Kami Lega Mereka Mulai Belajar Mandiri

Tantangan mengajar yang sejatinya sudah sulit ketika belajar luring, lantas menjadi dobel di era pandemi. Kesulitan terbesar adalah bagaimana membentuk keterlibatan siswa secara aktif dan mandiri dalam ruang virtual. Terutama sekali untuk mata pelajaran Matematika.

Menurut kami pribadi, kebijakan relaksasi kurikulum sudah tepat. Terlepas dari keragaman situasi di lapangan, kebiasaan belajar baru harus dibentuk. Di tempat kami menjadi pendidik, kendala itu nyata. Terlebih disebabkan status ekonomi siswa separuhnya masih berada di bawah. Di mana pada masa sebelum ini, kepemilikan ponsel berkuota bagi murid adalah kebutuhan sekunder bahkan tersier.  

Pemetaan kondisi siswa merupakan bagian dari academic time. Sebagai guru, kami harus belajar bagaimana mendapatkan gambaran utuh situasi murid (asesmen non-pedagogik). Tautan formulir daring kami buat sedemikian rupa untuk biodata dan survei sekaligus. Cakupannya terbatas. Kami menyadari itu. Instrumen tersebut hanya menjangkau murid dengan gawai dan sinyal yang cukup.

Keterlibatan dua pekan pertama masih jauh panggang dari api. Rata-rata hanya 50 persen pada empat kelas yang kami ajar. Setengah dari persentase penuh itu lalu kami panggil satu persatu wawancara agar situasinya bisa diketahui. Pada akhirnya, temuan yang kami peroleh, jauh lebih kompleks daripada yang kami kira.

Waktu itu, setiap siswa yang hadir kami berikan kertas. Di situ, murid-murid mendaftarkan semua kendala yang mereka hadapi dan solusi yang mereka bisa berikan. Pada sesi itu juga, kami membahas kemungkinan-kemungkinan solusi lain sebagai jalan tengahnya.

Niat kami agar pertemuan itu membuat mereka belajar tentang tanggung jawab pribadi. Kertas yang mereka tuliskan tadi -tidak-lain- adalah janji dan komitmen belajar yang datang dari mereka sendiri. 

Sebagian dari mereka ada yang harus jalan kaki ke rumah kebun di gunung untuk mendapatkan sinyal; tidak punya uang membeli kuota internet; membantu orang tua ke kebun; bekerja di warung makan sepanjang pekan demi menambah penghasilan; berjualan di pasar menjadi tulang punggung keluarga, dan segala macam hal lain.

Secara umum, kami membedakan dua kondisi murid secara umum. Mereka yang bisa mengikuti kelas secara langsung dan tidak langsung. Mereka yang bisa mengikuti kelas langsung (secara sinkronus) biasa memiliki gawai sendiri, sinyal memadai, dan tidak terbebani pekerjaan domestik.

Sedangkan mereka yang mengikuti kelas secara tidak langsung (asinkronus) merupakan murid dengan kendala gawai dipakai berdua hingga bertiga dengan saudara, sinyal tidak stabil, jarang punya uang membeli kuota, dan seringkali posisinya harus membantu orang tua bekerja.

Pada persimpangan inilah, semua harus kami akomodasi. Demi membelajarkan murid. Sekaligus memastikan mereka belajar serta merespon pembelajaran setiap harinya.

Kami harus meyakinkan mereka, bahwa keterbatasan yang kita miliki tidak lantas meninggalkan teknologi sama sekali. Sebagai wali kelas, kami mencoba mengenalkan mereka pengalaman melakukan interaksi kelompok secara daring.  

Sebagai contoh kecil, pekan pertama tahun ajaran, kami mengenalkan Padlet.com dan Menti.com. Lewat dua kali voting, kami hanya butuh 10-15 menit sebelum menentukan komposisi kepengurusan kelas. Aktivitas itu membuka mata anak-anak bahwa berdiskusi dan menyampaikan aspirasi bisa dilakukan bahkan ketika mereka semua berada di rumah masing-masing.

Made with Padlet

Memaksimalkan keterlibatan dan tanggung jawab

Sehingga pembelajaran yang kami tempuh akhirnya harus adaptif dan se-akomodatif mungkin. Ujung-ujungnya, kami tidak bisa memaksakan aplikasi selain WhatsApp. Ruang belajar itu akhirnya menjadi pilihan pertama dan terakhir agar dapat menjangkau sebanyak mungkin siswa.

