Jangan Anggap Remeh Diskalkulia

dyscalculia-1024x449 (1)

Nyaris setiap hari di sekolah, Dinda* bermain dengan sketch book miliknya dan pensil khusus gambar sketsa. Kira-kira dua puluh lima halaman sudah berserakan ke mana-mana. Beberapa lembar masih bersisa dengan karakter bikinan-nya sendiri.

Anak ini cukup ‘komik’ di antara tiga belas siswa kelas delapan yang lain. Pembawaannya riang sepanjang hari. Tak pernah berhenti mulutnya cerocos apapun. Termasuk saling membalas serapah, berdebat sengit dengan teman laki-laki, dan bergosip dengan sesamanya siswa perempuan.

Tubuhnya besar menjulang. Kacamatanya membantu mengurangi minus yang ia derita. Sekaligus tempat berlindung yang sempurna bagi matanya yang bulat hitam dan relatif besar dari teman-temannya. Hal yang menurut saya istimewa, ia bisa tetap enjoy menggambar sambil ngobrol atau lempar makian dengan teman-teman di depan dan sebelah kiri-kananya.

Meski begitu, ia akan terlihat lesu dan tidak fokus ketika mata pelajaran matematika dimulai.  Ketika ia mulai stress, ia mulai sedih sendiri. Ketika tiap jeda, saya bertanya apakah mereka paham atau tidak, hanya Dinda memasang wajah sedih.

“Nda mengerti, pak” jawabnya sambil menjatuhkan wajahnya ke bawah dan menggelengkan kepalanya. Ketika saya ulangi lagi setelah penjelasan yang lebih sederhana, saya kembali bertanya.

“belum mengerti” jawabnya dengan suara disedihkan. Ia ulangi lagi jawaban itu hingga tiga kali tanpa saya tanya. Seakan sebuah pengakuan bahwa ia memang tidak bisa. Saya tak bisa berbuat apa-apa.

Setiap kali itu pula, berulang kali Hakima yang bangkunya berada tepat di depannya mencoba menjelaskan. Anak ini memang jadi partner in crime Dinda. Tapi selalu siap memberikan yang terbaik jika Dinda (kadang hanya Dinda sendiri) tidak mengerti pelajaran yang disajikan, utamanya Matematika.

Dalam satu pertemuan di kelas, saya mendampingi mereka mengerjakan matematika dalam bentuk project. Sudah tiga puluh menit anak itu duduk menekuri jangka, busur derajat, kertas karton, dan spidol berwarna. Ia duduk di lantai kelas bersama teman kelompoknya yang lain.

Meski begitu, ia juga tidak tahu bagaimana dan akan diapakan semua alat-alat itu. Ia cuma memegang peralatan tersebut dan siap membantu jika dibutuhkan. Pada akhirnya, ia hanya bertugas membuat garis lurus, dan menebalkan garis-garis menggunakan spidol pada koordinat rotasi yang telah ditentukan. Pekerjaan utamanya telah selesai, Dinda, nama anak ini, hanya kebagian menyempurnakan apa yang sudah diselesaikan.

Menyaksikan Dinda yang nampak mulai serius mengerjakan project matematika di kelas, teman sekelompok menanggapi dengan canda, “nda seperti Dinda yang kami kenal. Dinda itu harusnya berkutat dengan pensil dan buku gambar.” Selebihnya mengiyakan sambil senyum dan menggoda Dinda. Di kepalanya, masih berputar-putar mengenai konsep derajat negatif-positif dan arahnya ke mana jika clockwise atau anti-clocwise.

Ia tidak bisa mengerti konsep derajat dan arah dengan baik dan sempurna. Jika teman-temannya mengerti dalam dua hingga tiga kali ilustrasi. Ia butuh waktu lebih banyak. Jika penjelasan saya yang berulang-ulang tidak juga bisa dipahami, maka ia akan pasrah tetap gagal memahami.

Sebulan ini, saya kebetulan dipercaya menangani persiapan international test yang akan diadakan di sekolah. Test ini dibuat sedemikian rupa menguji kemampuan matematis anak, utamanya –sekitar 85 persen- konsep bilangan. Bahkan termasuk pelajaran ketika mereka kelas enam di bangku SD, mengurutkan bilangan pecahan terkecil hingga terbesar. Masalah inipun, Dinda kebingungan. Raut wajahnya yang dibuat ‘disedih-sedihkan’ –bukan Dinda namanya kalau tidak bisa selalu nampak gembira di hadapan teman-temannya- menatap saya. Ditatap seperti itu, saya jadi merasa kasihan.

