Archive for the ‘15HariMenulis’ Category

Quotefancy-120123-3840x2160

quotefancy.com

Bahaya itu, begitu nyata. Tapi menjadi takut, itu pilihan.

Siapa sih yang tidak tidak pernah cemas, khawatir, dan takut? Hampir semua kita menyimpan beragam kekhawatiran di benak masing-masing. Keresahan tersebut juga dipastikan senantiasa ada seiring bergulirnya roda kehidupan. Tapi waktu selalu berjalan tanpa pernah tahu kita resah atau senang.

Jenis kecemasan manusia juga berbeda-beda tergantung peran yang sedang dijalankan. Ketakutan orang tua jauh berbeda dengan ketakutan yang dirasakan anak-anak. Ketakutan remaja beda dengan dengan ketakutan kakek-nenek. Kalaupun jenis kecemasan itu ada yang sama, bisa jadi kadarnya juga berbeda. Ketakutan saya terhadap kecoa masih mending daripada seorang teman yang phobia kecoa. Kecemasannya jauh lebih tinggi dibandingkan saya yang sekedar suka saja. Berikut ini kekhawatiran terbesar yang saya rasakan.

Sakit fisik permanen

Ada orang-orang tertentu yang meski fisiknya dikalahkan penyakit, tapi batinnya dan suara jiwanya kukuh sebagaimana masih sehat. Sebagai contoh, professor Morrie Schwartz dan Stpehen Hawking. Karya dan pemikiran mereka lahir pada masa-masa kritis menghadapi ancaman maut yang tiba-tiba.

Saya kemudian tidak bisa membayangkan bila akan datang suatu penyakit atau sebab yang melumpuhkan fisik dan jiwa. Menimpa diri saya sendiri, keluarga, atau kerabat dekat. Ketika membaca sejumlah biografi, menderita penyakit permanen seperti menahan beban tidak terperikan. Hidup yang gemuruh tiba-tiba meredup, menahan penyakit hingga ajal menjemput. Belum lagi orang-orang terdekat akan menanggung akibatnya. Mereka bakal jadi repot seumur hidupnya.

Kecemasan ini muncul ketika Jane menceritakan semua pengalamannya dalam memoar ‘Travelling to Infinity’. Ia mengisahkan bagaimana hampir 24 jam hidupnya setiap hari digunakan mengurus dan merawat Stephen Hawking, suaminya. Semua itu dilakukannya karena kasih sayangnya begitu besar, utamanya setelah mereka memiliki tiga orang anak yang juga butuh diperlakukan sebagaimana mestinya. Oleh karena massifnya pengalaman itu, Jane tidak rela membiarkan penyakit lain dan emosi negatif, masuk ke dalam keluarganya. “jika di dalam rumah sudah bersarang penyakit jiwa, janganlah membiarkan penyakit hati juga ikut masuk.”

Nah, teman-teman, berdoalah, semoga kita semua –dengan perkenaan Nya- diberi kesehatan, keberkahan, dan umur panjang. Amiin.

Malaria kambuh

Sempat merasakan hidup setahun bersama masyarakat di Papua Barat, saya pulang dengan rekor dihajar malaria sampai tiga kali. Dua kali terserang malaria tropica. Dua bulan sebelum masa tugas berakhir, parasitnya lebih ganas lagi dan akhirnya dokter mendiagnosa malaria tertiana.

Oke, saya berhutang banyak sama dokter (lupa namanya) yang bertugas di rumah sakit Katolik di daerah Pasar Seberang Fakfak . Orangnya masih muda, lulusan universitas di Semarang. Juga sama Suster Vitaline yang pernah bekerja di rumah sakit di Jogja. Pernah saya datang periksa waktu maghrib. Rumah sakit sudah tutup. Tidak ada pelayanan lagi sejak siang. Lalu barangkali karena merasa kami sama-sama orang rantau dan tidak punya keluarga, akhirnya Suster memanggil dokter di rumahnya yang letaknya di belakang gereja. Kemudian Alhamdulillah akhirnya tertangani.

Setelah malaria pertama muncul, kedua dan ketiga di situ lagi. Keperluan ambil obat atau periksa darah. Untuk memastikan bibit malaria masih ada atau tidak, tiap seminggu atau dua minggu, harus periksa darah lagi. Juga demi memastikan obat terus jalan atau sudah waktunya berhenti.

