pustaka bagi anak-anak kemari.

jika diasah, nak Fadli bisa menjadi seorang pendongeng bagi anak-anak. tadi, keempat anak itu, saya dongengkan dulu sebelum mereka mau membaca.” kata ibu Nis.

Terjawablah teka-teki di kepala saya. Saya mengira sejumlah boneka tangan dan boneka animasi hanya pajangan dan mainan bagi anak. Ternyata juga digunakan untuk mendongeng.

Di pojok ruangan ada dua almari kaca yang disambung. Rak atas semua diisi boneka-boneka. Ada Mickey dan Minnie, Donald Duck, dan beberapa tokoh animasi Amerika dari 1920 an awal hingga terbaru. Rak kedua dipenuhi oleh mainan Lego susun aneka warna serta ukuran, dan dua hingga tiga boks permainan sejenis monopoli ukuran besar.

“Story telling itu seni bertutur, menyampaikan pesan pada anak-anak yang terdapat  dalam sebuah penggalan cerita. Ini bukan hal gampang. Karena esensi sebenarnya adalah memberi pesan moral (afektif) dan memberi pelajaran (kognisi) bagi anak-anak.” terang ibu Nis.

Tapi perpustakaan, semua kegiatan mendongeng diupayakan dapat meningkatkan minat baca anak-anak, khususnya di jenjang usia dini.

Menurut beliau, menyampaikan dongeng tidak asal-asalan menyampaikan cerita pada anak.  Ada dua elemen penting yang harus diperhatikan sebelum memulai dongeng, pertama adalah waktunya harus tepat, yang kedua penyesuaian umur serta tahap perkembangan anak tersebut.

ceritanya harus kita pilih-pilih,

kalau umur PAUD -sambil menunjuk si anak laki-laki yang tengah asyik di kolam bola warna-warni, cerita yang dipilih harus mengenai benda sehari-hari dan cerita keseharian yang lekat dengan anak.” sambung ibu Nis yang sedari tadi bahannya tidak habis-habis bercerita mengena dunia dongeng mendongeng.

umur SD hingga menjelang sepuluh tahun, anak-anak diceritakan mengenai dongeng fabel.” Fabel ialah dongeng dan kisah yang berhubungan dengan binatang-binatang seperti ‘Pak Tani dan Kancil’, ‘Semut dan Gajah’, macam-macam.

Terakhir, berdasarkan penuturannya, untuk sepuluh tahun ke atas, dongengnya mengenai cerita rakyat dan kisah-kisah kepahlawanan. Tahapan ini sebenarnya paling krusial karena banyak hal-hal yang harus dihindari dan dicermati dengan baik.

Tidak boleh ada unsur kekerasan di dalamnya, meski itu adalah cerita kepahlawanan. Termasuk perebutan jabatan, dan ceritayang mengandung unsur eksploitasi tubuh perempuan dan  unsur seksual. Tugas pendongeng menyederhanakan kisah itu menjadi mudah dimengerti bagi anak-anak dengan mengikis secara maksimal unsur-unsur tersebut.

Selama kami bercerita Ibu Nis suka sekali memainkan kedua tangannya yang digoyang-goyangkan yang menghasilkan gerakan mikro yang komplit dalam bercerita. Saya bisa membayangkan beginilah pose beliau ketika mendongeng.

Sambil mendongeng, ibu Nis menjelaskan bahwa ia selalu memberikan unsur nyanyian yang ada hubungannya dengan dongeng.

tanpa nyanyian dan selingan, anak-anak (pasti) akan bosan. Kemampuan pendongeng meniru banyak suara juga jadi nilai plus. Tapi ingat, jangan pernah mendongeng lebih dari 20 menit.

Tanpa segan-segan ketika mempraktekkan dua contoh dongeng, ia mengandaikan dirinya sedang memegang gitar dan kecapi dan menyanyi hingga tuntas.

“harus diingat, kemampuan ini harus terus diasah. Sebab keberhasilan seorang pendongeng itu bukan terletak pada evaluasi teman se-profesi atau teman se-kantor, bukan, bukan itu,”

Kesuksesan pendongeng ada di depan mata mereka, di mata anak-anak. Kalau anak-anak senang, ya itu sudah dihitung sebagai pencapaian luar biasa dan sebaliknya juga demikian.

Siang menjelang sore itu, saya begitu sabar menantikan jawaban dan percakapan tak terduga yang keluar dari ibu Nis.

nak, bersama kak Heru –pendiri Rumah Dongeng- saya kebetulan termasuk pendongeng tingkat provinsi. Kadang kala saya diundang oleh perpustakaan kabupaten untuk melatih pustakawan-pustakawan baru menjadi seorang pendongeng.

sering sekali kak Heru yang super sibuk aktif mendongeng di mana-mana dan saya –tugas pokok PNS- tidak bisa menerima semua permintaan, maka susah sekali untuk menemukan orang-orang yang mau terjun di dunia anak-anak seperti ini.” keluh ibu Nis.

kami butuh banyak pustakawan-pustakawan yang tidak hanya mau sekedar belajar, tapi giat berlatih dan terus berlatih sehingga menjadi mahir dalam satu hal. kami butuh pustawakan dan anak-anak muda yang mau menjadi pembelajar sepanjang hayat.” katanya dengan pelan seperti mengetahui ini bakalan tidak bisa terjadi dalam waktu dekat.

