Archive for the ‘Artikel’ Category

DSCN8777

“Jangan pernah lelah mencintai Indonesia”  Sukardi Rinakit. Ujaran dari Ketua Tim Komunikasi Publik Presiden Joko Widodo itu tampaknya menjadi begitu relevan hari-hari belakangan ini. Di tengah sanggahan kebencian dan berita tidak benar, kembali pada semangat kesatuan Indonesia adalah pilihan bijak.

Bukan kenapa-kenapa, negeri ini sudah menghabiskan terlalu banyak energi, waktu, dan pikiran meng-counter segala pemberitaan di media sosial yang begitu kontra produktif. Sementara, bata-bata Indonesia, pada saat yang sama, harus dibangun dengan energi yang positif. Energi yang lahir dari semangat yang sama, dari Sabang sampai Merauke, dari Sangihe hingga Rote. Semangat itu, bernama Pancasila.

Barangkali, dan kita sama-sama berharap sama, itulah tujuan kegiatan hari ini diselenggarakan, Jumat 16 Juni 2017. Kominfo bekerjasa dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menggelar diskusi bertajuk “Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Bermedia Sosial” di. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan Flash Blogging yang dilaksanakan pada sesi akhir.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian Kota Makassar, Ir. H. Andi Hasdullah, M.Si mengakui bahwa media sosial di Indonesia, terutama sebagian  penggunanya memiliki pola pikir yang sudah jauh dari Pancasila. Sejak November tahun 2016 energi bangsa habis ditumpahruahkan dalam agenda-agenda intoleransi dan upaya memperkeruh semangat persatuan bangsa.

Oleh karena itu, sebuah praktik cerdas sekaligus inisiasi dilakukan oleh Dinas yang beliau pimpin demi mem-booming-kan kembali Pancasila di seluruh wilayah Indonesia. Gerakan ini diberi nama Gerakan Ayo Santun dan Produktif di Media Sosial. Strategi dilakukan dengan memberikan pemahaman pada masyarakat terhadap penggunaan media sosial. Sekitar seribu relawan mulai dari pelajar, wartawan, hingga pemerintah daerah bergabung menentang hoax dan ikut aktif dalam menggaungkan literasi media. Terakhir, beliau juga menyampaikan permintaannya agar semua blogger di Makassar ikut membantu gerakan ini, khususnya membantu mendiseminasikan informasi terkait pemerintahan dan konten positif lainnya. “kami melakukan ini dengan tujuan baik yakni agar nilai Pancasila tetap eksis sepanjang masa” tuturnya mengakhiri sambutan.

Sambutan Kedua disampaikan Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo (Kementerian Komunikasi dan Informatika) yang pada siang hari ini diwakili Direktur Kemitraaan Komunikasi Bapak Dedet Sury Nandika.

Beliau yang mengenakan kemeja putih bersih lengan pendek ini memulai dengan cerita bagaimana Juni kemarin Presiden Jokowi mencanangkan Pekan Pancasila di minggu pertama bulan Juni baru-baru ini. Kita bisa saksikan media sosial dipenuhi tagar dan kampanye Saya Indonesia Saya Pancasila. Beliau begitu berharap agar Hari Pancasila 1 Juni tidak dijadikan momentum sekali setahun atau momentum seminggu, tapi bisa langsung merangsek ke seluruh hari dalam kehidupan individu dan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Setelah segala sambutan, Ustad Abdul Rahman menutup dengan sebuah doa panjang yang berisi kerisauannya akan Indonesia hari ini yang mulai terpecah belah. Dalam doanya, sebagai seorang pemeluk teguh, ia melangitkan harapan, mengetuk pintu Rahmat dari Tuhan Maha Kuasa sehingga “semoga negara ini terhindar dari bencana moral, pertikaian, dan perselisihan yang tak ada habisnya

Diskusi hari ini menempatkan tiga orang narasumber utama dan satu orang moderator. Sesi pertama dibawakan Dr. Heri Santoso, Kepala Pusat Studi Pancasila Universitas Gajah Mada. Sehari-hari beliau juga menjadi dosen Fakultas Filsafat di tempat yang sama.

Tema yang beliau sampaikan ialah “Aktualisasi Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari”. Pengajar kelahiran Jogjakarta 1 September ini memulai dengan penjelasan bagaimana kita, seharusnya, beretika dalam mencakapkan banyak hal di media sosial.

Pengantarnya cukup unik, beliau mengetes sebagaimana dekat sila Pancasila dengan budaya lokal masing-masing. Dengan gayanya yang jenaka, ia menantang peserta menyebutkan semua sila dalam Pancasila dalam Bahasa Makassar.

Aktualisasi Pancasila itu, menurut beliau, idealnya diterapkan dalam kehidupan berbudaya, bernegara, beragama. Akibat logisnya, Pancasila diturunkan dalam produk-produk hukum dari yang paling tinggi sampai mungkin aturan dalam rukun tetangga atau rukun warga. Sebab Pancasila, merujuk istilah Soekarno, adalah landasan falsafah bangsa.

Bapak bangsa memiliki visi yang maju dengan memunculkan Pancasila dalam sebuah negara demokrasi. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dimasukkan sebagai landasan paling pertama dan paling utama. Oleh karena itu, negara kita bukan negara yang menganut sekularisme, teokratis, maupun komunis.

