(Mungkinkah) Ini Era Baru Sepak Bola (?)

france reuters (8)
Foto: Reuters

Semua terkesima. Kita takjub. Segala sepak terjang tim yang bermain di Piala Dunia Rusia 2018 ini sudah kita saksikan. Meninggalkan catatan dan peristiwa penting bagi sejarah sepak bola. Sekaligus menyisakan statistik yang membuat para fans melonjak kegirangan atau menunduk kecewa. 

Semuanya menyimpulkan satu hal penting. Ketika hampir semua pasang mata mengharapkan tim dengan materi pemain kelas dunia menjadi juara, pada akhirnya kalah.

Ternyata, keberhasilan memihak negara dengan persiapan paling matang. Kepiawaian para pelatih, kepercayaan pelatih terhadap seluruh anggota tim, kemampuan tiap individu menerjemahkan strategi sehingga menjadi solid, dan masih banyak lagi. Inilah kemenangan di Piala Dunia kali ini: kemenangan kolektivitas. Keberhasilan daya juang berpadu kesabaran.

Perayaan era baru sepak bola telah dimulai. Piala Duna 2018 menghibur jutaan penonton dengan lihainya kesebelas pemain berjuangan sekuat tenaga, bukan cuma satu atau dua pemain. Belgia, Rusia, Jepang, Kroasia, dan Uruguay, telah menunjukkan perjuangan yang tidak habis-habis. Terus berlari sepanjang 90 menit.

Begitu banyak pertandingan yang berkesan. Saking serunya, segera setelah pertandingan yang begitu menggelisahkan, tidak bisa tidak, saya merasa harus cerewet mengomentari permainan kedua tim dalam dua buah catatan. Keduanya merupakan rangkuman fase gugur 16 besar. Perancis berhadapan dengan Argentina (30 Juni 2018), dan Spanyol bertemu dengan tuan rumah Rusia (1 Juli 2018)

Selamat untuk Perancis yang berada di puncak!
Kegigihan adalah koentji!

****  **** ****

PERANCIS SUNGGUH LAYAK MENANG!

Menit – menit awal Argentina bermain dominan, penguasan bola sekitar 70 persen. Ketimbang meladeni pertarungan gocek-menggocek bola, siapa yang berhak menguasai bola lebih lama, pemain Perancis lebih memilih sabar. Terbukti, pengendalian diri adalah koentji.

Sial, Argentina tidak tahu diuntung. Fase selanjutnya sejatinya mereka bermain aman dengan skor imbang. Lalu menekan di perpanjangan waktu dan menunggu hoki di kotak pinalti sebagai siasat yang bisa ditempuh.

Mengingat segi materi pemain pun, Argentina sebenarnya sudah kalah. Stok attacker terlalu berlebihan dan hampir nihil bek jangkar dan gelandang.

Fokus pada seorang Messi jelas tidak tepat. Bola menuntut permainan kolektif yang cermat. Ini seperti nilai setitik, rusak susu sebelanga. Kesalahan kecil dari para bomber Argentina akan menyisakan celah sempit yang selalu dengan cerdas digantikan ketenangan yang ditunjukkan pemain Perancis.

Pemain Argentina boleh saja berupaya menerobos solidnya pertahanan Perancis. Ada Messi, Mercado, Di Maria dari sayap kiri. Ketika celah itu kelihatan, pasukan bek Perancis sudah tahu harus melakukan apa.

Kegagalan Argentina sebenarnya tinggal tunggu menit. Serangan balik secepat busur itu melesat dari tengah dan menembus langsung tanpa ragu-ragu.

Kecepatan pemain Perancis membuat gentar dan panik Argentina. Pelanggaran berturut-turut sepertinya wajib dilakukan Mercado dkk demi mengamankan area menuju gawang. Permainan cukup keras yang ditunjukkan Argentina menandakan sudah sudah waktunya turun kelas. Mereformasi ulang kekosongan generasi barisan bertahan mereka.

Masih juga menit belasan, balasan serangan dilancarkan Perancis. Memanfaatkan kerapuhan pemain bertahan Argentina yang nyaris kayak triplek, sekali gocek, robek. Pelanggaran dilakukan kembali, dan sh**. Marcus Rojo mimpi apa semalam, itu terjadi di wilayah terlarang. Jelas ganjarannya pinalti. Griezmann, peraih sepatu emas Euro 2016 ini mencetak satu angka untuk Perancis.