Suatu kali, sang dokter pernah menasehati agar rajin minum obat. “malaria tertiana (yang ganas) itu parasitnya menyerang di hati/hepar. Jadi, obatnya harus dua minggu dikonsumsi tanpa henti. Obat itu yang akan mem-push parasit-parasit hingga benar-benar hilang dari situ. Kalau satu kali saja kamu berhenti minum obat, maka parasitnya bakal tidak hilang-hilang (dan tetap hidup dalam kondisi dorman/tidur). Nah, bila suatu saat daya tahan tubuh kamu turun, parasit itu akan aktif lagi. Lalu, malaria akan kambuh.” Begitulah kira-kira titahnya.

Oke, belum lama ini, ketakutan itu muncul lagi. Saya coba konsultasikan ke seorang teman di rumah sakit. S (saya), T (teman).

S: Gejala saya bla..bla…bla… sudah berlangsung tiga hari.

T: Apakah ada mimisan? apakah demamnya naik turun? sebelum demam apakah muncul rasa dingin? Susah bab?

S: bla…bla…bla..(saya jawab sesuai kondisinya)

T: oh, mungkin malaria muncul lagi. Coba datang ke dokter ini di jalan ini atau di jalan itu. Mereka ahli penyakit infeksi tropis. Jangan tunda-tunda segera periksa darah pada saat demam/menggigilnya muncul (aturannya persis sama waktu masih di Papua)

S: oh, okey. Makasih (sambil dag dig dug tak keruan). Awalnya saya merasa gejala ini muncul karena kebanyakan minum sirop. Tapi jawaban tadi benar-benar wow.

Hari keempat dan kelima Alhamdulillah sudah baikan tanpa obat sama sekali. Sejujurnya saya takut periksa darah. Kalau memang benar-benar malaria lagi, rasanya tidak sanggup harus menenggak obat malaria super pahit itu. Warnanya hijau gelap ada bintik-bintik hitamnya. Terus diminumnya tiga butir sekali waktu. Kombinasi tiga serangkai tadi membuat mulut rasanya begitu pahit meski setelahnya diimbangi sebutir permen. Pahitnya belum juga hilang-hilang. Oke, itu bukan bagian terburuknya. Penyakitnya yang meyerang sel darah itu akan membuat kepala pusing selama satu minggu.

Pernah akhir tahun lalu juga merasakan gejala yang sama. Waktu itu, periksa di puskesmas. Saya berharapnya sekedar bawa pulang antibiotik dan lain-lain. Tapi, waktu itu perawat merasa saya sudah gawat. Sebaiknya diopname saja. Jawabannya yang tidak terprediksi. Namun akhirnya saya pulih dengan sendirinya setelah total istirahat lima hari.

Apa itu berarti saya jadi cukup kebal karena bisa pulih sendiri? Hehe. entahlah. Tapi, terus terang, muncul gejala itu saja sudah buat merinding mengingat malaria, periksa darah, dan minum obat.

Berhenti belajar

Saya takut bila suatu ketika, saya berada dalam situasi terlalu nyaman yang membuat saya berhenti belajar. Berhenti membaca, berhenti saling berdiskusi, berhenti saling berbagi informasi dan praktik-praktik baik, berhenti menulis, berhenti sekolah lebih tinggi, misalnya.

Biasanya, orang-orang yang berada dalam kondisi seperti itu, justru memiliki kecenderungan mendeterminasi yang besar. Bila diskusi, sedikit sekali ia mau mendengarkan orang lain. Mereka hanya memiliki intensi menyampaikan hal yang menurutnya orang lain pasti belum tahu. Menyanggah orang-orang dengan ‘ah, teori’ dan semacamnya. Mereka kontra dengan perubahan-perubahan dan budaya belajar. Zen R.S mengistilahkan sikap ‘tong kosong nyaring bunyi’ dengan anti-intelektualisme, sikap kontra terhadap intelektualisme.

Belajar di sini tidak saya artikan sebagai proses formal belaka, tapi belajar tanpa jangka waktu. Menjadi pembelajar seumur hidup. Belajar dari siapa saja, sumber dari mana saja, dan di manapun berada. Cuma kesombongan yang membuat orang-orang berhenti belajar, lalu merendahkan orang lain.

