Mengabdi Negeri bagi Rahman Tolleng

rahman-1
lontar.id

Rahman Tolleng, tokoh pergerakan berpulang menjelang 82 tahun. Hidupnya menyaksikan aneka pergiliran kekuasaan. Disebut-sebut dalang intelektual jatuhnya dan bangkitnya dua rezim besar. Namun aktivisme politiknya sering dikatakan kisah kekalahan. Namun disitu letak harum namanya, gerak militansi politik yang konsisten untuk perubahan. Jauh dari politik praktis, secara misterius jadi suluh bagi aktivis dan jurnalis muda, sampai penghujung hidupnya. Rahman menyebut politik adalah pengabdian bagi negeri pada nilai dan cita-cita luhur. Hidup sang aktivis legendaris telah tuntas sejauh ini.  

JALAN KRITIS RAHMAN TOLLENG

Sebagaimana lazimnya, di awal tahun 1960-an, pergerakan mahasiswa berkecambah sebagai afiliasi dengan partai politik. Rahman muda yang berkuliah jurusan Apoteker di ITB banyak terpengaruh gerakan populis dan modernis PSI (Partai Sosialis Indonesia) milik Sutan Sjahrir. Aktualisasi menuntut aktivis yang lahir di Sinjai, Sulawesi Selatan 5 Juli 1937 ini membidani lahirnya GeMSos (Gerakan Mahasiswa Sosialis) pada 21 Oktober 1955. Munculnya organisasi ini pun tidak bisa dilepaskan dari PSI yang dibubarkan Soekarno 1960, lima tahun kemudian.

Kilas balik ke belakang, dua tahun sebelum Pemilu 1955 terjadi kampanye besar-besar dari partai peserta Pemilu. Kegiatan organiasi kepartaian sangat ramai. Semua partai, termasuk PSI, membentuk cabang-cabang baru di seluruh kota dan di desa-desa. Herbert Faith dalam Indonesian Political Thinking 1945-1965 (1980) menyebutkan “(partai) mengadakan banyak sekali rapat raksasa dan rapat biasa, dan menerima juataan anggota baru. Masa ini – merupakan –pertentangan sosial yang sangat sengit”.

Berbeda dengan PKI yang begitu giat dan berhasil menggaet massa pemilih, PSI –dalam rentang akhir 1940-an sampai permulaan 1950-an– hanya menancapkan cengkraman pengaruh di Ibukota dan kota-kota besar. Hingga kemudian Pemilu 1955 menjadi kabar buruk karena mereka hanya 2% dari jumlah suara.

Rahman sendiri telah jadi aktivis ‘setengah dewa’ –istilah Sarwono Kusumaatmadja- di kalangan mahasiswa pergerakan di Bandung dan Jakarta. Dua poros utama gerakan kemahasiswaan saat itu. Meskipun tinggal di Bandung, tempat Rahman jadi tempat mendiskusikan aktivitas politik pemerintah dan membangun gagasan.

Rahman berkuat dengan gagasan modernisme ala Sosialisme. Tahap itu membentuk sikap oposisinya pada kekuasaan Soekarno. Jalan kritis yang ditempuh Rahman Tolleng mengakibatkan ia sejak awal  jadi buruan aparat Orde Lama. Apalagi setelah memprotes secara vokal Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Penyebabnya Soekarno menginginkan jabatan Presiden seumur hidup dengan mengubah sistem Demokrasi Liberal menjadi Demokrasi Terpimpin.

Masa Demokrasi Terpimpin sejak awal 1960-an merupakan masa Soekarno melancarkan kegiatan ideologis. Sejumlah gagasan Sang Putra Fajar didesakkan seperti Demokrasi Terpimpin, Sosialisme ala Indonesia, Kepribadian Indonesia, Revolusi Belum Selesai, Persatuan Kaum Nasionalisme-Agama-Komunis, dan sebagainya. Slogan-slogan itu dirumuskan dan diteriakkan dalam berbagai pidato, rapat raksasa, upacara, dan bahkan indoktrinasi di sekolah-sekolah, kampus, dan instansi pemerintah dan militer.

