‘Perutku Yang Teraniaya’ – Membaca Knut Hamsun

sult
norwegianamerican.com

Jika Anda merasa tergerak untuk menulis, mulailah membaca ‘Lapar’ -Knut Hamsun. Sangat layak jadi bacaan yang akan melambungkan keinginan itu. 

Knut Hamsun merupakan salah satu penulis cemerlang yang dimiliki Norwegia bahkan Eropa. Akan tetapi pengalaman kepengarangannya bukan jalan mudah. Lika-liku karir menulisnya seringkali tidak membawa Hamsun ke puncak gelimang ekonomi, bahkan berakhir bangkrut.

‘Lapar’ (1890) sendiri adalah penggalan episode kehidupan Hamsun, sang peraih Nobel Kesusastraan 1920. Menceritakan keadaan dirinya sendiri, getir dan pahitnya dihimpit situasi serba sempit.

Bagi Hamsun muda, Amerika adalah tanah harapan. Namun kenyataan berkata lain. Ia kembali ke Eropa. Konon tiket kapal pulangnya juga santunan dari aksi simpatik rekan-rekannya. Dari kapal uap Thingvalla rute Amerika menuju Denmark, ia mulai menulis “semua ini terjadi ketika Aku sedang (kelaparan) menjelajahi jalan di ibu kota Kristiania…”

Buku ini menceritakan tokoh ‘Aku’ di Kristiania (sekarang Oslo). Kondisinya sedang dilanda kesulitan. Uang sewa kamar sejumlah bulan belum terbayar, tidak ada keping kroner sama sekali, terakhir makan sudah lewat berhari-hari lampau. Hanya pakaian melekat, kertas tulis dan pensil yang tinggal bersamanya. Siap digadai sewaktu-waktu bila mendesak.

Namun tekadnya menjadi penulis begitu kuat. Seluruh isi kelapanya dilambari keinginan menulis sesuatu yang bagus. Perasaan itu menjalar ke seluruh saraf-sarafnya. Tidak ada yang mampu menghalangi ‘Aku’ dari impiannya itu, bahkan rasa lapar yang membunuh sekalipun.

Pengalaman lapar tersebut sejatinya bukan terjadi dalam satu peralihan musim, gugur ke dingin. Melainkan beberapa musim gugur paling sulit yang ia hadapi di sana.

Konon, sesampai di Denmark, ia langsung mencari kamar paling murah. Menyewa selama lima pekan tanpa makan malam selama tiga pekan. Hamsun menulis tanpa jeda. Lupa makan, lupa mandi, lupa segala-galanya.

“Tanpa sadar, ia meluncur masuk ke dalam keadaan pencerahan yang diakibatkan rasa lapar. Suatu bentuk askese, dan dengan luka dan derita yang dihayatinya kembali ke seluruh bahan ceritanya sampai ke ujung saraf yang terkecil pun” Tore Hamsun dalam biografinya (Knut Hamsun, Min Far) yang menceritakan tentang ayahnya. 

Lapar dan Optimisme

Sidang pembaca barangkali akan sangat mudah membayangkan gambaran Knut Pedersen (nama belakang asli penulis) pada tokoh ‘Aku’. Membaca ‘Lapar’ bagaikan sedang diajak berlari. Kadang seperti lari-lari kecil, perlahan kemudian, tak terasa lari marathon sudah dimulai. Ada istirahat, tapi sejenak. Setelah itu, kembali berlari.

Kebulatan tekad ‘Aku’ menerjang hidupnya yang sekarat membuat karya ini seperti nafas yang memburu. Pembaca mungkin akan mengejar terus pengujung buku ini dengan sendirinya, ingin segera mengetahui nasibnya.

Disadari atau tidak, penulis berhasil ‘memaksa’ pembaca mengikuti rangkaian perjalanan tokoh ‘Aku’, yang terus saja berjalan. Arah dan tujuan tidak jelas. Tergantung ke mana dan sejauh apa lapar menggoncangkan pikiran sehatnya. Bergerak, dan terus bergerak. Agar fisik dan kepalanya tetap bekerja menemukan ide menulis, yang kadang tidak kunjung datang. Semua demi beberapa kroner untuk membeli makan yang akan memperpanjang nyawanya sesedikitnya tiga hari.

Keyakinannya utuh meski menghadapi kesulitan beruntun. Setiap kali laparnya tak tertahankan, si ‘Aku’ segera menekan tombol optimismenya akan satu hal. Tokoh ‘Aku’ mengambil sikap perlawanan keras terhadap kondisinya sendiri. Melawannya dengan keyakinan. Bahwa setelah ini, ia mampu menyelesaikan sebuah artikel berharga seandainya ada sedikit asupan menginterupsi tubuhnya.

