Ketika Kampung ‘dipaksa’ Meniru Kota

780d5695_2b16_441c_8547_c22d5d8e5936
Sampul – Cerita Perjalanan tentang Satu Bahasa

Seringkali desa dilihat dari sudut pandang ketimpangan. Posisi alienasi yang musti dimodernisasi dengan standar ‘kota’. Sementara banyak dari kita belum pernah merasakan denyut ketika desa bekerja. Menyaksikan kehidupan antar warga dan interaksi mereka dengan alam. Justru sebaliknya, modernitas menggerus tatanan kedua sendi itu perlahan. Sejumlah catatan Nurhady Sirimorok ini seperti memberi bukti. Juga terpenting menawarkan ‘alat’ yang membantu kita menengok desa lebih adil dan berpihak. Untung-untung kita mau belajar dari desa itu sendiri.

Satu Bahasa: Keseragaman

Lima tahun silam pernah ada program pembagian seragam dan sepatu di satu SD di Papua Barat. Sekolah dan kampung mereka terletak di ketinggian. Bersisian hutan dan dusun (kebun masyarakat). Sepagi itu, semua murid bersenang hati dan sumringah. Mereka akan menerima seragam merah putih, pramuka, dan tidak lupa: sepatu baru. Pemberian dari dinas pendidikan. Semua setelan tersimpan dalam sejumlah karung ukuran besar. Maklum jumlah murid lebih dari seratus.

Tiga fajar berikutnya, tampak hanya sebagian murid mengenakan sepatu. Padahal jika dipasang akan tampak gagah. Sepatunya berwarna hitam mengilap. Alasan yang sudah bisa ditebak sejak awal. Sepatu itu nyaris tidak muat sama sekali, terutama murid kelas besar.

Banyak yang komentar sepatu itu terlalu licin. Murid-murid memang sering berlarian di lereng-lereng atau batu-batu besar sekitar sekolah. Atau sekalian main di hutan belakang sekolah. Paling parah, sepatunya sobek, tidak kuat dengan alam. Anak-anak akhirnya kembali pada kebiasaan pake kaki kosong (tanpa alas kaki) ke sekolah. Nyaris semua sepatu akhirnya mendekam di rumah karena jarang dipakai.

Tidak ada raut kecewa dari para guru juga Kepala Sekolah. Tatkala program itu memang hilirnya tidak cocok, tak ada protes ataupun penolakan. Mereka sudah terlatih menjejalkan program bantuan jika sedang musimnya, walau mereka merasa tidak tepat. Ya, masa mau dibuang? Mereka harus menerima keseragaman yang lempeng dari atas turun ke bawah.

Bila ada usaha meningkatkan taraf hidup desa, itu kadang berarti menginterupsi pola hidup masyarakat. Lewat program yang pelaksanaannya disamaratakan di semua tempat. Melalui bahasa yang sama, yaitu keseragaman konsep pembangunan. Kontekstualisasi pada sistem hidup dan budaya setempat seperti dipinggirkan. Buntutnya program acapkali salah sasaran. Akibatnya, yang mengalami kesusahan, juga warga desa itu sendiri.

Kisah lain yang pernah kita dengar barangkali tampak sama modelnya dengan cerita di atas. Terlebih, hadirnya 21 tulisan tertuang di buku ini berniat mengurai lebih gamblang beberapa fenomena tersebut. Hampir semua pernah dimuat di harian cetak maupun daring. Sepanjang dua dekade terakhir, penulis punya pengalaman menetap beberapa waktu di sejumlah desa di Sulawesi Selatan. Mari kita tengok cerita-cerita gagalnya kisah ‘pembangunan desa’ itu.

Reboisasi yang ditangisi

Tersebutlah dua desa di Sinjai, Sulawesi Selatan. Hawa sejuknya karena berada di ketinggian. Hutan masyarakat masih mendominasi hingga di awal 80-an. Lima tahun kemudian, Pinus Merkusii jung et de vriesee atau jamak disebut pinus merkusii datang menginterupsi ekosistem setempat. Tanaman endemik ini berasal dari Sumatera yang jauh terbang ke Sulawesi. Atas nama tujuan mulia demi menghijaukan ketampakan alam. Agenda ini sering kita kenal dengan Program Reboisasi. Mau tidak mau, masyarakat harus menerima. Konon, bibit pohon manja itu masih selalu didatangkan tiap kali pemerintah.

