Jungkir Balik Guru Belajar Lagi

Setelah webinar, terbit mind map (dok. pribadi)

Tulisan ini cerita pribadi sebagai pengajar, alih-alih guru. Centang perenang pengalamannya belum pada level ‘guru’, yang digugu dan ditiru. Setahun terakhir ini saya bertugas di satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang berjarak 6 hingga 7 jam perjalanan darat dari Makassar.    

Januari hingga Maret 2020, guru-guru di sekolah sedang aktif-aktifnya beratraksi di kelas. Ketika Covid-19 memastikan eksistensi nya di Indonesia, saya seperti dihadapkan pada fatamorgana: libur panjang. Awalnya senang. Mengira pandemi adalah wujud lain dari harapan yang lama dinanti-nanti itu. Pertengahan Maret 2020, hari terakhir, sebelum esoknya turun surat dari kabupaten. Semua sekolah harus dijalankan dari rumah. Lah, bagaimana caranya?

Kalau kita menyinggung proses belajar, ya di sekolah. Pokoknya harus ada kantin (makan saja terus). Ada gedung sekolah. Semua murid dan guru berkumpul jadi satu. Semua proses yang dinamakan ‘belajar’ hadir di sana. Dari pukul tujuh hingga jelang pukul dua siang. Seketika, semua itu tidak ada. Transmisi ‘belajar’ berubah. Dari sentuhan fisik, menjadi sentuhan layar. Belajar menjadi tanpa batas dan sekat. Dulu seperti utopia, sekarang malah jadi nyata.

Barangkali semua guru berada persimpangan yang sama. Kelabakan. Namun tidak sedikit nyalang matanya. Melihat pandemi sebagai kesempatan belajar sebanyak mungkin. What? Apa?Guru belajar lagi? Iya, dan saya setuju. Sepertinya ikat pinggang harus dipasang lebih kencang. Seketika, fatamorgana tadi lenyap tak berbekas.

***

Guru, di manapun mulai menerima tantangan luar biasa. Mereka harus mencari cara, mengubah semua aktivitas, suasana, dan nuansa di dalam kelas fisik ke bentuk daring. Mau tidak mau, suka tidak suka, pilihannya adalah teknologi. Kesulitan terbesar ialah menemukan strategi yang tepat, agar motivasi murid terjaga.

Contoh kecilnya guru harus jungkir balik menjemput respon siswa.

Skenario kelas luar jaringan (luring) jamaknya seperti ini:

“Apakah kalian sudah paham?” tanya guru setelah berbusa-busa menerangkan.

“iya, bu guru” serempak murid menjawab. Tidak keseluruhan juga pastinya. Namun guru pasti senang dapat respon begitu, meski sesekali kena tipu. Iyalah, siapa guru tidak melayang dengan kesenangan sesaat macam itu.

Itu jaman dulu. Yang sebenarnya baru terjadi sehari dua hari yang lalu sebelum pandemi.

Di wadah daring, mendapat respon sesederhana itu saja, susahnya minta ampun. Kesal sekali jadinya jika bertanya dan tidak ada tanggapan. Mau dicubit juga tidak bisa. Mau di kasi’ bolla’ mata (baca: dipelototi) juga beresiko. Apalagi sampai membeberkan pidato kenegaraan di Google Classroom, Microsoft Teams atau WA sekalipun. Jangan coba-coba. Nanti viral.

Mulai Aja Dulu

Guru dihadapkan pada situasi yang diproyeksikan baru akan terjadi 10 hingga 20 tahun ke depan. Tapi ini seperti ditarik lebih cepat dan harus bisa. Semua guru menggunakan teknologi sebagai alat utama pembelajaran. Jika tidak, generasi akan mandek. Anak-anak yang setahun ini berjuang  menuntaskan pembelajran di tengah Covid-19, itulah calon pemimpin 15 hingga 20 tahun ke depan. Maka dari itu, guru harus (terus) belajar.

