Biarkan Foto Menceritakan Dirinya Sendiri

8290a04828c94c0e93e220e3c3f9e33bd37a333e_large-
Photo by Shannon Jensen

Sehari sebelum Iqbal Lubis -kerap disapa ‘Ombal’ (Om Iqbal)– memberikan materi teknik fotografi di Kelas Menulis Kepo, ia memberi tantangan yang dikirimnya di grup Line angkatan. Nama tantangannya adalah Melihat Sudut Pandang.

Jadi begini, kami ditugaskan menyiapkan enam buah kertas ukuran A4 atau kertas karton biasa. Semua kertas dilubangi bagian atasnya yang berdimensi 36 mm kali 24 mm. Dalam ukuran cm presisinya dua kali tiga sentimeter. Oiya, tiga kertas dilubangi vertikal, sisanya horizontal.

Setelah itu, langkah selanjutnya: MENGINTIP pada lubang yang telah kami buat. Objek yang dijadikan sasaran haruslah berbeda. Entah itu sebuah ide, benda, manusia, interakasi, pemandangan, atau apa saja yang kami senangi.

Tidak berhenti di situ. Setiap selesai melihat dari balik lubang, objek tersebut harus digambar apa adanya pada bagian kertas yang masing kosong dan bersih. Kemudian sisa bagian kertas di pojokan bawah kanan memuat keterangan gambar. Hasil yang terlihat oleh mata itu saja yang wajib dilukiskan, tanpa menambah-nambahkan atau mengurangi sesuai dengan kehendak imajinasi. Om Iqbal menjanjikan hadiah menarik yang bisa menyelesaikan tantangan ini sebelum kelas dimulai.

***
Ketika ia menghantarkan materinya, ia sedikit bercerita mengenai challenge kemarin. Katanya, tujuan sebenarnya ialah melatih sudut pandang dalam pengambilan foto. Seperti menjauhkan dan mendekatkan objek.

Ukuran lubang di kertas itu sebenarnya adalah dimensi sesungguhnya dari sensor film full-frame. Sensor inilah yang menghasilkan ribuan gambar di setiap kamera yang kita gunakan. Sedangkan, gambar yang kami ciptakan di bawahnya ialah hasil yang terekam. Lalu keterangan yang tertera pada kertas merupakan caption yang selalu kita saksikan. hadir di setiap photo-journalism ataupun foto dokumenter.

Bagi Ombal, caption memegang peranan krusial dalam foto. Tidak boleh sembarang caption dituliskan dalam foto. Caption foto yang baik hanya merangkum visul foto saja. Tanpa ditambah atau dikurangi. Tidak perlu memasukkan unsur yang dihasilkan indra lain seperti pendengaran atau perasaan. Atau bila memang visual foto kurang jelas, bisa dijelaskan lewat caption. Dulu, saya juga pernah mendengar –dalam satu kelas jurnalistik- bahwa intinya kita telah melakukan hal mubazir jika menuliskan keterangan yang sudah tergambar jelas dalam foto.

Ombal menjelaskan, permainan ini juga tidak lepas dari proses cropping (memotong) sebagaimana kamera asli. Berdasarkan penjelasan Ombal, sebenarnya pemotongan foto itu terjadi sebanyak tiga kali.

“foto di-crop duluan di dalam kepala kita (proses berpikir dan imajinasi, red) dan kedua di mata kita sudah masuk masuk dalam spot view kamera (ketika mengintip di lubang sensor). Selanjutnya, proses terakhir terjadi pada aplikasi pengolah foto/gambar,” terang Om Iqbal.

Permainan lubang kertas ini mereprestasikan kamera yang sebenarnya. Bagaimana kami melihat sudut tangkap, menjauhkan dan memundurkan bila tidak pas, dan langsung menjepret. “semua orang memiliki selera visual, pada dasarnya. Namun selera dan penerjemahan visual tiap orang berbeda-beda.

“makanya, ketika saya menilai hasil tantangan kalian –apakah bagus atau tidak-, setiap orang bisa berlainan.” Terang Om Iqbal. Jadi, ia memang tidak sedang menaksir siapa paling bagus sudut pandangnya. Tapi siapa yang paling tepat ketika menerjemahkan isi kotak lubang di kertas pada gambar.

