Pesan-Pesan Pendidikan di Langit Rotterdam

DSCN8154 - Copy
dok.pribadi

Mendidik itu mendorong peserta didik mengaktualkan kepribadiannya. Mendidik itu mengantar anak kepada pintu yang sesuai karakternya | M. Quraish Shihab

Pesan itulah yang jadi kalimat pembuka diskusi yang beliau hantarkan. Ketika itu beliau duduk di sofa bersama kedua anaknya. Di sisi kirinya Najwa Shihab, dan sebelah kananya Najelaa Shihab. Di hadapan mereka, ratusan pasang mata siap menunggu luncuran nasehat. Ia mengambil mic lalu mencondongkan badannya ke depan. Ada pesan yang ia mau sampaikan. Seperti ada keresehan yang ia sembunyikan sejak dulu-dulu.

Ia meresahkan begitu banyaknya anak-anak dididik tidak sesuai dengan kepribadiannya yang unik. Kesuksesan pendidikan telah sejak lama diukur sejumlah profesi tenar seperti dokter, pilot, arsitek, polisi, dan banyak lagi. Tapi, Quraish Shihab memilih membukakan pintu selabar-lebarnya bagi Najwa dan Najelaa. “jadilah apa saja yang kau mau, asalkan jalurnya harus lewat pendidikan.” Terbukti, kedua anaknya menjadi sosok yang tidak hanya berpendidikan, tapi juga bermanfaat bagi orang lain.

Tidak sampai sejam diskusi berlangsung. Namun pesan yang terkandung melampaui berjam-jam membaca buku pentingnya literasi dan pendidikan keluarga. Sore itu cerah berawan di Fort Rotterdam, Makassar. Sajian Ngobrol Publik ini digelar di taman, sisi belakang kapel utama. Kegiatan yang berlangsung dua hari penuh ini menutup tur keliling rangkaian Pesta Pendidikan 2017.

Di sebelah mereka, berdiri membelakangi pengunjung, ada maestro lukis asal Makassar, Zaenal Dg. Beta. Siap menggoreskan tanah liat beraneka warna di atas kanvas untuk sebuah mahakarya baru. Lukisan itu siap diberikan sebagai hadiah kepada Quraish Shihab yang dianggap perantau sukses dari Sulawesi Selatan.

Najelaa Shihab, Najwa Shihab, dan M. Quraish Shihab mendapatkan kesempatan perdana ‘pulang kampung’ di Pesta Pendidikan. Panggung utama ini langsung saja diserbu para pengunjung yang jumlahnya lebih 500-an orang. Mereka memenuhi hampir semua area di sekeliling panggung. Para undangan sebagian kecil berada di tenda yang sudah disiapkan. Sisanya sebagian besar duduk menekan rumput. Ada juga yang berdiri di sisi kapel.

Ayah dan kedua anak ini merasa bangga dan senang bisa berkumpul di Makassar. “ini benar-benar pertama kali kami berkumpul di satu event publik” kata Najwa. Di tengah hantaman mentari sore yang silau menguning berganti jingga, senyumnya selalu riang menyapa pengunjung sembari mengobrolkan Abi (Quraish Shihab, Umi (Istri) dan Najeelaa (saudara).

Orang Tua Harus Terlibat!

Najelaa yang juga pendiri Sekolah Cikal, mengatakan aktor pendidikan paling penting adalah keluarga. Ia menegaskan bahwa ini bukan sekedar retorika, namun konklusi dari berbagai hasil riset yang pernah dilakukan banyak pihak di seluruh dunia.

“kalau ada pihak yang harus dilibatkan (dalam pendidikan), itu adalah orang tua” terang Najelaa. Menurutnya, kedua orang tua memiliki tiga modal utama yang memengaruhi perkembangan anak secara mental dan kognitif. Modal itu adalah modal cinta, modal peduli, dan modal pemahaman keunikan anak.

Dulu, ketika masih berumur 15 tahun, Najwa mendapat kesempatan pertukaran pelajar ke Amerika. Waktu itu, sejumlah keluarga dan kerabat terlalu ragu dan cukup berat jika seandainya Najwa jadi berangkat memenuhi undangan tersebut. Ia masih begitu muda, dan sulit rasanya membayangkan seorang perempuan tanpa muhrim di tanah asing. Tapi dengan jiwa besar, ayahnya, Quraish Shihab meyakinkan mereka dengan tujuan mulia pendidikan.

“ini untuk pendidikan, ini untuk belajar mandiri, ini untuk bisa menjadi orang yang lebih baik, berangkatlah ke Amerika!” kata profesor mengenang masa itu. Akhirnya, dilepaslah Najwa muda yang beranjak dewasa ke negeri jauh. Tujuannya tetap: pendidikan dan kebaikan.

Tentang kekhawatiran lain, Guru Besar yang lahir di tanah Bugis, Kabupaten Sidrap ini menyatakan keyakinannya pada Najwa. Di rumah, dulu, beliau sudah membekali anak-anak dengan pagar keimanan dan nilai-nilai.

“ingat, beri pagar, agar (dengan kuasa-Nya) anak-anak tetap berada pada jalur yang benar. Memang belajar itu menderita. Kalau tidak menderita, itu berarti tidak belajar” Quraish Shihab mengingatkan seluruh pengunjung yang khusyuk mendengarkan.

Buku Harus Terlibat!

Di rumah mereka dulu di Ujung Pandang –sekarang Makassar- dan di Jakarta, bertebaran buku-buku apa saja. Cara seperti itu dilakukan agar Najwa dan Najelaa terbiasa membaca, lalu kemudian jatuh cinta pada buku. Sekarang, Najwa didapuk jadi Duta Baca Indonesia.