Sepanjang Maret akhir hingga akhir April 2020, Google for Education dan Kemdikbud, lewat sebuah yayasan pendidikan merancang webinar dua kali sehari, pagi dan sore. Berlangsung setiap hari selama dua pekan. Tema dan yang diajarkan beragam dan berbeda tiap hari. Saya cukup senang karena hampir semua yang disampaikan adalah hal baru. Sangat aplikatif plus narasumber menyampaikan dengan atraktif.

Setelah sekian lama, saya merasakan kembali proses belajar secara langsung. Tentu rasanya berbeda. Meski tidak kurang 2000 guru turut serta, kita semua berada di tempat masing-masing, terpisah jarak. Walau begitu saya menyadari, ini terobosan belajar luar biasa. Bahkan jika tidak sempat disaksikan live, guru-guru itu bisa mengakses di Youtube dan memutarnya on-demand.

Itulah pengalaman pertama saya mengikuti pertemuan daring. Saking semangatnya, hampir semua jadwal tidak ada yang terlwat. Secara rutin saya juga merangkumnya dalam bentuk mind map (peta pikiran).

***

Memasuki Mei yang bertepatan bulan Ramadhan, juga tidak luput dari belajar. Guru harus siap sebelum tahun ajaran baru dimulai. Mungkin harapan demikian yang dicita-citakan pemerintah kala itu. Tidak ketinggalan, organisasi profesi guru tertua di Indonesia juga melakukan hal yang sama. Tajuk yang diusung adalah ‘Guru Daring Milenial’. Kegiatan ini sendiri berupa pelatihan daring intensif selama 10 hari. Untuk yang kedua ini, sangat mampu membuat mampus, mabok webinar.

Bila dikalkulasi, total agenda webinar  10 jam per hari. Sejak pukul 8 pagi hingga 9 malam. Pelatihan ini mencakup seratus jam lebih sekian jam pelajaran. Belum ditambah pengerjaan tugas yang asinkronus di laman yang disediakan. Itu jumlah jam yang tidak masuk akal mengingat kita ada di bulan puasa.

Itu kalau mode nya duduk terus, mungkin bisa ambeyen, bisa salah urat leher juga. Dengan tertatih-tatih saya mengikuti semua kelasnya, a.k.a bolong-bolong. Jujur waktu itu belum sanggup mengikuti sesuai waktunya. Beruntungnya, sudah ada tautan yang disediakan untuk menontonnya kapan pun kita sempat.

Jika telah mendaftar webinar, sebenarnya saya selalu mengupayakan ikut live. Alasannya cukup praktis, supaya bisa mengikuti sesi interaktif. Biasanya ada quiz, sesi brain-storming. Kadang-kadang bertanya langsung ke narasumber yang sebelumnya hanya lewat fitur chat. Strategi itu tentu dimaksudkan meningkatkan keterlibatan peserta selama pembelajaran daring. Supaya tidak bosan.

Menariknya, aplikasi dan metode yang dihadirkan biasanya baru dan saya pikir, “oh ini keren, bisa juga ke anak-anak.” Dan benar saja. Sampai sekarang ada tiga aplikasi yang rutin saya gunakan untuk menggaet dan mengelola keterlibatan siswa selama PJJ (pembelajaran jarak jauh).

***

Sehabis lebaran, saya lanjutkan belajar lagi. kali ini jenisnya ToT (Training of Trainer). Penyelenggaranya MIE (Microsoft Innovative Educator) Expert di Indonesia. Kegiatan ini dilakukan serempak dari Aceh hingga Papua. Kalau Google punya Classroom, Microsft punya Teams. Tanpa bermaksud membandingkan, fitur yang dimiliki keduanya menyimpan kelebihan masing-masing.

Syaratnya lumayan berat untuk bisa lulus. Jadi saya tidak memasang target apa-apa. Dapat ilmunya, lebih dari cukup. Terdaftar sebagai peserta sebanarnya sudah membawa keuntungan tersendiri. Materi dan aplikasi yang diajarkan relatif baru. Pekerjaan yang erat kaitannya dengan pendidikan ataupun pelatihan saya yakin akan cocok dengan aplikasinya. Semua peserta dibuatkan akun email yang kapasitas penyimpanan awannya: satu koma lima tera. Lumayan.

