Berkah Ramadhan: Pelajaran Tanpa Batas

6ff5c13d050da6d7529143e383214f55 (1)

Siapa bilang puasa itu jago-jagoan tidak makan dan minum sepanjang hari? Allah bilang, pahala puasa itu unlimited, tanpa batas. Allah sendiri yang akan mengganjar sejauh mana keikhlasan dan kesungguhan puasa umat-Nya. Siapa yang paling ikhlas, itulah yang benar-benar beruntung. 

Kalau diingat-ingat lagi, ada saja pelajaran yang bisa saya petik setiap hari di sepanjang bulan Ramadan. Jika saja kita sedikit lebih peka, lebih banyak mendengar, lebih sering bersabar, lebih sering berbuat daripada mengeluh, bila Allah menghendaki, jalan kebenaran itu akan terpampang sendiri di depan mata. Tidak ada Ramadan yang sama sekali persis dari tahun ke tahun. Sebagian besar kita pasti menyadari, setiap bulan Ramadan pasti berbeda situasinya.

Pasti ada perubahan-perubahan kecil yang berkesan dibanding Ramadan sebelumnya. Ada kemenangan-kemenangan religius kecil yang bakal kita syukuri. Ada hal-hal kecil yang baru kita sadari. Barangkali disitulah letak keberkahan Ramadan,sedikit demi sedikit, saya jadi lebih baik. Andai saja setiap bulan adalah bulan Ramadan, akan selalu banyak senyum setiap hari. Di mana-mana, orang-orang menjadi murah hati, menahan amarah, lebih toleran, lebih gampang masuk masjid, dan banyak lagi.

Saya selalu membatin, “seburuk-buruknya perbuatan saya di sebelas bulan terlewat, kalau Ramadan, saya harus fokus menempa jiwa dan ruhani” Energi dan semangat ber-Islam dari bulan Ramadan itu merupakan berkah yang tidak ada bandingannya.

Sejumlah pelajaran yang saya peroleh di bulan Ramadan, mengubah cara pandang dan berpikir saya selama ini. Saya akan membagikan cerita dan pelajaran tersebut setelah ini. Bisa jadi, ini bukanlah hal yang luar biasa. Tapi jujur, bagi saya ini hal yang baru dan personal. Dampaknya masih terasa sampai saat ini.

 Diary Ramadhan Penuh Berkah Bersama Abutours & Travel

Ahmad si Yatim Piatu

Subuh itu, seperti biasa, ada ceramah yang disampaikan selepas shalat. Setiap itu pula saya upayakan tinggal di masjid. Siapa tahu saja ada nasehat yang mengena. Meski niatnya baik, saya terlalu mengantuk. Seringkali, saya mendengarkan ceramah sambil duduk terpekur posisi bersila. Melipat tangan dan menekuk kepala dalam-dalam ke arah dada. Sampai dagu hendak menyentuh leher. Setengah dengar setengah sadar.

Sebelum sempat saya tertidur, protokol naik menyampaikan pengantar yang tidak biasa. Saya bertanya-tanya dalam hati, barangkali ada orang aneh sekaligus luar biasa yang hendak membawakan ceramah.

Sebelum naik di mimbar, Pengurus Masjid merasa perlu memperkenalkan sosok satu ini. Namanya Ahmad (bukan nama sesungguhnya). Bahwa anak ini, sejak kecil sudah kehilangan kedua orang tua yang dicintainya.

“bapak ibu jamaah sekalian, kebaikan itu bisa datang dari mana saja. Bapak ibu tidak perlu risau tentang siapa yang membawakan ceramah. Tapi dengar dan perhatikan apa yang disampaikannya.”