Asa Argentina muncul ketika Di Maria menyambut umpan dari sisi kiri dan menembakkan kulit bundar dari jarak 27 koma 6 meter ke pojok kanan gawang dengan begitu sempurna. Itu rekor gol dengan jarak terjauh sejak 14 Juni lalu. Tidak bisa digapai kiper Lloris. Satu sama skor.

Area pertahanan Perancis begitu terisolir dari benturan. Seperti ikatan rantai yang sulit diputus. Selalu mental. Mengingat rajinnya penetrasi Argentina ke jantung Perancis, maka seharusnya sudah disadari Messki dkk bahwa mereka butuh banyak tendangan langsung mengarah ke gawang.

Juga sabar memancing pemain bertahan Perancis keluar dari areanya. Meski Argentina bermain ngotot setelahnya, pattern serangan tetap sama, dan itu seperti orang bodoh. Einstein sudah bilang jauh-jauh hari, “mengharap hasil lebih dengan upaya yang sama itu sama saja gila” Skor tetap imbang hingga turun minum.

***

Babak kedua berjalan dengan hati-hati. Serangan Argentina begitu berbahaya. Beberapa kali penampilan Messi sangat menawan dan momok menakutkan ketika berhasil merebut bola.

Upaya keras menembus pertahanan dilakukan lebih cepat, dan akhirnya pemain depan Argentina harus dilanggar di luar sisi kanan area penalti Lloris. Tendangan bebas di area berbahaya pun dilakukan.

Tidak ada yang berbahaya kecuali Messi berada di sana. Bola muntah ia dapat, lalu dimanfaatkan untuk menerobos. Alih-alih maju, Ia berhasil memutar balik badannya mengoceh dua pemain, dan melesakkan tendangan mengarah tepat ke tengah gawang. Bisa jadi tendangan ini dihalau kiper karena sudah terbaca arahnya meski sama sekali tidak terduga akan secepat itu.

Tapi bola sempat menyentuh punggung kaki Marcedo dan mengubah arah bola ke sisi kiri. Lloris kebobolan lagi. Dua satu untuk Argentina.

Saya tidak menyangka, mungkin Argentina akan bernasib baik dan mengubah permainannya jadi lebih taktis agar lolos. “Argentina is back from the death” sela komentator. Iya, Argentina berhasil bangkit dari kematian. Tapi, ternyata itu hanya untuk mati berkali-kali setelahnya.

***

Perancis menunjukkan mental pejuang. Gol tiba-tiba itu seperti biasa-biasa saja. Saya benar-benar memuji Griezmann, Pavard, Giroud, dkk malam ini. Tenang luar biasa.

Kita bisa lihat ada dua hingga tiga kali Griezman berkesempatan mencuri skor dari serangan balik dengan mengandalkan kecepatan super saiyya milik Pogba dan Mbappe.

Setelah sigap cepat ia melihat situasi sekeliling yang seakan belum memenuhi “syarat cukup” menyerbu, jurus “kame-kame ha” ditunda sejenak. Serangan ditahan. Operan jauh dan pendek dilakukan mensiasati agar bola masih dalam tetap dalam penguasaan.

Begitu mantapnya, saya pribadi tidak melihat itu sebagai sesuatu yang mubazir. Bahkan dari serangan yang dibangun dari bawah itu bisa meggetarkan gawang Argentina.

Benjamin Pavard berutang pada rekan-rekannya yang berani melakukan passing jauh dari daerah pertahanan sendiri dilanjutkan sprint Lucas Hernandez. Umpan ke sisi tengahnya yang dilanjutkan first time yang berbuah manis. Dua sama kedudukan.

***

Malam ini Perancis beruntung punya Umtiti, Kante, Matuidi, Varane. Kedisiplinananya membuat Giroud dan Pavard mampu membuat kemelut menjadi gol yang diciptakan Kylian Mbappe tujuh menit kemudian. Tiga dua berbalik unggul Perancis.

