Cerita Persona Biasa

DSC_0041c
jakfoto.net

Cerita-cerita berikut hanya penggalan kecil perjalanan panjang hidup anak manusia. Mereka bukan orang luar biasa. Hanya orang-orang biasa. Tapi dengan kisah yang -bagi sebagian orang- tidak biasa. Setidaknya, bagi para penulisnya.

Mereka memberi inspirasi dan pelajaran tentang hidup yang harus dihargai. Jika disarikan, pelajaran yang bisa kami petik adalah “Tuhan telah memberi hidup, maka hiduplah! Karena hidup tidak pernah selalu mudah, maka jangan berhenti bekerja bagi kehidupan!

Untuk semua hidup yang dihargai, inilah kisah-kisah berikut! Oh ya, saya merekomendasikan satu cerita, “Karena Indo’ Saya Jadi Begini” yang ditulis Andi Arniati.

“Sesekali saya menyeka air mata saat menulis kisah ini. Dari kisah anak kecil yang tidak pernah berputus asa dengan kondisi terhimpit. H. Ridwan, S. Kep, Ns, telah mengajarkan banyak hal tentang kesederhanaan, kegigihan dan semangat berbagi yang tak pernah surut. Baginya, bermanfaat bagi yang lain adalah tujuan hidup” begitu pengakuan Andi Arniati dalam tulisannya.

Karena Indo’ Saya Jadi Begini (Andi Arniati)
Menyatukan Tanah Menyatukan Indonesia (Hasymi Arif)
Andi Zulkarnain: Pendidikan yang Merata (Helmiyaningsi H)
Sosok dibalik Balik Berdirinya The Floating School (Andi Citra Pratiwi)
Rahmiana Rahman: Bertumbuh dengan Berbagi (Mujahid Zulfadli AR)
Bunga untuk Relawan: Tentang LemInA (Sultan A Munandar S)
Kekhasan Imam Masjid Cheng Hoo (Fitriani Ulma)
Menilik Satu Dekade Rumah Baca (Herviana)
Pak Azis dan Kota Dunia (Tismi Dipalaya)
Tari dan Kebahagiannya (Irmawati)

Selamat membaca!

Kalau boleh berpendapat, tugas menulis sosok merupakan bagian paling berat Kelas Menulis Kepo. Bukan hal mudah menggali informasi dari orang lain. Memberi ‘bujuk rayu’ seorang persona yang kami ingin gali kisah hidupnya itu butuh “kepercayaan”. Beda dengan wawancara ringkas untuk satu tema yang waktunya cuma sebentar. Menulis sosok butuh kesabaran ekstra. Jika perlu, penulis mengagendakan serangkaian riset, observasi dan wawancara demi gambaran sebenarnya yang diinginkan.

Tanpa bermaksud lebay, memilih siapa sosok tulisan merupakan bagian yang bikin resah. Sekali memilih sosok, misalnya, kami harus siap dengan segala persiapannya. Saya harus bersenang-senang hati mengamati sosoknya dari jauh lewat mata orang lain atau sumber yang tersedia di media cetak dan online.

Awalnya kami diberikan waktu pengerjaan cukup panjang. Sekitar dua pekan. Seharusnya semua tulisan wajib rampung dalam waktu yang sudah ditentukan. Tapi sekali lagi, bukan perkara mudah. Alasannya jelas, tulisan ini jauh dari “ke-Aku-an”. Gampang saja menulis tentang ‘saya’ dan ‘aku’. Tulisan yang akan kami kerjakan, bukan tentang ‘saya’ tapi tentang ‘orang lain’ dan semua orang yang berdampak pada karya tersebut. It’s not about me it’s about others.

Lalu, beberapa alasan muncul, kesibukan, kebuntuan menulis, ada pula yang belum merampungkan tulisan. Dari kami ber-lima belas, hanya lima orang yang mengumpulkan tugas tepat sebelum deadline. Om Lelaki Bugis masih memberi kelonggaran: pekan depan. Parahnya, minggu berikutnya juga masih belum tuntas. Hanya sekitar empat atau lima tulisan. Sisanya, dituntaskan hingga pekan ketiga. Pekan ketiga, barulah (hampir) semua tulisan sudah rampung.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s