Harapan itu selalu muncul disela-sela situasi yang membayangkannya pun sudah cukup menyulitkan. Dari situ, ‘Lapar’ telah mengobarkan optimisme yang lebih dari sekadar wajar.

Ketika pemilik penginapan mengusirnya, kehidupan ‘Aku’ tengah memasuki bagian yang memperburuk fisik dan nyaris merontokkan jiwanya. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Dari satu sengsara ke sengsara lain. Lalu mulailah ia berjalan, menggotong semua miliknya. Memulai proses menulis ‘menggebu-gebu’ karena diserang lapar.

Pagi-pagi, ia sudah keluar mencari tempat yang tepat untuk menulis. Belum makan, tapi ia sadar, harus tabah dan tetap fokus menulis. Nyaris saban hari, ‘Aku’ berkeras mengeluarkan seluruh pikiran terbaiknya dari pagi menuju petang. Kadang tanpa istirahat di malam hari, sebagian karena kedinginan dan kelaparan.

Semakin digempur-dihajar- lalu babak belur jiwa-raganya karena lapar, justru semakin ia paham. ‘Aku’ menyadari sepenuhnya cobaan itu juga dimaksudkan menguji sekuat apa moralitas dan tekadnya.

Namun satu waktu, entah sudah hari ke berapa ia bahkan tidak mampu melirik sekelas toko roti sekalipun. Tak ada keping sama sekali dan ia takut tergugah. Sekali lagi, tidak ada jalan lain. Menghinakan diri sekali-kali tidak apa-apa. Ragu-ragu ia masuk, memilih roti, dan menipu kasir sejumlah lima kroner. Semacam strategi pertahanan manusia yang terlilit lapar tingkat mencemaskan.

Di jalan pulang, ia marah kemudian memaki-maki dirinya sendiri. Batinnya bergejolak lalu mulailah ia menangisi dirinya sendiri. Karena tidak sanggup mencegah tangannya berbuat culas dan mencuri. Semua keping akhirnya ia serahkan semua pada seorang nenek tua penjual kue.

Tidak ada uang berarti tidak ada kamar. Juga berarti tidak ada makanan. Ia berjalan ke hutan, dan tertidur di lantai hutan yang agak basah. Meski tubuhnya harus menjerit kaku, diterjang dingin.

Tuhan yang ia ejek-ejek dan puja-puji sekaligus karena derita bertubi-tubi, akhirnya mengulurkan pertolongan. Orang yang ia sebut-sebut “komandan” menyelematkannya. Seorang redaktur koran lokal di mana ‘Aku’ rutin mengirim artikel yang sangat sering ditolak-dibentak daripada naik cetak. “Komandan”, untung saja, meminjaminya uang. Kaget dan iba melihat ‘Aku nyaris mati kelaparan.   

Detail Mengharukan

Berhari-hari menghalau lapar hanya dengan menggigit-gigit kayu, tubuhnya hanya nampak kulit membalut tulang. Akhirnya ia punya ide menuju pasar mencari pertolongan. Memakai istilah Hamsun, ‘perutku yang teraniaya’ sudah tidak bisa mentolerir waktu. Sedikit meleset, perutnya akan mengirim sinyal ke otak dan meminta semuanya berhenti. Tidak ada tenaga lagi tersisa.

Saat itu, ‘Aku’ bertemu penjual daging. Sembari menguatkan badannya berdiri tegak, ia memberanikan diri meminta sedikit tulang bagi anjingnya yang tidak pernah ada. Kebohongan yang menurut situasi itu, serasa sangat diperlukan. Sepotong tulang akhirnya datang sebagai penyelamat. Ia pamit setelah membalas bantuan darurat itu dengan kesantunan yang agak berlebihan.

Sepotong tulang itu menyisakan sedikit daging di beberapa bagian. Dijilati dan digigitnya saking laparnya. Begitu lemahnya, tidak ada perubahan signifikan yang terjadi. Daging mentah beraroma amis darah kuat yang menembus tenggorokannya rupanya terasa panas dalam perut. Membuat ‘Aku’ mual dan memuntahkannya tiap kali gumpalan itu berhasil masuk. Ia keluarkan semua daging itu. Tidak ada yang tertinggal pada raganya.

Aku menangis sehingga tulang itu menjadi basah dan kotor karena air mata, muntah,…dan muntah sekali lagi.

Tempo terus bergerak, namun kemalangan terus menimpa. Sepanjang cerita, rasa-rasanya hampir semua jalan di kota Kristiania pernah ditapak oleh raga yang lemah dan penampilan yang lusuh. Lagi-lagi, ide cemerlang belum lagi singgah pada bakat menulisnya. Tetap saja begitu, sebanyak dan sefokus apapun ia berusaha.

Ada kesadaran terbaik yang dimunculkan penulis. Keping demi keping yang diperoleh manusia dari usahanya, cepat atau lambat, hanya berpengaruh sedikit dalam memundurkan rasa lapar. Lapar, bagaimanapun akan muncul lagi.

