Terima Kasih yang Hilang dan 14 Tulisan Lainnya (Review)

Posted: March 11, 2017 in Blogger Kampus, Blogger Makassar, Kelas Menulis Kepo, Reportase
Tags: , , , ,
romantical-love-painting-photo6

virginia-gieremek.wikispaces.com

Ternyata menulis deskripsi itu butuh usaha panjang, kadang membingungkan, dan melelahkan. Sebelum kelas di mulai, saya sudah mengalami mental block tidak akan berhasil. Namun, saya berkeras dalam hati bahwa saya harus mulai. Jujur, saya tidak terbiasa menulis dan menjelaskan objek ke dalam deskripsi. Hanya di beberapa postingan bulan-bulan terakhir dilandasi semangat trial and error.

Selama ini, jenis tulisan yang bisa saya tawarkan hanya offering information and sometimes I do reflection writing. Oke, memang ada deksripsi, namun hanya sebatas memasukkan unsur indera penglihatan dan opini pribadi. Memasukkan unsur nuansa, perasaan, dan atomosfir dalam tulisan itu sesuatu yang benar-benar baru bagi saya. Barangkali, ini pula yang dirasakan oleh satu dua teman peserta Kelas Menulis Kepo.

Setelah mengutak-atik laman Andreas Harsono (penulis buku Agama Saya Adalah Jurnalisme), tulisan-tulisan di Pantau, kemudian mengikut kelas Kepo Inititative, maka mulailah sedikit-sedikit saya terbuka dengan deskripsi.

Lalu, setelah membaca beberapa bahan tulisan deksripsi di postingan sebelumnya, saya dirasuki perasaan bahwa deskripsi memegang peranan penting dalam membuat tulisan bergerak aktif di kepala. Deskripsi membuat orang lain bisa memahami konteks apa yang sebenarnya terjadi, termasuk suasana dan perasaan yang menyelimuti saat itu.

Dahulu, saya sering salah menyangka bahwa deksripsi hanya diperkenankan dalam feature kategori human interest, atau laporan-laporan khas panjang ala jurnalisme Pantau dan Pindai, Panajournal, dan macam-macam.

Beda dengan majalah-majalah politik Amerika yang memang terbiasa menuliskan laporan panjang, di Indonesia ini masih terhitung baru. Kebiasaan menguraikan peristiwa mendalam secara panjang-detail-hidup ini baru-baru saja mulai bergeliat di Indonesia. Ini sependek pengatahuan saya, bisa jadi salah.

Nah, justru disinilah hebatnya. Bagian inilah yang menggugah ketika dibaca. Sebab saya justru menyukai membaca tulisan panjang sekitar 1500 hingga 3000 kata ke atas. Membaca lebih banyak dan panjang akan mengasah kemampuan deeper thinking, berpikir lebih jauh dan dalam, sama halnya dengan membaca buku.

Di jaman pertukaran dan seliweran informasi yang tidak kenal ampun, berita tercepat adalah berita yang laku. Berita mendalam (seperti media cetak dan majalah) menjadi tidak relevan lagi dan sekedar pelengkap dari berita instan yang laporannya on the spot. Laman-laman tersebut ini menawarkan sebuah penulusuran mendalam, sudut pandang yang tidak biasa, dan menyigi kisah-kisah hingga titik akhir.

Seperti biasa, kelas dimulai dengan masing-masing memberikan komentar mengenai kendala dalam menyelesaikan tugas tulisan deskripsi. Saya rangkum dalam poin-poin berikut ini:

  1. Saat mulai merangkai paragraf, penulis biasanya melupakan hal-hal detil ketika mereka berada di tempat observasi. Menurut Om Lelaki Bugis, memang begitu keadannya. Sering kali aktivitas observasi luput mencatat hal-hal yang sebenarnya penting. Solusinya, pengamatan terhadap objek dan peristiwa dilakukan dengan membawa notes ataupun perangkat elektronik untuk memudahkan mengingat apa yang terjadi di lapangan. Jadi, sambil observasi berlangsung, kegiatan mencatat juga berjalan beriringan. Jalan keluar yang kedua, bisa dengan bantuan foto.Visualisasi nyata foto membantu penulis memberikan deskripsi yang lengkap mengenai tempat dan perincian suatu lokasi dengan presisi.
  2. Kesulitan membangun dan menerjemahkan suasana yang kita rasakan ke dalam sebuah tulisan yang atmosfirnya juga bisa dirasakan sama persis oleh pembaca. Kata Om Lelaki Bugis, semua tulisan yang kami buat “begitu kering” tanpa suasana yan hadir dalam tulisan. Alasannya kami cenderung meninggalkan deskripsi sebagai suatu yang terbatas oleh apa yang disaksikan oleh mata saja. Walhasil, proses membaca akan menjadi monoton lalu membosankan. Jujur, pada fasa inilah saya mengalami kemandekan yang entah kenapa begitu lama. Saya coba berpikir, bagaimana memulai proses transfer mood- atmosphere-nuance ke dalam suatu tulisan. Saya mencoba mencari literatur mengenai hal ini, tapi konteknya selalu sastra, bacaan fiksi.