Khusus di ruang baca anak ini, memang hanya ada ibu Nis dan seorang lagi tenaga outsource yang tidak datang. Jika banyak anak-anak yang datang.

Tak terasa, keempat anak itu sudah diajak pulang oleh ayahnya. Ayah mereka sejak tadi sibuk membaca buku di depan panggung  kecil di depan ruangan. Tanpa banyak bicara, dari tadi ia hanya menyenderkan siku dan lengannya di panggung lantai panggung untuk membuatnya nyaman membaca. Panggungnya dilapisi dengan bahan sejenis gabus berwarna seperti potongan puzzle sehingga cocok untuk anak-anak bermain lompat-lompatan tanpa takut terkena cedera.

bu, kayaknya waktuta’ Sabtu ke depan-depannyanya mungkin akan saya repoti ki’ terus. Rencananya mereka berempat selalu mau mampir kemari menghabiskan waktu” Pengawal keempat anak kecil ini adalah ayah dari dua dari mereka, selebihnya adalah ponakan dan anak tetangga. Hanya kebetulan saja mereka satu sekolah di tempat yang sama.

oh iya pak, nda papaji. Justru kami senang ada anak-anak mau datang kemari meramaikan perpustakaan” ibu Nis memastikan tidak ada masalah dengan itu.

eh sudah mau pulang rupanya, mau pinjam buku apa sayang? beliau menghampiri anak perempuan paling kecil dan mengusap-ngusap kepalanya.

janganmi tawwa dulu bu’, biar mi kapan-kapan, mereka tadi di depan baru isi formulir, terus fotonya belum ada,” Ibu Nis merasa senang ada orang tua yang seperti itu. Mau meluangkan waktu bagi anak-anaknya demi sebuah pengalaman yang tidak bakal tergantikan.

Menanggapai masalah teknologi, Ibu Nis mengatakan, “tidak selama nya dinamis itu harus membawa harmonis”. Ibu tiga anak ini menyayangkan orang-orang tua yang tidak peduli anaknya terpapar teknologi dengan begitu jauh. Sehingga menjauhkan si anak dari aktivitas membaca, berimajinasi, dan berpikir jauh (deeper thinking).

Caranya cuma satu: membaca buku. Jalan menuju ke buku itulah yang sedang digiatkan oleh ibu Nis, bercerita. Mengambil satu buku, mengumpulkan anak-anak di perpustakaan, dan mulai mendongeng. Begitu setiap hari. Setidaknya, dengan pengunjung ruang baca anak yang minim, ibu Nis hanya bisa tiga hingga empat kali mendongeng dalam sepekan. Itu berarti, rata-rata hanya lebih dari dua belas anak yang berkunjung.

***

Pengalaman mengisi acara mendongeng juga dia torehkan pada sebuah segmen acara di Fajar TV, stasiun TV lokal Makassar. Tahunnya ia sudah lupa, tapi ia jelaskan waktu itu, ia sempat manggung selama setahun di sana. Waktu itu, ustad Maulana (sekarang kondang di Jakarta program dakwah TV Swasta) satu jadwal dengannya. “beliau (ustad Maulana) tampil siang, saya tampil di pagi hari. Nama programnya Dongeng Anak Nusantara.”

Layaknya interior taman kanak-kanak, di sini juga ada sebuah mural yang mencerminkan dunia anak-anak. Ukurannya hampir tiga kali tiga meter. Letaknya di atas panggung gabus. Anak-anak bisa mengintip dan menyentuh mural ini di dinding, lalu membayangkan dirinya juga ada di sana.

Sebuah pelangi, langit biru terang, pohon, dan burung pipit kuning yang menggenggam sejumlah lembar jerami di ujung paruhnya tergambar jelas. Di antara itu,dalam lingkungan pagar sekolah seorang anak sedang berdiri memainkan tangannya sambil mulutnya menganga seperti mengucap sesuatu. Dua anak murid, laki-laki dan perempuan dengan asyik dan tersenyum duduk memerhatikan dengan seksama teman.

Mural ini asli karya beliau. Dibuat sendiri dengan kemampuan lukisnya tanpa bantuan siapa-siapa. Itu juga salah satu kenyataan yang membuat saya kagum sekaligus terheran-heran dengan beliau. Awalnya saya juga tidak percaya. Tapi setelah tiga kali bertanya memastikan ke beliau, barulah saya percaya dengan pendengaran saya sendiri.

