Pilih Raisa atau Marx?

system-change
climatejusticeactionnetwork.org

Ukuran jaman sekarang, pertanyaan itu tergolong bodoh. Rasa-rasanya tanpa riset mendalam dan menyeluruh se-Indonesia, hampir semua orang bakal memilih Raisa. Wajah jelitanya berada di level atas. Duh, bikin pangling. Tidak kalah penting, lantunan tembang-tembang cintanya syahdu aduhai. Lirik-liriknya siap melenakan segenap jiwa raga.

Sementara (Karl) Marx? apa untungnya memilih dia? Jika foto mereka disandingkan, maka kau akan mendapati Marx memiliki wajah suram-tegas-tanpa-senyum berumur lebih setengah abad. Berjanggut lebat putih keabu-abuan memanjang melewati leher. Sungguh terlalu kalau Anda mengira karya Marx adalah lagu galau. Maaf, hanya buku-buku. Buku-bukunya sungguh tidak berperasaan, susah dimengerti. Beda sekali dengan si Raisa.

Sebelum lebih jauh, saya menyarankan sebaiknya memilih Marx atau siapa saja yang membuat Anda selalu tertantang berpikir lebih jauh sekaligus dalam. Oke, saya paham, masing-masing Anda punya selera dalam musik. Tapi tidak untuk berpikir dan bertindak independen. Semua manusia memiliki kemerdekaan sejak awal, kebebasan dalam segala hal, termasuk berpikir. Rene Descartes jauh-jauh hari sudah mengutarakan pandangan filosofisnya yang terkenal, “Aku berpikir, maka Aku ada.”

Apa perbedaan besar di antara mereka? Perbedaan yang kontras. Mari kita bandingkan secara sepintas apa yang populer dari keduanya, Kakak Raisa dan Kakek Marx. Kita mulai dengan lirik Raisa “Kali Kedua”:

Jika wangimu saja bisa memindahkan duniaku | Maka cintamu pasti bisa mengubah jalan hidupku | Cukup sekali saja aku pernah merasa, betapa menyiksa kehilanganmu | Kau tak terganti kau yang slalu kunanti | takkan kulepas lagi

Pegang tanganku bersama jatuh cinta, kali kedua pada yang sama | Jika senyummu saja bisa mencuri detak jantungku | Maka pelukkan mu yang bisa menyapu seluruh hatiku | Cukup sekali saja aku pernah merasa betapa menyiksa kehilanganmu | Pegang tanganku bersama jatuh cinta | Kali kedua pada yang sama (Satukan hati, tanpa peduli) | Kedua kali kita bersama lagi |

Perhatikan baik-baik liriknya. Cermati kejanggalan berpikirnya. Kemandirian adalah sikap naluriah manusia untuk menjadi merdeka secara pribadi. Sementara lirik di atas memuja ketidakmandirian seorang perempuan muda yang disetir gumpalan dan buncahan penuh perasaan yang tertahan. Seakan-akan itu sah-saha saja dan boleh dilakukan seluruh umat manusia Indonesia. Duh kakak Raisa, apa sih yang kamu perbuat?

Imaji saya membayangkan sesosok patah hati yang hanya berbaring saja di kamar. Menangisi nasib putus cinta yang merundung fisik dan perasaannya. Seorang perempuan yang sedang dihadapkan pada kembimbangan tanpa batas. Ruang yang melingukupinya barangkali luas, tapi ia menyempitkan dirinya untuk tidak ke mana-mana. Tidak bergerak secara fisik. Waktu jadi serasa melambat sekian kali lipat. Dia hanya mengikuti hatinya yang terus bergejolak tidak menentu. Demi merasakan betapa pedihnya rasa yang ia jalani saat itu.

Liriknya mengajak pendengar secara total tidak berpikir dan mengikuti perasaan semata. Pada ujungnya, sosok perempuan dan penikmat lagu ini (juga lagu-lagu yang senada) akan terbawa dalam kondisi baper (bawa perasaan) yang tidak kunjung reda.

Seolah-oleh hanya itu satu-satunya permasalaan yang terjadi dalam struktur otaknya yang begitu canggih. “ini merupakan reduksi (sosial) terhadap segala permasalahan yang sedang mendera kita semua” terang Nurhady Sirimorok, seorang peneliti dan fasilitator masyarakat. Selepas magrib itu, ia berbagi mengenai pengantar Analisis Sosial.