Ombal yang setiap minggu pagi meluangkan waktunya sebagai fasilitator Kelas Fotografi di The Floating School menerangkan sebuah metode menyampaikan pesan kepada banyak orang. Dikenal dengan “Photo Story”. Kata Ombal, “foto yang baik jangan sampai hanya jadi pelengkap tulisan. tapi hendaknya jadi pelengkap cerita.”

Di akhir, kami diharapkan bisa membuat, tidak hanya sebuah foto tunggal tapi beberapa foto yang merangkaikan diri sebagai cerita utuh. Boleh dibilang, Ombal hari itu sedang mengampanyekan ‘foto yang bercerita’ atau foto cerita.

Di tengah berlangsungnya kelas, Ombal menyajikan satu permainan kecil. Game ini menampilkan beragam potongan merek dagang. Maka ditampilkanlah merek tersebut dalam bentuk ‘gambar’ dan ‘kata’. Ada Nike, Adidas, Mozilla, Google, WordPress, Toyota, macam-macam. Setelah diuji, terbukti kami lebih mengingat logo (gambar) daripada jika ditampilkan dalam kata.

Permainan itu sekaligus ilustrasi mengapa rentetan foto menjadi penting dalam menjelaskan suatu peristiwa. Dengan pertanyaan lain, mengapa photo story menjadi signifikan. Dalam salah satu penjelasan tentang neuro-sains, otak manusia memproses segala bentuk visual, bukan verbal.

Foto yang bercerita

Jika ditilik dari sejarahnya, foto cerita cerita berakar dari foto dokumenter (1889) ketika Jacob Riis banyak mendokumentasikan kehidupan masyarakat miskin yang tinggal di New York dan daerah industri lainnya di Amerika. Selain itu, foto jurnalistik (photo-journalism) juga berpengaruh besar pada lahirnya foto cerita. Foto jenis ini jelas mengharuskan fotografer mengikuti kaidah jurnalistik demi keakuratan foto. J. Bruce Baumann (2011), pengajar foto jurnalistik di Southern Illinois University, menegaskan agar  pewarta foto hendaknya sadar dan berpikir selayaknya seorang jurnalis dahulu, baru kemudian berpikir dan bertindak sebagai fotografer.

Bagi Taufan Wijaya, penulis Photo Story Handbook (2016), mengatakan tidak mudah menelusuri sejarah foto cerita. Namun, gaya foto berseri dan bercerita ini muncul pertama kali pada 1929 di majalah Jerman, Muncher Illustrierte Presse. Empat tahun kemudian, Mendur, fotografer tanah air, mempublikasikan foto cerita pertama di Indonesia berjudul “Poewasa” di majalah Actueel Wereldnieuws.

Mengutip Taufan Wijaya, “fotografer adalah pencerita”. Nah seorang pencerita harus mampu bertutur (merangkaikan foto) secara baik dan fokus sehingga deretan foto tetap terjaga arah dan artinya. Itulah mengapa dalam mengisahkan satu kejadian, keadaan, dan konflik, para fotografer tidak cukup hanya menggunakan foto tunggal (single photo).

Dalam foto tunggal, satu gambar dapat berdiri sendiri, menceritakan dirinya sendiri, tanpa memerulukan bantuan dari foto lain untuk membangun cerita. Merujuk peristilahan bahasa, foto cerita menyajikan metode DM-MD (Diterangkan Menerangkan – Menerangkan Diterangkan). Foto cerita menggunakan pendekatan berbeda. Caranya dengan merangkai beberapa foto yang menjelaskan dan melengkapi satu sama lain serta disertai tambahan teks.

memotretlah jika ingin berkomunikasi lewat foto” kata Om Iqbal. Secara tidak langsung ia menyarankan kami mengambil gambar dan merekam peristiwa melalui medium foto. Jika Om Iqbal tidak ada malam itu, mungkin sampai sekarang saya tidak bakalan tahu apa itu foto cerita.

