Sikap Kita, Menentukan Segalanya!

IMG_8335
Suasana pagi di bibir dermaga pelelangan ikan Paotere, Makassar

Pagi begini, saya kembali teringat dua kejadian. Waktu itu hujan masih rajin mengguyur Makassar. Masih sangat membekas di benak. Bahwa ternyata begitu tipis batas antara marah dan ramah. Bagaiman sikap kita, itu menentukan segalanya. Keduanya terjadi di tempat yang berbeda dan pada waktu yang tidak berselang lama.

Pukul 7 lewat sekian.

Ceritanya pagi di hari Sabtu itu saya ke lelong (pelelangan ikan) di Paotere. Meski jauh dari tempat tinggal, hasil laut relatif lebih murah. Ikan-ikannya juga lebih segar karena baru diangkut dari melaut semalam. Kalau disimpan di kulkas, yah bisa sampai seminggu.

Waktu berangkat, gumpalan awan kian kelabu. Ketika sampai, saya sudah tidak kebagian parkir. Areal Paotere sedang dalam tahap renovasi. Semua pedagang disiplin. Tidak ada yang menjual di areal yang masih dalam penyelesaian. Lahan yang biasa digunakan parkir, beralih fungsi jadi pelelangan sementara. Akhirnya semua motor terpaksa tumpah ruah ke jalan hingga masuk di halaman warung-warung di sekitar situ. Pertigaan jalan masuk pelelangan sudah penuh motor. Tukang parkir dari jauh sudah memberikan kode tanda sudah tidak ada tempat lagi.

Akhirnya sepanjang jalan menuju pelalangan jadi tempat parkir. Empat hingga lima orang berdiri di sisi kiri dan kanan jalan kemudian memberi kode agar motor merapat ke jatah ‘kawasan parkirnya’. Kemudian saya memilih sisi kanan yang masih lowong sedikit di sudut jalan, hampir-hampir masuk got.

Saya lalu berjalan ke dalam, ternyata sudah lebih sesak lagi. Rintik-rintik hujan juga semakin menjadi-jadi. Pedagang dan sambalu’ (pelanggan) berbaur berebutan ruang di area terbuka. Kios dadakan hanya dinaungi terpal biru dan beberapa bocor sana sini. Sementara sambalu’ sibuk berpindah dari satu terpal ke terpal yang lainnya. Mereka tipe manusia yang suka ngotot menawar harga. Sudah tidak peduli lagi percikan becek yang intens, air hujan dari bibir terpal, dan percikan sana sini air keranjang ikan yang basah dan amis. Melaju dan melesat tidak kenal waktu dan siapa.

Tapi semua harus dilangsungkan. Padahal prosesnya (jual-beli) berlangsung dengan ketat. Tidak satupun yang komplain. Bagi semua, pedagang dan sambalu’, situasi boleh berubah, menjadi berbeda, runyam, dan kacau. Tapi semua harus terkendali. Tidak ada yang tersinggung. Apalagi merasa dihina dan direndahkan. Itu yang saya senangi dari geliatnya pasar.

Saya ingat, dulu pernah menawar hasil kebun (hutan) di sebuah pasar di Papua. Setelah adegan tawar menawar yang memang di dominasi mace penjual itu, dia ketus, “adoh ade, ko pi tanam sendiri sudah”. Beruntung saya tidak sampai kena ludah pinang. Kejadian itu membuat kemampuan tawar menawar saya mentok di level terendah. Hehe.

Setelah tidak mampu menawar lebih rendah lagi, saya pulang berjalan ke luar dengan dua kantong berisi ikan segar. Alhamdulillah mayan.

Tiba di tempat parkir, hujan semakin deras. Anak muda yang menjaga parkir itu, katakanlah si A, sudah kepalang kuyup sedari tadi tanpa alas kaki. Bergegas saya buka sadel motor, mengambil mantel, dan langung mengenakannya. Sejurus kemudian anak muda lain, sebut saja di B, yang berada tepat di seberang jalan, mencoba memprotes. Badannya lebih besar, tapi suaranya kecil disamarkan hujan. Ia juga turut menjaga ‘wilayah parkir’ di sisi lainnya. Pembagiannya jelas, kiri dan kanan.

Saya dengar sekilas sebabnya karena satu atau dua motor yang parkir uangnya diterima si A tanpa sepengetahuannya. Keluarlah kata-kata balasan yang kurang mengenakkan dari si B. Ia menumpahkan kekesalannya di tengah hujan yang belum mau mereda. Hal ini mengundang beberapa lain mencoba melerai keduanya. Dua orang ini menyabet median jalan sebagai lahan perselisihan mulut di tengah derasnya air yang jatuh dari langit.

Merasa salah, si A mencoba melunak. “jangko lagi bilangi saya seperti itu. Sudahmi. Masalah begini ji lagi. Ini saya ganti uangmu.” Ia mengeluarkan uang ribuan dua lembar. Lalu mencoba menyodorkan pada si B. Tapi mungkin karena gengsi dan harga diri, uang itu tidak diterima. Beberapa saat, tensi menurun. Benar-benar menurun. Semua lantas kembali ke wilayah parkiran masing-masing. Kami yang menyaksikan itu benar-benar mengira masalah sudah selesai. Tidak lebih dari cekcok antara sesama kawan. Saya yang berada sangat dekat dengan si A sudah hendak pulang.

Tapi siapa yang bisa tebak isi kepala dan hati manusia. Ternyata si B sudah sampai di ubun-ubun, sudah mendidih, panas kepalanya. Kurang hebat apa lagi hujan menyeka seluruh tubuhnya? Kaget kami semua. Tiba-tiba, dari arah seberang jalan, si B dengan parang panjang di tangan kanannya berlari mengejar si A. Dalam perimeter sekian dan sepersekian detik, parang itu disabet mengarah tepat ke leher si A.