Lebih jauh, jika ditilik dari sudut pandang gender, sosok perempuan seperti berada dalam kungkungan laki-laki. Berada di level bawah dalam hirarki struktur sosial keluarga dan masyarakat. Tidak memiliki keputusan sendiri, dan tidak berdaya. Segala yang terlontar dari mulutnya adalah buah gejolak dan teriakan responsif dari hati dan perasaannya sendiri.

Seandainya saja sosok perempuan tersebut serius memikirkan setiap tindakannya dan ucapannya, maka otaknya akan menstimulus melakukan gerak aktif dengan akal sehat. Bukan tinggal di kamar dan menangisi hidup yang tidak adil.  “Inilah kampanye besar-besaran menuju kedangkalan berpikir kritis dan independen terhadap diri sendiri” katanya menyimpulkan.

Sekarang, mari kita beralih ke Kakek (Karl) Marx. Seluruh teori yang ia gulirkan sepanjang hidupnya berdasarkan apa yang ia yakini, “manusia membuat sejarahnya sendiri, manusia adalah pencipta itu sendiri.” Karyanya dibincangkan hampir di bangku akademik hingga pemuja klenik Marxisme. Baginya, manusia adalah makhluk bebas yang mampu menentukan nasib sendiri. Berani berpikir bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Pada intinya, terlepas dari aura kerisauan level dewa lirik Raisa, kakek Marx mengajak kita semua (tidak berhenti) berpikir. Oke, sederhana begini. Ini tentang dua pilihan: memilih berpikir atau memutuskan tidak berpikir.

Lantas, mari kita renung-pikir sejenak. Mengapa perasaan tersebut begitu kuat mendominasi pemikiran anak-anak muda sekarang?  Jika ditarik waktu ke belakang, pada era Orba rezim Soeharto, Menteri Harmoko pernah melarang lagu-lagu sejenis beredar di Indonesia. Tidak sesuai dengan nilai-nilai moral lima sila Pancasila, dalihnya begitu.

Mari kita ambil contoh bait “Hati yang Luka” Betharia Sonata. Terdapat lirik seperti ini: Liahtlah tanda merah di pipi | Bekas tapak tanganmu | Sering kau lakukan | Bila kau marah menutupi salahmu. Lalu dipungkaskan: “pulangkan saja Aku pada ibuku atau ayahku,” dan seterusnya. Sumpah. Lagunya bikin sedih merintih. Dilema hati pasangan hendak bercerai.

Pemerintah saat itu melarang dengan alasan kasus-kasus perceraian akibat KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) saat itu tidak sesuai dengan nilai-nilai keluarga bahagia ala Pancasila. Kecenderungan seperti itu tidak boleh muncul ke permukaan sehingga berpotensi merusak butir-butir pengalaman Pancasila. Sialnya, lagu jenis ini laris. Dian Piesesha lebih hebat lagi, lagu syahdunya “Tak Ingin Sendiri” menembus penjualan dua juta kopi. Jumlah yang gigantis mengingat waktu itu masih edisi rekaman kaset. Lagunya memang bagus. Saya tidak tahan mendengarnya berulang-ulang #duh.aduh.ikut.baper.

Kak Dandy yang meraih master dari ISS (Institute of Social Studies) Deen Haag, menilai, semasa itu pemerintah tidak fokus pada masalah yang sebenarnya. Inititusi formal selalu terjebak kegagalan berfokus, ‘gagal fokus’. Atau pura-pura tidak tahu? Mungkin saja. Maksud hati memberantas pelanggaran norma, tapi menerapkan solusi yang tidak mematikan akar masalahnya.

Lagu-lagu sendu yang banyak diciptakan saat itu hanyalah merupakan akibat sebuah skema besar yang bekerja, dalam artian ada struktur sosial yang berlaku. Tidak kentara namun bekerjanya giat, tangkas, seringkali invisible, memberikan konsekuensi besar (seringkali negatif) bagi masyarakat, serta sangat efektif melumpuhkan target tujuannya. Perilaku gagal fokus ini seringkali membuyarkan pikiran orang-orang dari masalah krusial itu sendiri. Sehingga gejala-gejala yang tampak di masyarakat (di permukaan) langsung dipandang sebagai masalah itu sendiri.