I’m used to capture some of unusual moments and then let them do they work. Biasanya saya hanya meninggalkan satu foto sebagai ilustrasi dan pelengkap cerita. Tanpa gambar, rasanya seperti sayur tanpa garam. Namun setelah mendapatkan penjelasan mengenai photo story, saya cukup percaya sebuah postingan bisa jadi lebih hidup dengan rangkaian gambar yang mengiringinya.

Sepatu Pengungsi dan Hukum Cambuk

Salah satu kerja foto cerita yang populer dikerjakan oleh Shannon sepanjang Juni hingga Juli 2012. Dengan judul “A Long Walk” yang memikat, ia membuka dengan sebuah pertanyaan “How do you represent a journey in a image?” Sekitar 3000-an pengungsi memulai perjalanan mencari perlindungan setelah 9 bulan berada dalam teror di negara sendiri.

Lalu saya pun tidak menyangka bahwa Shannon menggunakan sepatu untuk memberi gambaran penderitaan para pengungsi yang bertahan sejauh itu. Ia merekam bagaimana sulitnya perjalanan menembus perbatasan selatan Sudan di tengah kepungan tentara pembebasan, kekurangan air dan makanan.

Kisah ini menyadarkan penduduk dunia tentang kerasnya kehidupan yang harus dilalui oleh perempuan dan anak-anak di tengah konflik mendera. Juga menginspirasi PBB lebih berkonsentrasi pada perlindungan anak di daerah pengungsian.

Contoh lagi, seorang fotografer lepas Armin Hari membuat foto cerita “Canning Punishment in Aceh” tentang pelaksanaan hukum cambuk di Aceh. Selepas ashar pada suatu hari di Masjid Besar Bireuen, Polisi Syariah melaksanakan hukuman cambuk sembilan kali pada para pelanggar hukum syariat Islam yang berlaku di sana. Rotan kecil yang digunakan panjangnya sekitar satu koma lima meter.

Sebelum eksekusi dilangsungkan, area ini dibersihkan dahulu dari jangkauan penglihatan anak di bawah umur. Lalu, di hadapan para petinggi pemerintah lokal, hukuman ini dilaksanakan. Armin Hari merekam sequences ini dengan sejumlah foto yang kesemuanya hitam putih.

Teknik Ringkas Foto

“fotografi itu seni melukis dengan cahaya. Memotret itu tentang bagaimana empunya kamera memanfaatkan cahaya dan (bahkan) mengontrolnya” sambung Om Iqbal. Dalam exposure (pencahayaan), terdapat tiga elemen utama yang mengontrolnya.

Pertama-tama ada aperture/bukaan (fokus). Semakin mengecil fokus, maka gambar akan semakin tajam. Hal ini dikarenakan bukaan kecil menyempitkan cahaya yang masuk.  “untuk gambar landscape (pemandangan), saya sarankan gunakan bukaan 5/6 sampai 1/16 agar semua objek bisa tajam dan fokus” katanya.

Selanjutnya adalah Shutter Speed. Elemen ini mengatur seberapa lama cahaya masuk mengenai sensor. Makin tinggi kecepatannya, makin sedikit cahaya masuk. Tips dari Om Iqbal, jika cahaya sedang banyak-banyaknya, maka baiknya imbangi dengan shutter speed yang cepat pula.

Terakhir ialah ISO yang merupakan sensor kepekaan kamera terhadap cahaya. ISO terdiri dari nomo 100 hingga 12800. Semakin tinggi ISO yang digunakan, maka semakin peka pula sensor terhadap cahaya. Begitu sebaliknya. Pengontrolan ISO juga berfungsi untuk penambahan cahaya bila sedang redup, atau menormalkan cahaya bila sedang terang.