Kompang dan Gantarang, dua desa itu, akhirnya ‘frustasi’. Pohon yang bersifat agresif ini  kemudian merangsek masuk dari hutan negara ke lahan-lahan warga tanpa bisa dicegah. Begitu subur dan  batangnya besar-besar. Tudung kerucutnya ramah melindungi, lantai hutan bersih, hanya menyisakan gerumbulan bunga pinus.

Semenjak pohon ini merajai kawasan hutan di dua desa itu, banyak mata air mulai lenyap.  Disinyalir, pinus mengacaukan siklus hidrologi akibat komponen pembentuknya, mulai daun hingga akar tamak dalam menyerap air. Di satu cerita disebutkan, pohon ini tak suka bersaing dengan pohon-pohon lain, bahkan menyedot air hingga sekira tujuh kali lebih banyak dibanding tanaman tinggi lain disekitarnya.

“…air yang mereka cegat dari langit tak sudi mereka bagikan sebagaimana pohon-pohon lama yang menghuni hutan asli Sulawesi. Mereka cenderung pelit mengalirkan sebagian air yang mereka simpan untuk menjadi air tanah. Sebagian air yang mereka hisap akan mereka terbangkan kembali ke langit. Dengan kata lain, tingkat ‘evapotranspirasi’ jenis pinus ini sangat tinggi. …jika dibandingkan dengan pohon-pohon lain di hutan, Pinus Merkusii juara satu dalam hal mengirim air ke langit.”

Melihat pinus dari kejauhan saja, bagi sebagian orang sudah menimbulkan ekses magis tak terkatakan. Sebab tak ada tanaman lain yang berani beradu dengannya. Itupula yang menjadikan latar pinus terkesan kokoh sekaligus dingin. Sangat pantas dijadikan objek potret latar penghias sampul media sosial.

Ketika 2006, banjir bandang dan longsor mengubur sebagian tampak alamnya. Pinus yang dikagumi itu, ditangisi. Menurut penelitian, pinus hanya bisa ditanam pada curah hujan 2000 mm kurang lebih/tahun. Sementara kedua desa itu hanya punya 1100 mm. Tanah jadi amblas karena cadangan air tanah tidak lagi memadai. Tanaman lain sulit tumbuh karena unsur hara menipis. Kesalahan program penghijauan tadi akhirnya ditanggung warga desa. Pinus oh pinus.

Siklus Kakao? Kami Tak Pernah Diberitahu

Barangkali kisah paling sendu ada di sini. Di tahun-tahun 1990-an kakao (tanaman coklat) sempat jadi primadona. Petani saat itu merupakan pekerjaan paling mengesankan. Masa itu siklus hidup kakao mencapai puncaknya, sementara rupiah melemas nilai tukarnya. Penulis menggambarkan kondisi petani kakao di satu desa yang semuanya hidup berkecukupan. Roda ekonomi berputar dengan mengalirnya uang kakao ke keluarga petani. Dua pasar kemudian dibangun. Pedagang dari luar bahkan sengajar datang menjemput nasib. Rumah-rumah baru di desa bermunculan dan bahkan masih banyak sisa untuk modal belanja-belanja yang lain.

Semua petani memburu kuantitas hasil panen yang melimpah. Tapi siapa sangka masa keemasan itu akhirnya akan surut. Pohon kakao punya masa produktif. Hanya sekira 10 sampai 15 tahun. Setelah itu akan malas berbuah dan unsur hara mengilang. Faktanya kemudian, butuh waktu lama untuk mengembalikan kesuburan tanah.

Ketika semua terjadi, semua sudah terlambat. Seorang perempuan lewat paruh baya yang diceritakan di satu tulisan akhirnya harus takluk setelah dihampiri masa jaya. Modal hidupnya hanya kakao. Ketika buah tidak lagi bisa diharapkan, ia harus merelakan tanahnya tergadai sedikit demi sedikit. Kebutuhan semakin menuntut, hari demi hari. Terpaksa ia harus bekerja lagi di usia yang sudah menuju senja.

“… Lapangan kerja di desa menyusut bersama surutnya kakao, mendorong putri semata wayangnya pamitan kepada ibu dan anak-anaknya untuk mencari hidup sebagai buruh bangunan di kota. Mungkin tak jauh dari tempat orang-orang menikmati lembutnya rasa coklat di lidah.”

