Merawat Ingatan: Teater Penyintas di 20 Tahun KontraS

IMG_6482
Pameran 20 Tahun KontraS, 20 Tahun Reformasi (dok.pribadi)

Di sebuh koridor, dua orang berkaos putih berdiri berjejer ke belakang. Kepala di tutup kain putih. Sambil berjalan perlahan, yang paling di depan mendendangkan lamunan syair sendu. Sambil menangis, mereka terus berjalan ke depan dengan setengah badan terlindungi kain putih.

Tiba-tiba suara tembakan berturut-turut menggoyang-goyangkan tubuh mereka ke belakang. Tapi mereka seperti menolak tersungkur. Kemudian tubuh mereka tegak kembali. Lalu mereka berjalan lagi, seperti zombie, seolah tidak mati terkena hantaman peluru. Syair dilanjutkan lagi, dengan suara yang semakin keras. Lalu suara tembakan kembali menghambur berkali-kali di badan mereka. Suasan terus hening dan mencekam hingga mereka tiba di ujung lorong.

Di sana, seorang perempuan paruh baya memulai ceritanya sambil setengah meraung dan menangis. Ia meluapkan perasaannya sebagai yatim. Ayahnya tewas, ditemukan meninggal setelah diberondong peluru arapat. Ketika keluar rumah di malam hari, esok pulang selamat tinggal jadi mimpi. Tubuh sehat ayahnya bersalin jadi jenazah bertubuh kaku. Tahulah kami semua, adegan itu adalah gambaran singkat kekerasan aparat di Aceh pada masa DOM (Daerah Operasi Militer). 

Nukilan tersebut merupakan bagian dari teater yang dilakonkan penyintas (mereka yang masih bertahan) akibat kekerasan, konflik, dan pelanggaran HAM lainnya.

Malam itu, Selasa (20/3), lorong koridor lantai 3 Gedung WIMO @Coworkinc  di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, menjadi saksi dari panggung rentetan kasus pelanggaran HAM selama 20 tahun terakhir. Ditampilkan dalam bentuk teater. Selama kurun durasi 30 menit lebih, para penyintas dan keluarga menerjemahkan kejadian masa lalu tersebut dalam bentuk orasi naratif. Sedikit banyak, yang hadir dapat merasakan bagaimana atmosfer kala itu. Juga bagaimana perasaan para korban yang hingga hari ini masih berjuang memperoleh kebenaran.

Alih-alih menyajikan sesuatu yang menarik, teater tersebut jauh dari kesan menghibur. Melainkan sebagai medium merawat ingatan kejadian di masa lalu. Selama adegan-adegan itu berlangsung, beberapa kali saya kaget dan merinding. Saya kemudian bersyukur bahwa tidak ada anak di bawah umur 12 tahun yang menjadi penonton teater ini. Meski terlihat dua sampai tiga orang, mereka bagian dari keluarga penyintas.

Lalu, ada juga adegan lain yang lebih ‘sadis’ lagi. Dua orang, yang satu bertindak sebagai algojo, berdiri di belakang seorang tawanan yang didudukkan menghadap ke depan.

Rambutnya digenggam dengan satu cengkraman penuh. Kemudian algojo tampak sedang menarik dengan kencang dan sekuat-kuatnya. Dimajumundurkan ke depan ke belakang begitu berulang hingga beberapa kali. Bola matanya memerah. Tapi masih tetap hidup. Lalu si algojo melebarkan seluruh sisi lengannya bagian kanan. Setelah itu, ia mengambil leher tawanan dan diletakkan antara lengan atas dan lengan bawah. Leher yang sudah lemah itu dipelintir beberapa kali hingga sebagian bola mata putih si tawanan mendadak putih dan menghadap ke atas. Seperti sedang menanti sekarat.

Scene ini menggambarkan aktivitas penghilangan paksa dan penyiksaan aktivis rentang 97 hingga 99 akhir. Setelah adegan ini berlangsung, di ujung koridor kembali kami dijelaskan secara oratif, apa dan bagaimana perasaan penyintas yang dapat bertahan hingga sejauh ini.