Apapun yang bakal ditekuni, inginnya posisi itu memberikan saya kesempatan belajar lagi, lagi, dan lagi. Saya membayangkan hal itu sungguh banyak manfaatnya.  Minat kita jadi lebih luas. Kita jadi bisa mengembangkan pengetahuan di bidang lain, sama atau bahkan lebih menarik dari yang kita tekuni selama ini. Sudut pandang jadi lebih lebar dan fleksibel. Sebab kita bertemu dan bekerja sama dengan banyak orang. Mempertimbangkan semua pemikiran, melibatkan mereka semua, dan mengikutkan mereka dalam setiap pengambilan keputusan. Belajar dan bertumbuh bersama banyak orang, bukan one man show. Di samping itu, manfaat lainnya kita bakal menjadi lebih kritis. Persoalan dipikir matang-matang, dari bermacam hasil pemikiran, lalu diputuskan secara bijaksana.

Nah, inilah ketakutan terbesar yang saya miliki. Kalau kamu?

Eits, daripada memusingkan segala ketakutan itu, mari hadapi saja hidup ke depannya dengan lebih berani. Seperti kata Will Smith di atas.

#15HariMenulis

Sulit menentukan mana yang terbaik. Semua karya yang pernah saya baca hingga tuntas – baik fiksi maupun non-fiksi – memberikan dampak dan pengaruh. Setiap buku menajamkan pikiran pada satu sudut pandang dan melebarkan informasi. Buku-buku yang sempat mampir di tangan, tidak hanya menambah kekayaan wawasan, tapi sekaligus mengasah intelektual. Paling penting, sebuah buku yang baik, bagi saya, memberi kesadaran akan proses menjalani dan memaknai hidup.

Sebelumnya, karena saya tidak akan memasukkan karya sastra, biarkan saya mengangkat topi dan menaruh hormat yang sebesar-besarnya untuk hasil-hasil kesusastraan yang pernah saya baca selama ini. Tanpa mengurangi dampak yang juga sama besarnya ketika kita membaca sastra, saya hanya akan memilih lima buku terbaik yang sempat saya baca dari kategori bukan fiksi.  Baik, mari kita mulai.

Catatan Pinggir (Goenawan Mohamad)

Sesuai judulnya, buku ini berisi kumpulan catatan.  Jadi begini, di Majalah Tempo terdapat kolom esai satu halaman yang dimuat berkala oleh penulis yang didirikannya sejak tahun 1960-an. Judulnya sama, Catatan Pinggir. Lalu, PDAT (Pusat Data dan Analisa Tempo) kemudian menghimpun naskah tersebut dan diterbitkan menjadi buku yang berjilid-jilid. Hingga sekarang, terbitan ini ada 10 edisi.

Goenawan yang juga seorang penyair dan jurnalis senior menggunakan bahasa yang sangat khas. Sama seperti motto Tempo, ‘enak dibaca dan perlu’. Catatan Goenawan benar-benar enak dibaca. Saya pikir, GM sangat berhasil membuat sebuah informasi dan opininya tersampaikan tanpa meninggalkan aspek keindahan dalam berbahasa.

Dalam satu judul misalnya, saya akan menemukan sebuah ulasan kejadian pada saat itu, tafsiran sejarah, sastra, kritik, unsur patriotik, nasionalisme ketat, dan bahkan filsafat. Semua itu padat dalam satu halaman. Konon katanya GM perlu membolak-balik banyak buku dan mengonfirmasi banyak data dan hal sebelum menuliskannya dalam Catatan Pinggir. Makanya, kadang membaca satu judul itu terasa berat bila temanya tidak terasa akrab. Tapi, saya yakin. Setelah tahu manfaatnya, pasti bakal ketagihan.

Jujur saya akui, nuansa kebahasaan yang tergores dalam Caping (Catatan Pinggir), sedikit banyak memengaruhi tulisan-tulisan saya yang muncul di blog ketika baru mulai belajar. Saat itu barangkali karena lagi suka-sukanya dengan Caping, saya beli hampir semua edisinya secara bertahap. Saya selalu pesan dua edisi. Kemudian setelah selesai, saya pesan lagi dua. Begitu seterusnya. Kecuali edisi dua dan tiga yang stoknya saat itu selalu kosong.

Ada saat ketika uang saya menipis. Saya coba minta ke Ibu. Bolehkah saya dihadiahkan buku sebagai kado ulang tahun? Gak boleh katanya. Padahal bukunya sudah saya pesan dan tinggal ditransfer. Terpaksa rogeh kocek sendiri lagi. Hehe.