Soekarno yang akhirnya memilih menjadi ‘Raja’ dipandang mahasiswa tidak menyadari ketimpangan yang terjadi di beberapa daerah. Sejumlah literatur menyebutkan, gap ini berakar dari kekuatan ekonomi yang telah dikuasai oleh pihak-pihak tertentu. Sementara itu, Soekarno memilih sibuk dengan Pembebasan Irian Barat dan isu-isu lain. Buntut dari semua itu, kemudian timbul kericuhan 10 Mei 1963 yang pemicunya bermula dari kampus ITB.

Bagi Soekarno, gerakan ini dinilai bertentangan dengan semangat revolusi (kontra-revolusi). Lalu memberi tudingan kepada Partai Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia berada di balik semuanya. Penggerak kerusuhan ini akhirnya diburu, termasuk Rahman Tolleng yang tidak kunjung ketemu rimbanya. Dari kesaksian Marsilam Simanjuntak, sejak itu sang aktivis terus dicari-cari penguasa meski tidak pernah berhasil. Kondisi demikian membuat insting survival-nya teruji. Kewaspadaan ketat mengakar dalam dirinya. Ketika Marsilam bertandang ke Bandung, Rahman bahkan menyiapkan golok di mejanya. Persiapan bila sewaktu-waktu diserang. Ia ancaman dan buruan bagi Orde Lama.

Bagi Sarwono, inti perlawanan Tolleng maupun gerakan mahasiswa di ITB ke Soekarno ialah penolakan esktrim pada NASAKOM-isasi (Nasionalisme-Agama-Komunis) kampus seluruh Indonesia. Nasakom sendiri memiliki arti koalisi partai pro pemerintah, gabungan dari tiga partai dengan agenda politik berlainan. Hal yang sangat ditentang oleh aktivis mahasiswa yang belajar di sana.

Langkah oposisi yang ditempuh Rahman dan gerakan bawah tanah waktu itu kemudian berkembang secara organik dan membesar karena jumlah mahasiswa yang juga membengkak.  Donald K Emmerson dalam Students and Politics in Developing Nation mencatat setidaknya ada 280 ribu mahasiswa di tahun 1965. Sementara rentang 1946-47 hanya ada 387 mahasiswa di Indonesia (data Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan). Jumlah yang besar untuk melancarkan protes raksasa meruntuhkan Soekarno. Terutama sekali berkaitan struktur politik Nasakom yang dibangun sejak Dekrit diberlakukan.

Kejadian 1965 (Pemberontakan PKI) jadi momentum membersihkan bangunan politik lama Soekarno. Lalu menggantinya dengan sistem yang lebih menjamin penghormatan pada kemanusiaan, kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Tak kalah pentingnya membentuk pola politik yang mengedepankan prinsip kehidupan berdemokrasi sebenar-benarnya.

Disinilah seorang Rahman Tolleng kemudian selalu diingat dan jadi cerita legenda bagi penggerak organisasi kemahasiswaan. Rahman berperan besar sebagai dalang inteleketual gerakan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) Bandung.

Masa itu, ketika Soekarno turun panggung di Maret 1967, kelompok mahasiswa Bandung dan cendekiawan mulai merambah aksi dengan merumuskan pembaharuan politik. Di kalangan aktivis Bandung terkenal istilah, struggle from within. Dalam ungkapan yang lebih jelas, mereka ingin melakukan perubahan dari dalam dengan tujuan sama tegasnya: merombak bangunan politik Soekarno. Bagi Sarwono Kusumaatmadja, rekan sesama aktivis mahasiswa di Bandung, Rahman adalah penganjur paling kuat masa itu. Kemudian Soeharto naik tahta dengan Orde Baru-nya.

Bersama Miridan Sirait dari KASI (Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia), mereka melontarkan gagasan-gagasan yang terkenal dengan ‘perombakan struktur politik’ Indonesia. Tapi Marsilam, Gie, dan aktivis mahasiswa lain saat itu memilih teguh jalur perubahan dengan tetap berada di luar politik. Rahman justru percaya sebaliknya. Sesuatu yang disebenarnya akan ‘meledak’ di luar kendali Rahman dkk. Akan tetapi Rahman menyebut di kemudian hari tindakannya itu semata menjaga politics of hope, politik harapan.

