Mantra Andrea di Sirkus Pohon

vhvn-anh1_sqtp
Bai Choi, salah satu pertunjukan rakyat di Veitnam (vovworld.vn)

Bak penyihir, Andrea menggunakan jampi-jampi di seluruh halaman. Sehabis membayar harga lalu merobek plastiknya, mantra kata-kata penuh bumbu rima Melayu langsung menyergap. Menyuguhkan kisah yang tidak banyak kita ketahui: Sirkus Keliling. Kaya kata-kata memikat, memukau, menghunjam, berkelok tajam, berima jenaka, bertutur santun, serta beberapa serapah. Sekali lagi, Andrea Hirata.  

“Sirkus itu bak sebatang pohon. Berakar dalam sejarah yang tua, tumbuh menjadi kisah, tumbuh menjadi kisah, menapaskan gembira, cinta, pengorbanan, dan duka lara. Rindang daunnya menaungi seni, ilmu, dan jiwa-jiwa yang berani. Kokoh dahannya merengkuh orang-orang yang terabaikan” 

Karya ini memang tentang kehidupan sirkus dan kesederhanaan masyrakat Melayu di Belitong. Tapi, tidak dapat hadir cerita tanpa tokoh. Baiklah, kisah ini tentang dua jalinan cerita antara “Hobri dan Dinda” dan “Tegar dan Tara.” Drama cerita kasih dua pasang anak manusia yang menghasilkan semangat juang meluap-luap.

Keduanya kisah ini berlainan namun dengan garis merah yang sama. Alih-alih menawarkan romantisme dan pertemuan-pertemuan yang menderaskan detak jantung, Andrea menyajikan kesabaran, kegigihan, dan rasa penuh tanggung jawab pada setiap karakternya.

Satu, kisah Hobri, pemuda umur jelas 30 tahun pengangguran belum kerja-kerja dan sama sekali belum sebiji pun menemukan dambaan hati. Akhirnya jatuh cinta pada seorang Dinda. Perempuan yang tiba-tiba datang di halaman rumahnya. Selalu kagum memandang pokok pohon Delima miliknya yang menyimpan begantung-gantung buah ranum. Sekali dilihatnya Dinda, muncul keinginannya segera membangun mahligai rumah tangga. Dasar Hobri, bujang Melayu yang tak pandai sedikit mengumbar kata-kata manis! Tak berani pula ia pacaran! Lalu dilamarnya Dinda.

Seribu alasan tak cukup bagi seorang perempuan untuk menyukai seorang lelaki. Namun satu alasan saja lebih dari cukup bagi seorang lelaki untuk tergila-gila kepada seorang perempuan kata Hobri.

Sialnya Dinda yang dicintainya tiba-tiba seperti kena tenun, lupa diri sendiri dan dan hilang ingatan. Bukannya hilang dan mencari pasangan lain, Hobri menunggu. Meski yang ditatapnya mengaku tidak mengenal sama sekali. Tapi bagi Hob, pantang laki-laki ingkar janji. Cinta pada Dinda malah tumbuh semakin besar. Setiap sore lepas menumpahkan semua keringatnya sebagai badut sirkus, Hobri datang ke rumah Dinda. Ajaibnya, itu membuatnya selalu bersemangat untuk memulai esok hari.

“Bangun pagi, let’s go! Segala hal terbangun. Cecak terbangun, tokek terperanjat, pohon-pohon terbangun, ilalang bangkit, burung-burung bersorak, kumbang-kumbang terbang, ayam-ayam berkokok, bunga-bunga mekar, semua tak ingin ketinggalan, semua ingin berangkat! Semua ingin melihat dunia! Ingin belajar! Ingini bekerja! Ingin berkarya! Hari menjadi megah jika dimulai dengan gembira”

Cinta tidak membuatnya patah semangat.  Kerinduan melihat Dinda sembuh membuatnya berkerja keras dan pantang menyerah. Terbit motto hidupnya, Bangun pagi, let’s go! 

Lalu, tentang kisah Tegar yang berusaha menemukan memori lamanya tentang seorang anak perempuan yang pernah dibelanya dari gangguan sekumpulan anak. Disebutnya “layang-layang”. Ia menamainya begitu karena ketika mengingat wajah anak itu, Tegar merasa “melayang-layang”. Sementara Tara, menamai Tegar “sang pembela” karena dengan berani menyodorkan dirinya melindungi “layang-layang” dari gangguan. Waktu itu, ayah  Tegar dan Tara masing-masing hendak bercerai dengan pasangan masing-masing. Jadilah hidup menghempaskan mereka jadi yatim. Tapi momen itu, membuat Tegar dan Tara selalu memimpikan hal yang sama: bertemu kembali. Menanyakan nama masing-masing.