Dalam kasus pelarangan lagu cengeng, setelah upaya telisik, rupanya ruang ekspresi menyuarakan kepentingan publik disumbat demi kelanggengan rezim. Akses ke medium aspirasi masyarakat dikungkung dari pelbagai sisi. Mimpi mewujudkan negara yang lebih demokratis nyaris pupus. Pada akhirnya, wadah penyaluran teralihkan ke hal-hal pribadi dan perasaan. Lahirlah rupa-rupa ‘lagu cengeng itu’. Begitu kira-kira penjelasan kak Dandy.

Posisi-Posisi dalam Struktur Sosial

Skema yang dimaksudkan adalah bangunan struktur sosial. Struktur lebih besar yang menyebabkan gejala-gejala dan faktor-faktor itu muncul, bergulir, dan berkembang. Lazimnya, pertanda-pertanda tersebut hanya merupakan hilir dari duduk perkara sebenarnya, sebab bisa jadi variabelnya lebih dari satu. Demi mengurai persoalan sebenarnya, pada tahap inilah penting mengurai cara-cara kerja struktur sosial dan sistem yang bercokol di dalamnya. Sehingga, kita bisa mengerti bagaimana sesuatu gejala itu muncul dan berkembang di sebuah kelompok masyarakat.

Oke, cukup. Kita sudahi saja acara ghibah kakak Raisa sampai di sini. Demi menghentikan situasi pembenaran terhadap baper massal diakibatkan lagu-penyembah-perasaan tentu bukan dengan memboikot karya Raisa. Tapi menelisik gejala-gejala yang tampak, menelisik satu demi satu struktur beserta aturan dan normanya, lalu menyiapkan argumen atawa strategi. Selebihnya, kita tengok sepenggal wacana mengenai ‘Analisis Sosial.’

S__27017219
Nurhady Sirimorok menjelaskan skema Struktur Sosial

Secara ringkas, Struktur Sosial merupakan pola interaksi yang bertahan cukup lama individu, masyarakat, dan hubungan antar keduanya. Dalam grafik berikut dijelaskan bagaimana kaitan organisasi/institusi/lembaga dan aturan yang bercokol di dalamnya. Negara misalnya, institusi ini memiliki mandat untuk mengurusi seluruh warga negara tanpa kecuali. Menegakkan marwah demokrasi memerlukan aturan umum bagi semua orang. Apa itu? Hukum (aturan legal). Aturan positif ini bersifat memaksa dan mengikat.

Jalan untuk menegakkan hukum ialah dengan membuat regulasi di semua bidang, menjalankan pendidikan, dan membuat sosialisasi. Ada tapinya, dengan kekuatannya pula, hukum bisa ditegakkan dengan jalan: kekerasan dan tindak represif. Jika aparat penegak hukum kadangkala berlaku berlebihan, memang sudah begitu cara kerjanya. Kecuali pemerintah menghendaki adanya reformasi besar-besaran di institusi TNI dan Polri menjadi lebih humanis dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Begitu seterusnya.

Struktur sosial yang timpang ini menjadi penyakit yang sulit terdeteksi, tidak disadari, dan oleh karenanya harus membuat orang lain menyadarinya. Kesadaran berpikir dan bertindak merdeka, melihat persoalan secara kritis-jernih dibutuhkan untuk menyingkirkan sakit menahun tersebut. Kak Dandy membagi tiga posisi kunci menelisik struktur sosial.

Beritahu saya di mana dan bagaimana seseorang, atau kategori individual apapun, berlokasi di dalam masyarakat, dan akan saya beritahu apa yang kemungkinan besar dia/mereka lakukan” Franco Crespi.  Franco percaya jika seroang individu yang terbentur dengan struktur sosial di suatu daerah, ia tidak akan bisa melakukan apa-apa. Tinggal pasrah saja menuruti kemauan dan sistem yang terjadi di dalam struktur. Intinya, sangat mudah menebak kebiasaan dan perilaku seseorang, lihat saja siapa kawannya dan di kelompok mana ia berteman.