Saya bisa membayangkan bagaimana Ibu Nis begitu cinta dengan anak-anak dan dunia mendongeng. Pada mural itulah terletak dunia yang diinginkannya. Dunia di mana anak-anak juga bisa saling mendongengkan antara satu dengan yang lain. Mural ini menggambarkan keinginan ibu Nis yang terdalam, agar anak-anak bisa lebih giat belajar dan membaca.

Memaklumi wajah saya yang keheranan, ia mengajak saya ke suatu tempat. Ia membalas keheranan sekaligus kekaguman saya hanya dengan senyum sederhana. Dengan seruas wajah yang sedikit lelah dan jilbab yang sesekali harus dirapikan, ia masih dengan bersemangat mengajak ke lemarinya.

Barang yang diambilnya  terletak di sebelah kanan bawah. Namun rupanya pintu lemari kanan cukup keras ganjalannya. Dengan upaya yang cukup keras ia tidak berhasil membuka pintu kanan. Terpaksa harus melalui pintu kiri.

Pelan-pelan ia mengambil barang barang yang dianggapnya berharga itu. “Inilah karya saya,” katanya

Setumpukan berkas ukuran A3 itu dengan tebal kira-kira sehasta keluar dari lemari kaca. Percaya tidak percaya, isinya semua adalah ilustrasi mendongeng. Lukisan dan gambar warna warni yang begitu hidup. Saya yakin tidak ada anak-anak pasti menyukainya. Isinya hanya gambar saja, sebab semua kalimat dan dilaog dari tokoh bakal ditirukan oleh story teller. Beberapa kisah merupakan karya sudah jadi yang beliau fotokopi.

Setiap satu cerita memiliki delapan hingga sepuluh ilustrasi. Ada penanda di setiap bagian kisah. Kurang lebih dua puluh bundelan kisah di situ. Ya, inilah harta berharga dan bangunan imajinasi yang dibentuk ibu Nis. Setiap halaman pertama bagian atas bertuliskan, “Judul dongeng (Pak Tani dan Kancil misalnya)” dan bagian bawah bertandakan, “Diceritakan kembali oleh Nisfu”.

Inilah (semua) yang saya bawa ke mana-mana (jika mendongeng).

Saya menyaksikan gambar abstrak pada bagian belakang belum selesai diberi warna. “oh ini masih setengah jadi,” Sepertinya ibu Nis masih butuh waktu untuk menyelesaikannya sesegera mungkin.

Di beberapa kisah, ada stempel perpustakaan tempat ibu Nis berkarya.“iya, ini sudah dibeli oleh perpustakaan. (Mereka) melihat saya punya bakat, akhirnya ilustrasi ini sudah dibeli oleh lembaga

Beberapa ilustrasi sangat disayangkan sudah memiliki lapuk di bagian pinggirnya. Saya menyarankan agar semuanya kalau bisa di-laminating saja. Bukan masalah takut hancur atau tidaknya, tapi ini adalah karya beliau yang punya nilai sejarah bagi beliau sendiri. Rekam jejak ibu Nis dalam mendongengkan anak-anak. Saya merasa ngeri membayangkan jika semuanya lapuk dan berjamur.

Di belakang ibu Nis, ada sepasang boneka tangan seukuran panjang dari ujung kaki hingga lutut orang dewasa. Sigap saja ia langsung mengambilnya.

ini Bonita, yang lelaki itu, namanya Boni,”kata Ibu Nis setelah memasukkan tangan kanannya ke belakang lewat kaki baju Bonita. Di situ ada lubang tempat Ibu Nis bisa merogoh ke dalam dan ke atas hingga menyentuh leher. Setelah seluruh tangannya masuk, Ibu Nis segera membiarkan dirinya sejenak menjadi Bonita. Mengatupkan dan membuka jari-jarinya agar Bonita hidup dalam imajinasi anak-anak. Itulah Ibu Nis, pendongeng yang berbahagia.

Sore itu, saya memang tidak beruntung melihat empat anak mungil tersebut didongengkan oleh Ibu Nis. Tapi lain kali, saya akan menyempatkan waktu melihat ia mendongeng.

Sore ini, beliau telah mengajarkan saya tentang mengerjakan hal dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati. Beliau adalah aktor dan otak di balik ruang baca anak ini. Ia melakukan semuanya:. mendongeng, melukis, menyanyi, dan berinteraksi dengan anak-anak. Ia melakukan hal yang dilakukan oleh manusia-manusia yang selalu peduli dengan keberlanjutan peradaban: mendidik dan mengajarkan nilai-nilai baik.

Bagi saya, seperti para pendidik lain yang berdedikasi tinggi, ibu Nis adalah orang yang sudah berbahagia dengan pendidikan. Tidak ada yang bisa menghalangi dirinya untuk terus mendongeng bagi anak-anak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s