Baca juga: Pappaseng ri Matoa, Sebuah Pesan untuk Menjadi Indonesia

Tuesdays With Morrie (Mitch Albom)

Tanpa saya sadari, buku ini seperti nasehat-nasehat agama tentang pentingnya mengingat mati. Morrie, seorang profesor sosiologi di Amerika. Suatu waktu, di tengah bergairahnya kehidupan akademis yang ia geluti, ia terserang penyakit syaraf langka. Sakit yang menyerangnya persis sama dengan yang menimpa Stephen Hawking: ALS. Seorang fisikawan yang ternama karena mempopulerkan teori Black Hole (lubang hitam).

Ketika dokter akhirnya memvonis hidupnya tinggal beberapa bulan, ia  memilih menghadapi saat-saat kematian itu dengan tegar dan pikiran yang jernih. “setiap kita percaya bahwa kematian akan datang. Tapi kita tidak percaya bahwa kematian bisa datang lebih cepat.” Morrie seperti orang yang beruntung bisa menyadari dan meyakini sejak awal. Dia percaya dengan kematian dan ia juga siap menerimanya bila itu datang lebih cepat sebelum masa tuanya tiba.

Akhirnya, dari balik tempat tidur, ia memberikan kuliah khusus pada mantan mahasiswanya, Mitch Albom. Setiap Selasa, Morrie memberikan kuliah tentang bagaimana pandangannya terhadap kehidupan. Juga bagaimana siasatnya menghadapi kematian yang semakian dekat?

Kalau teman bertanya mengapa kuliah? Mengapa harus belajar lagi? Morrie berkata, “sekali kita belajar tentang kematian, maka kita juga belajar tentang kehidupan.”

Membaca dialog-dialog Morrie dan Mitch membuat saya beberakali terhenyak dan tertegun. Terselip satu dua narasi yang menginspirasi dan menyadarkan saya akan posisi manusia di dunia ini yang hanya sebentar. Sehingga Morrie menekankan pentingnya segala sesuatu yang sifatnya lama dan kekal, keluarga misalnya. Kata Morrie lagi, “saling mencintai, atau mati.”

Baca juga: Kuliah Terakhir Morrie

The Geography of Bliss (Eric Weiner)

Menurut saya, tidak ada yang lebih membahagiakan daripada berkenala dan mengintip tempat-tempat asing melalui buku, mendapatkan informasi berharga di setiap halamannya, menemukan kesejukan di tiap sudut pandangnya, dan tertawa pada hampir setiap halamannya. Karya Eric satu ini memuat semua hal di atas.

Eric berkeliling di beberapa kota di dunia yang menurut hasil riset (World Data Happiness) paling bahagia (blissfully) se-jagat raya. Apa yang membuat masing-masing kota bahagia? Apa defenisi bahagia menurut mereka? Ternyata, setiap tempat memunculkan jawaban berbeda. Namun ada satu penyataan ‘kebahagiaan’ yang diperolehnya dari seorang akademisi Bhutan, Karma Ura, dan itu berhasil merubah pola pikir Eric, “tidak ada yang namanya kebahagiaan pribadi. Kebahagiaan seratus persen bersifat relasional.”

Saya tergugah oleh sikap Eric yang merubah sudut pandangnya tentang bahagia. Bukan lagi the way of United States, tapi juga bahagia cara India, Moldova, hingga Islandia. Semua itu merubahnya menjadi sosok yang lebih baik. Mengutip Leo Tolstoy, dia akhirnya menemukan banyak jalan untuk mendapatkan kebahagiaan. “Menari selagi bisa” kata penyair W.H. Auden.

Kalau penyanyi dangdut tanah air mampu mendendangkan, “sakitnya tuh di sini” sambil menunjuk ke jantung. Ya barangkali, dengan menekuni buku ini selama beberapa waktu, kita juga bakal tahu kalau “bahagia itu juga letaknya di sini”

Titik Nol (Agustinus Wibowo)

Buku ini sejatinya tulisan perjalanan atau namun dirangkai apik dalam satu karya yang benar-benar komplit. Melalui tulisan-tulisannya. Agustinus yang lahir besar di satu kota kecil di Jawa, berangkat menuju daratan China demi pendidikan yang lebih baik.