Dalam waktu yang sesingkat itu pula, takdir Tuhan berjalan. Rekan si B sigap menahan aliran kencang dari parang yang telah siap menunaikan tugasnya. Rekan si A tanpa komando langsung mendorongnya mundur sepersekian inchi. Sedikit saja, jebret, ujung parang itu akan menembus dan menyambar urat lehernya. Seorang Ibu yang kebetulan melihatnya sudah menjerit dan menghambur ke arah berlawanan, sementara lainnya membisu. Parang itu nyaris menumpahkan darah. 

Semua terpaku. Si A lebih tegang lagi. Berdiri gemetaran di tengah kawan-kawannya. Nafasnya naik turun, wajahnya kehilangan rona, pucat pasi. Ia hampir kehilangan nyawa. Ia masih muda dan kelihatan orang baik. Setelah memberi uang parkir lebih, ia masih sempat menyunggingkan senyum dan membalas dengan terima kasih. Saya tidak tahu lagi apa yang terjadi lagi setelah itu. Yang jelas, ia butuh waktu untuk menstabilkan emosi dan guncangan hebat di dadanya. Hujan perlahan mereda. Saya berbalik arah menuju arah Jalan Veteran.

Pukul 8 lewat sekian.

Setelah dari Paotere, langsung ke sini melengkapi bahan masakan berupa sayur dan bumbu-bumbu dapur. Setelah parkir motor, saya langsung menuju si Daeng (namanya saya tidak tahu). Ia mungkin satu-satunya pedagang sayur mayur langganan saya. Ada kangkung, bayam, jagung muda, sawi, kol, dan macam-macam.

Di jalan yang sempit ini, para pedagang di sisi kiri dan kanan jalan saling berbagi ruang tanpa berisik. Semuanya jualan sayur. Barang yang di jual sama dengan yang dijual di sebelahnya. Tempat ini jadi tempat favorit juga bagi sebagian Ibu-Ibu berbelanja. Sebut saja Daeng Santun Bin Ramah, karena saya anggap orangnya santun dan ramah. Meski kita tidak selalu setuju dengan penampilan fisiknya.

Jangan tanya apa yang saya lakukan. Kalau Ibu-Ibu menawar, saya cuma bisa menunggu di belakang. Terpekur melihat ketangguhan seorang pembeli. Kalaupun saya ikut menyerobot antrian sambil menawar, suara saya terlalu kecil. Pernah sampai 4 kali saya ngomong, tapi tidak ada respon. Akhirnya menunggu hingga selesai. Setelah itu, ketika sudah face-to-face, saya cuma bilang “yang seperti biasa saja, Daeng”. Ia pasti sudah mengerti. Dimasukkanlah beberapa jenis sayuran ke plastik. Kadang dua plastik kalau si Daeng berhasil ‘memperdaya’ saya membeli lebih dengan bujuk rayunya.

Hal yang membuatnya istimewa adalah kegesitan buku-buku tangan lebarnya memilah dan mengombinasikan aneka sayur-mayur menjadi paket murah meriah. Pilihan jenis sayurnya juga banyak karena Ia membawa mobil box kecil. Tapi sesekali saya juga sering melihatnya dicueki dan dilewati begitu saja karena misi terpenting tawar menawar gagal dilakukan. Di sini, saya juga melihat kelebihan lain si Daeng, ia paduan cerewet sekaligus tabah dan sabar.

Sementara sebagian pedagang lain umumnya cuma menunggu datangnya pembeli. Tapi begitulah kehidupan di sepanjang gang sempit ini. Tidak ada wilayah kekuasaan, siapa yang pandai mengobral dagangan, mengatur siasat tarik ulur dengan pembeli, ia yang menuai untung.

Tapi hari itu, tiba-tiba saya melihatnya mengeluarkan parang dari sarungnya. Parang itu berkilat. Sontak kejadian di pelelangan terulang kembali di benak. Ia sodorkan parang itu ke pedagang sayur di depan kiosnya, di seberang jalan. Kali ini tidak diayunkan. Semuanya terjadi dengan pelan. Parang itu baru selesai menunaikan tugas mengelupas kulit mangga ranum. Satu irisan besar bertengger di punggungnya yang kokoh. Dengan sigap, parang itu disambut dengan senyum hangat oleh rekannya di sebelah.

Lalu yang lain ingin merasakan juga. Ia kemudian mengiris satu lagi dan memberikannya dengan segera. Ketika sudah berada di tangan, dagingnya yang lembut langsung masuk ke mulut. Mereka saling berbalas senyum. Ketika itu terjadi, cahaya pagi sudah menunjukkan sinarnya perlahan. Menembus gang di pasar. Relasi yang akrab ini terasa hangat mengingat kejadian sejam yang lalu.

Meski kios si Daeng jadi favorit banyak orang, ia dan pedagang sayur-mayur lainnya mungkin begitu paham bahwa rezeki sudah ada yang mengatur. Masing-masing pedagang punya sambalu’ tersendiri. Meski si Daeng sering lebih duluan pulang karena dagangannya ludes, toh akhirnya dagangan yang lain juga akan habis dengan sendirinya.

Si anak muda dan si Daeng bermaksud menjemput rejeki masing-masing. Mereka berdua sangat bugar. Pertanda Tuhan masih memberi kesempatan mereka bekerja dan giat berusaha. Sementara si anak muda ingin memutus rejeki orang lain, si Daeng justru menggunakan parangnya untuk berbagi. Viktor Frankl dalam bukunya Man’s Search for Meaning mengatakan sikap seseorang menentukan segalanya. Apakah ia bertahan atau justru remuk redam. Di titik ini, kita butuh Tuhan. Seize the day!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s