Balasan Kebaikan untuk Bunda

relawan-mengajar-membaca-alquran-pada-program-magrib-mengaji-di-_160615185856-381

Sabtu pagi itu begitu riang di sudut Kampung Teratai. Sebuah bangunan sederhana riuh celoteh anak-anak. Bentuk bangunannya persegi ukuran lima kali tujuh meter. Berubin tapi tanpa dinding. Mereka memenuhi bangunan itu tanpa sisa untuk belajar mengaji. Sendal-sendal lusuh bersekitaran di luar. Sisa-sisa tanah berlumpur kering dan basah bercampur jadi satu.

Sebagian anak duduk tenang melafalkan ayat-ayat Quran. Anak-anak balita yang ikut berlarian kesana kemari. Di depan, seorang perempuan berhijab rapi memimpin. Bunda, satu-satunya relawan tetap yang mengajar di bangunan tersebut yang belakangan dinamai Rumah Hijau Teratai. Khusus Bulan Ramadhan ini, ia penuh membantu anak-anak belajar mengaji dan menghafal Quran.

Waktu dibangun pertama kali, tiap kepala keluarga  menyisihkan ala kadarnya. Bantuan para relawan dan hasil simpanan anak-anak juga diperbantukan membangun balai tersebut. Anak-anak pun sukarela menyisihkan sedikit dari hasil menimbang dan menjual plastik bekas. Tak jarang selama pembangunannya, Bunda kerapkali mengongkosi kekurangan dari jerih payahnya mengajar di sekolah.

Pak Arif, yang ia anggap sebagai orang yang dituakan di kawasan ini sangat mendukung Bunda. Bagi orang-orang di Kampung Teratai, Bunda sudah menjadi bagian dari keluarga mereka. Ia dan Rumah Hijau Teratai adalah dua kecintaan besar warga di kampung ini. Kawasan ini berupa gubuk tinggal sementara di bantaran kanal. Sehari-hari mereka bekerja mencari dan mengangkut barang plastik bekas pakai di sekitar kota Makassar.

Bunda, bukan karena Dinda seorang Ibu yang punya anak. Bukan pula karena sehari-hari ia seorang guru di sekolah swasta. Bunda adalah panggilan kesayangan anak-anak, kepanjangan dari IBU DiNDA.

“man, tolong ibu nak, atur adik-adiknya yang lain.” ujar Dinda pada Arman, anak paling besar, kelas tiga menengah pertama.

“iya Bunda, baik.”

***

Dinda merintis Rumah Hijau Teratai ini lima tahun silam. Tidak terasa semenjak kali pertama ia menginjak kota ini sebagai guru Sekolah Islam swasta yang cukup terkenal. Kala itu, ia cukup terusik dengan pemandangan kontras dengan kondisi tempat ia mengabdi. Dalam setiap perjalanannya pulang pergi ke sekolah ia melewati satu perkampungan kumuh di pinggir kanal yang banyak ditumbuhi teratai. Anak-anak berlarian kesana kemari tanpa alas kaki. Seperti dibiarkan tidak mengenyam bangku sekolah.

Terlebih ketika pulang sekolah, menjelang pukul lima sore, sudut matanya selalu meminta perhatian agar melirik ke sana. Dinda menyaksikan sekawanan Ibu-ibu dari kawasan pemulung mengikutsertakan anak-anak kecil mereka di dalam gerobak kayu tempat mengumpulkan plastik bekas pakai. Hatinya dan jiwanya benar-benar terganggu. “Ya Allah, berikanlah hamba kekuatan memberi bantuan.”

Sejak itu, tanpa kenal lelah, ia bergerak mengumpulkan asa. Dinda memulai dengan menggerakkan teman-teman guru di sekolah, lalu menyusul anak-anak muda yang berdomosili di kompleks perumahan tidak jauh dari situ. Dinda akhirnya membentuk jaringan relawan pendidikan Kampung Teratai. Dinda punya impian agar anak-anak ini, meski memiliki begitu banyak keterbatasan, juga berhak mendapat pendidikan layak. Sesederhana apapun bentuknya.

Meski sudah memasuki pekan pertama Ramadhan, Dinda masih saja sibuk beraktivitas di Rumah Hijau Teratai. Alih-alih mengambil cuti libur semester ke orang tuanya di Bandung, ia memilih tinggal. Mengajar mereka mengaji dan menghafal juz Amma, bagian terakhir dari Quran.