Selang lima menit kemudian, pelatih plontos bertato, Sampaoli, memutuskan mengganti Perez dengan Aguero. Meski ia bersama Messi dijuluki titisan Maradona, sangat produktif, bahkan gaji paling mahal nomor wahid di Manchester City, tidak juga bisa berbuat banyak dengan pertahanan ala kadarnya.

Tidak perlu sepuluh menit, empat menit saja setelah masuknya Aguero, Perancis menegaskan sinyal tentang lemahnya kondisi pemain bertahan lawan. Dalam satu serangan balik, Mbappe sukses menyambut operan paling manis Giroud sebelum memaksa kiper Franco Armani tertunduk lesu mengambil bola dari jala gawangnya. Empat dua kedudukan.

Naluri Aguero di depan gawang baru bisa terbukti di menit 90 tambah 3. Skor akhir empat tiga untuk Pernacis. Maaf, sudah begitu terlambat untuk menyamakan kedudukan. Malam ini, permainan taktis dan top markotop sepenuhnya milik Perancis.

Oiya, mengharapkan Argentina menang sah-sah saja. Saya pun demikian. Tapi permainan mereka cukup membosankan. Perancis menawarkan sebaliknya, permainan atraktif. Kita tahu Perancis berjuang dengan cerdas, cepat, cerdik, cermat, dan habis-habisan dengan strategi penguncian yang sempurna. Mereka layak menang.

Salam dari Kazan Arena (Live dari Tivi)

RUSIA MELAJU, KAMERAD!

Rekor tidak terkalahkan Spanyol sejak pecahnya Uni Soviet atas skuad Sbornaya akhirnya pecah. Pertandingan ini juga jadi sejarah pertama kalinya Rusia tampil di fase gugur Piala Dunia. Rusia bergeming dengan defensif, dan mereka menang!

Apa sebenarnya yang kurang padamu, nyol? (Spanyol, red) Data menyebutkan, Spanyol itu tim dengan penguasaan bola terbanyak di seluruh pertandingan internasional. Satu-satunya pengecualian saat Spanyol harus membagi kesenangan menggiring bola Europass pada Jerman di final Euro 2008. Penguasaan bola mereka hanya 46 persen, tapi mereka bisa jadi juara.

Rusia menerapkan pertahanan pangkalan militer yang dijaga Igor Akinfeev -“man of the match” sepanjang fase gugur ini – yang tampil gilag gemilang. Kita tidak perlu berdebat soal ini. Setiap penjaga gawang mungkin perlu belajar soal ramuan determinasi plus ketenangan bikin merinding yang ditunjukkan Akinfeev.

Di benak semua pemain Rusia, tidak ada yang suka strategi seperti itu, model bertahan. Bahkan di babak kedua dan ekstra time, Rusia menempatkan 10 pemain di daerah pertahanan sendiri, Parkir Bus.

Laman The Guardian menyebutkan Pelatih Cherchesov berhasil meyakinkan satu persatu pemainnya, bahwa hanya itu jalan keluar dari pertandingan yang diprediksi dimenangkan Spanyol. Satu-satunya strategi yang diperlukan demi menghilangkan tim Matador dari 16 besar.

120 menit yang menegangkan semalam telah menciptakan 1107 passing. Istimewanya, Sergio Ramos melakukan lebih dari 100 passing dengan sempurna. Tapi mau diapa jumlah seribu itu? Menyisakan kepedihan statistik. Pertandingan cenderung lumayan kering. Spanyol kurang greget tanpa gocekan lihai permainan individu, aksi-aksi hebat seperti Fernado Torres ketika membawa Spanyol jawara Euro 2008. Bagi amatan awam saya, apa menariknya cuma oper-operan bola di daerah pertahanan lawan?

Babak pertama yang diisi prajurit depan seperti Diego Costa, pengumpan sekelas Isco tambah Asensio belum cukup runcing mengobrak abrik pertahanan paripurna yang dimiliki Rusia.

Hingga babak pertama, nihil tendangan ke gawang, juga nihil tendangan pojok. Pengecualian gol bunuh diri pemain Ignashevich yang kebetulan Ramos nyempil di situ sehingga ia bersorak-sorak gembira.