Bagi beliau, ada tiga tantangan besar bangsa ini. Pertama, merealisasikan cita-cita bersama yakni bangsa merdeka, bersatu, berdaulat, adil, makmur. Kedua, menangani kerapuhan internal bangsa ini yang menjadi keresahan bersama yakni korupsi, kolusi, nepotisme, kekerasan, sex bebas, narkoba, dll. Sedangkan yang ketiga mungkin bisa dikatakan problem terbesar. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga sedang mengancam negeri-negeri lain, Proxy War. Antara lain, masalah terorisme, HAM, disintegrasi bangsa, khilafah, komunisme, dan banyak lagi.

Pada intinya, semua orang, khususnya para netizen, dituntut cepat tapi juga harus tepat dan menampilkan kebenaran.

Sesi diskusi dilanjutkan oleh pemaparan Prof. Dr. H. Muhammad Ghalib, M. MA. Beliau kelahiran Bantaeng, 1 Oktober 1959. Jabatan beliau sekarang ini ialah Sekretaris Umum MUI Sulawesi Selatan.

Hari ini penggunaan media digital yang tidak bertanggung jawab. Munculnya hoax, fitnah, ghibah, namimah, gosip, pemutarbalikan fakta, ujaran kebencian, permusuhan, kesimpangsiuran, informasi palsu, dan hal terlarang lainnya yang menyebabkan disharmonisasi kehidupan sosial. Olehnya, MUI mengeluarkan Fatwa MUI Tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah di Media Sosial. Tentu dasarnya dari Al-Qur’an, Hadits, dan pendapat ulama

Beliau berpesan agar kita semua selalu melakukan tabayyun, maknanya cek ricek informasi. “Juga kita harus memberikan informasi yang membangun, bukan yang memecah belah,” kata Prof. Ghalib yang sehari-hari bertugas sebagai Guru Besar UIN Makassar. Sehingga, negara ini akan menjadi negara yang maju, santun, dan berperadaban. Dari Inggris sampai Iran. Itulah simbol luasnya Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Ringkasnya, setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial wajib memperhatikan hal-hal sebagai berikut: senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, tidak mendorong kekufuran dan kemaksiatan; mempererat persaudaraan, baik persaudaraan KeIslaman, persaudaraan kebangsaan, dan persaudaraan kemanusiaan; dan memperkokoh kerukunan, baik intern umat beragama, antar umat beragama, maupun antar umat beragama dengan pemerintah.

Fatwa ini menjadi panduan dalam berinteraksi. Fatwa ini memberikan penguatan dari undang-undang. Inilah lebihnya Indonesia. Karena nafasnya sama. Kepatuhan sebagai umat beragama dan umat bernegara itu bisa bersinergi. Jadi, dua-duanya dapat, kita mampu menjadi warga yang baik dan umat yang baik. Inilah sinergi yang diharapkan. Menguatkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

“sesuatu yang baik juga harus disampaikan dengan cara-cara yang baik” Al-Qur’an

Terakhir disampaikan diskusi yang begitu memikat dari Bapak Handoko. Ia merupakan bagian dari Tim Komunikasi Publik Presiden Joko Widodo yang dipimpin langsung Sinardi Rinakit.

Sesi ini menurut saya lebih powerful, datang langsung Dari Sudut Istana. Tahun ini merupakan tahun ketiga pemerintahan Presiden Jokowi. Tahun pertama, adalah pondasi. Tahun kedua, adalah percepatan. Percepatan yang menjadi konsen utama dari segi infrastruktur, kebijakan deregulasi ekonomi, dan pembangunan manusia.

Kemudian tiga capaian ini dirangkum dalam video 60 detik yang menampilkan perkembangan memuaskan di setiap lini pembangunan yang sempat terekam. Satu kata dari saya, luar biasa rekam jejak yang sudah didokumentasikan dengan baik. Kami semua, para peserta berdecak kagum dan bertepuk tangan. Bagaimana Indonesia dirawat da diruwat dengan Kerja Nyata.

Kebijakan pemerintahan itu menangani ketimpangan antar daerah. Strategi ini dilakukan dengan memperbesar dana desa, menguatkan konektivitas antar daerah, pergerakan ekonomi di daerah

“Kita adalah bangsa pemenang dengan kerja nyata. Saya ingin Indonesia merata dan maju, dari Sabang sampai Merauke. Indonesia, Maju!” Presiden Joko Widodo (www.kerjanyata.id dan www.presidenri.go.id)

Sebelum mengakhiri, ijinkan saya mengutip Ma’ruf Cahyono, Wakil Ketua MPR yang mencoba membuat ungkapan-ungkapan yang menarik bagaimana kita menjadi santun di media sosial.

Sila 1 (Ke-Tuhanan Yang Maha Esa):
Berhenti Takabur Berhenti Takabur, Mulailah Bersyukur;
Berhenti Saling Merendahkan, Mulailah Menghormati Perbedaan;
Berhenti Menyakiti, Mulailah Menghargai.