Jelas ia khawatir nilainya jeblok. Bahkan, pada sesi terakhir, soal akan didikte dan peserta menjawab soal dalam waktu sepuluh hingga dua puluh detik. Tertulis dengan terang saja, Dinda kebingungan, apalagi jika dibacakan. Ujian ini memang terstandar dari sono-nya. Ketidakmampuan anak sudah jelas akan terbaca di mana letaknya. Sebulan menangani kelas delapan, saya menduga Dinda terkena diskalkulia.

“iya, Dinda itu cukup bermasalah dengan mata pelajaran hitung-hitungan, matematika dan termasuk sains fisika.” Erwin, guru pendamping khusus di kelas menjelaskan kondisi Dinda pada saya.

“tapi, cuma itu saja. Yang lain (pelajaran non-matematik) ia bisa mengerti dengan baik.” Ia menambahkan, barangkali saja anak ini memang malas untuk berurusan dengan matematika. Mengambil jalur aman dengan tidak pernah berusaha sebaik mungkin untuk mencapai skor KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum).

Tetap pada dugaan awal, saya mengira Dinda diskalkulia. Dengan bukti bahwa ia mengalami directional confusion (kebingungan arah) dan kebingungan konsep bilangan serta operasi-operasi dasar matematis. Ringkasnya, diskalkulia adalah kesulitan belajar matematika atau mengerjakan soal hitungan.

Gejala-gejala Diskalkulia

Defenisi cukup komprehensif mengenai diskalkulia dijelaskan Department for Education and Skills (2001) di Inggris bahwa diskalkulia merupakan kondisi yang mempengaruhi kemampuan siswa memeroleh keterampilan matematis. Murid dengan diskalkulia kemungkinan memiliki kesulitan memahami konsep-konsep bilangan, kekurangan intuisi terhadap bilangan, dan mengalami masalah mempelajari angka-angka dan prosedur-prosedur. Meski anak dengan diskalkulia menjawab dengan benar atau menggunakan metode yang tepat dalam mengerjakan soal, mereka melakukannya secara mekanis tanpa disertai kepercayaan diri.

Padahal tanpa pengetahuan matematis yang memadai, anak dikhawatirkan tidak cukup tangkas dan tanggap dalam sejumlah aktivitas keseharian. Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya anak-anak jelas akan membutuhkan kemampuan mengelola uang, mengukur satuan berat dan waktu, dan persen. Ini mensyaratkan siswa memiliki keterampilan estimasi dan kecakapan berhitung yang terdapat dalam pecahan, pengukuran, dan aljabar sederhana.

Meski konteks terhadap pelajaran tersebut diturunkan ke dalam masalah yang sangat nyata di sekelilingnya, siswa harus mengerti konsep abstrak agar bisa memahami langkah-langkah dan prosedur logis dari matematika. Sesegera mungkin, pendidik pasti akan mengubah itu ke dalam bentuk simbol. Plus dengan banyak peraturan dan prosedur yang harus dipenuhi. Kemampuan transfer nyata-abstrak inilah yang cukup lambat terjadi pada anak dengan diskalkulia.

Ketika bidang ini pertama kali diteliti, kala itu tahun 80-an. Joffe menyebutkan 61 persen anak-anak pengidap diseleksia (lemah bahasa) juga lemah dalam matematika. Minimnya kesadaran anak terhadap bahasa menjadikan mereka juga lebih kebingungan terhadap bahasa simbol matematika. Waktu itu, banyak masih diperdebatkan mengenai keilmiahan studi yang dilakukannya. Tapi, semua orang berasumsi bahwa siswa yang lain, 39 persen sisanya, anak diseleksia bebas diskalkulia.

Penelitian Kosc (1986) menyebutkan diskalkulia sebagai gangguan fungsi otak (brain abnormalities). Kekacauan struktur terhadap kemampuan matematis yang berasal dari genetis atau bawaan bawaaan malfungsi pada salah satu bagian otak, tanpa disertai gangguan fungsi mental secara umum.

Setelah 20 tahun berlalu, beberapa penelitian poluler yang menyebutkan bahwa tidak hanya anak dengan diseleksia yang bisa terkena dampak diskalkulia. Tapi murid normal sekalipun bisa mengamali diskalkulia. Ini yang membuat saya menduga Dinda mengalami indikasi diskalkulia.