“subuh ini, saya akan perkenalkan seorang anak. Masih menyelesaikan masa sekolah menengah di pesantren. Bapak ibu yang sudah tinggal di kompleks ini sejak awal 90-an, pasti mengenal kedua orang tuanya. Namun takdir Allah, anak ini ditinggal mati ibu pada usia 3 tahun. Menyusul ayahnya berpulang waktu ia masih kelas 3 sekolah dasar. Kakaknya, tempat ia diberikan kasih sayang, tempat ia menumpang tinggal, juga meninggal dua tahun silam.”

Sontak semua jamaah mengangguk-ngangguk. Beberapa mulai menunjukkan rasa haru. Sebab sebagian dari warga yang datang ke masjid, mengenal ayah bunda si Ahmad. Sisanya tidak mengenal dan tiba-tiba terhenyak karena situasi Ahmad yang tidak biasa.

Dengan tenang, muncullah Ahmad dari tengah barisan saf petama. Sejurus, dengan tenang ia naik ke mimbar. Wajahnya masih menyimpan raut anak-anak. Kecuali peci bundar putih yang tidak pernah lepas dari kepalanya. Sesampai di mimbar, selama kurang lebih setengah menit, ia mengambil jeda sebelum bersuara. Ia memandang lekat semua yang hadir. Bisa jadi ia meragu, menghilangkan ketakutan, merapalkan doa, atau bisa jadi ia sedikit mengerti teknik berhadapan dengan publik.

Sesi perkenalan tadi mari kita anggap sebagai teaser (pembuka) yang memancing. Dengan inisiatifnya, ia mengambil silent moment yang membuat hampir semua jamaah memandangi Ahmad. Merenungkan situasinya. Atau bilamana kondisi itu terjadi pada diri masing-masing hadirin. Hening beberapa saat.

Berdirinya Ahmad di mimbar saja sudah merupakan kesaksian besar. Kehadirannya sudah membawa pelajaran bagi semua jamaah. Tanpa dia ceramah, sebuah cubitan keras bagi kita yang sering melalaikan kedua orang tua.

Dalil Qur’an, hadits Rasulullah, dan kisah-kisah inspirasi tentang berbuat baik pada orang tua melancar deras dari bibirnya. Jadilah subuh hingg menjelang jadi subuh yang haru. Bukan profesor bidang agama atau kiai yang berikan ceramah. Hanya seorang anak belum 17 tahun memberikan ‘warning’.

“Sungguh celaka orang-orang yang mendapati orang tuanya berumur senja, tapi tetap tidak bisa masuk surga gara-gara itu” begitu kata Nabi.

Nenek dari Panti Asuhan

Suatu pagi yang biasa di bulan puasa, menjelang pukul sepuluh, saya masih tertidur di kamar. Antara mimpi dan sadar, saya mendengar seseorang di luar pagar mengucap salam dengan lirih. Sambil menunggu, ia membunyikan gagang besinya berulang-ulang. Akhirnya saya terbangun.

“Salamualaikum…dari panti nak…”
“Salamualaikum…dari panti nak…”
“Salamualaikum…dari panti nak…”
begitu terus  si nenek mengulang-ulang salamnya. Memecah situasi pagi yang sepi di lorong rumah.

Saya begitu mengantuk. Tanpa cuci muka, saya langsung keluar dari kamar masih berkaos dan celana pendek. Ternyata memang benar. Mengintip dari balik tirai jendela ruang tamu, seorang nenek menunggu di luar. Entah sejak kapan ia berdiri mematung di situ.

Memang di sekitar tempat saya tinggal, kalau pagi hari kerja begini, sering ada petugas panti asuhan datang mengetuk pintu nurani di tiap pagar. Ada yang meminta sumbangan secara langsung, ada juga yang menjual sesuatu seperti buku doa-doa, stiker ayat kursi, macam-macam. Beberapa kali muncul pemberitaan miring tentang mereka. Seperti data panti yang fiktif, uang sumbangan untuk keperluan pribadi, dan lain-lain. Tapi Alhamdulillah Ibu mengajarkan kami untuk selalu menanggapi sesuatu dengan positif. “mereka datang karena mereka butuh” begitu nasehatnya.

