Membuat Tulisan Hidup? Observasi dan Deskripsikan

atmosphere-literature_250df2253eb0d153
aos.iacpublishinglabs.com

Pertemuan kali ini akan mengupas tentang penulisan deskriptif. Di awal, kami membaca tulisan Mati Untuk Pengingat Mati dari Ruris Hastiani. Tulisan ini didaulat sebagai tulisan deskripsi Kelas Menulis Kepo ketika masih berjalan di angkatan satu. Bagi saya yang tidak terbiasa menggunakan deskripsi suasana dalam tulisan, karya ini memikat sejak pertama kali saya baca.

Pertama, kisah ini menceritakan satu proses kejadian dengan jeli. Alur mundur digunakan untuk menjelaskan seorang laki-laki yang mengantarkan rekannya ke rumah sakit. Masih sehat kemarin-kemarin. Namun di hari itu, ia mendapati tubuh kekar itu terkapar tak berdaya menunggu jantung hidup kembali. Namun bukan sehat yang di dapat, upaya menunda kematian selama dua jam dengan resitusi jantung paru ujung-ujungnya juga kematian.

Kematian memang hal yang biasa, begitu biasanya karena terjadi setiap detik. Di samping karena sebagian besar umat manusia tidak memperdulikannya sebab kematian selalu diiringi dengan kelahiran banyaknya manusia-manusia yang baru. Tapi, seperti kata Joseph Stalin, “cerita sejuta kematian adalah statistik, namun cerita satu kematian adalah sebuah tragedi.” Tragedi inilah yang sedang coba digambarkan Ruris dalam tulisannya.

Kedua, tulisan pendek ini punya pesan semenjak dari judul. Ia meninggalkan paragraf terakhir –tanpa menggurui- untuk selalu mengingat pemutus kehidupan manusia: maut. Ketiga, tulisan ini meski deskriptif, tapi masih disertai penjelasan informatif mengenai istilah-istilah kesehatan dan singkatan asing.

Cuplikan “Mati Untuk Mengingat Mati”:

Seorang lagi berdiri di kepala si Bapak, sebuah sungkup melekat di hidungnya. Dokter terus memompa kantong hijau yang tersambung melaui sebuah selang dengan sungkup tadi untuk mengalirkan udara. Selain jantung, pernafasan si Bapak juga harus dibantu oleh alat dan manusia.

Saya sendiri berdiri di samping emergency trolley (troli untuk meletakkan obat-obatan untuk penanganan pasien gawat dan darurat) bertugas untuk segera menyediakan dan menyuntikkan obat-obatan yang dibutuhkan. Hampir dua jam RJP terus dilakukan. Keringat sudah bercucuran dari petugas yang melakukan RJP. dua kali nadi si Bapak teraba kembali selama proses RJP namun lagi-lagi menghilang. Dan harus kemabli dirangsang dengan memompa jantungnya.

Susana begitu hening saat dokter telah menyatakan kematian si Bapak. Sebuah monitor yang terhubung dengan dada si Bapak melalui kabel berwarna-warni terus berbunyi dan menampakkan garis datar. Lagi-lagi ada kuasa Tuhan di atas segala upaya manusia.

Pria yang menemani masih mematung nampak begitu syok. Tangannya terus memegang handphone menghubungi keluarga si Bapak yang berada di Bandung untuk memberi kabar.

Dia tidak pernah menyangka kejadian seperti ini akan menimpa temannya yang berusia beberapa tahun lebih tua darinya. Mereka datang bersamadalam keadaan sehat. Ia pun mengantar si Bapak kerumah sakit hanya dalam keadaannya yang masih sadar.

Saya sendiri yang dari awal menerima si Bapak di UGD masih sempat  menanyai apa yang ia keluhkan. “Kenapaki’ Pak?” saya menayainya sambil memeriksa nadinya yang sudah begitu lemah. “Sakit” hanya itu yang si Bapak  katakan namun pria yang mengantarnya tadi mengatakan bahwa perasaannya tidak enak. Tangan dan kakinya sudah begitu dingin saat saya sentuh. Tensinya pun sudah tidak terukur. Dokter pun segara mengambil tindakan cepat saat itu. Tak lama, beberapa dokter dan teman perawat sudah berkumpul. Namun lagi-lagi serangan jantung tak butuh waktu lama untuk seorang pasien menjadi tak sadarkan diri. 