Sila 2 (Kemanusian Yang Adil dan Beradab):
Stop Marah-Marah, Mulailah Bersikap Ramah;
Berhenti Curiga, Mulailah Menyapa;
Berhenti Berseteru, Mulailah Bersatu;
Berhenti Memaki, Mulailah Memakai Hati

Sila 3 (Persatuan Indonesia):
Berhenti Memaksakan, Mulailah Berkorban;
Berhenti Mencari Perbedaan, Mulailah Bergandeng Tangan;
Berhenti Berseteru, Mulailah Bersatu

Sila 4 (Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyarawatan Perwakilan):
Berhenti Bersilat Lidah, Mulailah Bermusyawarah;
Berhenti Silang Pendapat; Mulailah Bermufakat;
Berhenti Besar Kepala, Mulailah Berlapang Dada

Sila 5 (Persatuan Indonesia):
Berhenti Menang Sendiri, Mulailah Berbagi;
Berhenti Malas, Mulailah Bekerja Keras;
Stop Demonstrasi, Mulailah Toleransi
.

#Pancasila #TemuBlogger

Sulit menentukan mana yang terbaik. Semua karya yang pernah saya baca hingga tuntas – baik fiksi maupun non-fiksi – memberikan dampak dan pengaruh. Setiap buku menajamkan pikiran pada satu sudut pandang dan melebarkan informasi. Buku-buku yang sempat mampir di tangan, tidak hanya menambah kekayaan wawasan, tapi sekaligus mengasah intelektual. Paling penting, sebuah buku yang baik, bagi saya, memberi kesadaran akan proses menjalani dan memaknai hidup.

Sebelumnya, karena saya tidak akan memasukkan karya sastra, biarkan saya mengangkat topi dan menaruh hormat yang sebesar-besarnya untuk hasil-hasil kesusastraan yang pernah saya baca selama ini. Tanpa mengurangi dampak yang juga sama besarnya ketika kita membaca sastra, saya hanya akan memilih lima buku terbaik yang sempat saya baca dari kategori bukan fiksi.  Baik, mari kita mulai.

Catatan Pinggir (Goenawan Mohamad)

Sesuai judulnya, buku ini berisi kumpulan catatan.  Jadi begini, di Majalah Tempo terdapat kolom esai satu halaman yang dimuat berkala oleh penulis yang didirikannya sejak tahun 1960-an. Judulnya sama, Catatan Pinggir. Lalu, PDAT (Pusat Data dan Analisa Tempo) kemudian menghimpun naskah tersebut dan diterbitkan menjadi buku yang berjilid-jilid. Hingga sekarang, terbitan ini ada 10 edisi.

Goenawan yang juga seorang penyair dan jurnalis senior menggunakan bahasa yang sangat khas. Sama seperti motto Tempo, ‘enak dibaca dan perlu’. Catatan Goenawan benar-benar enak dibaca. Saya pikir, GM sangat berhasil membuat sebuah informasi dan opininya tersampaikan tanpa meninggalkan aspek keindahan dalam berbahasa.

Dalam satu judul misalnya, saya akan menemukan sebuah ulasan kejadian pada saat itu, tafsiran sejarah, sastra, kritik, unsur patriotik, nasionalisme ketat, dan bahkan filsafat. Semua itu padat dalam satu halaman. Konon katanya GM perlu membolak-balik banyak buku dan mengonfirmasi banyak data dan hal sebelum menuliskannya dalam Catatan Pinggir. Makanya, kadang membaca satu judul itu terasa berat bila temanya tidak terasa akrab. Tapi, saya yakin. Setelah tahu manfaatnya, pasti bakal ketagihan.

Jujur saya akui, nuansa kebahasaan yang tergores dalam Caping (Catatan Pinggir), sedikit banyak memengaruhi tulisan-tulisan saya yang muncul di blog ketika baru mulai belajar. Saat itu barangkali karena lagi suka-sukanya dengan Caping, saya beli hampir semua edisinya secara bertahap. Saya selalu pesan dua edisi. Kemudian setelah selesai, saya pesan lagi dua. Begitu seterusnya. Kecuali edisi dua dan tiga yang stoknya saat itu selalu kosong.

Ada saat ketika uang saya menipis. Saya coba minta ke Ibu. Bolehkah saya dihadiahkan buku sebagai kado ulang tahun? Gak boleh katanya. Padahal bukunya sudah saya pesan dan tinggal ditransfer. Terpaksa rogeh kocek sendiri lagi. Hehe.

Baca juga: Pappaseng ri Matoa, Sebuah Pesan untuk Menjadi Indonesia

Tuesdays With Morrie (Mitch Albom)

Tanpa saya sadari, buku ini seperti nasehat-nasehat agama tentang pentingnya mengingat mati. Morrie, seorang profesor sosiologi di Amerika. Suatu waktu, di tengah bergairahnya kehidupan akademis yang ia geluti, ia terserang penyakit syaraf langka. Sakit yang menyerangnya persis sama dengan yang menimpa Stephen Hawking: ALS. Seorang fisikawan yang ternama karena mempopulerkan teori Black Hole (lubang hitam).