SULUH BAGI IDEOLOGI ‘MAHASISWA INDONESIA’ 

Setahun sebelumnya, tahun 1966, jadi sangat penting artinya bagi Rahman Tolleng. Ia mulai muncul ke permukaan setelah lama menggalakkan aktivisme “bawah tanah”. Juni di tahun yang sama, ia dan beberapa lainnya mendirikan majalah mingguan Mahasiswa Indonesia yang dijual umum kepada masyarakat luas.

Fungsi strategis Mahasiswa Indonesia terutama sebagai lembaga think thank dalam melontarkan aspirasi. Rahman Tolleng sebagai pemimpin umum dan pimpinan redaksi sekaligus. Tahap ini membentuk Rahman terkenal sosok pemikir, perancang, atau penggagas dalam aktivisme politik. Bagi Goenawan Mohamad, ia mungkin hanya satu-satunya dalam sejarah bangsa ini: sebagai aktivisme yang berfikir (dan tentu saja bertindak).

Gambaran sang aktivis dan tujuan perlawanannya ditegaskan dan  tercantum lugas dalam editorial pertama Mahasiswa Indonesia. Pengantar yang juga manifesto itu diberi judul Di Sini Kami Berdiri dan Kami Suarakan Amarah Suci Sebuah Angkatan’.

…sesungguhnya ilmu pengetahuan itu ragi pembaruan. Oleh sentuhannya, akal berjuta manusia bangkit dari kegelapan dan melihat kenyataan dalam cahaya terang benderang. Dan setan-setan serta hantu gemetar karenanya: bahkan seorang tiran gemetar di depan akal yang terang.

Selanjutnya identifikasi atas istilah Angkatan ’66 selalu merujuk pada Rahman Tolleng, jajaran redaksi Mahasiswa Indonesia-nya yang berjumlah setidaknya 40-an orang, dan semua aktivis yang berporos pada gerakan pembaruan politik kala itu, di Jakarta dan Bandung. Di antara mereka ada Soe Hok Gie, Mochtar Lubis, Wiratmo Sukito, Liem Bian Koen (Jusuf Wanandi), Liem Bien Kie (Sofjan Wanandi), Cosmas Batubara, Arief Budiman, Aristides Katoppo, Arif Budiman, Bonar Siagian, dan lain-lain.

Janet Steele dalam Mediating Islam (2018) mengungkap peran penting Mahasiswa Indonesia kala itu. Bersama terbitan lain, Indonesia Raya milik Mochtar Lubis, Harian KAMI yang digawangi Nono Makarim, Nusantara yang dipimpin T.D. Hafas, mingguan Mahasiswa Indonesia tidak pernah gentar membuka skandal korupsi yang akan mengancam esensi dibangunnya Orde Baru.

PEROMBAKAN STRUKTUR POLITIK & KEKECEWAAN

Bergaungnya kelompok diskusi yang ia dirikan ‘Studi Grup Mahasiswa Indonesia’ membuat gagasan Rahman dikenal banyak kalangan.  Pergumulan itu tidak hanya mencakup pegiat aktivis pers Mahasiswa Indonesia, melainkan juga kalangan militer antikomunis. Hal itu sebenarnya menjadi keuntungan dan momok tersendiri di belakang hari. Pengakuan Sarwono yang ketika itu Redaktur Politik Mahasiswa Indonesia menjelaskan bahwa militer memang sedang gencar-gencarnya merekrut aktivis masuk politik dan pemerintahan Orde Baru Soeharto.

Demikianlah, Rahman Tolleng, Miridan Sirait, beserta sejumlah lagi memantapkan langkah perjuangan dari dalam pemerintahan Soeharto. Konteks masa itu mereka menjadikan diri percobaan gagasan struggle from within. Mereka menjadi anggota DPR Gotong Royong (DPR-GR)/ MPR Sementara (MPRS) sepanjang 1968 hingga 1971.

Sebelum Pemilu 1971, Rahman mendobrak dengan terlibat mendirikan Golongan Karya (Golkar) yang turut menjadi peserta Pemillu. Salah satu argumen penting Rahman Tolleng ialah bahwa harus ada proses transformasi dari gerakan ke institusionalisasi, misalnya memasuki arena parlemen untuk merubah parlemen menjadi lebih baik.