Satu tulisan lagi yang punya daya pikat deskriptif, judulnya Persalinan Terakhir oleh Eko Rusdianto. Bagaimana seorang perempuan penyandang disabilitas di Makassar selibat asmara dengan pengayuh becak yang juga merupakan tetangganya sendiri.

Si perempuan menjalani hubungan diam-diam tanpa diketahui keluarganya. Akhirnya suatu ketika terkuak jika ia kemudian hamil. Penderitaan yang ia alami di sepanjang waktu itu membuat dirinya berjanji, “ini yang terakhir kalinya.

Ia menjadi trauma dengan semua hal yang telah lewat. Apalagi, menurut pengakuannya, sang pengayuh becak yang tidak bertanggung jawab pernah berujar untuk membunuhnya jika sampai melaporkan dirinya.

Sama dengan tulisan Ruris, meski tulisan ini jauh menguak lebih dalam, keduanya sangat atraktif menampilkan adegan. Seperti film, dua tulisan ini menayangkan cuplikan dengan deskripsi paling menarik sekaligus paling tragis untuk menggoda pembaca menelisik tulisan hingga akhir.

Berikut beberapa paragraf dari “Persalinan Terakhir”

Sore hari ia bangun dari tidur. Suara kakinya mengentak dari lantai dua. Dengan sepasang kaki yang kecil—akibat penyakit polio yang menyerangnya sedari kecil—ia beringsut menuruni anak tangga kayu dengan tumpuan pantat. Ia tersenyum lebar, dan kita bisa melihat sebagian giginya yang menghitam. Sela bibirnya selalu mengeluarkan air liur.

Nia, perempuan berumur 31 tahun, adalah penyandang tunawicara. Saya menyapanya dan ia hanya tertawa kecil.

Hari itu di rumahnya, di satu kawasan pasar di Makassar, ia terlihat riang. Nazar sembilan bulan lalu, yakni berpuasa selama tiga hari, sebentar lagi tunai.

“Kenapa harus puasa?” tanya saya.

Ia tetap tertawa kecil, lalu mengucapkan beberapa kata yang tak saya pahami. Sejenak berdiri dan berjalan menuju dapur, badannya berguncang hebat, doyong ke kiri dan kanan. Pergelangan tangannya membengkok. Ia membasuh muka lantas menuju pintu kamar mandi.

Kini Nia duduk berhadapan dengan saya. Di dekat kami ada ayunan. Seorang bayi perempuan, berusia sembilan bulan, terlelap di atas ayunan sembari memegang botol dot.

Itu adalah buah hatinya, dengan nama secantik satu bunga yang tumbuh dari wilayah beriklim subtropis. Ketika Nia duduk di dekatnya, sepasang mata si bayi terbuka pelan. Dengan lembut, Nia memukul-mukul kaki putrinya dan terus mengayun. Ketika kaki mungil si bayi menjenjang dan bergoyang, seakan hendak tengkurap, derai tawa sang ibu terlepas.

Si bayi terbangun dan menangis.

Nia kesulitan merangkul buah hatinya dalam ayunan. Apriani, tantenya, dengan segera menyudahi diri melipat pakaian. Ia menuju si bayi, menggendong dan menenangkan dalam dekapan. Nia berada di sampingnya dan mengelus kaki putrinya dengan lembut.

Kecuali mungkin untuk Nia, keluarga terdekat tak menyangka ponakannya bakal hamil.

***
Menurut Lelaki Bugis, tulisan yang baik adalah tulisan yang mampu menghidupkan suasana sehingga dapat menyeret pembaca ke dalam situasi hidup dalam tulisan. Demi menghidupkan nuansa dalam tulisan, tidak ada jalan lain kecuali: deskripsikan.

Nah, sebelum menuangkan hal-hal detil, tentunya penulis harus melakukan observasi. Observasi merupakan kegiatan pengamatan yang bertujuan untuk mendapatkan informasi.

Dengan mendatangi sebuah tempat, mengamati seseorang, atau menceritakan sebuah peristiwa, lalu tinggal sejenak melakukan pengamatan, penulis memperoleh setidaknya tiga manfaat: bisa memperoleh data tanpa komunikasi verbal, tidak menggantungkan data dari ingatan seseorang, dan paling penting ialah penulis bisa mencatat hal-hal sewaktu peristiwa berlangsung.

