Wawancara: Menjalin Informasi bagi Narasi

Posted: March 26, 2017 in Blogger Kampus, Blogger Makassar, Kelas Menulis Kepo, Reportase
Tags: , , ,
People-Philippines-91-e1449291699589

primer.com.ph (Seorang turis menggali narasi fotonya melalui talking to the locals)

Wawancara itu seni mengobrol asyik bin serius demi mendapatkan informasi. Strategi mengulik data dan fakta dari seorang sarjana lulusan Amerika tentu beda dengan residivis ahlul penjara. Wawancara merupakan ngobrol yang bertujuan. Tujuan penulis mewawancara setidaknya ada dua: mendapatkan data mengenai objek, dan membangkitkan suasana humanis dalam tulisan. Ingat, pewawancara-lah yang punya tujuan, bukan narasumber.

Sudah barang tentu, tujuan-tujuan itu ada yang bisa tercapai dengan mudah, ada juga yang tidak. Tergantung ruang lingkup informasi yang ingin diperoleh. Semakin dalam fakta dan pengakuan yang ingin diperoleh, semakin butuh waktu dan upaya. Usaha ini dalam rangka menjalin rangkaian obrolan tersebut menjadi cerita yang utuh dan mengandung pesan.

Menurut Daeng Ipul, ada dua jenis wawancara, wawancara terencana dan wawancara spontan. Tapi baginya, ia lebih menyukai wawancara spontan daripada harus menyelesaikan agenda wawancara yang terencana. Saya sepakat dengannya, karena gampang (hehe). Alasan pertama karena ketidakterdugaan itu sendiri. Kedua karena ada perasaan senang yang melambari kita jika berhasil mengulik kisah orang-orang biasa tapi dengan kisah yang luar biasa.

Langkah-langkah berikut bisa menjadi pedoman wawancara:

Identifikasi Narasumber

Mengkategorikan narasumber berdasarkan usia, jenis kelamin, kelompok sosial, pendidikan, dan lain-lain. Tiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda, belum lagi bila mereka memiliki status, strata sosial, dan jenjang pendidikan yang lumayan tinggi.  Tipsnya, siapapun narasumbernya, kuasai bahan dan persona. Kalau perlu, googling dulu sebelum sebelum melakukan proses wawancara. Dalam kata lain, konten pertanyaan itu gak g*blok amat dan tidak up to date.

Mewawancarai tokoh masyarakat juga tidak luput dari tantangan, meski tidak selalu. Katakanlah kategori ini mewakili figur-figur di pemerintahan atau kalangan akademisi. Pertama, perasaan superior mengetahui segala yang berkaitan dengan tema pertanyaan. Bilamana pewawancara tidak tegas mematuhi tema dan outline, maka bincang-bincang akan jatuh ke dalam jurang ceramah yang membosankan dan tidak berkesudahan. Kecuali kalau sudah saatnya makan. Nantinya, terlalu banyak data yang dikumpulkan.

Beda lagi saat mewawancarai narasumber dari kalangan warga biasa. Katakanlah kita ingin mengulik informasi dari seorang lelaki yang berpforesi sebagai petani atau nelayan misalnya. Kunci dari semuanya adalah membangun kepercayaan narasumber terhadap pewawancara. Bagaimana strategi agar si empunya informasi merasa nyaman memberikan keterangan dan bercerita apa saja.

Berikut beberapa strategi wawancara yang diberikan dalam kelas:

Menunjukkan minat untuk mengetahui alias ingin menampakkan sikap ketertarikan yang besar terhadap ilmu/informasi yang dimiliki si narasumber. Kalaupun kita sudah punya informasi awal di kepala, sebaiknya simpan saja dahulu. Berpura-puralah menjadi pandir alias orang yang tidak mengetahui itu sebelumnya.

Mengapa harus begitu? Logikanya, kita datang ke suatu tempat di mana masyarakat asli lebih paham masalah itu dibanding dengan kita yang hanya sehari dua hari menetap di sana. Masih mending jika sehari, tapi bila hanya sejam dua jam? Lebih baik kita menyerahkan langsung kepada ahlinya. “merekalah profesor sesungguhnya, karena mereka langsung belajar dari alam” Daeng Ipul menyarankan seperti itu untuk menekan ego pribadi menjadi lebih hebat dan superior daripada narasumber. Tentu tanpa meninggalkan sikap kritis, skeptis, dan berimbang.