Esensinya Golkar dibangun dengan cita-cita luhur sebagai mitra politik strategis yang akan ditempati tokoh-tokoh non-ideologis tapi berpegang teguh pada Pancasila. Golkar, dalam pandangan Rahman Tolleng merupakan medium kaum cendekiawan dan aktivis pembaharuan untuk memperjuangkan gagasan-gagasan kebangsaan. Ia pun terpilih menjadi anggota DPR/MPR selama 1971 hingga 1974. 

Sepanjang periode itu juga, Rahman dan tokoh sipil intens mendiskusikan ide perombakan stuktur politik bersama ABRI, termasuk mengusahakan  sistem dwi partai. Hal ini dilakukan karena arus pemikiran Soeharto yang seringkali berbeda dengan golongan aktivis pembaharu tersebut. Namun akhirnya Soeharto menyetujui sistem tiga partai. Orde Baru melebur partai peserta Pemilu 1971 menjadi 3 partai utama: Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Demokrasi Indonesia (PDI), dan Golongan Karya (Golkar).

Ternyata, mekanisme itu sulit dijalankan. Rahman yang menjadi tokoh pemikir penting Golkar di awal-awal, melihat Golkar dikuasai dua kekuatan besar, ABRI dan birokrasi. “Saat satelit (Golkar) sudah di orbit, ala bantu itu harus dilepaskan” kata Rahman mengutip wawancara dengan Deutsche Welle. Golkar menjadi tunggangan utama Soeharto untuk melanggengkan kekuasaan. Kontrol dari kalangan intelektual sudah tidak jalan lagi.

“Asumsi-asumsi kami ternyata sebagian salah. Dan karenanya, harapan untuk menjadikan Golkar sebagai motor penggerak perubahan hanyalah sebuah ilusi” ungkapnya di kemudian hari.

Buntutnya, ia berbalik melawan Soeharto dan kekuasaan yang sebelumnya ia sokong. Pada 15 Januari 1974 meletus Peristiwa Malari atau Malapetaka Lime Belas Januari. Ia turun gelanggang dan kembali ke jalan, menentang kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka. Sejarah mencatat bahwa agenda itu ditolak masyarakat sebab sedikit banyak diartikan sebagai cengkraman kapitalisme yang semakin dalam di Indonesia.

Marsilam menjelaskan Rahman dari dalam parlemen terus berjuang menegakkan cita-cita awal Indonesia yang demokratis tanpa tentara atau ABRI dalam pemerintahan. Sehingga Marsilam menyebutkan ditangkapnya Rahman Tolleng dalam peristiwa ini sebagai “ketahuan” oleh Soeharto menggerakkan massa.

Rahman langsung dihempaskan dari keanggotaan DPR/MPR hasil Pemilu 1971, juga dari kepengurusan DPP (Dewan Pimpinan Pusat) Partai Golkar yang ia bentuk, dipecat dari pimpinan Suara Berkarya yang jadi corong gagasan milik Golkar. Bersama kawan-kawannya, mereka disingkirkan dari percaturan politik. Kemudian dijebloskan ke RTM (Rumah Tahanan Militer) Boedi Oetomo selama 16 bulan.

Dalam sel yang letaknya masih di Jakarta itu Marsilam – berjuang di luar panggung politik- bertemu dengan Rahman yang sejak awal ingin struggle from within. Marsilam mengisahkan kejadian itu seperti membuat Rahman ‘sadar’, perjuangan dari dalam sistem harus ditopang oleh kontrol dari luar pusat pemerintahan dan politik. Sejak itu, Rahman tidak pernah lagi masuk ke dalam pemerintahan.

Catatan yang ada, Peristiwa Malari melebar ke berbagai tempat dan menyerempet ke isu kerusuhan rasial. Kekuasaan Orde Baru juga menutup mata dan tidak pernah mengusut kasus ini hingga tuntas. Hal yang jelas dampak kejadian ini membuat Soeharto malu besar. Ia sampai harus mengawal sendiri PM Jepang ke bandara karena situasi yang memanas.