Kenyataannya masih sangat sedikit yang kita ketahui mengenai diskalkulia, penyebabnya, maupun metode penanganannya. Anak diskalkulia murni (tanpa diseleksia) yang memiliki ‘kelemahan’ terhadap bilangan, akan memiiki kognitif dan kemampuan bahasa setara dengan anak normal, dan bahkan terhitung istimewa dalam pelajaran non-matematis.

Jangan Salah Langkah

Matematika punya sifat naturalnya sendiri. Pelajaran ini dibangun dalam struktur otak anak berdasarkan berdasarkan apa yang sudah ia ketahui sebelumnya. Matematika secara logis membutuhkan rentetan pengetahuan yang tidak boleh melangkahi satu sama lain. Misalnya, siswa harus menguasai sistem persamaan linear sebelum melangkah pada materi fungsi linear. Tidak bisa tidak. Oleh karenanya, membimbing anak-anak sampai memenuhi persyaratan dalam satu materi itu sungguh penting. Pendampingan sebaiknya dilakukan hingga tuntas dengan mempertimbangkan level pencapaian siswa.

Bilangan dan aritematika merupakan pokok materi awal bagi hampir semua siswa ketika mempelajari matematika. Keduanya juga merupakan konsep paling sering yang bisa jadi akan ditemui manusia sepanjang hidupnya. Jika dalam tahap ini seorang murid gagal, maka kondisi ini akan menentukan apa yang selanjutnya terjadi. Tahap berikutnya menjadi timpang, secara akademik dan emosional.

Di sekolah terdapat Ruang Khatulistiwa (bukan nama sesungguhnya) di mana siswa special need (berkebutuhan khusus) diberikan perlakuan khusus. Di ruangan ini terdapat dua guru pendamping khusus yang ditugaskan melakukan treatment sesuai kondisi murid. Utamanya terkait pembelajaran dengan berbagai metode yang memudahkan anak apabila mereka kesulitan di kelas.

Guru Pendamping Khusus (GPK) melakukan observasi di kela setiap hari sejak pagi hingga lepas jam pelajaran terakhir. Sembari mencatat progress siswa, ia merancang treatment bagi siswa yang membutuhkan. Bedanya, bila setiap guru mata pelajaran merancang kegiatan belajar per kelas, guru pendamping merancang program belajar individu.

Tapi, sekali lagi, Dinda adalah anak normal dengan kemungkinan diskalkulia. Ia bukannya tidak bisa berubah. saya, guru-guru yang lain, dan orang tuanya yang harus memberikan perhatian lebih. Kami-lah yang harus berubah pada Dinda. Utamanya dalam mengajarkan dirinya untuk bisa ‘jadi lebih hidup dan bergairah’ dalam matematika.

Memang ada satu cara membuat lompatan besar seorang siswa dalam mempelajari matematika. Cara ini akan memberikan siswa sejumlah banyak soal-soal yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu. Sehingga lama-kelamaan siswa akan semahir mahir memainkan bentuk-bentuk penyelesaian dalam matematika.

Namun, metode ini begitu sulit diterapkan bagi anak dengan diskalkulia, terutama bawaan diseleksia. Mengerjakan begitu banyak soal tanpa disertai review, revisi, dan catatan kemajuan siswa sama saja melakukan upaya yang sia-sia. Kemampuan bahasa yang lemah (utamanya bahasa simbol matematika) membuat mereka jauh lebih bingung dari yang seharusnya. Mencari untung, malah buntung.

Jalan paling tepat, ialah menyeimbangkan antara ‘penguasaan materi’ dan ‘perkembangan.’ Struktur program pengajaran haruslah beradaptasi dengan catatan-catatan perkembangan tersebut.

Intervensi Anak dengan Diskalkulia

Sebagaimana lazimnya proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) yang sukses, seorang pendidik harus mengetahui dua hal. Pertama, pengetahuan tentang kondisi siswa, dan pengetahuan tentang mata pelajaran yang diampu. Boleh-boleh saja seorang guru memiliki kecakapan yang istimewa dalam bidang matematika. Namun belum tentu ia akan mengajar efektif jika ia luput mengetahui perkembangan belajar masing-masing anak.