Tidak ada masyarakat, hanya ada individu-individu” Margaret Tatcher. Kenyataannya, kondisi sosial ekonomi masyarakat Eropa memang lebih tinggi dibanding kontinen lain. Tidak mengherankan ketika Tatcher tidak percaya adanya kekuatan masyarakat yang bisa mengubah kekukuhan sistem. Tatcher begitu yakin dengan kualitas dan kekuatan individu-individu yang brilian.

Manusia membuat sejarahnya sendiri, manusia adalah pencipta itu sendiri” Karl Marx. Satu kata, Marx percaya dengan kekuatan manusia seluruhnya bisa meruntuhkan sistem yang tidak diinginkan. Juga mendesakkan hal yang diinginkan pada sistem. Kemerdekaan manusia, berpikir dan bertindak, jadi yang utama pada posisi ini. Tidak akan ada struktur lain yang boleh lebih hebat dari kekuatan para reformis. Intinya, Marx selalu yakin dengan kekuatan revolusi dapat mengubah segalanya.

Outsourcing dan Uang Panai’

Setelah mengetahui ketiga posisi tadi, jelaslah Indonesia sejauh ini masih di level Franco Crespi. Struktur sosial paling tinggi bukan berada di pihak pemegang aturan tertinggi: hukum negara. Melainkan di tangan struktur ekonomi pasar. Penuturan kak Dandy, pada skema ekonomi pasar ini memiliki kekuatan tidak tertebak dan tidak kasat mata, tapi mempengaruhi kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Di sinilah kakak Raisa terjebak berkarya mengikuti hukum ekonomi pasar.

Semua orang tunduk pada kepentingan ekonomi pasar. Struktur inilah yang mendominasi semua aktivitas keseharian, baik politik, sosial, pendidikan, budaya, pemerintahan, dan lain-lain. Cara kerjanya tidak tampak tapi cakupannya memenuhi hampir semua aspek kehidupan manusia.

Situasinya, kekuatan ekonomi pasar menunjukkan sikap sok paling berkuasa di Indonesia dari dulu. Enggan ataupun segan, mau tidak mau, kebutuhan materil merupakan keharusan dalam mempertahankan hidup. Gurita kepentingan ekonomi kapitalistik yang membelenggu negara. Kebutuhan material selalu harus bisa terpenuhi, jika tidak ingin mati sia-sia. Negara terpenjara karena itu.

Taruhlah praktek perekrutan tenaga outsourcing sebagai contoh. Diakui atau tidak, hal ini menjadi momen pelepasan tanggung jawab perusahaan pada tenaga kerja luar. Tenaga, waktu, dan fisiknya dikuras untuk memenuhi kestabilan beban kerja di perusahaan. Di lain pihak, SDM yang terserap hanya dianggap sebelah mata karena tidak terikat langsung dengan perusahaan karena pelibatan perusahaan pihak ketiga yang merekrut mereka. Meski di tengah gegap gempita profit melangit yang diperoleh, perusahaan masih tetap saja mengambil banyak keuntungan demi mengkuhkan hukum ekonomi pasar.

Jalan satu-satunya ialah mendesakkan kekuatan masyarakat/pekerja agar bersatu merongrong pemerintah menghempaskan struktur ekonomi pasar di bawah kekuatan daulat masyarakat banyak dan hukum formal. Penyembahan terhadap keuntungan sebanyak-sebanyak pengeluaran sekecil-kecilnya harus diberi porsi yang kecil bahkan nol.

Ilustrasi menarik lainnya ialah Uang Panai’. Ketika kak Dandy bertanya spontan, “apa struktur yang mengungkung banyak anak-anak muda Bugis-Makassar? Kami semua yang hadir serentak mengatakan “budaya Uang Panai” sambil setengah berteriak diselingi senyum simpul malu-malu. Semua harus ditilik, dicermati mengapa bisa hal ini menahun dan menimbulkan kekhawatiran berlebihan?

Institusi masyarakat terbagi dalam empat, yakni keluarga, komunitas, agama, dan sekolah. Masing-masing memiliki norma dan aturan yang berlaku. Ternyata, dari penjelasan kak Dandy, ada norma yang terterabas demi menghidupkan budaya. Norma agama menginginkan kemudahan dalam pernikahan, termasuk Uang Panai’ yang tidak diperberat dan diada-adakan. Namun, norma komunitas begitu kuat mengakar. Penjelasan terbaiknya barangkali ada pada sistem kekerabatan Bugis-Makassar. Gengsi, strata, dan posisi keluarga haruslah dipertukarkan secara setara. Bilamana ada pria yang hendak meminang gadis Bugis dari status sosial tinggi, lewati dulu tembok besar bernama: budaya komunitas.