***

“man, kelak apa yang mau kau buat jika besar nanti?” selidiknya ke Arman sambil memandang sejurus ke depan setelah sesi kelas hari itu selesai.

“belum terpikir apa-apa Bun. Saya cuma mau belajar supaya bisa kuliah, dan dapat pekerjaan yang baik. Arman ingin bantu mereka. Arman ingin mereka tinggal saja di rumah, tidak perlu memulung lagi” ucapnya pelan.

Sebuah ingatan menggelayut di benak Dinda. Kejadian dua tahun silam, Desember. Nisa, adik Arman satu-satunya tenggelam setelah terseret luapan kanal setelah hujan besar dua hari berturut-turut. Sekarang Arman-lah tolok punggung keluarga.

Meski begitu, ia sering bertengkar dengan orang tuanya karena sering menolak memulung karena bertepatan waktu sekolah.

“mau ka pergi sekolah. Ma’, kalau saya tidak sekolah, apa mi lagi yang bisa kuandalkan.” Arman memang sedikit lebih dewasa dibanding teman-temannya. Barangkali setelah kejadian meninggalnya Nisa. Juga karena ia sering diajak ngobrol sama relawan-relawan lainnya, pikirannya jadi lebih terbuka.

***

“sampai kapan mau mengurus anak-anak itu?” di ujung telfon, Ibunya Dinda menanyakan kabar anaknya.

“Dinda, sebisa mungkin bukalah usaha-usaha kecil yang bisa menghidupi keluarga kecilmu nanti” lanjutnya tanpa menunggu jawaban.

Tahun depan, Dinda sudah menginjak usia tiga puluh. Belum satu pun nampak tanda dari anaknya tentang calon pemimpin rumah tangganya kelak. Sementara di sudut lain, Dinda hanya terdiam mendengar Ibunya.

“pulanglah nak, carilah kegiatan yang lebih bermanfaat di sini. Ayah dan Ibu sudah lama tidak berjumpa denganmu. Tidakkah kau rindu dengan kami di Bandung?” lanjutnya dengan suara rendah.

Akhirnya Dinda membuka suara.

“Dinda juga tidak punya banyak memberi ke mereka. Dinda cuma kasih waktu luang. Tanpa pendidikan, mereka tidak akan punya modal supaya bisa hidup mandiri”

“Bu, doakan anakmu. Jodoh, insya Allah, biarkan Allah mengatur, pasti ada. Menurut Dinda, selalu sehat di sini itu juga rejeki yang tidak ternilai, Bu. Dinda Bisa bekerja dan beramal sekaligus.”

“yang paling penting, Dinda merasa bahagia berbagi ke orang lain. Insya Allah, Dinda akan pulang di tiket dua Sabtu berikutnya.”

Perbedatan dengan Ibunya selalu menimbulkan ketegangan tersendiri. Namun begitu Dinda selalu merasakan ada rasa sayang yang begitu besar dari kedua orang tua mereka.

Setelah saling mendengarkan satu sama lain, mereka berdua menutup panggilan. Sementara Ibunya sudah semakin khawatir dengan anak sulungnya ini. Dengan aktivitasnya yang tidak biasa, dengan masa depannya, dengan ketidakhadirannya di tengah-tengah keluarga besar.

Di teras rumah, sembari menyeruput kopi panas di tengah udara Lembang yang dingin, ayah Dinda mendengar percakapan istrinya.

“bu, jangan terlalu keras pada Dinda.”

“biarkan dia meniti jalan sendiri asalkan itu baik. Di usianya yang sekarang, tidak elok selalu menyarankan ini itu padanya. Khawatir boleh saja, tapi jangan sampai merusak perasaannya. Kalau itu baik, kita dukung.” Timpalnya tanpa berkedip. Menatap wajah istrinya yang sendu sedari tadi.

“bila sudah saatnya, akan ada pria baik dan salih yang datang padanya. Percayalah“

“kita cuma perlu berusaha. Banyak-banyaklah berdoa untuknya, Bu. Kalau perlu, kita titipkan secarik lembar doa sama bu Dini tetangga sebelah. Ia dan suaminya bulan depan mau berangkat umroh. Kata ustad, ada keberkahan tersendiri bila berdoa di tanah suci. Insya Allah makbul.”

Malam itu, orang tua dinda saling bertatapan. Mencoba mengira-ngira masa depan anaknya di kota rantau.