Di satu cuplikan pementasan lain, para penyintas membagikan pesawat kertas pada orang-orang yang hadir menonton. Lalu dengan satu instruksi, pesawat itu diterbangkan ke udara bersamaan. Penggalan yang belangsung kemudian lantas membuka ingatan kita semua tentang Almarhum Munir, yang sengaja di bunuh di atas pesawat ketika terbang ke Belanda. Dihilangkannya Munir karena getol memperjuangkan hak asasi dan menolak impunitas para pelanggarnya. Tak ada yang pernah segarang almarhum. Hingga kini, mereka yang bertanggung jawab bahkan masih melenggang hingga sekarang.

Namun malam itu rasanya seperti kurang lengkap. Saya tidak menyaksikan kehadiran bunda dari Wawan. Mahasiswa yang mati diterjang peluru aparat pada tragedi Trisakti. Namannya Maria Catarina Sumarsih, akrab disapa Ibu Sumarsih. Menurut Malik, teman yang pernah berkecimpung di KontraS (Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), kondisi kesehatan beliau tidak memungkinkan berlama-lama di satu tempat. Mungkin itu alasan Ibu Sumarsih tidak ikut pementasan ini. Keluarga hanya membolehkan bepergian di Hari Kamis. Itulah hari di mana beliau sangat aktif (konon tidak pernah berhenti sekalipun) melakukan Aksi Diam Kamisan di depan Istana Negara.

Bila beliau ikut, saya cukup yakin atmosfet teater yang bakal ditimbulkan semakin kuat. “Generasi milenial” – mengikut istilah yang jamak digunakan –  termasuk  teman-teman muda dan mahasiswa akan mendengarkan langsung pengakuan seorang Ibu dengan rambut yang nyaris semuanya telah memutih, fisik yang tidak muda lagi, dan usia yang sudah senja kala. Saya membayangkan Ibu Sumarsih akan berpesan bahwa menjadi muda itu berarti harus berani dan gigih melawan tirani, karena keadilan masih menjadi barang langka di negeri ini.

(saya) sering kasihan juga sama peserta aksi (Kamisan) yang sudah tua-tua, tetap ikut meski hasilnya gak ada, sama saja” ujar Malik. Surat mereka tidak pernah terjawab meski sudah lebih 500 aksi digelar sejak tahun 2007.

Meski begitu, Aksi Kamisan tidak melulu menjadi ajang protes dengan “berdiri diam,” tapi juga tempat saling menguatkan dan memberi semangat. Saya sendiri pernah ikut beberapa kali aksi Kamisan. Juga bagi kawan-kawan yang pernah ikut Kamisan, pasti ngerti. Bila kita masih punya empati, masih mengerti pada kata hati, masih mau mendengar dengan teliti, pasti akan sedikit tahu bagaimana rasanya berada di pihak para penyintas.

Lalu ada juga Ibu-ibu korban hak agraria yang datang dari Rumpin, Bogor. Tanah yang mereka tinggali berpuluh-puluh tahun dirampas dan dipersengketakan aparat berseragam kaku.

Salah seorang pemeran lantas berjalan menyusuri koridor kira-kira sepanjang 15 meter. Ia beradegan pantomim sambil melangkah membawa neraca keadilan yang berat sebelah. Para pencari keadilan  dilambangkan dengan wajah putih pucat, matanya ditutup, mulutnya dibungkam. Memang tidak ada yang pernah selesai bila berhadapan dengan penguasa.

Menghitung 20 tahun sejak reformasi, tentu saja teater ini tidak akan cukup menampung semua peristiwa yang terjadi. Meski demikian, teater bisa meramu banyak hal lalu selanjutnya menyajikan karya yang akan terus menggugah kesadaran mereka yang menontonnya.

Teater ini, menggambarkan secara lirih sekaligus marah pada semua bentuk kesewenangan yang terjadi di negeri ini. Pada ketidakpastian hukum yang menimpa masyarakat, pada sikap represi yang hingga saat ini belum selesai diatasi, dan masih terjadi.

Semoga panggung teater yang kecil itu bisa bergeser ke panggung yang lebih besar: Pengadilan HAM Ad Hoc.  Upaya ini jelas bukan tidak mungkin, tapi butuh lebih dari sekedar peduli dan berani, tapi juga punya nyali. Menjadi berani karena benar memang susah. Untuk semua syarat itu, patut kita mengingat kembali perjuangan Almarhum Munir. Seorang penyintas berpesan, “kita harus serius melawan (ketidakadilan), karena yang kita hadapi juga serius”

Panjang umur perjuangan!
Hidup korban! Jangan Diam! Lawan!

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.