Setelah berhak menuliskan gelar mentereng di belakang namanya, entah mengapa kata ‘pulang’ tidak lagi menjadi menarik. Lewat sebuah perjalanan menaiki kereta yang panjang, ia memulai sebuah perjalanan panjang melintasi negeri-negeri Asia yang jauh. Tidak tanggung-tanggung, petualangannya melewati bahaya demi bahaya mencapai lima tahun berikutnya. Sungguh bukan waktu yang sebentar bagi pelancong berbatas waktu.

Melalui Titik Nol, ia mengetahkan panorama travel journal yang begitu berbeda dari yang sudah-sudah. Kenekatan, keberanian, dan kepolosannya mengantarkannya mencapai interaksi maksimal dari sebuah tempat. Agustinus, sekali lagi telah berhasil mengajak pembaca merasakan getir sekaligus bahagia dari kata “jauh”.

Lalu, sebuah surat yang menyatakan ibunya sakit tak terperi memanggilnya pulang. “Pulang” akhirnya menjadi pelengkap paling canggih dari kata “jauh”. Lebih dari itu, Agustinus mungkin tidak pernah benar-benar mengerti makna “pulang” bila belum merasakan yang “jauh”.

“Hingga akhirnya setelah mengelana begitu jauh, si musafir pulang. Bersujud di ranjang ibunya. Dan justru dari ibunya yang tidak pernah ke mana-mana, dia menemukan satu demi satu makna lembaran yang selama ini terabaikan” –Titik Nol-

Baca juga: Menempuh Jauh dan Melangkah Pulang

Sejarah Tuhan (Karen Armstrong)

Siapkan nafas panjang-panjang jika membaca buku ini. Karena menyiapkan narasi-narasi panjang dan padat. Dipenuhi tahun, catatan kaki, dan istilah-istilah asing. Logika dan jalan cerita mengalir terus tanpa henti. Sebuah kisah pencarian, penemuan, dan keterkaitan dari tiga agama besar di dunia: Islam, Yahudi, dan Katolik serta Protestan. Perjuangan menemukan agama itu terangkai dalam waktu empat ribu tahun lamanya. Ditulis oleh Karen Armstrong, mantan biarawati salah satu ordo Katolik.

Karen rajin menulis tentang masalah teologi, termasuk menulis biografi Muhammad The Prophet. Ia percaya semua ajaran agama menularkan kasih sayang. Sehingga, salah satu buku belakangan yang ia tulis berjudul “Compassion”, yang berarti welas asih atau kasih sayang. Belakangan, dari bukunya itu ia mentransformasikan Tuhan dalam “Charter for Compassion”. Sebuah langkah tawaran menerapkan ajaran universal Tuhan bagi kota-kota di seluruh dunia, yakni kasih sayang dan perdamaian

Bila kebiasaan Anda membaca satu halaman per hari, maka butuh hampir dua tahun menyelesaikan buku ini hingga tuntas. Tanpa perlu panjang lebar, inilah salah satu buku yang ditulis berdasarkan pemahaman lengkap dan panjang atas ajaran-ajaran agama samawi. Silahkan dibaca, tapi jangan sampai lupa waktu.

 

 

vlcsnap-2015-09-09-18h23m15s429

Ai Hashimoto dan bento buatannya sendiri (Litte Forest)

Jika seseorang bertanya padaku, “hal apa yang belum sempat kamu lakukan?” Saya akan menjawab dengan begitu banyak hal. Mungkin seperti kebanyakan orang. Kita semua ingin melakukan hal-hal mulia. Nyatanya, hingga hari ini impian itu belum tercapai. Buat sekolah gratis bagi anak-anak tidak mampu,  mendirikan rumah baca anak-anak di sekitaran rumah, atau bahkan menaikkan haji orang tua.

Oke, itu jangka panjang. Kali ini, biarkan saya menjawab dengan satu perihal sederhana. Sebab ternyata, hal ini begitu krusial, menghabiskan energi bertahun-tahun lamanya. Saya ingin belajar memasak.

Sejarahnya begini. Dari kecil hingga lepas SMP, seribu persen saya bergantung pada masakan buatan Ibu. Kebetulan di rumah kami, bergiliran sepupu dan kerabat tinggal. Ada laki-laki dan perempuan. Mereka semua pintar memasak. Saya juga heran kenapa. Tapi yang sering membantu Ibu memasak tentu saja sepupu perempuan. Maka, sejak masih SD, secara otomatis hilanglah kesempatan bergulat di dapur. Rekor paling hebat, bagian saya adalah beli minyak tanah.