Observasi itu, bisa sekali dan bisa juga dilakukan berulang-ulang. Utamanya jika ada detail yang belum lengkap. Biasanya, observasi yang lebih dari sekali berguna untuk meng-kroscek (mengonfirmasi) sesuatu yang belum begitu jelas. Begitu penjelasan kak Ikko.

Showing not Telling. Meninggalkan banyak kata-kata sifat dalam tulisan tidak akan memberikan gambaran nyata suasana dan detil yang dideskripsikan. Sebaliknya justru membuat pembaca membayangkan hal yang sebenarnya tidak mengarah tepat ke sasaran objek. Mengumpamakan deskripsi itu seperti membayangkan sebuah segitiga terpancung. Bagian paling atas merupakan detil-detil kecil (khusus) yang semakin lama ke bawah semakin besar (ide umum)/

Deksripsi membuat pembaca turut membayangkan apa yang kita rasakan dan saksikan saat menyaksikan objek/suasana yang telah kita garap. Itulah tujuan menulis deskriptif.

Mendeskripsikan karakter tokoh juga membutuhkan deskripsi yang lugas dan tegas. Demi mendapatkan keterangan jelas mengenai tokoh, penulis sebaiknya tidak hanya mencukupkan diri dengan observasi. Tapi juga melakukan riset (bertanya, mencari bahan tulisan) dan wawancara untuk mendapatkan nuansa humanis dari tokoh yang sedang dibincangkan.

Langkah dalam menulis deksripsi ialah sebagai berikut:

1. Memilih hal yang ingin dideskripsikan. Bisa jadi itu sebuah orang/tokoh/karakter, tempat, benda, dan suasana.
2. Memperkenalkan hal yang ingin dideskripsikan
3. Melibatkan panca indera. Kemudian transfer apa yang kita lihat-dengar-rasakan-baui-sentuh pada sebuah kalimat apik.
4. Menggunakan perumpaan/asosiasi jika ada hal-hal yang sulit dijelaskan dengan gamblang.

Namun, di balik semua aturan itu, ada garis yang tidak boleh sama sekali dilanggar. Apa itu? don’t make an assumption, judgement, and conclusion.  tidak melakukan asumsi, tidak melakukan pelabelan, dan tidak membuat kesimpulan. Satu-satunya garis yang harus dipatuhi ya hanya satu ini: giring pembaca ke dalam suasana.

Kita coba mengambil contoh dari karakter Nyonya Pho dalam novel Sang Pemimpi, tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata.

Nyonya Pho bertubuh tinggi besar. Rambutnya tebal, disemir hitam pekat dan kaku seperti sikat. Alisnya seperti kucing tandang. Bahunya tegap, dadanya tinggi, dan raut mukanya seperti orang terkejut. Sesuai tradisi  Hupo, ia bertato, lukisan naga menjalar dari punggung sampai ke bawah telinga, bersurai-surai dengan tinta Cina. Bengis, tega, sok kuasa, dan tak mau kalah tersirat jelas dari matanya…

Nyonya Lam Nyet Pho, turunan prajurit Hupo, semacam capo, ketua preman pasar ikan. Ia pemilik gudang ini dan penguasa 16 perahu motor. Anak buahnya ratusan pria bersarung yang hidup di perahu dan tak pernah melepaskan badik dari pinggangnya. Beperkara dengan nyonya ini urusan bisa runyam….

Pendeskripsian di atas sudah membuat kita bisa membayangkan bagaimana garangnya sosok Nyonya Pho. Alih-alih mengatakan “sangar” dan “bengis” pada dirinya, Andrea Hirata justru meninggalkan banyak penanda dan bukti-bukti otentik tentang Nyonya Pho, bahwa ia memang sosok yang keras.

Deskripsikan lebih jauh

Pada pertemuan ini, para pembagi ilmu yang hadir terutama Om Lebug dan Kak Ikko menyajikan beberapa tulisan yang bisa dijadikan referensi untuk menulis deskripsi dan suasana.