Menyederhanakan bahasa menjadi seerat mungkin dengan pengetahun dan kapasitas narasumber. Apakah itu kosakata, data, argumen, maupun istilah-istilah lainnya yang mungkin tidak akan atau bahkan sulit dimengerti oleh narasumber.

Selalulah konfirmasi penanda-penanda (jarak dan waktu) jika melakukan wawancara. Misalnya, seorang Ibu keluarga korban diskriminasi kasus 1965 menjawab, “saya lahir tahun 1932.” Informasi ini boleh dipastikan kembali ke kelurahan. Tapi bila memang tidak ada yang yakin mengenai hal ini, dalam redaksi boleh ditulis begini, “Ibu X mengatakan ia lahir di tahun 1932 jauh sebelum Jepang masuk, meski saya sendiri tidak terlalu yakin sebab pihak kelurahan juga tidak bisa memastikan hal tersebut.

Selanjutnya, berikan pertanyaan terbuka, bukan pertanyaan tertutup. Ajukan pertanyaan yang bakal terus memancing narasumber untuk menjawab dan bercerita lebih banyak. Misalnya, saya akan mewawancarai seorang perempuan tua yang tinggal di kawasan hutan adat di daerah Fakfak. Di mana mereka menggantungkan mata pencaharian di situ. Saya ingin mengorek informasi tentang berapa penghasilan yang mereka terima.

Pewawancara: “berapa rata-rata pendapatan Ibu sebulan?”
Ibu: “tidak tahu, tapi cukup untuk makan sekeluarga dengan anak-anak.”

Pertama, pertanyaan awal tersebut tidak akan memberi jawaban pasti. Masyarakat Mbaham Matta –sebutan warga di Fakfak- yang mengelola hutan masyarakat akan menikmati panen Pala dua kali dalam setahun: Juni dan Desember. Hasil ini sangant bergantung dengan alam dan musim. Masyarakat selalu mengeluhkan hal ini, bunga Pala yang kering dan berjatuhan karena musim panas yang terlalu lama, atau menjadi tidak terbuahi karena musim hujan yang begitu panjang. Kedua, tidak relevan karena tidak bakalan ada istilah penghasilan rata-rata seorang pekebun yang bertahan hidup dari hasil hutan.

Barangkali, redaksinya bisa diubah jadi seperti ini: “bulan lalu dapat berapa bu?” atau “bu, panen bulan Juni kemarin dapat berapa?” Jawaban pertanyaan ini meski tidak mengambil kesimpulan apa-apa dari informasi rerata income, tapi setidaknya dapat memberikan gambaran dan perbandingan mengenai kondisi keuangan jika ditelisik lebih jauh. Intinya, tulislah keterangan yang bisa dipercaya dan valid. Meski jumlah valid itu hanya pada saat tertentu atau di waktu itu saja.

Bikin Outline Wawancara

Membuat kerangka daftar pertanyaan membuat proses wawancara menjadi efektif dan tetap pada fokus tema yang ingin digali. Sehingga outline ini berfungsi sebagai panduan dan koridor. Pengingat bagi penulis agar tidak melenceng-melebar dalam mengajukan pertanyaan.

Sebagai contoh, subjek yang ingin digali adalah bagaimana  perjalanan kesuksesan suatu kelompok masyarakat berjuang mengelola pertanian di lahan kering. Meski di situ ada sosok yang banyak berjasa dalam menginisiasi pemberdayaan petani, tapi kita harus ingat untuk meminimalkan dominasi personal sang tokoh dalam tulisan. Tidak bermaksud mengurangi apa yang sudah diupayakan si pelopor karena jasa mereka jelas tidak bisa terhapus. Keinginan kita adalah menjaga sikap konsisten pada tema dan tulisan yang utuh dan informatif. Hal yang harus selalu diperhatikan dalam wawancara tersebut jelas: pertanian lahan kering.

Di lapangan, outline ini bisa berubah. Bisa jadi lebih lebar dari sebelumnya. Contoh, ketika kita menemukan pernyataan menarik yang berpotensi besar dikaji lebih lanjut untuk menghasilkan satu lagi informasi utuh yang baru. Tipsnya, quote itu boleh kita simpan untuk kita tanyakan lebih jauh di lain waktu, atau sekalian mengganti topik dengan topik menarik tadi.