Strateginya adalah metransformasikan satu topik menjadi bagian-bagian kecil. Misalnya Pola Bilangan untuk materi kelas 8. Untuk satu pertemuan, kami membagi penjelasan 1 sub-topik ke dalam 3 hingga 4 berkas audio. Durasinya 3 hingga 5 menit. Selain itu, audio dilengkapi dengan gambar penjelasan yang sudah disiapkan.

Setiap kali bagian kecil topik itu dibagikan ke grup belajar, ada jeda sejenak untuk memberi waktu anak-anak memahami, mendengarkan ulang, atau bahkan mencatatnya. Kemudian, setelah siswa memberikan respon positif, kami menyiapkan latihan mandiri yang berfungsi asesmen formatif untuk memetakan kemajuan belajar.

Dalam rangka mengakomodasi sebagian hambatan belajar siswa, kami tidak mewajibkan anak-anak mengikuti kelas WA secara live (sinkronus) sesuai jam pelajaran yang telah ditetapkan sekolah. Akan tetapi, mereka bisa menentukan sendiri kapan sesi materi yang dibagikan akan mereka dengarkan, baca, dan catat. Bisa jadi mereka mendengarkan di siang, sore, atau bahkan malam hari.

Ketika anak-anak pulang dari kebun sore hari dan terlalu lelah untuk menengok grup belajar misalnya, kami memberikan periode waktu se-fleksibel mungkin. Mereka bisa melakukannya esok hari dengan syarat memberi konfirmasi sebelumnya.

Dampak dari adaptasi keadaan tersebut, siswa terhitung absen sesuai kondisi masing-masing. Sesuai kecepatan belajar murid-murid. Jika mereka baru punya kesempatan tiga hari setelahnya, maka itu menjadi absen bagi siswa yang bersangkutan.

Adapun ketentuan wajib dalam setiap sesi pertemuan di kelas maya adalah rekaman suara. Setiap siswa menyampaikan suaranya yang direkam di Voice Note aplikasi WA. Isinya dapat berupa rangkuman mengenai pelajaran hari itu, pendapat, maupun komentar.  

Jika ada Quiz dua hingga tiga nomor, maka itu pun harus mereka selesaikan kapanpun mereka sempat. Sebisa mungkin, kami berharap agar mereka lebih mandiri dan bertanggung jawab dalam belajar, meski sinyal hilang timbul, dan harus bekerja agar dapur tetap ngebul.

Kebijakan yang kami terapkan ke murid ini membuat persentase kehadiran (dan tentu saja, keterlibatan) menjadi meningkat. Jika dalam satu kelas ada 28 orang, sekitar setengahnya mampu hadir secara langsung, selebihnya akan mengecek grup belajar sore hari atau bahkan keesokan harinya. Akumulasinya meningkat hingga hampir semuanya terlibat.

Sebelum pandemi, kesenangan kami sebagai guru Matematika, sangat subjektif dan simpel. Jika murid mampu mengerjakan soal murid mampu mengerjakan soal Matematika dengan benar, kami bahagia. Meski banyak faktor berkelindan, namun sesederhana itu tolok ukurnya.

Sekarang, di tengah pandemi yang berakhirnya tak pasti, pola pandang itu beralih objektif dan personal. Setiap murid mampu belajar dengan bebas, mandiri, bertanggung jawab dengan model belajarnya masing-masing, itu membuat kami jauh lebih bahagia dan lega. Sekarang, mereka tidak lagi segan memberi kabar kepada kami jika merasa tidak bisa mengikuti kelas hari itu dengan alasan yang macam-macam.

Setelah dua bulan kurang lebih, kami menyadari sesuatu. Bahwa yang namanya kebiasaan belajar baru itu tentu tidak seragam. Sifatnya majemuk dan tergantung kondisi individu. Keliru jika tenaga pendidik ingin menyeragamkan kebiasaan tersebut. Fleksibilitas adalah kuncinya. Dan sepertinya mulai ada hasil positif. Semoga ke depan adapatasi kebiasaan baru ini bisa lebih baik lagi.

Anak-anak akhirnya menemukan cara, waktu, dan metoda belajar masing-masing. Secara tidak langsung, mereka membentuk karakter mereka sendiri, menuju murid beintegritas dan berkarakter. Orientasi kami berubah, dari mementingkan hasil menjadi memuliakan proses.

#MerdekaBelajar
#CerdasBerkarakter
#SeruBelajarKebiasaanBaru
#BahagiaBelajardiRumah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.