***

Capek? Iya. Stamina pemain Spanyol terkuras. Habis jatah mengganti empat pemain untuk memberi kesegaran di lini serang. Pelatih Hierro kehabisan akal. Ia akhirnya memasukkan gelandang legendaris milik Barcelona, siapa lagi jika bukan Iniesta.

Tiga menit kemudian, Jose Igleasias alias Nacho ditarik keluar diganti dengan Carvajal untuk memberi support yang lebih bertenaga.

Apa yang kita harapkan dengan masuknya Iniesta terbayar. Pemain ini mampu menembus sampai di kotak penalti. Sungguh sangat berbahaya. Meski begitu, Igor Akinfeev tampil prima bak gunung yang seperti mustahil dicapai. Frustasi? Iya.

Sepuluh menit sebelum usai waktu normal, Aspas masuk menggantikan Diego Costa yang daya serangnya menurun. Kemudian menit 104 Asensio yang juga mengalami hal serupa digantikan Rodrigo. Ia beberapa kali tampil cemerlang, tapi semua usahanya kandas.

Duet Iniesta plus Rodrigo sebenarnya bisa mengubur impian Rusia. Mereka pandai membuka celah dan memancing tembok pertahanan Rusia tampil sedikit keluar dan terbuka. Permainan kelas dunia yang benar-benar menggembirakan.
Tapi waktu semakin sempit. Semua harapan Rusia diletakkan pada duel kotak pinalti. Mereka bisa kalah, tapi mereka berjudi dengan nasib sendiri.
Rusia sangat paham Spanyol menyimpan rekam buruk eksekusi pinalti. 3 dari 4 drama pinalti gelaran sepak bola sejagat mereka keok. Piala Dunia 1986, 2002, dan berlanjut semalam. Rusia tidak main-main dengan data itu. Mereka bertaruh mati-matian menyudahi laga dengan akhir seri.

Sedangkan adu pinalti sama sekali tidak memihak tim yang kuat. Siapa yang bisa mengatasi beratnya beban di dada dan menghentikan ketegangan indvidual saat eksekusi, dia yang tampil sebagai pemenang. Skenario penalti akhirnya menjadi nyata. Rusia gembira bukan kepalang.

***

Dalam simulator tendangan pinalti, semua kiper diajarkan pakem melihat arah gerakan bahu sang eksekutor. Antara gerakan bahu Ispas dan laju bola sudah menipu sejak awal. Akinfeev sudah membaca gerakan bahu Ispas mau ke arah mana. Akinfeev sudah membuang diri ke arah yang sama arah bahu si penendang, kanan. Sedangkan bola akan ke kiri. Seharusnya gol.

Takdir sudah dicatat. Bola yang diarahkan ke kiri ternyata condong ke arah tengah Akinfeev. Kiper yang memulai debut Piala Dunia di umur 18 ini beruntung dapat menghalau bola dengan kaki sambil menjatuhkan badan ke kanan. Musnah sudah harapan Spanyol.

***

Ekstra time benar-benar jadi pembuktian konsentrasi dan mental pemain Rusia untuk mengunci pertandingan dan menyeretnya ke drama adu pinalti.

Malam kemarin, Spanyol sudah banyak berusaha. Tapi keberuntungan memihak Rusia yang ditonton sekitar 80 ribu pasang mata.

Menang beruntung? Iya, siapa yang tidak mengharapkan keberuntungan? Siapa yang mau gagal setelah usaha mati-matian? Tidak ada. “kami cuma beruntung, itu saja” kata Akinfeev. Jepang yang akan tampil malam ini juga beruntung lolos karena aturan fair play. Kawan se-grup nya Senegal, juga berusaha, tapi tidak seberuntung Jepang.

Pelatih dan Manager Hierro sudah punya firasat buruk. Legenda hidup Spanyol ini menitipkan pesan sebelum laga dimulai. Pesan kepada seluruh pemain agar apapun hasil pertandingan, mereka tetap berusaha saling sapa di ruang ganti, saling menatap mata satu lain. Bukan apa-apa, hanya untuk menguatkan. Nah itu mungkin intinya.

Apa lagi yang bisa kukatakan padamu, kawan. Inilah sepakbola. Kita bisa berada di sisi mana saja, asal terus bergerak. Untuk Rusia: Selamat melaju, kamerad!

Salam dari Luzhniki (Live dari Tivi)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.