Si ‘Aku’ beruntung dengan keyakinan itu. Di balik laparnya, ia berhasil membentuk pertahanan kuat pada pada moral. Lapar sudah menjadi bayangannya, dan kematian mengintai dipundaknya. Tapi itupun belum sanggup mengobrak-abrik pertahanan spiritual dan etika yang ia jaga dalam kondisi sesulit apapun.

saat aku paling bahagia adalah ketika aku menderita sebagai orang jujur” Kalimat itu dilontarkan ke dirinya sendiri ketika lapar akhirnya, sekali lagi, tidak juga berhasil menjebloskannya ke titik terendah. Sekaligus bukti bahwa ‘Aku’ merasakan kehadiran utuh dan penuh idealismenya mengalir deras. Bahwa segala sesuatu bisa diatasi.

Secara tidak langsung, ‘Aku’ mengumumkan sebuah rahasia penting pada dunia: “hei, perutmu tidak butuh banyak. Kenyanglah secukupnya. Sebanyak apapun, lapar pasti datang lagi.” Bahwa lapar adalah hal biasa saja. Semua orang merasakannya.

Perut, diberi asupan sedikit, masalah selesai. Karya ini jadi segar karena ‘Aku’ membuktikannya berkali-kali. Berulang-ulang ia merasa ‘cukup’ dengan makan yang tidak seberapa. Tiba-tiba saja segar dan mampu menulis berjam-jam lamanya.

Tanpa pretensi sebagai penganjur moral, bagi saya pribadi, justru Hamsun seperti sedang membangun sebuah fondasi moral. Bahwa keinginan tidak berbanding lurus dengan kebutuhan. Kebutuhan manusia terbatas, sementara keinginan membuatnya maruk. Atau mungkin selama ini, yang kita beri makan adalah nafsu, bukan perut. Tegas Hamsun menampik uang dan makanan menjadi Tuhan dari hidup manusia yang singkat.

Hari ketika ia merasa harga dirinya sudah terkoyak-koyak, ia berjalan ke pelabuhan. Dilihatnya sebuah kapal tengah bersandar, milik Rusia yang akan menuju Inggris. Tanpa sikap peduli lagi, ‘Aku’ melihat kapal itu seperti jalan keluar dari laparnya. Pikiran yang sedikit lebih rasional daripada menulis. Pada nahkoda kapal, ia bilang akan bekerja keras. Akhirnya ‘Aku’ pergi, meninggalkan Kristiania yang meninggalkan kesan begitu dalam baginya.

***

Seperti diurai di awal, kondisi Hamsun bisa jadi trance saat penulisan ‘Lapar’ dimulai. Gaya menulis yang belum ada bandingannya waktu itu.

Pablo Picasso, ya sang pelukis tersohor itu, mengakui karya lukisannya terpengaruh kebaruan metode ‘to show’ hasil atraksi Hamsun. Bukan hanya pesan yang sampai ke mata, tapi kesan yang ditangkap oleh indra.  Marianne Katoppo -penerjemah sekaligus memberi kata pengantar- menyebut Hamsun sebagai pelopor metode mengalirkan cerita yang disebut aliran flow of thought.

“Lapar adalah novel yang pertama kali membuat saya ingin menulis. (Kisahnya) bercerita tentang penulis yang gagal. Ketika saya baca dan suka, itulah yang membuat saya pengin jadi penulis” kata Eka Kurniawan.

Bisa kita menduga, seperti Eka Kurniawan yang selalu ‘kelaparan’ menulis karena membaca ‘Lapar’. Hamsun sendiri akhirnya meneruskan ‘kelaparan’ di Kristiania dengan terus menulis, hingga menjelang kematiannya. Sebagai penggemar karya-karya Hamsun, Eka menuliskan panduan bagaimana menyusuri kepengarangan Hamsun. Tentu saja, sembari melahap karya-karyanya.

Sejatinya, ia mengagumi dan dipengaruhi realisme Dostoyevsky yang karya-karyanya mengakar kuat pada kelas-kelas di masyarakat Rusia akhir abad 19. Alih-alih membahas pergulatan kaya-raya, Hamsun fokus pada persona yang mengalami tragedi kelaparan. Ia mengeksplorasi ide lebih dalam dan menantang. Imajinasi seluruh efek yang ditimbulkan jika kelaparan mendatangi berhari-hari. Tanpa uang, tanpa tempat tinggal, pakaian hanya yang melekat di badan.

Anda pernah merasakannya?
Atau mau mencoba?


2 thoughts on “‘Perutku Yang Teraniaya’ – Membaca Knut Hamsun

    1. Duh, ku tersanjung muncul di blog Enaldini. Semoga sempat kubalas nanti kak Enal. Overtime pakai banget mi ini kapang. Hiks.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.