Kegiatan dilaksanakan full daring selama 4 hari. Durasinya 2 jam di sore hari. Terhitung normal untuk webinar. Selebihnya pengerjaan tugas. Dua hari pertama normal meski pagi hingga siang juga mengikuti agenda lain. Memasuki hari ketiga, pertahanan bobol. Selama 15 menit pertama, masih (sok) sanggup live webinar. Menit setelah itu, kepala teleng ke samping, dan akhirnya tertidur. Gantian hp yang menonton saya. Untung kameranya mati. Naudzubillah, jangan sampai terjadi.

Seharusnya saya mengambil pose serius sebelum dimulai. Di kursi, depan laptop, sedia note, dan pulpen. Bukannya berada di kasur, bantal disandarkan ke punggung belakang. Area perut sampai kaki selurus kasur. Itu mode nge-drakor. Saya mengaku, saya hilaf. Tidak akan webinar sambil rebahan lagi.   

Beruntung sekali sebab segera setelah materi, mentor mengirimkan tautan webinar. Peserta yang tidak sempat mengikuti secara live bisa menyaksikan di lain waktu. Namun percayalah, pengalaman pribadi saya, itu sangat jarang terjadi.

***

Selanjutnya adalah fase diseminasi. Sebagai calon trainer (halaaah), kami diwajibkan membuat kegiatan serupa, webinar. Materi yang sudah kami pelajari, harus kami sampaikan lagi ke minimal 20 peserta. Tujuannya baik, supaya program tersebut lebih dikenal luas siapapun yang bergelung di dunia pendidikan, entah guru maupun dosen.

Awal kerepotannya bermula di sini. Sebab, kami harus memastikan semua peserta mengikuti proses dari awal sampai akhir, termasuk mengerjakan tugas. Aturannya jika kurang dari jumlah itu, kami dianggap gagal. Meski terbatas, peserta kami beragam daerah asal. Sumatera, Jawa, hingga Maluku.

Seorang peserta kami merupakan guru SMA dari Maluku. Sebut saja Ibu Linda. Detik-detik akhir, beliau belum mengumpulkan salah satu tugas wajibnya. Bila tidak kunjung mengunggah, jumlah minimal kelulusan peserta kami berkurang.

“Ibu, mohon maaf, apakah tugasnya sudah dikirimkan?” saya buka percakapan di pesan WA.

“mohon maaf, saya sudah lupa. Ini pelatihan apa ya pak?” balasnya. Sementara kami berada di grup yang sama. Rasanya mau nangis.

bodo amat, mau lulus atau tidak, terserah” jerit batin saya sambil setengah mati mencegah hasutan responsif “ayo jangan ragu, banting saja hape nya”

Mungkin Ibu Linda bingung dengan banyaknya kegiatan daring serempak yang ia lakoni. Disusul grup-grup guru belajar yang terbentuk selama pandemi barangkali sudah demikian banyak.

Baru 3 hari kemudian ia sadar. Belakangan tugas itu akhirnya tidak pernah terkumpulkan. Jika dipaksakan juga, mengambil waktu dan perhatian yang tidak sedikit bagi beliau. Belum lagi kondisi sinyal di daerah yang tidak maksimal. 

Setelah terkatung-katung dua bulan lebih, akhirnya sertifikat dirilis panitia pusat. Dengan kebijakan yang ada, Ibu Linda juga mendapatkannya. Peserta diseminasi puas, kami lega, dan lemas.