***

Sementara Dinda masih masih membantu anak-anak menghafal juz tiga puluh, sebuah mobil four wheel drive berwarna putih masuk ke kawasan. Tidak biasanya ada yang datang pagi seperti ini. Kalau menjelang sore, memang beberapa orang singgah menghantarkan sajian takjil buka puasa. Kadang pula nasi kotak berkardus-kardus.

“tapi sepagi ini, siapa ya, dan mau apa?” batinnya dipenuhi tanda tanya sementara mobil semakin mendekat masuk mendekati Rumah Hijau Teratai.

Lelaki lewat paruh baya, hampir seumuran ayahnya, rambut setengah memutih datang ingin menemui Pak Arif. Ditemani Dinda, orang tua berjalan menyusuri pinggir kanal. Lalu nampak bangunan panggung sudut dekat jembatan kayu yang memisahkan kanal dengan PLTA.

“begini Pak Arif, langsung saja, sebenarnya saya ingin menyampaikan amanah almarhum istri saya. Dua tahun silam, waktu masih sehat, ia sering menengok kemari bila pulang dari kantor. Ia takjub melihat aktivitas anak-anak di sini yang ternyata rajin membaca Qur’an dan perangainya nampak sopan semua,

“ia pernah berpesan, jika belum pernah menginjak tanah Mekkah, ia ingin sekali memberangkatkan umroh guru ngaji mereka. Ditambah satu lagi untuk kerabatnya, mungkin suami atau istrinya.” Kata lelaki itu dengan lugas.

“Bapak yang saya hormati, perempuan muda di depan kita inilah yang begitu punya banyak jasa di kampung ini. kalau begitu yang bapak maksudkan, beliaulah orangnya, Ibu Dinda. tidak ada orang lain yang terbayang di pikiran kami. Meski ia belum bersuami, saya yakin ia akan memilih seseorang yang tepat menemaninya ke Rumah Allah.”

Pak Arif melirik Dinda. Dia yang sedari tadi juga ikut mendengar seakan tidak percaya. Air matanya keluar tertahan.

Dalam hati, Dinda bergumam, selama masih bisa mengeksekusi sebuah kebaikan, ia akan lakukan. Kecintaannya pada kedua orang tuanya juga begitu besar. Dinda tahu betul bagaimana agama mengajarkannya selalu mendahulukan kepentingan orang tua. Meski itu ia harus bersabar menunggu kesempatan langka yang belum tentu datang lagi. “Ya Allah, jangan kau cabut nyawa ini tanpa Aku memenuhi undanganmu pada tanah haramain.” doanya dalam hati.

“bapak yang budiman, tanpa ragu-ragu, dua hadiah umroh perjalanan memenuhi undangan Allah itu saya akan limpahkan pada Ayah dan Ibu saya. Kedua beliau lah paling berhak menerimnya. Saya bisa di sini sekarang, itu karena doa-doa mereka. Semoga berkenan.” timpal Dinda.

“kebaikan mana lagi yang bisa ditandingi selain bakti pada orang tua. Tentu saja saya, dan insya Allah almarhum istri saya, pasti setuju.” kata bapak itu dengan sumringah sebelum ia pamit pulang.

Setelah itu, Dinda menelfon kedua orang tuanya dan memberinya kabar baik itu. Pada akhirnya, perbuatan Dinda selama ini langsung mendapat balasan dari-Nya.

Cerita pendek ini dibuat untuk dikompetisikan pada Blog Contest Ramadhan Bersama Abutours & Travel.

#LebihDariSekedarNikmatnyaIbadah
#SemuaBisaUmroh

Advertisements

4 thoughts on “Balasan Kebaikan untuk Bunda

  1. Yang ia punya cuma waktu luang, sesuatu yang jarang orang mau memberikannya. Cerita yang menarik sekali, bosku. Saya suka paragraf terakhirnya, “Pada akhirnya, perbuatan Dinda selama ini langsung mendapat balasan dari-Nya.”. Allah memang selalu punya cara sendiri ya 🙂

    Liked by 1 person

    1. terima kasih sudah halal bi halal ke sini. Amatiran ji bosku. Iya benar, kadang betul kita rasakan itu. Allah selalu akan balas, pasti. tidak cuma dengan harta. Sehat dan sering upa’ selamat dari celaka, nasib buruk, kejahatannya orang, itu juga rejeki luar biasa: perlindungan dari Tuhan.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s