    Ada saran yang menarik Leila S. Chudori, penulis novel Pulang dan jurnalis senior Tempo, “Deskripsikan! Hindari kata sifat, deskripsikan apa yang sebenarnya terjadi. Misalnya saya sedih, gambarkan saja apa yang membuat si “saya” ini sedih.

    “Deskripsi bukan hanya asal sebut apa yang kita saksikan. Bukan acara absen benda apa saja yang ada, atau siapa saja yang hadir. Deskripsi adalah seni menggambarkan situasi yang ada: orang, benda, suasana, udara, aroma, hingga perasaan. Tak jarang dalam deskripsi diselipkan metafora”

  3. Selalu merasa belum cukup dengan informasi yang diperoleh. Tentunya, pertama, ini bisa disiasati dengan menyiapkan segala sesuatunya sebelum melakukan observasi. Misalnya, menentukan fokus atau selalu taat pada fokus. Agar, ketika observasi, penulis bisa selalu teringat dengan fokus tulisan dan tidak terpancing melebarkan sudut pandang menjadi tidak terarah.

    Kedua, menyusun daftar pertanyaan wawancara yang sejalan dengan fokus tulisan. Ketiga, melakukan observasi tidak hanya sekali, tapi bisa dua hingga tiga kali. Tidak dipungkiri kita memerlukan proses adaptasi dan penerimaan terhadap masyarakat. Tahapan ini memerlukan waktu yang tidak sebentar, malah bisa jadi waktunya begitu lama. Misalnya dalam produk-produk jurnalistik seperti laporan investigatif, atau penulisan terkait budaya dan sejarah.

Inilah hasil coba-coba tulisan deskripsi yang kami buat. Meski ada kelemahan dari segi suasana, tapi teman-teman telah menunjukkan upaya sebuah penulisan deskriptif yang apik. Logikanya sudah mulai runut meski hanya mengandalkan indera penglihatan. Ke depan, pasti akan lebih baik lagi. Selamat menikmati!

deskripsi2

deskripsi1

Koridor dengan Segala Aktivitasnya (Helmiyaningsi)
Saat mentari menyapa. Saat kuliah pagi akan berlangsung. Saat itulah koridor ini tampak bersih dan tak berpenghuni, yang terlihat hanyalah bangku panjang kosong serta alas kaki yang berserakan. Di saat seperti ini, yang terdengar hanyalah suara tukang parkir yang membangunkan penghuni koridor (sapaan bagi mereka yang tinggal di sekretariat) untuk memindahkan kendaraannya ke parkiran.

Saya ingat sewaktu menjadi mahasiswa baru dulu jika ingin ke Mushollah, saya lebih memilih untuk mengelilingi gedung FIB dibanding harus menyusuri koridor. Meski saya harus berjalan cukup jauh, tapi itu tidak masalah. Lebih baik seperti itu dibanding saya harus bertemu dengan banyak senior di koridor.

Ruang Tunggu Kantor dan Ucapan Terima Kasih yang Tidak Terucap (Hasymi Arif)
Dari semua kesibukan ruang tunggu pagi itu, dia bisa dibilang salah seorang yang paling sering berdiri, berjalan dan juga berlari. Seperti yang terlihat pagi itu, dia menyambut pengunjung yang baru tiba, menanyakan keperluan mereka dan dengan senang hati menjelaskan berbagai macam prosedur yang ada. Dia juga terlihat sering berada di depan sebuah mesin cetak otomatis, menekan salah sebuah tombol pada mesin itu, dan kemudian kertas kecil tercetak berisi nomer antrean.