Riset Sebelum Wawancara

Manfaat lainnya, outline membantu kita merumuskan sudut pandang yang lebih segar dan baru bagi para pembaca. Jika ingin mewartakan profiling seorang sosok yang dicintai publik, sebaiknya banyak membaca dulu. Lakukan riset-riset mengenai kepribadian, aktivitas, dan kontribusinya bagi masyarakat. Jangan lupa, bacalah sejumlah hasil wawancara yang pernah dilakukan media-media sebelumnya untuk menghindari pertanyaan yang itu-itu melulu. Jangan sampai informan merasa bosan mengulangi menjawab hal yang sama berulang-ulang. Perulangan ini juga mesti dihindari karena pembaca jelas menginginkan hal baru.

Meski begitu situasinya bisa saja berbeda jika penulis menemukan narasumber yang karakternya supel dan luwes dalam menghadapi pewarta. Suatu waktu, Daeng Ipul hendak mewawancarai Agustinus Wibowo, penulis seri perjalanan Titik Nol, Selimut Debu, dan Garis Batas. Dari segi persiapan, ia sudah melakukan yang menurutnya terbaik. Mencari kumpulan hasil wawancara yang tercetak di berbagai media demi mendapatkan sudut pertanyaan yang fresh dan tajam. Lalu kemudian ia menuliskan beberapa poin penting pada selembar paper sebagai panduan.

Namun kemudian situasinya kemudian berubah. Pribadi travel writer yang menjelajah Asia selama lebih sepuluh tahun itu begitu cair sehingga infromasi yang tersampaikan juga mengalir seperti air. “poin saya belum sampai di situ, tapi ia (bahkan) sudah menjawab dua bahkan tiga pertanyaan yang belum saya ajukan” kenang Daeng Ipul.

Gunakan Pendekatan Humanis

Seperti yang kita jelaskan poin sebelumnya, bahwa sangat penting membangun kepercayaan diri narasumber. Salah satunya dengan melakukan pendekatan yang lebih manusiawi. Bukan hanya sebagai sekedar pemberi dan penerima informasi.  Tapi lebih condong kepada intensi (maksud) untuk menerima pengetahuan, menyatukan gagasan, dan berdiskusi secara sehat. Syaratnya, komunikasi yang baik ini membutuhkan minimal satu pihak untuk menjadi pendengar yang baik. Perlihatkan intensi sungguh-sungguh untuk mendengar. Kesediaan untuk mendengar sepenuh hati memungkinkan narasumber juga akan memberikan informasi dengan senang hati.

Contohnya, memuji makanan yang disajikan dan mengajaknya mengobrol sebentar tentang hal yang disukai dan lekat dengan kehidupan narasumber. Sampaikan itu dengan tulus dan rasa antusias yang tidak berlebihan. Beberapa tahun silam, saya pernah mengobrol tentang bagaimana kehidupan sehari-hari seorang keluarga pendatang daerah Bau-Bau di Fakfak. Istri pemilik rumah begitu ramah dan terkenal dengan masakan lautnya yang begitu gurih dan mewah.

Saya terus saja menyantap dan memuji makanan yang ia sajikan dengan melimpah di sebuah kain putih yang dibentangkan di ruang tamu. Sembari itu, pertanyaan dan diskusi kami mengalir dengan begitu lancar.

Peluh saya keluar tak tertahankan. Aroma pedas manis dari kuah kuning ikan merah segar berbumbu rempah Pala terus menyerobot penciuman saya. Senyumnya tersimpul senantiasa selama perbincangan. Matanya berbinar sambil sesekali menyilahkan saya untuk terus menambah porsi piring yang terus berkurang. Meski tidak yakin sepenuhnya, saya menyangka ia sumringah karena melihat saya begitu lahap, tidak berhenti mengunyah sambil cerita, dan tidak segan-segan mencicipi semua makanan yang terhidang (wajar, sudah gratis, enak pulak!) Di akhir saya pulang dengan beroleh informasi berharga dan perut yang terisi penuh.

Jalan lainnya bisa dengan menggunakan medium kedekatan dengan anak-anak. Seorang blogger, Andi Arifayani berhasil menggali sekelumit kehidupan Adi, seorang murid SD sekaligus tukang parkir di bilangan jalan protokol Makassar. Hasil wawancara membawanya menemukan nama-nama anak lain yang juga berprofesi seperti Adi.