Selain pencahayaan, dua hal yang harus diperhatikan ialah ‘komposisi’ dan ‘elemen visual’. Keduanya berpengaruh besar dalam estetika foto. Foto yang memenuhi salah satu unstur komposisi dan memiliki elemen visual akan lebih sedap dipandang. Komposisi ini meliputi setengah bidang, tengah, diagonal, atau sepertiga bidang. Komposisi terakhir paling populer dan sering diistilahkan “one-third rule” atau kaidah sepertiga. Objek berada di bagian sepertiga dari frame, selebihnya adalah objek pendukung atau latar. Foto-foto yang dihasilkan hampir selalu nyaman dipandang dan keren. Coba saja kalau tidak percaya. Hehe.

Sedangkan elemen visual ialah sajian geometrik yang muncul dari sebuah foto. Salah satunya elemen garis. Foto yang membentuk elemen garis (entah itu putus-putus, lurus, atau gelombang) membantu para penikmat foto menikmati sajian estetika yang pas dan berkesan di indra penglihatan. Elemen warna mempengaruhi emosi seseorang, lalu elemen tekstur menggambarkan karakter yang berbeda-beda. Sementara elemen ruang dan perspektif membantu menciptakan efek tiga dimensi terhadap komposisi.

“elemen perspektif dan ruang digunakan juga demi menciptakan kesan ruang dan suasana” lanjut Om Iqbal. Ia menjelaskan, sehingga mengubah sudut pandang ruang juga akan mengubah suasana dalam foto.

Selesai kelas, ada tantangan dari Om Iqbal. Tantangannya yaitu membuat satu postingan foto dokomenter atau rangkaian foto yang bercerita (photo story). Konten memuat narasi (naskah) minimal 500 kata dengan minimal terdiri dari lima buah foto. Setiap foto dilengkapi dengan caption. Dikumpulkan paling lambat: Rabu/29 Maret 2017

Nah, hayuk atuh. Mari mengambil foto.

*Catatan Kelas Menulis Kepo Angkatan IV
Waktu: Jumat/ 24 Maret 2017
Pukul: 17.00 – 21.00
Materi: Teknik Fotografi dan Photo Story
Tempat: Brewbrtohers Café, Pengayoman Makassar
Pembagi Ilmu: Om Iqbal Lubis

Advertisements

5 thoughts on “Biarkan Foto Menceritakan Dirinya Sendiri

  1. Ada juga loh yang namanya foto berita, walau cuma satu foto tapi lebih kompleks. Foto berita biasa digunakan sebagai media pembelajaran, menulis dan berbicara. Hmm, satu hal sederhana yang paling saya ingat tentang fotografi, “benda yang dipotret tidak boleh membelakangi cahaya”, itu kata Pak Saifuddin Bahrum (Dosen Jurnalistik) ☺

    Liked by 1 person

    1. Betul sekali. photo-journalism/foto jurnalistik. Inilah akarnya photo story. Katanya. hehe. Oh iya ya. Betul, ide bagus itu untuk jadikan foto sebagai alat pembelajaran. thanks your comment, Uni.

      Liked by 1 person

  2. Halo mas, sempat membaca tulisan Mas Zul di Tabloid BAKTI. Sangat menggugah. Saat ini saya sedang tinggal di Papua. Terima kasih atas inspirasi nya, membuat saya ingin menulis lebih banyak. Salam, Rafid

    Liked by 1 person

    1. Halo Mas Rafid. Salam kenal. panggil Fadli saja. Wah. sungguh rindu saya menginjak lagi tanah Papua. Sama-sama berterima kasih sudah menyempatkan baca curhatan saya. hehe. Dan pasti saya akan bersenang hati membaca cerita-cerita baru dari Mas Rafid.

      Jalan-jalanlah ke Fakfak, mas. Teman-teman pegiat dan relawan di sana siap menjadi tuan rumah yang baik. Nanti saya beri kontaknya. Kunjungi gunung-gunungnya yang tinggi dan pulau-pulaunya yang jauh.

      Liked by 1 person

      1. Wah subhanallah, saya membayangkannya sj sudah merinding. Saat ini masih stay di Raja Ampat untuk beberapa bulan karena bekerja disini. Saya akan sempatkan berkunjung ke sudut lain papua untuk lihat kehidupan lain yg lebih unik disana.. Salam kenal mas, semoga suatu saat bs kembali ke Papua 🙂

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s