Bagi Prof. Quraish, membaca itu sama sekali bukan perkara membosankan. Cinta itu adalah dialog, kata beliau. Begitu juga cinta pada buku. Makanya jangan memaksakan cinta jika tidak ada kerelaan berdialog.

Membaca tidak boleh dijadikan percakapan yang sendirian. Setelah membaca, hasil itulah yang dipercakapkan. Konten dalam buku selalu dibincangkan sehingga menambah wawasan dan ragamnya sudut pandang  yang dimiliki oleh pembaca. “tapi tidak berhenti di situ, jatuh cinta pada buku haruslah berujung cinta pada ilmu pengetahuan” terang beliau yang pernah mengajar di IAIN Alauddin Makassar.

Buku tidak hanya menawarkan pengetahuan, tapi juga obat bagi jiwa.  Najwa menceritakan bagaimana sebuah perpustakaan di Kota Thebes Yunani kuno menyiratkan hal itu secara jelas. terpampang tulisan di atas pintu masuk, “A Healing Place of The Soul”. Tempat penyembuhan bagi jiwa.

Jika ditelusuri ke belakang, Yunani kuno menawarkan metode pengobatan dengan buku: bibliotherapy. Sebuah praktik terapi lewat membaca buku jenis tertentu. Meski cara ini sudah lama, istilah bibliotherapy baru dipopulerkan pada sekitar 1910-an awal. Para veteran Perang Dunia I yang mengalami gangguan stres pasca-trauma juga melakukan bibliotherapy. Di Inggris, novel Jane Austen digunakan tentara Inggris sebagai terapi kecemasan dan depresi.

Semua Orang Harus Terlibat!

“Pendidikan bukan hanya urusan murid dan guru di sekolah, tapi jadi milik semua” terang Najelaa yang memilih tidak memasang TV di rumahnya.

Dalam pendidikan, ia percaya kekuatan publik bisa mendobrak dan mengubah banyak hal. Ia percaya pendidikan harus mendapat umpan balik secara terus menerus melalui kepedulian semua orang. Sebagaimana Najelaa berujar, “ini bukan tentang nilai sekolah, tapi bagaimana kita bermanfaat bagi orang lain.”

Pesta Pendidikan adalah tempat berbincang pendidikan di ranah publik. Sekaligus tanpa melupakan tujuan utamanya sebagai merayakan pendidikan, tempat belajar, dan tempat berkarya melintas batas.

Kegiatan ini menghadirkan 27 agenda Ngobrol Publik dengan tema besar “Berkarya Melintas Batas.” Dua hari penuh, 13 – 14 Mei, hampir setiap celah yang menghubungkan bangunan benteng dan koridor dijadikan tempat asyik berdiskusi. Sesekali keriuhan terjadi pada arena-arena ngobrol yang menyajikan pembicara-pembicara populer

Semua diskusi bermuara pada beberapa tema. Ada cerita-cerita inspiratif mengenai praktek pendidikan, cerita-cerita mendobrak keterbatasan dalam meraih kusuksesan, cerita-cerita upaya lokal yang mengharumkan Indonesia, dan cerita-cerita komunitas yang telah banyak menebar manfaat dan melewati berbagai rintangan dan keterbatasan.

Sebagai kota keempat yang disambangi, Pesta Pendidikan mengumpulkan komunitas dan organisasi yang bergerak di bidang pendidikan untuk kerja bareng. Kerja keras ini membuahkan hasil. Tahun ini, ‘Pesta Pendidikan’ mengumpulkan seluruhnya 250 komunitas yang bergerak sama-sama mewujudkan kegiatan di empat kota. Padahal tahun sebelumnya hanya didukung 8 komunitas.

Ini menunjukkan animo yang menguat dan positif sudah mulai terbentuk. Dua puluhan relawan secara sukarela membantu kegiatan ini hingga rampung. Anak-anak muda dengan kaos oblong merah menyala ini gampang sekali kita temukan di area Benteng Rotterdam. Tulisan seragam itu seperti sebuah pesan dari Najelaa dan para penggagas. Tentang bagaimana masyarakat semestinya bersikap dalam dunia pendidikan, “Sekali Barengan Pantang Untuk Turun Tangan”.

Kegiatan ini memasuki tahun kedua. Refleksi tahun kemarin menyebutkan “Pesta Pendidikan adalah bagian kecil dari perjuangan panjang pendidikan Indonesia. Ini bukan sekadar agenda kampanye, kegiatan, atau pengumpulan massa. Kegiatan yang mendorong upaya pelibatan publik secara demokratis untuk Bergerak, Belajar, dan Bermakna Bersama.” Cerita-cerita kemarin disatukan dalam buku Refleksi Pesta Pendidikan 2016.

Ketika diskusi berakhir, ‘Bagimu Negeri’ mengalun. Diikuti semua penonton di sore menjelang petang. Selepas itu ratusan orang siap mengerubungi mereka swafoto, terutama Najwa. Tapi saya diam saja di tempat. Mencoba mencerna kembali beberapa pesan-pesan yang sempat hadir. Barangkali itu yang lebih penting.

Juga pesan Zaenal Dg. Beta. Ia menyerahkan satu lagi mahakarya lukisan tanah liat pada Quraish Shihab. Sembari berpesan, “(mari) barengan bergerak untuk mencapai tujuan”. Matanya tidak tertuju pada profesor, tapi untuk kita. Ya, kita semua.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s