Jika sudah datang seperti itu, bila lebih, pasti saya kasih. Begitupun dengan si nenek. Terlintas pikiran di benak ingin distraksi kecil ini segera berlalu. Saya sudah membayangkan tubuh saya akan bergerak cepat, mengambil dompet, mengeluarkan ala kadarnya, lalu memberikannya sesegera mungkin. Lalu melihatnya pulang dari balik pintu kemudian tidur kembali.

Tapi Allah menunjukkan kuasa-Nya.

Belum sempat terjadi, adik saya memanggil si nenek masuk ke dalam rumah. Sejurus kemudian, duduklah ia di ruang tamu. Menunggu uang santunan bagi pesantren tempatnya mengabdi. Seperti tersihir, di depan sang nenek, saya duduk diam setengah sadar.  Raut mukanya tenang. Kedua belah bibirnya yang telah kempis berkeriput terlihat bergemetar seperti hendak bercerita banyak.

“Kemana Ibu’ ta nak? Tidak pernah mi saya ketemu lagi kalau ke sini” ia mulai dengan gemetar. Awalnya saya heran, bagaimana bisa ia kenal dengan Ibu saya.

“Adek ta’ juga yang perempuan. Biasa itu kasian dia mi yang suruh ka masuk di rumah.” Kaget saya bertambah. Dia tahu juga adek saya yang kedua. Kenapa si nenek bisa tahu mereka berdua? saya bingung.

“iyye, pergi ki dua-duanya, nek. Lama mi ndak di Makassar. Ada ki di kota lain, ada yang na urus.” jawab saya seadanya.

Akhirnya, si nenek mulai bercerita. Si nenek menceritakan perlakuan baik Ibu saya bila nenek itu menyempatkan diri ke rumah, berjalan mengharap sumbangan dari pintu ke pintu. Mata saya langsung terbuka lebar, telinga saya mendengar baik-baik. Sekarang tahulah saya bagaimana kebiasaan Ibu saya pada si nenek. Sebelumnya saya tidak tahu sama sekali.

“selalu itu kodong dia kasi saya ‘sekian rupiah’ tiap tahun kalau mau lebaran,” tambahnya. Duh, betapa kikirnya saya. Saya menyesal. Uang yang saya siapkan di kantong nilainya jauh lebih kecil daripada yang biasa Ibu berikan.

Bergegas saya kembali ke kamar, membuka kembali dompet. Alhamdulillah masih cukup, saya mantap meyerahkan semuanya.

Saya akhirnya belajar banyak dari Ahmad di kisah sebelumnya, tentang berbuat baik pada orang tua. Salah satu nasehat agama menyebutkan, berbakti pada orang tua itu banyak caranya. Meski tidak sedang di tempat, kita bisa merawat silaturrahim dengan teman dan kerabatnya. Tidak terkecuali pada si nenek dari panti.

Ketika sumbangan itu saya berikan dengan sedikit kelebihan, saya berniat semoga pahala ini mengalir pula ke Ibu saya. Secara tidak langsung, Ibu mengajarkan dua hal. Pertama menjaga hubungan baik dengan memberikan kebaikan yang sama bahkan lebih. Kedua, menjaga amanah, karena akhirnya saya sadar, nenek itu, dan semua yang berjalin erat dengan Ibu saya, adalah amanah.  Akhirnya, ada kelegaan setelah melepas demi janji pahala yang lebih banyak. Amiin. Legalah hati saya pagi itu.

Oh iya, sebelum pulang, beliau menyisipkan dua bungkus kue kacang yang disusunnya lewat styrofoam sedang. Meski sederhana, saya menebak beliau sedang berusaha saling berbagi dan membalas kebaikan Ibu.

Artikel ini tulisan ini dibuat untuk dikompetisikan pada Blog Contest Ramadhan Bersama Abutours & Travel.

#LebihDariSekedarNikmatnyaIbadah
#SemuaBisaUmroh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s