Dia memberikannya kepada pengunjung, kemudian mempersilakannya menunggu. Kadang juga ada pengunjung yang meminta kursi. Dia kemudian memenuhi permintaan mereka. Dia mengambil kursi, kadang  diangkat, tapi lebih sering diseret, kemudian menyerahkan kursi itu kepada pengunjung. Kadang lagi, dia terlihat terlihat tegesa. sepertinya memenuhi perintah atasan. Dan semua aktivitas itu tidak bisa dilakukannya tanpa berdiri, berjalan, ataupun berlari kecil. Bisa jadi, satu-satunya kesempatan dia untuk duduk adalah pada waktu istirahat.

Dari Tukang Batu, Pengumpul Barang Bekas Hingga Memiliki Mobil (Anna Asriani Muhlis)
2008 Pak Hasan membuka tempat pengumpulan barang bekas seperti botol plastik minuman, plastic ember,  botol kaleng, besi, dan kertas. Lokasinya berada di daerah Antang Raya. Bila berada disekitar Antang tidak jauh dari Masjid Pannara, dikarenakan Antang Raya sekarang satu jalur, maka untuk ke lokasi tersebut harus memutar arah, jadi ketika anda sedang berada di perempatan yang sebelum jembatan Pannara, bila melihat pos polisi maka anda belok kanan sepanjang jalan itu anda akan melihat sebelah kiri pengumpulan barang bekas yang akan nampak barang tersebut dibungkus karung putih, kelihatan tenda biru,sedangkan disampingnya terdapat beberapa pohon, samping kanannya terdapat rumah,  sedangkan didepannya tanah kosong yang dibatasi oleh jalan aspal lokasi menuju Jalan Abdullah Daeng Sirua.

Lelaki tua asal Bulukumba ini merantau ke Kota Makassar pada tahun 1986 yang awalnya bekerja sebagai tukang kayu, lalu ditahun 1989 sebagai gelandangan atau “payabo”. Dulunya tinggal sekitar daerah Perumahan Panakukkang Asindo  yang sekarang berdiri beberapa rumah mewah. Pak Hasan memiliki sembilan anak dan satu istri.

Kedai Kopi (Andi Citra pratiwi)
Tanah berpasir di tepi jalan nampak kering. Butiran pasirnya berterbangan saat angin bertiup. Tapi tak tercium aroma khas tanah, seperti aroma tanah selepas hujan yang selalu memanggil kembali memori masa kecil. Hanya tercium aroma debu bercampur asap kendaraan yang memaksa saya untuk bergegas memasuki bangunan di tepi jalan itu, kedai kopi favorit saya.

Tidak seperti kedai kopi di seberang jalan yang pintunya dibuat tetap terbuka, kedai favorit saya ini mengadopsi konsep in door dengan pintu geser yang selalu ditutup rapat. Cukup sulit membuka pintu geser berbahan dasar kayu itu. Otot lengan harus berkontraksi kuat-kuat, lalu badan harus ikut mendorong ke samping hingga celahnya cukup untuk dilewati. Setelah berhasil meloloskan badan melalui celah yang terbuka secukupnya, saya bergegas ke meja kasir yang hanya berjarak sembilan langkah dari pintu masuk. Setelah memesan segelas coklat dingin dan sepiring pisang goreng keju pada pria berseragam hitam dan berambut gondrong, saya melangkah dengan sedikit terburu-buru, menuju meja di ujung ruangan.

Pasar Kalimbu di Dini Hari (Andi Rahmat Asgap)
Di pagi itu, saat cahaya bulan belum digantikan oleh teriknya matahari saya berjalan di  sebuah tempat, di mana tempat itu dijadikan tempat transaksi sayur-sayuran yang nantinya akan diecerkan oleh pedagang di losnya masing-masing. Mobil-mobil pick up mulai terlihat di emperan toko JL.Veteran Utara, Makassar. Lembaran kol yang berserakan di jalan juga banyak terlihat, transaksi jual beli berlangsung di tempat itu. Kantongan merah dipenuhi oleh sayuran yang mungkin disukai juga oleh kelinci itu dijinjing oleh pemuda mengenakan kupluk dan tas selempang yang melekat di tubuhnya, dan wanita paruh baya yang meletakkan kantongan merah lainnya diatas timbangan sambil menggoreskan pulpen di kertasnya juga terlihat di pagi itu

Pertemuan dengan Idil Fitra (Muh. Sultan A Munandar S)
Duduk di teras masjid, saya nikmati tubuhku meregang karena pegal yang terasa selama perjalanan. Seorang anak lelaki dengan kulit sawo matang, kaos berwarna putih  dan bercelana pendek merah sedikit kumal. Memakai tas selempangan kecil yang selalu di bawanya, muncul dari dalam membawa pembersih lantai. Tangannya yang tidak terlihat kuat begitu lincah terlihat. Aktivitasnya sangat sibuk, saya perhatiakan dengan seksama, begitu lincah membersihkan lantai, kadang harus kembali dari awal lagi kalau ada seseorang yang masuk masjid lalu meninggalkan jejak kakinya, hal kecil di sudutpun tak luput dari matanya. Kaca masjid yang awalnya buram mengkilap seketika. Setapak demi setapak kakinya yang kecil melangkah bagai seorang balerina. Pikirku mungkin anak ini adalah merbot mesjid atau remaja mesjid.