Ketika dokter akhirnya memvonis hidupnya tinggal beberapa bulan, ia  memilih menghadapi saat-saat kematian itu dengan tegar dan pikiran yang jernih. “setiap kita percaya bahwa kematian akan datang. Tapi kita tidak percaya bahwa kematian bisa datang lebih cepat.” Morrie seperti orang yang beruntung bisa menyadari dan meyakini sejak awal. Dia percaya dengan kematian dan ia juga siap menerimanya bila itu datang lebih cepat sebelum masa tuanya tiba.

Akhirnya, dari balik tempat tidur, ia memberikan kuliah khusus pada mantan mahasiswanya, Mitch Albom. Setiap Selasa, Morrie memberikan kuliah tentang bagaimana pandangannya terhadap kehidupan. Juga bagaimana siasatnya menghadapi kematian yang semakian dekat?

Kalau teman bertanya mengapa kuliah? Mengapa harus belajar lagi? Morrie berkata, “sekali kita belajar tentang kematian, maka kita juga belajar tentang kehidupan.”

Membaca dialog-dialog Morrie dan Mitch membuat saya beberakali terhenyak dan tertegun. Terselip satu dua narasi yang menginspirasi dan menyadarkan saya akan posisi manusia di dunia ini yang hanya sebentar. Sehingga Morrie menekankan pentingnya segala sesuatu yang sifatnya lama dan kekal, keluarga misalnya. Kata Morrie lagi, “saling mencintai, atau mati.”

Baca juga: Kuliah Terakhir Morrie

The Geography of Bliss (Eric Weiner)

Menurut saya, tidak ada yang lebih membahagiakan daripada berkenala dan mengintip tempat-tempat asing melalui buku, mendapatkan informasi berharga di setiap halamannya, menemukan kesejukan di tiap sudut pandangnya, dan tertawa pada hampir setiap halamannya. Karya Eric satu ini memuat semua hal di atas.

Eric berkeliling di beberapa kota di dunia yang menurut hasil riset (World Data Happiness) paling bahagia (blissfully) se-jagat raya. Apa yang membuat masing-masing kota bahagia? Apa defenisi bahagia menurut mereka? Ternyata, setiap tempat memunculkan jawaban berbeda. Namun ada satu penyataan ‘kebahagiaan’ yang diperolehnya dari seorang akademisi Bhutan, Karma Ura, dan itu berhasil merubah pola pikir Eric, “tidak ada yang namanya kebahagiaan pribadi. Kebahagiaan seratus persen bersifat relasional.”

Saya tergugah oleh sikap Eric yang merubah sudut pandangnya tentang bahagia. Bukan lagi the way of United States, tapi juga bahagia cara India, Moldova, hingga Islandia. Semua itu merubahnya menjadi sosok yang lebih baik. Mengutip Leo Tolstoy, dia akhirnya menemukan banyak jalan untuk mendapatkan kebahagiaan. “Menari selagi bisa” kata penyair W.H. Auden.

Kalau penyanyi dangdut tanah air mampu mendendangkan, “sakitnya tuh di sini” sambil menunjuk ke jantung. Ya barangkali, dengan menekuni buku ini selama beberapa waktu, kita juga bakal tahu kalau “bahagia itu juga letaknya di sini”

Titik Nol (Agustinus Wibowo)

Buku ini sejatinya tulisan perjalanan atau namun dirangkai apik dalam satu karya yang benar-benar komplit. Melalui tulisan-tulisannya. Agustinus yang lahir besar di satu kota kecil di Jawa, berangkat menuju daratan China demi pendidikan yang lebih baik.

Setelah berhak menuliskan gelar mentereng di belakang namanya, entah mengapa kata ‘pulang’ tidak lagi menjadi menarik. Lewat sebuah perjalanan menaiki kereta yang panjang, ia memulai sebuah perjalanan panjang melintasi negeri-negeri Asia yang jauh. Tidak tanggung-tanggung, petualangannya melewati bahaya demi bahaya mencapai lima tahun berikutnya. Sungguh bukan waktu yang sebentar bagi pelancong berbatas waktu.

Melalui Titik Nol, ia mengetahkan panorama travel journal yang begitu berbeda dari yang sudah-sudah. Kenekatan, keberanian, dan kepolosannya mengantarkannya mencapai interaksi maksimal dari sebuah tempat. Agustinus, sekali lagi telah berhasil mengajak pembaca merasakan getir sekaligus bahagia dari kata “jauh”.

Lalu, sebuah surat yang menyatakan ibunya sakit tak terperi memanggilnya pulang. “Pulang” akhirnya menjadi pelengkap paling canggih dari kata “jauh”. Lebih dari itu, Agustinus mungkin tidak pernah benar-benar mengerti makna “pulang” bila belum merasakan yang “jauh”.

“Hingga akhirnya setelah mengelana begitu jauh, si musafir pulang. Bersujud di ranjang ibunya. Dan justru dari ibunya yang tidak pernah ke mana-mana, dia menemukan satu demi satu makna lembaran yang selama ini terabaikan” –Titik Nol-

Baca juga: Menempuh Jauh dan Melangkah Pulang

Sejarah Tuhan (Karen Armstrong)

Siapkan nafas panjang-panjang jika membaca buku ini. Karena menyiapkan narasi-narasi panjang dan padat. Dipenuhi tahun, catatan kaki, dan istilah-istilah asing. Logika dan jalan cerita mengalir terus tanpa henti. Sebuah kisah pencarian, penemuan, dan keterkaitan dari tiga agama besar di dunia: Islam, Yahudi, dan Katolik serta Protestan. Perjuangan menemukan agama itu terangkai dalam waktu empat ribu tahun lamanya. Ditulis oleh Karen Armstrong, mantan biarawati salah satu ordo Katolik.

