Tetangga Paling Ramah

Desa-Shirakawa
Desa Shirakawa-go, Jepang (Warisan UNESCO) – j.cul.com

Tetangga itu, teman sepermainan waktu kecil. Tetangga itu, teman-teman pengajian Ibu. Tetangga itu, semua bapak-bapak yang sering nongkrong di pos ronda sebelah rumah hingga larut. Tetangga itu, sehimpunan anak kecil yang suka berlarian di lorong atau kejar-kejaran dengan sepeda. Tetangga itu, bagi saya, semua manusia, lingkungan, dan semesta yang ada di lorong.

Saya dibesarkan di sebuah kompleks perumahan di selatan Makassar, BTN Minasa Upa Blok N. Khususnya lagi di lorong blok N 12 dan N 11 sebahagian. Meski begitu, masa kecil saya dan teman-teman sebaya lebih luas dari lorong yang kami tempati. Maklum, jaman pertengahan hingga akhir 90-an belum seramai dan sepadat sekarang ini. Jika sedang ramai-ramainya berkumpul, kami rutin bertualang sebelum sore dan pulang ketika kumandang azan maghrib yang menggema dari corong masjid.

Dari kecil, kami saling bertetangga. Orang tua kami saling mengenal baik satu sama lain. Mulanya saya pikir kami akan jadi tetangga seumur hidup. Tapi ternyata tidak. Jalan hidup yang terpampang di depan adalah selubung misteri. Ada yang rumahnya dijual, ada yang pindah ke kota lain, lalu kemudian rumahnya dikontrakkan. Ada pula yang harus pindah karena masalah keluarga. Macam-macam. Pada akhirnya, tetangga saya juga akhirnya jadi silih berganti.

Beberapa dari tetangga saya yang sudah tidak ada lagi, baik itu meninggal maupun pindah ke tempat lain, menyimpan cerita masing-masing. Sialnya, beberapa sangat berkesan buat kami. Sengaja saya menyebut kami (saya dan teman-teman kecil), karena pengalaman bertetangga itu benar-benar kami rasakan ketika masih anak-anak. Ketika kami semua masih menjadi ‘bos’ di rumah masing-masing. Hehe. Ketika Ibu kami masih melakukan segala-galanya untuk ‘bos besar’. Ma’bida –mengenakan sarung- sebelum ke masjid, mengikatkan tali sepatu, hingga menyuapi kami selagi asyik depan televisi nonton Dragon Ball.

Eyang

Dulu, waktu awal masuk SD, tepat di depan rumah saya, ada pasangan tua tapi sangat ramah. Meski kami begitu badung kala itu, tak pernah sekalipun ia menunjukkan raut marah. Selalu senyum. Kami memanggilnya eyang dan kakek. Anak-anaknya sudah berkeluarga semua.

Jalanan antara rumahnya dan rumahku adalah lapangan bersejarah tempat kami bermain bola sewaku kecil. Rumah mereka cukup luas. Rumah itu memanjang karena dua rumah digabung jadi satu. Kedua ujung rumahnya itulah yang kami jadikan pojok gawang. Tiada hari tanpa bermain bola. Tanggal boleh merah, hari boleh minggu, main bola harus tetap jalan.

Tempat itu dulunya masih berupa jalanan tanah tidak mulus. Landasannya berselang-seling dengan batu-batu kecil yang siap membuat ujung jempol kaki robek menganga jika tidak berhati-hati. Setiap sore sepulang mengaji, kami pasti sudah mulai ramai. Menyusun sendal jepit di kedua ujung pengganti tiang gawang. Lalu membagi tim.

Ribut sekali kami ketika main bola. Maklum kami selalu berjumlah hampir sepuluh. Belum lagi debu-debu yang beterbangan membuat semua orang bakal menutup hidung. Tapi anehnya, eyang dan kakek selalu setia menonton kami bila sore tiba. Mereka berdiri di pinggir lapangan dengan senyum yang selalu tersampir. Padahal kakek pensiunan militer.

Beberapa kali ketika lapangan mulai berdebu saat permainan sedang seru-serunya, kakek menimba air saluran got depan rumah agar debu segera lenyap.

Satu lagi, bola plastik yang kami pakai juga kadang robek bila sudah terlalu sering berada diantara tubrukan kaki dengan kaki. Paling saya ingat, ketika kakek mengganti bola kami dengan yang baru. Meski begitu, kadang orang tua kami sampai tidak enak hati. Makanya mereka selalu menyuruh kami memperhatikan jangan sampai jemuran eyang yang tepat berada di pagar rumah terkena bola yang selalu tidak lepas dari air got.

Kakek dan eyang melihat kami sebagai anak kecil yang butuh bermain hingga puas. Bukan sebagai anak-anak yang menggangu. Tidak sampai dua atau tiga tahun kemudian (sungguh saya tidak ingat lagi kapan), kakek meninggal dan tidak sempat melihat kami tumbuh lebih tinggi.

Seandainya dulu kami dilarang bermain bola di depan rumahnya, hubungan pertemanan kami mungkin tidak seerat sekarang. *Eyang pindah ke Soroako mengikuti anaknya. Rumah yang satu dijual. Sekarang berlantai tiga. Rumah satunya lagi bentuknya masih tetap, dan sudah berganti pengontrak sebanyak tiga kali.