Perempuan moderat-moderen nya sekalipun, suka tidak suka harus mengakui kekalahannya dan tunduk pada keunggulan norma komunitas. Keluarga dipertaruhkan. Ijinkan lagi saya meminjam Franco Crepsi, kita tidak bisa bergerak bebas lagi ketika sudah berurusan dengan struktur sosial. Perilaku maupun keputusan individu tahap ini akan ditentukan oleh masyarakat dan komunitas di mana manusia bertumbuh.

Kebutuhan manusia Bugis-Makassar barangkali merupakan contoh dari konsep modal sosial ala Bourdieu. Uang Panai’ adalah sistem pertukaran dan perlambang yang menunjukkan status sosial yang tinggi. Sekaligus menegaskan bahwa ia bukan dari kelompok masyarakat rendahan. (Baca lebih lengkap tiga buku ini: 1) Pierre Bourdieu: Menyingkap Kuasa Simbol (Fashri Fauzi, Jalasutra, 2014); 2) Pierre Bourdieu: Key Concepts (Michael Grenfell ed., Acumen Publishing Limited, 2010), dan 3) A Critical Reader (Richard Shutsterman, Blackwell Pubslishers, 2000)

Barangkali, penjelasan menjaga tradisi Uang Panai’ bisa ditemukan juga lewat konsepi Pierre Bourdieu. Tentang bagamaina memahami sebuah realitas sosial dalam kacamata “modal sosial”. Robert Putnam meringkas bahwa “modal sosial” merupakan sumber tindakan kolektif yang dirawat oleh masyarakat. Menjaga sebuah kebiasaan dalam lingkaran komunitas budaya.

Bukunya berjudul Distinction: A Social Critique of the Judgment of Taste (Harvard University Press, 1979) menerangkan seseorang memilih bagi dirinya sendiri ruang sosial di kehidupannya, yang mana posisi itu (yang akan terus menerus dipertahankan) akan perlahan menggambarkan status dirinya dalam masyarakat lain sekaligus menjauhkan dirinya dari kelompok yang lebih rendah. Gagasan lebih luas dari Bourdieu ini dikenal dengan stratifikasi sosial atau class fractions  yang bakal menentukan preferensi masyarakat dan kaum muda: modal sosial, modal ekonomi, dan modal kultural.

Ketidakberterimaan Masyarakat

Permisalan lanskap kota juga menarik. Sebuah kota modern yang dipenuhi oleh ruko, mall, dan real estate –kelas menengah dan kelas atas- tidak serta merta bisa jadi begitu saja. Atau bisa saja dikatakan lanskap ini hadir sebagai akibat massifnya dampak globalisasi terhadap menguatnya ekonomi masyarakat. Tidak, tidak begitu. Bagi kak Dandy, ada lembaga dalam struktur sosial yang memainkan peran lebih untuk mewujudkan kota yang demikian.

Seperti yang tadi kita cermati dalam skema, ada sekelompok orang/sistem dalam struktur sosial ekonomi pasar yang menginginkan wajah kota modern. Mereka menganggap geliatnya ekonomi kota dan kekuatan kota berada di balik lancarnya ekonomi kapitalistik. Uang, uang, dan uang. Sialnya, mereka menang, karena mereka kebetulan menyandera struktur politik pemerintahan. Pemerintah ada di bawah tekanan ekonomi pasar dan kroninya. Di lain pihak, elemen warga yang menginginkan hadirnya ruang publik harus pasrah di bawah tekanan kampanye gigantisme kapitalistik.

Presentation1

Abraham dan Van Schendel (2005, ed) dalam “Illicit Flows and Criminal Things” berusaha menjelaskan gejala yang timbul ketika sebuah struktur sosial membentur dan mengalahkan kedaulatan dan kepentingan rakyat. Saat ketika warga menjadi liyan di negeri sendiri. Teori konsep ini dinamakan “(Il)Licitness dan (Il)legality”. Licitness secara singkat merupakan derajat keberterimaan sebuah tindakan sosial.