Dari sekian proses belajar selama Maret hingga Desember 2020, saya merasa yang terakhir inilah bagian ter-favorit. Alasannya? Kami terlibat secara bermakna. Tuntutan diseminasi membuat kami bertingkah selayaknya guru. Tidak hanya pada pengetahuan, tapi komitmen dan tanggung jawab. Pada titik tertentu, kami tidak lagi memikirkan lulus atau tidak dari kegiatan ToT. Berapapun yang bertahan harus kami pertahankan dan upayakan lulus hingga kegiatan berakhir.

Pada Akhirnya, Semua Untuk Anak.

Itu pula yang saya usahakan terjadi di sekolah. Murid-murid saya tidak hanya mendapat pelajaran baru, tapi keterlibatan bermakna yang melahirkan sikap yang baru. Saya berharap sudut pandang mereka terhadap mata pelajaran Matematika (juga pelajaran lain) menjadi berbeda. Tidak melulu kerja soal dan tugas. Namun terlibat dalam sesuatu. Bisa jadi menyelesaikan project atau membuat karya sederhana yang erat kaitannya pada kehidupan keseharian mereka.

Dibandingkan orang dewasa sudah memasuki fase belajar yang sadar-utuh-hadir-penuh, anak-anak SMP masih tergopoh-gopoh. Mereka harus punya tingkat regulasi diri yang tinggi untuk bisa memenuhi beban 14 mata pelajaran yang dibebankan secara daring.  

Pada anak-anak dengan regulasi-diri yang tinggi ini, saya bersyukur. Sebab setiap hari saya selalu punya alasan terus mengajar, meski terseok-seok. Walaupun di sisi lain, saya didera rasa bersalah pada anak-anak yang saat ini, motivasinya muncul tenggelam. Ketidakberhasilan itu tentu kontribusi terbesar berasal datang dari saya pribadi.

Ketika memberi personal feedback pada hasil karyanya, sesekali saya terjebak memotivasi murid secara negatif. Akhirnya jadi kontraproduktif. Akhirnya sebagai pengajar, saya menaruh respek dalam pada orang tua yang setia mendampingi putra-putrinya.

Beberapa hasil karya project yang dikerjakan anak-anak. Ada Spiral of Theodorus untuk pembelajaran Teorema Pythagoras. Juga Stained-Glass Window pada materi Persamaan Garis Lurus.

Saya menerima banyak respon yang begitu manusiawi selama pembelajaran dari rumah. Meski berjauhan, tapi semua seperti begitu lekat. Satu dua orang tua rutin mengabarkan kondisi anaknya. Mengirimkan foto ketika anaknya sakit, saat di kebun sedang panen, sibuk-sibuk pesta nikahan, gotong royong mengecor rumah tetangga, neneknya meninggal, dan lain-lain. Hingga kabar terakhir yang saya dengar adalah satu murid ini sedang di Makassar. Menunggi ayahnya yang dirawat karena kanker. Dan macam-macam lagi.

Guru bukan superman. Mereka hari ini menjalankan profesinya di balik sosok manusia biasa yang saat ini dikasi tugas bak tukang sulap. Tidak bertatap muka, juga tidak memerlukan ruang kelas, tapi anak-anak didiknya harus tetap ‘pintar’. Maka, ketakutan yang muncul belakangan adalah learning loss. Kondisi di mana ketika pembelajaran dilanjutkan, murid kehilangan pembelajaran minimal yang harus diperoleh.

Sudah dimulainya program Vaksin Covid-19 ini tentu kabar baik. Terlepas pro-kontra yang berlangsung, saya mengira tanpa didahului vaksin, pembukaan sekolah jenjang apapun akan sulit. Rasa was-was akan terus mengikuti, terutama di daerah dengan tingkat penyebaran yang tinggi.

Jika tenaga pendidik dan orang tua murid sudah mengikuti program vaksin, kekhawatiran mengendur sebab imunitas akan jauh meningkat. Lalu pemerintah bisa mulai membuka sekolah lagi. Imbasnya, pimpinan sekolah menjadi lebih matang mempersiapkan dan menerapkan adaptasi kebiasaan belajar baru nantinya.

“Tulisan ini diikutkan dalam #TantanganBlogAM2021


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.