Karen rajin menulis tentang masalah teologi, termasuk menulis biografi Muhammad The Prophet. Ia percaya semua ajaran agama menularkan kasih sayang. Sehingga, salah satu buku belakangan yang ia tulis berjudul “Compassion”, yang berarti welas asih atau kasih sayang. Belakangan, dari bukunya itu ia mentransformasikan Tuhan dalam “Charter for Compassion”. Sebuah langkah tawaran menerapkan ajaran universal Tuhan bagi kota-kota di seluruh dunia, yakni kasih sayang dan perdamaian

Bila kebiasaan Anda membaca satu halaman per hari, maka butuh hampir dua tahun menyelesaikan buku ini hingga tuntas. Tanpa perlu panjang lebar, inilah salah satu buku yang ditulis berdasarkan pemahaman lengkap dan panjang atas ajaran-ajaran agama samawi. Silahkan dibaca, tapi jangan sampai lupa waktu.

system-change

climatejusticeactionnetwork.org

Ukuran jaman sekarang, pertanyaan itu tergolong bodoh. Rasa-rasanya tanpa riset mendalam dan menyeluruh se-Indonesia, hampir semua orang bakal memilih Raisa. Wajah jelitanya berada di level atas. Duh, bikin pangling. Tidak kalah penting, lantunan tembang-tembang cintanya syahdu aduhai. Lirik-liriknya siap melenakan segenap jiwa raga.

Sementara (Karl) Marx? apa untungnya memilih dia? Jika foto mereka disandingkan, maka kau akan mendapati Marx memiliki wajah suram-tegas-tanpa-senyum berumur lebih setengah abad. Berjanggut lebat putih keabu-abuan memanjang melewati leher. Sungguh terlalu kalau Anda mengira karya Marx adalah lagu galau. Maaf, hanya buku-buku. Buku-bukunya sungguh tidak berperasaan, susah dimengerti. Beda sekali dengan si Raisa.

Sebelum lebih jauh, saya menyarankan sebaiknya memilih Marx atau siapa saja yang membuat Anda selalu tertantang berpikir lebih jauh sekaligus dalam. Oke, saya paham, masing-masing Anda punya selera dalam musik. Tapi tidak untuk berpikir dan bertindak independen. Semua manusia memiliki kemerdekaan sejak awal, kebebasan dalam segala hal, termasuk berpikir. Rene Descartes jauh-jauh hari sudah mengutarakan pandangan filosofisnya yang terkenal, “Aku berpikir, maka Aku ada.”

Apa perbedaan besar di antara mereka? Perbedaan yang kontras. Mari kita bandingkan secara sepintas apa yang populer dari keduanya, Kakak Raisa dan Kakek Marx. Kita mulai dengan lirik Raisa “Kali Kedua”:

Jika wangimu saja bisa memindahkan duniaku | Maka cintamu pasti bisa mengubah jalan hidupku | Cukup sekali saja aku pernah merasa, betapa menyiksa kehilanganmu | Kau tak terganti kau yang slalu kunanti | takkan kulepas lagi

Pegang tanganku bersama jatuh cinta, kali kedua pada yang sama | Jika senyummu saja bisa mencuri detak jantungku | Maka pelukkan mu yang bisa menyapu seluruh hatiku | Cukup sekali saja aku pernah merasa betapa menyiksa kehilanganmu | Pegang tanganku bersama jatuh cinta | Kali kedua pada yang sama (Satukan hati, tanpa peduli) | Kedua kali kita bersama lagi |

Perhatikan baik-baik liriknya. Cermati kejanggalan berpikirnya. Kemandirian adalah sikap naluriah manusia untuk menjadi merdeka secara pribadi. Sementara lirik di atas memuja ketidakmandirian seorang perempuan muda yang disetir gumpalan dan buncahan penuh perasaan yang tertahan. Seakan-akan itu sah-saha saja dan boleh dilakukan seluruh umat manusia Indonesia. Duh kakak Raisa, apa sih yang kamu perbuat?

Imaji saya membayangkan sesosok patah hati yang hanya berbaring saja di kamar. Menangisi nasib putus cinta yang merundung fisik dan perasaannya. Seorang perempuan yang sedang dihadapkan pada kembimbangan tanpa batas. Ruang yang melingukupinya barangkali luas, tapi ia menyempitkan dirinya untuk tidak ke mana-mana. Tidak bergerak secara fisik. Waktu jadi serasa melambat sekian kali lipat. Dia hanya mengikuti hatinya yang terus bergejolak tidak menentu. Demi merasakan betapa pedihnya rasa yang ia jalani saat itu.

Liriknya mengajak pendengar secara total tidak berpikir dan mengikuti perasaan semata. Pada ujungnya, sosok perempuan dan penikmat lagu ini (juga lagu-lagu yang senada) akan terbawa dalam kondisi baper (bawa perasaan) yang tidak kunjung reda.