Periode selanjutnya ada peningkatan. Sedikit kemajuan. Ketika masa-masa SMA, ibu sering menunjuk saya jadi chef bagi adik di rumah. Adik ada tiga orang. Waktu itu satu di SMP dan dua lagi masih SD. Bangun pagi lepas shalat subuh, langsung siap-siap bikin nasi goreng. Tiga biji cabai panjang, dua siung bawang merah, satu siung bawang putih, dan garam. Saya tidak akan pernah melupakan rumus itu: warisan Ibu. Mungkin karena tidak punya bakat alami, rumus berhenti sampai di situ. Tidak ada perkembangan, dan saya juga mulai bosan. The end.

Masuk kuliah, saya jadi sering makan di luar. Lalu dapur sakral itu kembali sepenuhnya ke tangan Ibu Ibu dan sepupu. Saya terpaksa dipensiun-dinikan dari dapur. Padahal sebenarnya ingin sekali saya membantu Ibu memasak. Belajar bagaimana mengolah bahan-bahan masakan dan bumbu jadi satu. Saya menengok dapur kala malam saja. Bikin kopi, rebus mi instan, dan lagi-lagi disuruh beli gas melon tiga kilogram.

Periode berikutnya, waktu saya ke Fakfak, Papua Barat jadi relawan pengajar selama satu tahun. Di sana, saya diangkat anak piara oleh Esten Bahba. Beliau Kepala Kampung Bahbadan, sekaligus tokoh adat marga Bahba. Ibu piara bernama Mama Yeri, yang berarti Ibu dari Yermias, anak pertamanya. Namun sering dipanggil Yeri. Bapak piara, mama piara, Yeri, dan Jeper, adiknya Yeri, semua jago masak.

Bagi masyarakat di sana, dapur adalah denyut kehidupan keluarga dalam satu rumah. Tiap waktu makan, mereka berkumpul di depan tungku yang masih menyala dan berbunyi gemerutuk. Sambil makan, disitulah interaksi banyak terjadi. Utamanya bila malam tiba.

Tungku itu diletakkan di tengah-tengah dapur. Jika api sudah mengecil, bilah kayu itu disorongkan lagi atau ambil lagi kayu baru. Agar suasana tetap hangat di tengah dinginnya malam. Sebab, setelah makan mereka tidak perlu repot-repot beranjak. Dapur juga berfungsi sebagai kamar tidur. Biasanya api langsung dimatikan dan digantikan lampu minyak. Satu dua kalipan (anyaman pandan hutan) dihamparkan, selimut dikeluarkan, dan semuanya siap terlelap.

Lagi-lagi, karena keadaan, saya jadi tidak bersemangat belajar memasak. Bumbu yang ada begitu sederhana, biji pala (asam pala) dan garam. Tidak ada bumbu instan lain. Dulu pakai masako pun saya sering gagal, duh, pengen nangis rasanya. Masak juga harus menggunakan kayu. Sementara paling canggih, saya hanya pernah pakai kompor parafin.

Di sini, saya ingin berterima kasih ke Jeper, adik piara yang begitu peduli. Tanpa dia, mungkin dulu saya sudah sering kelaparan kalau pulang dari sekolah. Jadi, mereka semua: bapak, mama, dan dua adik piara yang masih kecil mulai meninggalkan rumah pukul 8 atau 9 pagi. Mereka berangkat menuju kebun yang terletak di dalam hutan.

Bertanam keladi (umbi hutan), cabai, tembakau, buah merah, pisang tanduk, dan lain-lain. Nanti mereka balik sebelum jingga menghilang di ufuk. Begitu setiap hari. Di sana malah lebih gila lagi cara masaknya. Pakai bambu. Kalau sudah siang, mereka rebus keladi, masak air, rebus ikan kali, atau rebus perasan buah merah, semua-semuanya pakai bambu.

Pertanyaannya. Bagaimana cara saya makan siang? (hihi) Mama Yeri sudah menginstruksikan kalau pulang sekolah, Jeper tidak boleh langsung menyusul ke kebun. Tapi tinggal dulu memasak untuk tuang guru (sapaan untuk bapak guru). Di sini, saya sering merasa sedih selalu merepotkan Jeper yang masih duduk di kelas lima SD.