Agenda perlawanan pada Orde Baru itu malah berbalik menjadi alasan Soeharto menjadi semena-mena. Ia berubah seperti tentara yang di luar kendali, keras dan emosional. Alih-alih mencari jalan keluar, Orde Baru menuding PSI (Partai Sosialis Indonesia) dibalik tragedi Malari. Tangan besi Soeharto nampak pada aksi ‘pembersihan’ Aktivis Angkatan 66 dari tubuh Golkar. Kemudian menggantinya dengan ABRI dan para jenderal yang bersetia pada Soeharto. Golkar periode itu dan setelahnya dijadikan sebagai alat negara melanggengkan tahta.

Koran Mahasiswa Indonesia juga kemudian dibredel. Media yang didirikan Rahman tidak luput dari kejengkelan Soeharto. Padahal Mahasiswa Indonesia menjadi pembicaraan kalangan Indonesianis (sarjana-sarjana Cornell University) karena menjadi publikasi “paling militan” di era Orde Baru.

BERGIAT DI FORUM DEMOKRASI

Persahabatannya sejak 1974 dengan Marsilam Simanjuntak menjadi tak terpisahkan. Mereka solid akan melanjutkan perjuangan tetap di luar jalur pemerintahan. Edward Aspinall dalam Opposing Soeharto: Compromise, Resistance, and Regime Change in Indonesia (2005) menyebutkan Rahman ikut mendeklarasikan terbentuknya Forum Demokrasi (Fordem).

Dalam pergumulan itu, seluruhnya golongan tua yang  banyak bergiat sebagai pejuang demokrasi sejak mudanya. Selain ia, ada Gus Dur, Y.B. Mangunwijaya, Frans Magnis Suseno, Arief Budiman, Marsimal Simanjuntak, Todung Mulya Lubis, Daniel Dakhidae, dan Aswab Mahasin.

Terlepas dari memburuknya atmosfer demokrasi di Indonesia selama Soeharto berkuasa, Rahman mengutarakan argumen mengapa mereka harus  membentuk Fordem. “Saat itu, kami membuat Fordem karena situasi politik sudah keterlaluan. Ditambah, intelektual masuk ICMI dan ada PNS juga di ICMI, ini mengecewakan. Saya saat pembentukan Fordem. Intelektual itu harus jadi ninja, bukan jadi tinja!” tegas Rahman.

Abdurrahman Wahid atau Gus Dur digadang jadi calon presiden alternatif menggantikan Soeharto. Akhirnya Gus Dur memang menjadi Presiden, setelah itu forum menghilang. Robertus Robet –pengajar Sosiologi UNJ- yang saat itu duduk di Senat FISIP UI kerap mengikuti aktivitas diskusi dan sejak itu mulai mengenal Rahman dari dekat.

Gerakan politik sebelum kejatuhan Reformasi (21 Mei 1998) seperti mengulang fenomena peralihan Orde Lama ke Orde Baru. Kriterium ini laiknya penggambaran Herbert Read sebagai ‘the politics of the unpoliticals’.  Kancah aktivisme mahasiswa dan kelompok pemikir tidak punya interest politik lebih jauh, dalam arti memasuki politik sehingga punya power mempengaruhi kebijakan agar pro-rakyat. Sebaliknya, antusiasme itu berpusar hanya pada peruntuhan Orde Lama, pembaruan politik (Reformasi), dan penegakan demokrasi. Hasilnya minim konsep bagaimana reformasi ini dijalankan dalam konteks partisipasi publik dalam kegiatan politik.

Rahman Tolleng memaparkannya sebagai “politik dari mereka yang menginginkan kesucian dalam hati, politik yang tidak mempunyai ambisi perseorangan dan yang tidak menginginkan bagian kekayaan duniawi” Padahal, parlemen, adalah tempat sejati bagi aktor politik dan intelektual yang ingin menciptakan perubahan.

Pada kesimpulannya, Rahman kembali telah menanam benih bagi perjuangan Reformasi 1998. Sesuatu yang pernah dilakukannya lebih intensif ketika membangun pondasi-pondasi Orde Baru. Namun Reformasi, kembali jadi ekses yang juga akan disayangkannya karena hasilnya tidak signifikan, tidak seperti bayangannya.

Tak kapok, bertahun-tahun kemudian, 2011, Rahman mendirikan Partai SRI (Serikat Rakyat Independen). Ia mengajukan Sri Mulyani sebagai calon presiden tapi tidak diloloskan menjadi peserta Pemilu 2014. Tokoh yang dijuluki si intelektual organik ini cuma tahu satu cara mengangkat harkat dan martabat rakayat: lewat politik.