Seolah-oleh hanya itu satu-satunya permasalaan yang terjadi dalam struktur otaknya yang begitu canggih. “ini merupakan reduksi (sosial) terhadap segala permasalahan yang sedang mendera kita semua” terang Nurhady Sirimorok, seorang peneliti dan fasilitator masyarakat. Selepas magrib itu, ia berbagi mengenai pengantar Analisis Sosial.

Lebih jauh, jika ditilik dari sudut pandang gender, sosok perempuan seperti berada dalam kungkungan laki-laki. Berada di level bawah dalam hirarki struktur sosial keluarga dan masyarakat. Tidak memiliki keputusan sendiri, dan tidak berdaya. Segala yang terlontar dari mulutnya adalah buah gejolak dan teriakan responsif dari hati dan perasaannya sendiri.

Seandainya saja sosok perempuan tersebut serius memikirkan setiap tindakannya dan ucapannya, maka otaknya akan menstimulus melakukan gerak aktif dengan akal sehat. Bukan tinggal di kamar dan menangisi hidup yang tidak adil.  “Inilah kampanye besar-besaran menuju kedangkalan berpikir kritis dan independen terhadap diri sendiri” katanya menyimpulkan.

Sekarang, mari kita beralih ke Kakek (Karl) Marx. Seluruh teori yang ia gulirkan sepanjang hidupnya berdasarkan apa yang ia yakini, “manusia membuat sejarahnya sendiri, manusia adalah pencipta itu sendiri.” Karyanya dibincangkan hampir di bangku akademik hingga pemuja klenik Marxisme. Baginya, manusia adalah makhluk bebas yang mampu menentukan nasib sendiri. Berani berpikir bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Pada intinya, terlepas dari aura kerisauan level dewa lirik Raisa, kakek Marx mengajak kita semua (tidak berhenti) berpikir. Oke, sederhana begini. Ini tentang dua pilihan: memilih berpikir atau memutuskan tidak berpikir.

Lantas, mari kita renung-pikir sejenak. Mengapa perasaan tersebut begitu kuat mendominasi pemikiran anak-anak muda sekarang?  Jika ditarik waktu ke belakang, pada era Orba rezim Soeharto, Menteri Harmoko pernah melarang lagu-lagu sejenis beredar di Indonesia. Tidak sesuai dengan nilai-nilai moral lima sila Pancasila, dalihnya begitu.

Mari kita ambil contoh bait “Hati yang Luka” Betharia Sonata. Terdapat lirik seperti ini: Liahtlah tanda merah di pipi | Bekas tapak tanganmu | Sering kau lakukan | Bila kau marah menutupi salahmu. Lalu dipungkaskan: “pulangkan saja Aku pada ibuku atau ayahku,” dan seterusnya. Sumpah. Lagunya bikin sedih merintih. Dilema hati pasangan hendak bercerai.

Pemerintah saat itu melarang dengan alasan kasus-kasus perceraian akibat KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) saat itu tidak sesuai dengan nilai-nilai keluarga bahagia ala Pancasila. Kecenderungan seperti itu tidak boleh muncul ke permukaan sehingga berpotensi merusak butir-butir pengalaman Pancasila. Sialnya, lagu jenis ini laris. Dian Piesesha lebih hebat lagi, lagu syahdunya “Tak Ingin Sendiri” menembus penjualan dua juta kopi. Jumlah yang gigantis mengingat waktu itu masih edisi rekaman kaset. Lagunya memang bagus. Saya tidak tahan mendengarnya berulang-ulang #duh.aduh.ikut.baper.

Kak Dandy yang meraih master dari ISS (Institute of Social Studies) Deen Haag, menilai, semasa itu pemerintah tidak fokus pada masalah yang sebenarnya. Inititusi formal selalu terjebak kegagalan berfokus, ‘gagal fokus’. Atau pura-pura tidak tahu? Mungkin saja. Maksud hati memberantas pelanggaran norma, tapi menerapkan solusi yang tidak mematikan akar masalahnya.

Lagu-lagu sendu yang banyak diciptakan saat itu hanyalah merupakan akibat sebuah skema besar yang bekerja, dalam artian ada struktur sosial yang berlaku. Tidak kentara namun bekerjanya giat, tangkas, seringkali invisible, memberikan konsekuensi besar (seringkali negatif) bagi masyarakat, serta sangat efektif melumpuhkan target tujuannya. Perilaku gagal fokus ini seringkali membuyarkan pikiran orang-orang dari masalah krusial itu sendiri. Sehingga gejala-gejala yang tampak di masyarakat (di permukaan) langsung dipandang sebagai masalah itu sendiri.

Dalam kasus pelarangan lagu cengeng, setelah upaya telisik, rupanya ruang ekspresi menyuarakan kepentingan publik disumbat demi kelanggengan rezim. Akses ke medium aspirasi masyarakat dikungkung dari pelbagai sisi. Mimpi mewujudkan negara yang lebih demokratis nyaris pupus. Pada akhirnya, wadah penyaluran teralihkan ke hal-hal pribadi dan perasaan. Lahirlah rupa-rupa ‘lagu cengeng itu’. Begitu kira-kira penjelasan kak Dandy.