Seorang petani kebun di Parigi, Sulawesi Tengah yang diwawancara mengaku selama ini tidak pernah diberitahu betapa runyam situasi selepas periode kesuburan kakao. Penyuluh pun tidak. Bilapun ada, kampanye utama mereka selalu teknik-teknik meningkatkan hasil panen, sementara sedikit lagi musibah datang. Antisipasi sudah seperti angan-angan yang jauh.

Petani Padi dipaksa Modern

Tidak hanya di kebun, kisah pilu juga terjadi di sawah. Saat Orde Baru di tengah kekuasaannya, sebuah program terobosan diluncurkan dan dinamai dengan garang tapi kedangarannya enak: Revolusi Hijau. Didatangkanlah gebrakan corak pertanian moderen itu tepat di depan hidung petani. Ada bibit unggul (varietas unggul) yang harus dilengkapi juga masukan kimiawi (pupuk, pestisida, dan herbisida). Semuanya dikerjakan dengan bantuan traktor tangan (mekanisasi). Hebatnya lagi, tersedia kredit bagi petani sebelum memuai periode tanam.

Namun, di kemudian hari terbukti mematikan kemampuan dan asa para petani kecil dan tanpa lahan. Petani, pelan tapi pasti mulai melupakan memori kolektif yang telah menyuapi warga kota beras pilihan sejak dulu-dulu. Pertanian di desa bergerak dari ilmu tani alamiah menjadi ilmu tani moderen yang identik dengan mesin.

Kira-kira letak masalahnya di mana? Ya, dana segar. Ini yang tidak dimiliki keluarga petani gurem. Petani ‘dipaksa’ mengutang dahulu sebelum memulai pekerjaan pertanian. Membeli pupuk dan bibit unggul kota, menyewa traktor bermesin, meminjam uang lewat kredit yang berbunga. Semuanya telah disiapkan pemerintah.

Petir menyambar ketika usaha tani yang dimulai susah payah itu gagal panen. Berarti tak ada padi yang bisa dipetik demi melunasi utang. Ujung cerita bisa ditebak. Satu persatu lahan dijual untuk menutupi segala kekurangan. Bilapun panen berhasil, keuntungan sangat tipis. Laba yang dimaksud adalah keuntungan bersih setelah dikurangi investasi biaya-biaya moderen di awal.

‘Revolusi Hijau’ itu tidak hanya menyeret petani dengan lahan garapan seadanya, tapi perlahan memangkas dua buah paling manis kekayaan desa dan petani.  Pertama, kearifan pengetahuan lokal teknik bertani turun-temurun menjadi sirna pelan-pelan. Revolusi memakan korban, produksi pertanian memang bertambah. Terlebih sejumlah desa direcoki lagi program “Pacu Produksi” dengan men-‘cetak sawah’ skala besar. Kombinasi strategi jangka pendek itu sukses menciptakan lahan besar dengan hasil panen sebanding.

Namun ‘daya alamiah’ petani berinovasi memunculkan bibit-bibit padi unggul -katakanlah bibit organik X pupus karena pupuk. Petani dipaksa melupakan kecapakan bertani organik yang dipraktekkan sejak dulu. Lagi-lagi maaf, karena desakan program pemerintah. Kecepatan memanen dalam jumlah besar lebih penting daripada kualitas padi maupun sendi-sendi yang turut mempengaruhi kehidupan petani itu sendiri, seperti budaya lokal.

Kedua, melenyapkan ingatan atas kerja kolektif. Gotong royong akhirnya ter-eksklusi dalam gagasan sehari-hari warga. Sawah sistem moderen menuntut privatisasi masing-masing lahan. Pertanian hasil revolusi memaksa petani sibuk dengan garapan masing-masing. Kolektivitas jadi barang langka. Petani berpunya selain mampu mengongkosi pengeluaran awal juga sanggup menyewa buruh harian yang bekerja di sawah mereka. Siapa tak tersentuh ketika buruh tani menggarap sawah tetangganya yang akan mengahasilkan jutaan sementara mereka sendiri nanti akan digaji kecil?