Atta Ucu’

Rumahnya pas di sebelah kanan rumah saya. Dua anaknya yang laki-laki adalah teman  sejak kecil yang sudah kuanggap keluarga sendiri. Di antara semua orang tua dari teman kecil kami, kepada beliaulah kami sanggup berakrab-akrab ria. Makanya  sejak awal kami  tidak memanggilnya sebutan ‘Om’ atau ‘Pak’, tapi langsung Atta Ucu’. Yusuf nama aslinya. Atta itu panggilan ayah bagi orang Bugis.

Waktu kecil, kami memiliki tiga titik kumpul sebelum bermain sampai keringat terakhir jelang mentari terbenam. Rumahku, rumahnya Atta Ucu’, dan Pos Ronda. Pos Ronda ini pun bisa dibilang rumahnya juga. Bangunan kayu sederhana itu dibangun pas di depan rumahnya. Di bawah pohon belimbing dan tepat di samping pohon mangga Manalagi dan Arumanis yang selalu berbuah lebat.

Rumah beliau dan pos ronda merupakan dua hal yang sudah begitu akrab sejak kami kanak-kanak. Juga satu lagi rumah di depannya. Beliau membelinya dan entah kenapa dibiarkan kosong. Cuma pernah dikontrakkan sekali tapi tidak lama. Maka jadilah rumah itu arena bermain yang sungguh sempurna bagi kami semua.

Beliau tidak pernah mengeluh rumah kosong dan halamanya ramai dengan anak-anak. Apalagi halamannya Bermain bola, kelereng, santo’, main asing, main monopoli, ulang tangga, lempat kwartet di kaleng, tamiya, perbaiki layang-layang, latihan kompetisi bola antar RT, dan banyak lagi. Justru ia senang, karena kedua anaknya memiliki teman yang banyak. Habis jumat adalah hari yang kami tunggu. Biasanya kami langsung ke rumahnya, memetik mangga mengkal, dan duduk leyeh-leyeh sambil kepedisan di dahannya yang kokoh.

Kebaikan dan perhatian beliau pada anak-anaknya membuat kami  juga kecipratan senang. Ia membantu kami merangkai arena tamiya. Saat itu harga tamiya saja sudah mahal apalagi arena balapnya. Waktu musim tamiya, kami akhirnya bisa bertanding di arena meski hanya terbuat dari pipa pralon.

Ia juga mendukung anaknya memelihara kucing di rumah. Kebiasaan dua anaknya itu membuat kami juga jadi ikut-ikutan suka memelihara kucing. Meski kadang orang dewasa menakut-nakuti kami kena asma kalau sering berciuman dengan kucing. Tapi tenang, tetangga kami yang lain lagi memelihara tanaman kumis kucing, obat asma.

Jadi dulu, kalau tidak salah ingat, saya dan Ical –anaknya Atta Ucu’– punya kucing bersama, namanya Keti. Keti punya banyak anak dari sejumlah bapak yang tidak jelas asal usulnya. Tahu-tahu, sudah beranak lima hingga enam ekor. Masih segar, ketika Ibu saya marah besar karena menemukan Keti menyusui anak-anaknya yang masih merah di dalam lemari.

Kami memutuskan, cuma yang paling cantik dan bagus bulunya yang boleh dipelihara. Namanya Ketron. Sikap Ketron juga sama seperti Ibunya. Memberikan kami banyak anak tanpa pernah tahu bahwa kami sebenarnya hanya butuh satu. Warna bulunya juga sama, abu-abu cerah.

Jaman itu, saya cuma tau pegang-pegang kucing. Urusan pelihara dengan baik, Ical yang punya tanggung jawab. Ical berinisiatif agar anak Ketron selanjutnya harus diberi tanda lahir. Pas ketika anaknya Ketron –cucu Keti- yang saya lupa diberikan nama apa lahir, Ical membuatkan tanda lahir. Agar asal usulnya jelas. Lahir dari siapa dan tanggal berapa. Sejenis akta kelahiran tulisan tangannya Ical berupa gambar kucing lucu tapi menyerupai anak macan. Akhirnya, bagian bawah kaki kirinya ditempelkan di kertas putih pengganti cap jempol. Kami lega, anak kucing ini, sah dalam pemeliharaan kami.

Jalanan depan rumahnya juga jadi saksi bagaimana kami jadi suka dengan bulu tangkis. Di bawah lampu jalan, kalau malam sabtu dan minggu tiba, kami bermain bulu tangkis sampai pukul sepuluh malam. Ia menyediakan raket dan cock. Tidak ada larangan. Kami, anak-anak laki-laki yang punya banyak energi berlebih ini akhirnya punya pelampiasan motorik yang pas.

Begitulah Atta Ucu’. Sejak kami kecil hingga sekarang ada yang sudah menimang bayi, kami tetap akrab mengambilnya begitu. Seolah masa hampir dua puluh tahun itu seperti kemarin saja. Masih akrab. Selalu dekat dan ramah.

Secara tidak sengaja, saya melihat fotonya, sendiri dudu di bawah tenda acara pernikahan orang tua saya. Bisa dibayangkan, dalam album dengan jumlah foto yang sangat terbatas itu, terselip satu wajah: Atta Ucu’.

#15HariMenulis

Advertisements

6 thoughts on “Tetangga Paling Ramah

    1. haha. iya dong (pake nassami) kaka. Masih belum ada jalan hertasning baru. Masih sering bongkar-bongkar sawah sampai Pao-pao. Anak-anak harus sering diajak dekat dengan aktivitas alam dan motorik (wajib). haha.

      Like

    1. hahah… duh. malu-maluku mi kita bacai. Belum lengkappi ini kak Haris. Ada lagi paling pakakkala. hahahh. Aiiii, padat sekalimi Minasa Upa.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s