Posisi-Posisi dalam Struktur Sosial

Skema yang dimaksudkan adalah bangunan struktur sosial. Struktur lebih besar yang menyebabkan gejala-gejala dan faktor-faktor itu muncul, bergulir, dan berkembang. Lazimnya, pertanda-pertanda tersebut hanya merupakan hilir dari duduk perkara sebenarnya, sebab bisa jadi variabelnya lebih dari satu. Demi mengurai persoalan sebenarnya, pada tahap inilah penting mengurai cara-cara kerja struktur sosial dan sistem yang bercokol di dalamnya. Sehingga, kita bisa mengerti bagaimana sesuatu gejala itu muncul dan berkembang di sebuah kelompok masyarakat.

Oke, cukup. Kita sudahi saja acara ghibah kakak Raisa sampai di sini. Demi menghentikan situasi pembenaran terhadap baper massal diakibatkan lagu-penyembah-perasaan tentu bukan dengan memboikot karya Raisa. Tapi menelisik gejala-gejala yang tampak, menelisik satu demi satu struktur beserta aturan dan normanya, lalu menyiapkan argumen atawa strategi. Selebihnya, kita tengok sepenggal wacana mengenai ‘Analisis Sosial.’

S__27017219

Nurhady Sirimorok menjelaskan skema Struktur Sosial

Secara ringkas, Struktur Sosial merupakan pola interaksi yang bertahan cukup lama individu, masyarakat, dan hubungan antar keduanya. Dalam grafik berikut dijelaskan bagaimana kaitan organisasi/institusi/lembaga dan aturan yang bercokol di dalamnya. Negara misalnya, institusi ini memiliki mandat untuk mengurusi seluruh warga negara tanpa kecuali. Menegakkan marwah demokrasi memerlukan aturan umum bagi semua orang. Apa itu? Hukum (aturan legal). Aturan positif ini bersifat memaksa dan mengikat.

Jalan untuk menegakkan hukum ialah dengan membuat regulasi di semua bidang, menjalankan pendidikan, dan membuat sosialisasi. Ada tapinya, dengan kekuatannya pula, hukum bisa ditegakkan dengan jalan: kekerasan dan tindak represif. Jika aparat penegak hukum kadangkala berlaku berlebihan, memang sudah begitu cara kerjanya. Kecuali pemerintah menghendaki adanya reformasi besar-besaran di institusi TNI dan Polri menjadi lebih humanis dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Begitu seterusnya.

Struktur sosial yang timpang ini menjadi penyakit yang sulit terdeteksi, tidak disadari, dan oleh karenanya harus membuat orang lain menyadarinya. Kesadaran berpikir dan bertindak merdeka, melihat persoalan secara kritis-jernih dibutuhkan untuk menyingkirkan sakit menahun tersebut. Kak Dandy membagi tiga posisi kunci menelisik struktur sosial.

Beritahu saya di mana dan bagaimana seseorang, atau kategori individual apapun, berlokasi di dalam masyarakat, dan akan saya beritahu apa yang kemungkinan besar dia/mereka lakukan” Franco Crespi.  Franco percaya jika seroang individu yang terbentur dengan struktur sosial di suatu daerah, ia tidak akan bisa melakukan apa-apa. Tinggal pasrah saja menuruti kemauan dan sistem yang terjadi di dalam struktur. Intinya, sangat mudah menebak kebiasaan dan perilaku seseorang, lihat saja siapa kawannya dan di kelompok mana ia berteman.

Tidak ada masyarakat, hanya ada individu-individu” Margaret Tatcher. Kenyataannya, kondisi sosial ekonomi masyarakat Eropa memang lebih tinggi dibanding kontinen lain. Tidak mengherankan ketika Tatcher tidak percaya adanya kekuatan masyarakat yang bisa mengubah kekukuhan sistem. Tatcher begitu yakin dengan kualitas dan kekuatan individu-individu yang brilian.

Manusia membuat sejarahnya sendiri, manusia adalah pencipta itu sendiri” Karl Marx. Satu kata, Marx percaya dengan kekuatan manusia seluruhnya bisa meruntuhkan sistem yang tidak diinginkan. Juga mendesakkan hal yang diinginkan pada sistem. Kemerdekaan manusia, berpikir dan bertindak, jadi yang utama pada posisi ini. Tidak akan ada struktur lain yang boleh lebih hebat dari kekuatan para reformis. Intinya, Marx selalu yakin dengan kekuatan revolusi dapat mengubah segalanya.

Outsourcing dan Uang Panai’

Setelah mengetahui ketiga posisi tadi, jelaslah Indonesia sejauh ini masih di level Franco Crespi. Struktur sosial paling tinggi bukan berada di pihak pemegang aturan tertinggi: hukum negara. Melainkan di tangan struktur ekonomi pasar. Penuturan kak Dandy, pada skema ekonomi pasar ini memiliki kekuatan tidak tertebak dan tidak kasat mata, tapi mempengaruhi kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Di sinilah kakak Raisa terjebak berkarya mengikuti hukum ekonomi pasar.