Karena Berbagi Itu Menyenangkan (Herviana)
Ketika melewati sederetan kursi di lantai satu. Terdengar suara-suara tawa. Sesekali terdengar suara percakapan orang-orang yang berkumpul di kursi-kursi itu namun hanya terdengar samar. Setelah melewati sederetan kursi, kami pun belok kiri menuju tangga sekitar dua meter. Setelah itu belok kanan menaiki tangga pertama. Lalu belok kanan lagi menaiki tangga kedua. Taraa.. sampailah kita di lantai dua.

Sesampainya di lantai dua, kami berusaha mencari tempat terbaik untuk duduk bersama. Sementara itu, kemenakan saya lari kesana-kemari memutari deretan sofa hijau yang tertata rapih di bagian tengah. Sementara ada beberapa kursi juga di sebelah kiri dan kanan yang berjarak sekitar satu meter dari kursi hijau itu. Deretan sofa itu berjumlah sekitar enam meja persegi panjang dengan 2 sofa panjang di bagian panjang meja dan dua sofa pendek di masing-masing meja yang di tata layaknya meja makan. Ukurannya sesuai dengan panjang dan lebar meja.

Satu Siang di Perpustakaan (Mujahid Zulfadli AR)
Aroma khas lembar-lembar buku yang dibolak balik segera menyeruap ketika memasuki ruangan perpustakaan. Bau yang selalu saya rindu dimanapun berada. Saya memilih duduk di bangku deretan awal, bersitatap langsung dengan loket. Waktu sudah menunjukkan pukul dua lebih lima menit. Sudah sejak sejam yang lalu, deretan meja bagian depan ini miskin penghuni. Hanya ditempati dua orang pengunjung. Perkiraan saya karena letaknya yang hanya berjarak tidak sampai dua meter dari loket peminjaman dan pengembalian buku. Barangkali orang-orang tidak ingin mendapat gangguan kecil jika para pengunjung melewati bahu-bahu mereka. Sesekali diselingi percakapan antara petugas jaga dan peminjam buku, hal yang normal.

“Rumah” Paling Nyaman di Kampus (Abd Hamid Zainal)
Studio satu yang digunakan sebagai tempat menerima tamu atau hanya sekedar berbincang antarkru dulunya berlatarkan cat warna oranye dan hanya ada tulisan besar EBS yang warnanya mengikuti logo. Namun kini tulisan EBS terlihat lebih kecil dari sebelumnya, disisi kiri atasnya ditambahkan tulisan Since 1988 yang menandakan tahun lahirnya EBS. Menengok ke bawah dari tulisan tersebut,  terdapat tulisan On air didalam kotak persegi panjang berlatar biru dan The starter dengan warna tulisan putih yang berada didalam kotak berwarna merah. Kedua tulisan ini menandakan EBS adalah tempat belajar siaran bagi seorang pemula seperti saya. Masih dari sisi kiri, terdapat gambar kecil piringan hitam lengkap dengan simbol tangga nada dan tak lupa gambar hati.

Rumah Nalar (Rahmawati)
Ruang perpustakaan bercat biru yang terhubung dengan ruang tengah, dihuni oleh jejeran buku-buku genre penelitian, organisasi, dan pengembangan diri. The Sage Handbook of Qualitative Research, terjemahan How to Win Friends, dan Perahu Pinisi, adalah beberapa judul buku yang ada disini. Pekarangan rumah terpampang lewat jendela kayu perpustakaan yang memenuhi dinding selatan tembok, berhadapan langsung dengan pintu perpustakaan.

Melalui jendela perpustakaan, kulihat dua orang perempuan berbaju hitam putih baru saja turun dari motor matic. Mereka saling menatap, tertegun di tempat mereka memarkir motor. Salah seorang di antaranya menggaruk kepala, yang lain mendorong temannya untuk berjalan lebih dulu. Nyaris semenit berlalu dan mereka belum beranjak. Sesekali mereka menoleh ke kiri kanan, sibuk menguat-nguatkan diri, sampai akhirnya mereka berjalan lambat-lambat menuju pintu rumah. Aku hanya tersenyum geli.