Lantas, menanggapi semua kegagalannya, ia mengatakan “saya optimis bisa diperbaiki, pada dasarnya manusia memang serakah. Tapi dalam diri manusia ada sifat-sifat baik yang masih mungkin digali.” Jawaban di satu wawancara itu mengurai idealisme tanpa tepi yang dijaganya. Rahman Tolleng, memang tidak pernah kehilangan harapan sepanjang hidupnya.

Ajakan menjaga harapan itu disuratkan Rahman Tolleng bagi setiap anak generasi dalam Menjadi Indonesia: Surat dari dan Untuk Pemimpin (2013) terbitan Tempo Institute. Harapan yang ia tuliskan agar abadi itu berbunyi, “your country needs you”, negeri ini membutuhkan Anda. Sekilas memuat pesan agar setiap anak muda generasi membangun dan menjaga harapan bagi Republik Indonesia.

KETERLIBATAN DI TEMPO.

Seperempat abad terakhir hidupnya dihabiskan di TEMPO. Terbitan ini kerapkali lantang dan tidak gentar menghadapi Orde Baru sehingga kekuasan harus menutupnya sejak 1994. Setelah reformasi, keran kebebasan pers dibuka selebar-lebarnya, TEMPO bangkit. Sejak itu, di tahun 1998, Rahman yang kerap disapa Pak Bos oleh orang rekan dan kawan-kawannya diminta menjadi Dewan Redaksi. Meski namanya tidak pernah dituliskan di masthead Majalah. Tugasnya menjadi evaluator Rapat Opini/Editorial saban Rabu siang.

Bersama jurnalis senior Amarzan Loebis, Marsilam Simanjuntak mereka ‘menghabisi’ tajuk yang ditulis oleh pemimpin redaksi. Sebuah kolom yang merepresentasikan sikap dan pandangan TEMPO. Berbeda dengan dua lainnya, Rahman praktis tidak pernah meninggalkan ‘rapat keras’ tersebut di kantor redaksi. Hal ini berlangsung hingga penghujung hidupnya.

Janeet Steele, akademisi George Washington University yang selama 20 tahun meneliti tentang Islam dan Jurnalisme di Asia Tenggara, termasuk TEMPO, mencatat dengan baik bagaimana Rahman melakukan tugasnya tiap rapat. Penulis Mediating Islam: Jurnalisme Kosmopolitan di Negara-Negara Muslim (2018) ini mengikuti keresahan-keresahan sang aktivis legenda di ruang rapat sejak 1999 hingga 12 tahun kemudian.

Ia mengatakan Rahman Tolleng selalu memastikan Tempo mengarusutamakan keberagaman (pluralisme). Sikapnya memegang teguh prinsip itu seringkali dilihat sebagai sikap yang keras dan bebas nilai. Jika sudah seperti itu, Rahman sesekali menyebut dirinya sendiri sebagai “fundamental sekularis”.

kegigihan Rahman Tolleng pada pluralisme Tempo berkaitan dengan isu yang jauh lebih penting, yaitu kebebasan serta ikhtiar majalah untuk mempertanyakan kepercayaan, kebudayaan yang sudah disanjung, apakah itu agama, nasionalisme, ataupun rasa hormat terhadap kekuasaan. tulis Janet dalam bukunya.

PENINGGALAN DAN KESAKSIAN

Tokoh yang selalu dianggap misterius ini mengakui banyak perkataan tentang dirinya sebagi orang yang selalu kalah dalam berpolitik.  Robertus Robet, yang mengenal sejak Rahman Tolleng di Forum Demokrasi mengakui menyebutkan ia sendiri tidak tahu mengapa ia sebegitu kukuhnya berada di jalur politik.

Dua tahun sebelum ini, pada ulang tahunnya yang ke-79, barulah Rahman Tolleng buka suara di hadapan Robet dan sejumlah ‘anak-anak ideologis‘-nya di P2D (Perhimpunan Pendidikan Demokrasi) yang ia dirikan bersama sejumlah tokoh. Beliau menjawab kehidupannya selama ini merupakan pengabdian bagi negeri.