Keberlanjutan vs Ketergantungan 

Mengenai ketergantungan ini, ada satu cerita ‘uang duduk’ di Asmat. Baru-baru saja terjadi. Saat itu, sebuah tim fasilitator program masyarakat hendak pulang setelah agenda keliling-keliling kampung. Selama beberapa waktu mereka mengadakan sesi fasilitasi dengan warga dan aparat kampung. Tapi saat hendak pulang ke kota kabupaten, warga sontak marah.

Mereka memerintahkan semua barang bawaan dinaikkan lagi. Juru bicara warga melarang keras tim itu kembali. Usut punya usut, warga menuntut diberikan ‘uang duduk’. Menurut mereka, ini aneh. Nyaris setiap ada absen yang diedarkan orang luar “pembawa program” pasti ada amplop berisi uang yang diberikan. Mereka ingin hak itu ditunaikan. Sementar itu tim juga bersikeras tidak mau ada bagi-bagi uang.

Setelah debat alot, akhirnya tim pasrah. Atas bujukan kepala kampung yang tidak berani melawan kemarahan warga, solusi diambil. Uang tetap diberikan tapi dengan nilai lebih kecil. Hanya sekadar ‘uang rokok’. Kebiasaan yang terbangun itu tentunya menyulitkan pihak-pihak lain yang ingin memberdayakan desa dengan cara yang berbeda.

Bantuan program menyerbu masuk demi ‘membangun’ desa. Namun pendekatan program cenderung parsial. Menginterupsi hajat hidup orang-orang di desa namun menegasikan kemampuan alamiah mereka. Menurut tinjauan sang inisiator, program ‘itu’ merupakan ramuan terbaik solusi masalah di desa. Secara sepihak, agenda terpilih itu dipandang terbaik meski absen melibatkan warga dalam prosesnya. 

Pendekatan ini terlalu sering tak ayal menyulut masalah baru bagi desa. Pertama-tama sering hanya tinggal jadi ‘monumen’ karena tidak mampu dilanjutkan warga. Kedua menciptakan ketergantungan sebagai akibat dari pola hidup baru yang tercipta dari didatangkannya program tersebut.

Dengan beragam situasi dan masalah yang hadir dalam konteks pembangunan, argumentasi untuk mengubah pola pikir tersebut menjadi sangat krusial. Saran-saran kemudian bermunculan, salah satunya terjadi dalam sesi ‘Papua Insights’ di Festival KTI (Kawasan Timur Indonesia) 2018 lalu: yaitu kontekstualisasi. Setiap tahapan program yang akan dijalankan mesti mendapatkan konteks, latar, dan tujuan yang jelas. Sehingga secara langsung akan melibatkan partisipasi warga sejak awal, mulai dari perumusan hingga evaluasi.

Akhirnya, catatan ini hadir sebegitu rupa mengenalkan tentang tampak dalam desa itu sendiri. Sehingga pembaca bisa ‘melihat’ kampung tak sekadar lanskap alam asri, indah, bergelung panorama layak Instagram. Bak wilayah tenang dan damai yang tidak sedang terjadi apa-apa. Melainkan dari sudut pandang masyarakat melihat kampung sendiri dengan segala problematikanya.

Detail dan fakta rumit tapi dibalut bahasa beralur metaforik. Sejenak menghantarkan kita ke momen ‘aha’ atau ‘oh’ pada fakta-fakta mencengangkan yang seumur-umur mungkin baru pembaca tahu. Syukur-syukur, pembaca mendapatkan persinggahan kritis tentang ‘membangun desa’, yang terserak di manapun letaknya.

Rentang waktu sejumlah tulisan dalam buku ini ada yang terpaut jauh dengan masa kini. Sehingga pembaca yang haus kabar terbaru desa-desa itu harus berlapang dada. Sebab memang ‘sengaja’ tidak dimuat. Penulis ingin menampilkan situasi desa sebagaimana adanya, pada masanya.

Namun sejumlah penggalan dalam buku ini lebih dari cukup menyentil perspektif kota yang menghinggapi sebagian kita dalam memandang desa. Desa yang menyangga kota, ternyata sangat rentan pada perubahan. Pertanyaannya kemudian, kapan terakhir kali kita menengok desa?  

Advertisements

One thought on “Ketika Kampung ‘dipaksa’ Meniru Kota

  1. Selamat ya akhirnya postingan blognya bisa masuk di postingan terpilih AM. Artikelnya bagus. Semangat terus ngeblognya kak. Semoga kedepan bisa berkesempatan lagi untuk tampil tulisannya di blog AM. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.