Keseharian Seorang Penambal Ban (Irmawati)
Minggu siang itu, saya mendapati ia memakai pakaian yang senada, celana selutut, baju kaos, dan topi yang dikenakan, semuanya berwarna abu-abu. Melihat saya berdiri, ia memberikan kursi yang ia duduki dan mempersilakan untuk menempatinya lalu ia mengambil kursi lain.

Saya pun memulai percakapan dengan menanyakan apakah hari ini sudah banyak pengendara yang ia layani. Ia menjawab bahwa hari ini sedang sepi dan menjelaskan lebih lanjut bahwa jika hari hujan, ban kendaraan jarang ada yang bermasalah. Sambil mengobrol, Pak Irfan mengapit sebatang rokok dengan jari telunjuk dan jari tengah. Sesekali ia menghisapnya sambil terus melanjutkan obrolan.

Kurawat Senyum di Wajah Mereka (Fitriani Ulma)
Matahari dengan terpaan sinarnya menerjang wajah dan seluruh tubuhku. Siang yang cerah dengan udara yang begitu terik terasa. Hembusan angin yang bertiup meruntuhkan dedaunan yang kering. Lima belas menit dengan scooter merah yang kugunakan telah membawaku tepat di depan mereka yang sedang berkumpul menungguku. Mereka yang memenuhi ruang ingatanku akhir-akhir ini. Wajah-wajah yang selalu tersenyum ceria menari-nari di pelupuk mata.

Meraka adalah sekelompok anak yatim. Seorang anak yang tidak memiliki bapak yang harus benar-benar berjuang untuk tetap melanjutkan sekolah dan membantu ibunya bekerja dalam mempertahankan kehidupannya. Mereka yang membuat hidupku menjadi lebih bernilai. Mereka yang membuatku mampu melihat banyak orang khususunya anak yatim dhuafa yang membutuhkan uluran tangan. Mereka membuatku ingin berbagi.

Pasar Senggol di Simpang Jalan Cendrawasih (Baizul Zaman)
Di tempat  inilah lokasi Pasar Senggol yang selalu ramai dibicarakan orang itu berada. Disini harga barang-barang seperti pakaian dan pernak pernik lainnya relatif lebih murah dibandingkan dengan yang dijual di pusat-pusat perbelanjaan seperti Mall atau toko-toko besar yang banyak terdapat di ruas-ruas jalan besar Kota Makassar.

Jika kita melintas pada siang haridi tempat ini,sama sekali tidak tampak ada aktivitas orang-orang yang melakukan transaksi  jual beli. Kita hanya bisa melihat kios-kios kosong tanpa ada barang yang dipajang sedikit pun. Para pemilik kios juga tidak ada disitu. Suasananya pun tampak lengang. Kendaraan bebas berlalu lalang disitu. Saya sendiri, setiap saat melewati tempat itu selalu membayangkan, jika ada orang yang baru berkunjung ke Makassar dan hendak mencari pasar Senggol disiang hari, pasti ia akan kesulitan untuk menemukanya.

Kedai Kopi dan Ceritanya (Tismi Dipalaya)
Siang itu matahari sedang semangat-semangatnya bersinar. Seperti silet yang mengiris-iris kulit ia menyapa. Peluh pun tidak terhindarkan dan membuat saya dan seorang teman menyerah dan memilih untuk menepi. Dari arah Jl. Pengayoman motor kami berbelok ke arah kanan tepat sebelum restoran cepat saji berwarna merah dengan logo seorang lelaki tua berkacamata. Jalan masuk tampak lengang, beberapa orang tampak sedang mengatur deretan kursi dan meja di sebelah kiri jalan. Seorang lelaki berseragam satuan pengamanan di sisi kanan jalan sedang menghisap sebatang rok ok begitu dalam seperti sedang tenggelam di lautan pikirannya. Kemudian ia embuskan kepulan asap pelan-pelan seperti sedang membelai seorang bayi mungil, begitu hati-hati.

Pertemuan: Kelima
Waktu: Jumat / 4 Maret 2017
Pukul: 17.00 – 21.00 WITA
Tempat: Café Brewbrothers Panakukang, Makassar
Materi: Review Tugas (Observasi dan Deskripsi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s