Robet mengisahkan, itulah satu-satunya alasan mengapa Rahman selalu bersedia menanggung ‘susah’ dan ‘resah’ kondisi bangsa ini. Dalam aktivitasnya dalam berpolitik tanpa henti, Rahman Tolleng senantiasa menjaga independensi, memelihara harga diri, dan ketegangan yang terus dipelihara hingga akhir hidupnya. Olehnya itu, meski ia akhirnya punya sejarah yang boleh dikatakan luhur dalam aktivisme politik, hal itu membuat membuat hidupnya juga serba sulit. Sekali lagi, ia ingin mengabdi bagi Indonesia. Bentuk yang telah ia buktikan dan salurkan dalam seluruh kehidupannya. Bagi politik dan ikhtiar kehidupan berdemokrasi yang lebih baik.

Selama itu pula, akhirnya Robet menemukan ‘pokok’ dan ‘tokoh’ sekaligus dalam sosok Rahman Tolleng. Apa yang inti dari (pokok) adalah pengabdian; dan siapa yang sungguh-sungguk melakukannya (tokoh) mewujud dalam diri bapak dua anak ini.  Robet menemukan dan menyadari guru sekaligus Pak Bos adalah “political man”. Orang yang mengikhtiarkan hidupnya untuk polis, kehidupan publik. Nyaris hidupnya keseluruhan dibaktikan menghidupkan karakternya sebagai bagian dari zoon politicon (masyarakat politik).

Sang penerjemah Piramida Kurban Manusia (1980) karya Sosiolog ternama Peter L Berger ini direkam apik dalam Catatan Pinggir TEMPO yang berjudul “Mikropolitik”: “(Rahman Tolleng adalah sebuah) militansi dari aksi yang terbatas. Ia bukan rencana mengubah alam semesta berdasarkan wajah sendiri. Tapi ia tak takut kepada yang mustahil.” Terinspirasi dari anjuran filsuf Alain Badiou, “dalam politik, mari kita berusaha jadi orang militan dari aksi yang terbatas”, Goenawan Mohamad menyimpulkan saripati hidup panjang dari kawannya ini.

Keluasan wawasan, ketajaman serta kejernihan pemikirannya -meski di usia yang tidak lagi muda- Rahman Tolleng selalu bisa menarik garis tegas agar Tempo bersetia pada kebenaran. Tidak lembek dan tidak pula berlebihan dalam mengutarakan tajuk. Pengakuan Yopie Hidayat, bagian itu sangat penting dalam rapat-rapat di Tempo. Hal ini karena Rahman selalu mampu memberi rujukan dan perspektif baru bagi peserta rapat. Ia memang seorang intelektual organik, seperti yang orang bilang. “Seperti laut tanpa mercusuar” kata Yopie mengomentari bagaimana rapat tanpa Rahman Tolleng.

Kehilangan Robet atas Pak Rahman Tolleng dinyatakannya dalam satu pertanyaan lugas. Mungkin juga bahan pemikiran bagi kita semua, “Bagaimana akhirnya kita (Indonesia) berpolitik tanpa Rahman Tolleng?” tanya Robet. Selamat jalan, Pak Bos!

A. Rahman Tolleng, menuntaskan hidupnya hampir sebulan lalu. Pada Selasa, 29 Januari 2019 di Rumah Sakit Abdi Waluyo, Jakarta.

***
Sumber Rujukan:

  1. Miriam Budiardjo (ed). Partisipasi dan Partai Politik (Sebuah Bunga Rampai). Yayasan Obor Indonesia: 1981 (Buku)
  2. Tim BUKU TEMPO. Cerita di Balik Dapur Tempo (Seri Buku Tempo, Kecap Dapur). 2013 (Buku)
  3. Menjadi Indonesia: Surat dari dan Untuk Pemimpin. Tempo Institute: 2013 (Buku)
  4. Janet Steele. Mediating Islam (Indonesian Edition): Jurnalisme Kosmopolitan di Negara-Negara Muslim Asia Tenggara. Bentang Pustaka: 2018 (Buku)
  5. Rahman Tolleng dan Sejarah Perjuangan Demokrasi yang Selalu Kandas (Artikel)
  6. Jejak Aktivis Demokrasi Rahman Tolleng di Bidang Politik (Artikel)
  7. Cerita Lawas Golkar Terpecah Belah (Artikel)
  8. Rahman Tolleng: Kisah Kandas Percobaan Struggle From Within (Artikel)
  9. Paradoks Rahman Tolleng (Wawancara)
  10. Mengenang Rahman Tolleng: Politik Tegak Lurus (Rekaman Video)
Advertisements

14 thoughts on “Mengabdi Negeri bagi Rahman Tolleng

  1. Membaca ini seperti menikmati sebuah obituari yang sedap! Dukungan data yang merunut jauh ke belakang membuat kita paham siapa sebenarnya sosok Rahman Tolleng.