Hidup membuat mereka harus terus berjalan, bahkan sambil tertatih tatih. Tegar tidak punya agenda lebih penting selain membuat ibunya terbantu di dapur dan adik-adiknya bisa sekolah. Banting tulang tegar memenuhi itu semua. Satu-satunya hal yang membuatnya tenang di tengah kesibukannya memegang peran ayah dan kakak bagi adik-adiknya, cuma “layang-layang”.

Adapun Tara, masih duduk di bangku SMP, tapi hidup mengopernya ke sana ke mari. Berkeliling Kampung Belantik dan kampung-kampung lain di seantero tanah Melayu melanjutkan sirkus peninggalan ayahnya. Tempat di mana Hobri menjadi badut, Tara sendiri sebagai mandor kecil. Kemampuan seninya begitu tinggi menurun dari ibunya. Ia sangat pandai mendekor dan menggambar. Hampir semua properti sirkus dirancang Tara dan ibunya. Berdua mereka bersama menantang hidup yang harus terus dilanjutkan.

Berlatih, berlatih, berlatih, jatuh, jatuh, jatuh, bangkit, bangkit, bangkit, berlatih, berlatih, berlatih. Tim sirkusnya berhasil. Tapi gagal lagi dan akhirnya bangkrut karena terlalu banyak hutang sana sini. Satu-satunya hal yang menghibur dirinya adalah menggambar wajah “sang pembela” sekali di awal bulan, di hari Jumat. Tanpa lupa setiap hari jika bertemu orang yang mirip si pembela, Tara dengan sumringah selalu bertanya, “Kaukah yang membelaku waktu itu?

Apakah Tara dan Tegar akan saling berjumpa? Adakah Teguh akhirnya mengetahui Tara adalah “layang-layang” dan Tara mengetahui Teguh adalah “sang pembela”? Bagaimana mereka akan mengetahui masing-masing ketika wajah mereka semakin dewasa dan berubah?

“Cinta akan memihak pada mereka yang menunggukata Hobri lagi.

Cinta akan selalu memihak pada mereka yang sabar menunggu saat yang tepat. Tidak seperti kisah-kisah lain yang mengedepankan “cerita cinta”, kisah “Hobri dan Dinda” dan “Tegar dan Tara” menjadikan unsur itu berada di belakang layar. Tidak lantas harus selalu jadi yang utama. Jadi, barangkali pesan Andrea pada orang-orang yang jatuh cinta. Hei anak muda, tidak usah buru-buru, tunggu saja. “Cinta” pasti akan berpihak padamu suatu saat. Kerjakan hal lain yang benar-benar penting sehingga ketika tiba, kalian menjadi semakin kuat, tepat, dan layak.

Dua cerita ini meski berbeda tapi saling bertaut menguatkan posisi satu sama lain. Melanggengkan benang merah masing-masing. Cerita ini, bagi saya, lebih pada tentang kisah tokoh-tokohnya yang ditampilkan dengan karakter sangat kuat. Ada Tara, ada Tegar, ada Hobri. Juga sekumpulan warga di kampung Melayu yang ternyata bersekongkol berjuang mengusir tokoh kebatilan dari kampung mereka. Sepertinya, Andrea hendak membuat karakter itu jadi contoh dan sentra dalam Sirkus Pohon. Jalin jemalin kisah dalam 87 bab pendek-pendeknya jadi lebih hidup.

Lebih penting lagi, tentang tema yang selama ini tidak banyak kita ketahui: sirkus keliling. Termasuk kisah dunia sirkus yang diceritakan Tara, kepada Hobri. Indonesia, sejak tahun 70-an sempat ramai dengan aneka pertunjukan rakyat, termasuk sirkus keliling. Lalu mulai melemah sejak akhir 90-an. Ia juga bercerita tentang kisah pilu badut Emmeth Kelly, yang berlari pontang panting sambil menangis membawa ember berisi air. Mencoba menumpas api yang melahap usaha sirkusnya pada satu sore kelam tahun di Connecticut, Amerika Serikat. Hari itu, dunia sirkus mengenangnya sebagai “the day the clown cried”.

Dalam Sirkus Pohon, banyak berceceran kisah-kisah lain dengan intrik yang lebih kompleks dan dalam. Dibaca sedikit makin nagih. Dibaca banyak-banyak, tidak terasa sudah habis. Baca Sirkus Pohon,  boi! Sangat layak kau tiru semangatnya Hobri dan Tara. Sekian.

Advertisements

3 thoughts on “Mantra Andrea di Sirkus Pohon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s