Ketika legal (pemerintahan/otoritas politik sah/hukum positif) bertemu dengan keberterimaan masyarakat (licit) akan menghasilkan negara ideal. Sebaliknya akan muncul gerakan-gerakan bawah tanah, masalah perbatasan, atau konflik Raja-Raja lokal/Keraton versus negara jika sesuatu yang tidak sah menurut otoritas resmi pemerintahan (illegal) namun diterima oleh masyarakat (licit).

Hal kontras akan kita lihat bilamana otoritas sah (legal) mendapatkan ketidakberterimaan (illicit) dari warga negara, maka barangkali yang sedang terjadi adalah kapitalisme dan kroninya sedang menggerogoti pemerintahan. Atau sebut saja negata itu failed. Situasi paling parah (anarki) akan terwujud jika illegal (pemerintahan/otoritas tidak sah) berhadapan dengan illicit (ketidakberterimaan) masyarakat. Tinggal tunggu akhir dari sebuah struktur.

Dalam pengantarnya, mereka tertarik untuk menyigi ruang-ruang politik yang timbul akibat interkasi otoritas pemerintahan yang formal dan otoritas sosial yang tidak resmi. We are interested in identifying the political spaces emergent from the interaction of formal political authority and non-formal social authority”

Sebut saja para pelintas batas di daerah perbatasan Kalimantan Barat. Riset lapangan sepanjang 1998 hingga 2001 oleh Reed L. Wadley dan Michael Eilenberg rentang 2002-2003 menunjukkan ketiadaan hukum, otonomi, kesenjangan pembangunan dan ekonomi membuat tindak kriminal terorganisasi (gangsterisme) dan perlawanan di luar jalur hukum merebak luas. Keterpisahan orang-orang di perbatasan membuat gejolak-gejolak tersebut menjadi licit, dapat diterima.

Pergerakan komoditas dan manusia sejatinya melanggar hukum karena melabrak norma hukum formal dengan segala sistemnya. Tetapi, mereka menerima ini sebagai sesuatu yang lumrah dan diterima. Mengutip Wadley dan Eilenberg they are quite acceptable, licit, in the eyes of participants in these transactions and flows.”

Menulislah: menyuarakan kebenaran

memang berat menulis dengan sisi pandang analisa struktur sosial.ungkap kak Dandy lugas. Dalam kata lain, tulisan yang kita sajikan mencakup pendedahan terhadap masalah sebenarnya. Kegiatan ini akan membedah dan mengkritik struktur. Tidak hanya menguraikan panjang lebar apa-apa yang tampak di depan mata. Tidak hanya mengkopi wacana mentah-mentah yang disebarkan para elit . Namun lebih jauh menelisik gejala hingga pada akhirnya jawaban dan ‘kebenaran’ itu muncul secara jelas.

Butuh riset mendalam, data-data yang mendukung, dan tentu saja wawancara. Hal ini membutuhkan riset mendalam dan data yang lebih banyak sekaligus beragama. Kak Dandy menyarankan proses menulis setidaknya melewati proses triangulasi data. Dalam dunia akademik, kegiatan ini merupakan keharusan dalam penelitian kualitatif (sosial kemasyarakatan).

Butuh pengetahuan yang penting dalam proses menulis. Jauh lebih penting lebih penting adalah keterampilan. Semuanya harus dilakukan secara simultan. “sembari menambah pengetahuan, lakukan praktik terus menerus hingga keterampilan itu datang dengan sendirinya” kak Dandy mengakhiri pertemuan dengan ‘memaksa’ kami terus menulis agar tercipta kebiasaan dan keterampilan.

Sehingga pada ujungnya, kita bisa merdeka memilih, antara Raisa atau analisa? Sebab ini soal berpikir atau tidak berpikir. Terserah, mau pilih mana.

***Catatan Kelas Menulis Kepo Angkatan IV***
Pertemuan ke: 9 (Sembilan)
Waktu: Jumat/ 24 Maret 2017
Pukul: 17.00 – 21.00
Materi: Analisis Sosial
Tempat: Brewbrothers Café, Pengayoman Makassar
Pembagi Ilmu: Nurhady Sirimorok

Advertisements

One thought on “Pilih Raisa atau Marx?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s