Tanpa pendekatan yang baik ke anak-anak, ia mungkin tidak bisa menelisik lebih dalam dengan serangkaian wawancara ke teman-teman Adi yang lain di sekolah.  Hasil pendekatan yang baik ini menimbulkan refleksi mendalam bagi penulis bahwa “julukan Kota Layak Anak (KLA) bagi Makassar terasa sangat jauh jika melihat situasi Adi dan ratusan tukang parkir anak yang bekerja selepas menanggalkan seragam sekolah dan menantang terik siang setiap hari

Siapkan Alat Perekam dan Buku Catatan

Kedua media tersebut pastinya sangat membantu mendokumentasikan hasil wawancara. Entah itu nantinya berupa skrip hasil rekaman audio atau sekedar catatan di notes. Selain itu, kita tidak bisa selamanya mengandalkan ingatan untuk merekam bagian-bagian penting yang di garis bawahi pada kerangka informasi yang kita butuhkan. Tanpa bisa ditolak lagi, dua-duanya penting.

Namun, jika pendekatan awal ke narasumber tidak berjalan mulus, perangkat itu akan jadi pasung yang sempurna bagi informan untuk tidak mengeluarkan pernyataan dan fakta yang benar-benar berharga.

Belum lagi jika kita terkendala dengan waktu wawancara yang demikian sempit, pastinya kita membutuhkan tenaga dan strategi ekstra lebih untuk meluluhlantakkan ego narasumber agar bersedia memberikan informasi yang kita butuhkan. Tipsnya: lakukan adaptasi selekas dan sesegera mungkin untuk mencapai klik dengan informan.

Berusaha Sabar dan Fokus Menjalin Cerita Utuh

Lain lagi dengan laporan mendalam. Dalam mewartakan isu-isu sensitif seperti kaum minoritas dan terpinggirkan, waktu yang lebih lama nyaris mutlak dibutuhkan. Observasi, pendekatan kesana kemari, wawancara beberapa orang sembari terus melakukan konfirmasi keakuraran berita. Begitu kira-kira berulang-ulang. Olehnya, sering jenis laporan ini tidak muncul dalam hitungan menit, bisa sampai berhari-hari atau hitungan minggu.

Sajian-sajian yang bergizi ini bisa dilirik sejenak di situs berita Kumparan, Tirto, atau Mongabay Indonesia. Mereka punya tim yang fleksibel terhadap waktu agar tercipta sebuah laporan yang tidak asal menarik, tapi berpihak pada kekebenaran dan keakuratan. Sejalan dengan marwah ideal jurnalisme. Membaca berita yang lengkap dan akurat tentu bakal membuat netizen lebih jernih memandang persoalan.

Kisah Boro Suban Nicolaus (akrab disapa Om Niko) yang diwawancarai tim Mongabay Indonesia bisa jadi bahan bacaan permulaan. Jauh di jantung pedalaman hutan perawan Kalimantan, ia bersama orang-orang Dayak Punan menjaga hutan seluas 17.400 meter persegi dari amukan perusahaan sawit dan tambang batubara.

Satu dekade lebih dua tahun mereka telah menrawat hutan adat dengan mendirikan LP3M (Lembaga Pemerhati dan Pemberdyaan Punan Malinau). Dari tulisan tersebut, kita bisa membayangkan bagaimana wawancara dilakukan tanpa meninggalkan aspek-aspek manusiawi yang melekat pada diri Om Niko yang sejatinya bukan merupakan orang Dayak. Kampungnya di Flores bagian timur.

Poin pentingnya barangkali: tetaplah fokus pada tema. Tidak perlu terlalu detil tentang tokoh. Tetaplah bersetia pada tema yang dibangun. Sehingga pada nantinya, wawancara yang kita buat tidak menghamba pada tokoh. Tapi pada bagaimana membuat wawancara bekerja demi memenuhi hasrat kefokusan dan kekonsistenan tema yang telah dirancang sebelumnya.

Nah, selamat mewawancara!

Tugas: Mewawancarai sosok orang per-orang/lembaga komunitas/tema tertentu. Tidak perlu mendatangi orang-orang hebat. Carilah orang-orang/tempat-tempat biasa tapi dengan kisah tidak biasa yang punya potensi menginspirasi orang lain untuk berbuat hal positif yang sama. Ketentuan: 1) gunakan lebih dari lima orang narasumber sebagai usaha menyajikan cerita yang utuh, objektif, dan berimbang. 2) setidak-tidaknya, mengadakan observasi dan kunjungan selama seharian di tempat objek utama demi menghadirkan narasi yang menarik dengan deskripsi yang kuat. Deadline: Sebelum 7 April 2017

*Catatan Kelas Menulis Kepo IV
Waktu: Jumat, 17 Maret 2017
Pukul: 17.00 – 21.00 WITA
Materi: Teknik Wawancara
Pembagi Ilmu: Daeng Ipul, Lelaki Bugis, Kak Iqko, Tari Artika.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s