Tiap hari, saya memulangkan anak-anak pukul dua belas siang. Saya sendiri kadang pulang ke rumah ketika pukul satu. Saat itulah Jeper berperang di dapur. Ketika pulang, makanan sudah tersedia di bawah tungku, masih panas-panasnya. “tuang guru, koret nawangge” saya hafal sekali teriakannya. Dalam bahasa Suku Iha, itu berarti, “mari makan.”

Selama setahun makan di rumah, makanan yang paling enak itu lahir dari tangan Mama Yeri, mama piara. Meski masakanya sederhana, tapi lezat. Saya pernah disajikan sayur pepaya muda yang di parut. Sekilas nampaknya rasanya akan biasa-biasa saja. Tapi setelah masuk di lidah dan bercampur dengan liur. Kemudian digoreng kesana kemari di dalam mulut, muncullah kenikmatannya. Ajaib. Saya pernah tanya ke Mama, kalau itu rahasianya dari bumbu. Ia pandai meracik asam pala dan bumbu-bumbu lokal lain. Semua masakan, apakah itu ikan, daging, atau sayur, bahan utamanya memang buah Pala. Selebihnya adalah kreativitas dan kepekaan terhadap rasa.

Lalu, yang bikin lemas itu kalau mereka tidak pulang dalam waktu tiga empat hari dan menginap di rumah kebun. “tuang guru, kitong ada mo bermalam di ruma kebun. Nanti Jeper sama bapa ade (adik ipar) masak baru kasi makan tuang guru” kata Mama Yeri. Kalau sudah begitu, saya tidak bisa makan masakan spesial mama.

Episode sedih selanjutnya ialah ketika dua tahun belakangan ini, Ibu menetap sementara di Padang, Sumatera Barat. Sekali lagi, kesempatan belajar memasak itu hilang. Sebelum berangkat, ia pernah menawari saya belajar masak. Namun, apa daya, kaki saya terlalu berat mengangkat pisau. Saya dianggap terlalu pemalas mengikuti aktivitasnya di dapur dari pagi hingga jelang siang.

Dalam pandangan awam saya, dapur itu seperti ruangan tempat kegiatan multi-tasking terjadi dengan intens. Memotong sayur, memotong bawang, rebus air, tumis kangkung dan segala macam hal terjadi secara bersamaan. Itu membuat saya pusing kalau melihat dapur. Secara otomatis itu menurunkan nafsu belajar memasak.

Meski begitu, sejalan berlalunya waktu, keinginan saya untuk bisa masak sendiri juga belum padam. Satu kali, keluhan ini pernah saya sampaikan ke salah satu teman. Ia punya warung makan kecil yang semua menu adalah hasil eksperimennya sendiri. Lantas dia bilang begini, “oh gampang, datang saja ke warung kalau karyawanku sudah pulang. Di dapur ada bahan-bahan yang bisa kamu racik sesukamu. Oh untuk awal, kita mulai tumis kangkung dulu.” Waktu itu, saran bantuannya begitu menyihir dan menenangkan. Saya menyesal menyia-nyiakan kesempatan itu karena sekarang ia pindah ke kota lain.

Barangkali, saya memang anti-tesa dari karakter Mikage dalam novel “Kithcen” nya Banana Yoshimoto. “Aku tak bisa tidur di tempat lain selain dapur.” Tokoh itu menjadikan dapur sebagai tempa sakral. Konon, ibu-ibu di Jepang pada umumnya juga begitu. Baginya, dapur menjadi satu-satunya tempat di mana ia tak merasa kesepian. Ia jatuh cinta dengan dapur. Tempat ia dikelilingi panci bekas pakai dan sisa ceceran sayur, ditemani langit malam berbintang di jendela.

Keseruan masak-memasak juga saya saksikan dalam film Little Forest. Bagaimana orang Jepang yang tinggal di desa memperlakukan bahan makanan dengan sangat bijaksana. Apakah itu dari hasil kebun sendiri atau dari hutan. Pola hidup itu memberikan pengaruh besar pada jenis makanan yang terus berganti tiap musim berubah. Meski saya tidak bisa memasak, sungguh mata saya berbinar menyaksikan Ai Hashimoto menghidupkan dapurnya.

Begitulah cerita saya. Semoga saya punya waktu dan kesempatan lagi belajar memasak. Amiin. Nah, adakah yang mau berbaik hati mengajarkan saya? Hehe…

#15HariMenulis