    Like

  2. Semoga kisah dari Rahman Tolleng ini menjadi inspirasi kepada Generasi Milenial agar tidak apatis..

    Banyak isu-isu kontemporer yang menyangkut masalah bangsa ini dicuekin oleh para generasi muda..ngak semua juga, tapi sebgian besar..

    Sering sekali para vetran yang turun tangan..

    Izin share kk, semoga kisah nyata Rahman Tolleng bisa membuka pikiran ank muda terutama di Sulsel..

    Like

  3. keren artikelnya, saya termasuk orang yang sangat mengagumi dan mengapsresiasi para pejuang veteran, karena tampa mereka , kita pun bukan siapa-siapa hari ini..

    Like

  4. Aslinya ini tulisan panjang sekali tetapi asyik saja membacanya, sama dengan membaca buku-buku sejarah. Menulis tema yang berat seperti ini membutuhkan referensi yang tidak sedikit. Sukaka baca tapi kutak sanggup menulisnya, hehehe…

    Like

  5. Tulisan yang panjang tapi apik, Fadli. Saya baca sampai selesai.

    Saya baru tahu sosok Pak Rahman Tolleng. Ternyata beliau adalah sosok penting di belakang Golkar, peristiwa Malari, pengajuan Sri Muliani sebagai capres, dan di balik Tempo, ya.

    Sosok berkarakter kuat dan setia pada pilihannya untuk memperjuangkan idealismenya dalam jalur politik. Saat ditawan baru menyadari pentingnya kontrol di luar jalur politik.

    Like

  6. Keren, tulisan yang panjang tapi didukung data dan refensi yang tidak sedikit 👍. Semoga sosok Bapak Rahman Tolleng ini bisa menginspirasi para generasi muda. Dan semoga akan lahir kembali tokoh seperti beliau. Perannya bagi Indonesia ternyata besar sekali yaa.

    Like

  7. Jadi rindu dengan Paetai Sosialis Indonesia, kalo PSI yang ada sekarang kan isinya anak2 muda yang nggak karuan haha. Politisi jamn dulu paham etika, politisi sekarang susah untuk beretika, pada soksokan semua.

    Like

  8. Sebagai orang yg suka sejarah politik, baru tau juga tentang beliau ini, penting memang anak-anak muda kenal dengan para veteran ini karena apalah arti kenikmatan demokrasi yg bisa kita nikmati sekarang tanpa mereka semua

    Like

  9. Saya baru kenal sosok Beliau dari tulisan ini yang menurut saya juga sangat inspiratif dari sisi politik dan juga karya Beliau di media. Semoga kita tetap dapat mengenang Beliau

    Like

  10. Turut berduka atas kepulangan bapak Rahman Tolleng. Saya baru tahu mengenai sosok beliau dari postingan ini. Kisahnya ditulis lengkap sekali. Sosok yang memberi inspirasi terutama jasa-jasanya di bidang politik yang semestinya memang tetap dikenang sekalipun beliau telah tiada.

    Like

  11. saat ini, generasi milenial tak banyak yang mengenal nama almarhum. Terima kasih Kak Fadli sudah menuliskan salah satu sosok idola ini.. tulisan ini penting bagi kita untuk mengenal salah satu tokoh besar ini.

    Like

  12. Runutan kisah yang pas menemani menunggu Milan main malam ini. Saya juga baru mendengar nama beliau. Pemaparannya berkelas Kak. Terima kasih sharingnya.

    Like

  13. Baru tahu juga sosok beliau, meskipun tak sanggup baca semua tapi tulisan kak fadli memberikan gambaran tentang sejarah masa lalu yang belum pernah saya baca sebelumnya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.