1. Makassar dalam Mie, Anna Asriani Muhlis
2. Suatu Sore Bersama Manz Zelmerlow, Kak Ikko
3. For Whom Metallica Sings, Om Lebug
4. Kota yang Layak Untuk Adi, Andi Arifayani

Setelah kelas pun, diskusi juga masih dilanjutkan di platform online. Om Lebug selaku penjaga sekolah menginisiasi membuat notes di grup media sosial tentang tulisan-tulisan layak baca bagi peserta Kelas Menulis Kepo Empat. Khususnya mengenai tema pertemuan sore itu, deskripsi.

Jika kami minta lebih, tentunya bisa lebih panjang lagi daftarnya. Tapi, saya pikir, lebih baik kami mencukupkan diri dengan apa yang ada di depan mata, dan mulai mempraktekkan apa yang sudah kami pelajari. Teman-teman yang juga kepingin belajar, sila dicermati beberapa postingan di bawah ini. Enjoy!

Tulisan Ipul Dg. Gassing (penjaga sekolah): berisi tentang bagaimana membuat tulisan yang runut dan deskriptif tentang sebuah perjalanan (travel writing)

1. Semalam di Tulehu
2. Bertemu Jalan Putus di Mamuju

Tulisan-tulisan deskripsi Nurhady Sirimorok. Ia termasuk yang cukup hebat dalam jajaran pembagi ilmu di Kelas Menulis Kepo. Menulis di blog merupakan sampingannya selain pekerjaan utama sebagai peneliti, penerjemah, fasilitator masyarakat, dan editor.

1. Jendela Gerak dan Sejarah
2. Ketika Media Massa Melongok Orang Desa
3. Pelajaran Pertama Tentang Berkarya

Tulisan-tulisan lain dari laman ‘Pantau’ dan ‘Panajournal’:

1. Kopi Terakhir di Kebagusan (karya feature)
2. Semalam di Cimiring
3. Namaku Bre Redana

Tugas: Mendeskripsikan Suasana di sebuah lokasi yang jamak ditemui sehari-hari. Pengambilan lokasi yang familiar di gunakan untuk mempermudah melakukan kunjungan lebih dari satu kali jika dibutuhkan melakukan observasi ulang. Barangkali ada data atau wawancara yang masih dibutuhkan demi keutuhan satu rangkaian tulisan/cerita.

*Catatan Kelas Menulis Kepo Angkatan IV Pertemuan Keempat
Waktu: Jumat 24 Februari 2017
Pukul: 17.00 – 21.00 WITA
Tempat: Café Brewbrothers, Panakukang Makassar
Pembagi Ilmu: Ruris Hastiani, Lelaki Bugis, Tari Artika

Advertisements

One thought on “Membuat Tulisan Hidup? Observasi dan Deskripsikan

  1. SEKILAS INFO saaja Qs 40:73 kemudian dikatakan kepada mereka: “Manakah berhala-berhala yang selalu kamu persekutukan, Qs 40:74 (yang kamu sembah) selain Allah?” Mereka menjawab: “Mereka telah hilang lenyap dari kami, bahkan kami dahulu tiada pernah menyembah sesuatu”. Seperti demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir. Qs 40:75 Yang demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi dengan tidak benar dan karena kamu selalu bersuka ria (dalam kemaksiatan). Qs 40:76 (Dikatakan kepada mereka): “Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong”.

    Qs 13:5 Dan jika (ada sesuatu) yang kamu herankan, maka yang patut mengherankan adalah ucapan mereka: “Apabila kami telah menjadi tanah, apakah kami sesungguhnya akan (dikembalikan) menjadi makhluk yang baru?” Orang-orang itulah yang kafir kepada Tuhannya; dan orang-orang itulah (yang dilekatkan) belenggu di lehernya; mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

    Qs 9:68 Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.

    Qs 5:9 (5:8) Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

    Qs 5:3 (5:2) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian( mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

    Qs 10:27 Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dari (azab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gelita. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

    Qs 2:62 Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

    Qs 23:101 Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya. 102 Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. 103 Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.

    Mat 13:49 Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, 13:50 lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.

    Mat 12:36 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.

    (ajal itu tak pandang bulu, apakah orang kesayangan atau tidak, apakah dalam kandungan atau tidak, apakah masih kecil atau besar, apakah masih muda atau tua, apakah masih sehat atau tidak, ajal bisa menjemput kapan saja, bisa hari ini, bisa hari esok tanpa diduga tanpa permisi).

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s