Sebelumnya, saya sudah sebutkan beberapa gejala dan tanda diskalkulia, atau umumnya kesulitan belajar matematika. Kebingungan arah, kebingungan bahasa matematis, dan kebingunan konsep bilangan. Beberapa tanda lain seseorang mengalami diskalkulia, ialah memori jangka pendek, kecepatan mengerjakan soal, kecemasan serta stress yang berlebihan, dan kebingungan spasial.

Khusus yang terkahir disebutkan, ini berhubungan dengan kesulitan-kesulitan visual. Kecerdasan ini dibutuhkan untuk mengerjakan soal-soal geometri, menentukan nilai tempat, dan khususnya aljabar yang banyak menggunakan diskriminasi visual. Misalnya, anak tidak bisa membedakan dengan tepat visual “x berpangkat 2” dan “x kali 2”.

Meski begitu, bukan berarti tidak ada hal bisa kita lakukan untuk mengatasinya. Prinsip pertama ialah menggunakan pengetahuan dan kompetensi anak saat itu sebagai bahan dalam membuat program pembelajaran inidividu. Bukan dengan menyamakan situasinya dengan teman-teman kelasnya yang lain. Menyajikan mentah bahan pembelajaran (prosedur matematis) yang ia tidak ketahui membuat ia akan kehilangan kepercayaan diri dan kesempatan mendapatkan pelajaran sesuai tingkatan pemahamannya.

Selanjutnya ialah menyderhanakan bahasa. Pendidik atau guru pendamping sebaiknya menggunakan bahasa-bahasa yang terkait erat dengan kehidupan keseharian murid. Tidak hanya itu, komunikasi dengan bahasa sederhana itu harus dilengkapi gambar dan ilustrasi yang memadai sesering mungkin, bagaimanapun caranya.

Paling terakhir, sikap rendah diri dari orang-orang sekeliling, terutama guru. Secanggih apapun metode yang dimiliki seorang guru untuk mengajarkan satu topik matematika, insya Allah tidak akan sukses membuat setiap anak paham. Sangat mungkin sekali seorang anak bingung dengan cara alternatif yang disampaikan guru, namun yang lain mudah saja mengerti.

Jika setiap pendidik memahami hal ini, ia tidak akan memaksakan menerapkan gaya mengajarnya pada setiap anak atau setiap kelas. Sebaliknya ia akan mengakui bahwa setiap anak memiliki pola pikir dan gaya belajar yang berbeda-beda. Sehingga sebelum mengajar, ia sudah menyiapkan beberapa alternatif metode yang memperhatikan kondisi gaya belajar dan tingkatan pengetahuan yang berbeda.

Sebulan mengamati Dinda, saya merasa anak ini istimewa dengan caranya sendiri. Ia cukup baik dalam pelajaran lain yang memproses kata (Bahasa, PKn, dan IPS) dan psikomotorik (Art, Choir, dan Teater). Saya tidak memiliki kapastitas memberikan tes resmi pada anak ini terkait dugaan pribadi saya diskalkulia.

Jauh pikiran saya dari memasukkan Dinda ke Ruang Khatulistiwa agar ia mendapatkan treatment. Saya cukup percaya hipotesa Butterworth (2005) dan Landerl (2004) bahwa diskalkulia (dalam perkembangannya) muncul sebagai problem spesifik tentang memahami dan menyerap cepat konsep dasar dan fakta-fakta bilangan. Dalam kata lain, anak dengan diskalkulia bukan berarti ‘bodoh matematika,’ tetapi, merujuk kembali Butterworth terdapat “several major gaps in their knowledge.” Gaps ini yang mesti dikejar dan dipantau sedemikian rupa agar menjadi program pembelajaran yang ramah siswa.

Jadi, mudah saja bukan? Bukan dengan mengucilkan anak-anak tanpa kemampuan matematis, tapi dengan pendekatan yang benar, perlakuan yang tepat, mereka akan bisa mengejar keteringgalan. Setelah itu, mereka juga akan mengejar teman-temannya yang lain. Satu ketika, setelah barangkali berbulan-bulan kemudian, saya bisa melihat Dinda melemparkan senyum selebar-lebarnya pada jam pelajaran matematika. Semoga.

Referensi:
Mathematics for Dyslexics (Including Dyscalculia)3rd edition
. Steve Chinn and Richard Ashcroft. John Wiley and Sons, Ltd. England. 2007.
*bukan nama sesungguhnya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s