Semua orang tunduk pada kepentingan ekonomi pasar. Struktur inilah yang mendominasi semua aktivitas keseharian, baik politik, sosial, pendidikan, budaya, pemerintahan, dan lain-lain. Cara kerjanya tidak tampak tapi cakupannya memenuhi hampir semua aspek kehidupan manusia.

Situasinya, kekuatan ekonomi pasar menunjukkan sikap sok paling berkuasa di Indonesia dari dulu. Enggan ataupun segan, mau tidak mau, kebutuhan materil merupakan keharusan dalam mempertahankan hidup. Gurita kepentingan ekonomi kapitalistik yang membelenggu negara. Kebutuhan material selalu harus bisa terpenuhi, jika tidak ingin mati sia-sia. Negara terpenjara karena itu.

Taruhlah praktek perekrutan tenaga outsourcing sebagai contoh. Diakui atau tidak, hal ini menjadi momen pelepasan tanggung jawab perusahaan pada tenaga kerja luar. Tenaga, waktu, dan fisiknya dikuras untuk memenuhi kestabilan beban kerja di perusahaan. Di lain pihak, SDM yang terserap hanya dianggap sebelah mata karena tidak terikat langsung dengan perusahaan karena pelibatan perusahaan pihak ketiga yang merekrut mereka. Meski di tengah gegap gempita profit melangit yang diperoleh, perusahaan masih tetap saja mengambil banyak keuntungan demi mengkuhkan hukum ekonomi pasar.

Jalan satu-satunya ialah mendesakkan kekuatan masyarakat/pekerja agar bersatu merongrong pemerintah menghempaskan struktur ekonomi pasar di bawah kekuatan daulat masyarakat banyak dan hukum formal. Penyembahan terhadap keuntungan sebanyak-sebanyak pengeluaran sekecil-kecilnya harus diberi porsi yang kecil bahkan nol.

Ilustrasi menarik lainnya ialah Uang Panai’. Ketika kak Dandy bertanya spontan, “apa struktur yang mengungkung banyak anak-anak muda Bugis-Makassar? Kami semua yang hadir serentak mengatakan “budaya Uang Panai” sambil setengah berteriak diselingi senyum simpul malu-malu. Semua harus ditilik, dicermati mengapa bisa hal ini menahun dan menimbulkan kekhawatiran berlebihan?

Institusi masyarakat terbagi dalam empat, yakni keluarga, komunitas, agama, dan sekolah. Masing-masing memiliki norma dan aturan yang berlaku. Ternyata, dari penjelasan kak Dandy, ada norma yang terterabas demi menghidupkan budaya. Norma agama menginginkan kemudahan dalam pernikahan, termasuk Uang Panai’ yang tidak diperberat dan diada-adakan. Namun, norma komunitas begitu kuat mengakar. Penjelasan terbaiknya barangkali ada pada sistem kekerabatan Bugis-Makassar. Gengsi, strata, dan posisi keluarga haruslah dipertukarkan secara setara. Bilamana ada pria yang hendak meminang gadis Bugis dari status sosial tinggi, lewati dulu tembok besar bernama: budaya komunitas.

Perempuan moderat-moderen nya sekalipun, suka tidak suka harus mengakui kekalahannya dan tunduk pada keunggulan norma komunitas. Keluarga dipertaruhkan. Ijinkan lagi saya meminjam Franco Crepsi, kita tidak bisa bergerak bebas lagi ketika sudah berurusan dengan struktur sosial. Perilaku maupun keputusan individu tahap ini akan ditentukan oleh masyarakat dan komunitas di mana manusia bertumbuh.

Kebutuhan manusia Bugis-Makassar barangkali merupakan contoh dari konsep modal sosial ala Bourdieu. Uang Panai’ adalah sistem pertukaran dan perlambang yang menunjukkan status sosial yang tinggi. Sekaligus menegaskan bahwa ia bukan dari kelompok masyarakat rendahan. (Baca lebih lengkap tiga buku ini: 1) Pierre Bourdieu: Menyingkap Kuasa Simbol (Fashri Fauzi, Jalasutra, 2014); 2) Pierre Bourdieu: Key Concepts (Michael Grenfell ed., Acumen Publishing Limited, 2010), dan 3) A Critical Reader (Richard Shutsterman, Blackwell Pubslishers, 2000)

Barangkali, penjelasan menjaga tradisi Uang Panai’ bisa ditemukan juga lewat konsepi Pierre Bourdieu. Tentang bagamaina memahami sebuah realitas sosial dalam kacamata “modal sosial”. Robert Putnam meringkas bahwa “modal sosial” merupakan sumber tindakan kolektif yang dirawat oleh masyarakat. Menjaga sebuah kebiasaan dalam lingkaran komunitas budaya.

Bukunya berjudul Distinction: A Social Critique of the Judgment of Taste (Harvard University Press, 1979) menerangkan seseorang memilih bagi dirinya sendiri ruang sosial di kehidupannya, yang mana posisi itu (yang akan terus menerus dipertahankan) akan perlahan menggambarkan status dirinya dalam masyarakat lain sekaligus menjauhkan dirinya dari kelompok yang lebih rendah. Gagasan lebih luas dari Bourdieu ini dikenal dengan stratifikasi sosial atau class fractions  yang bakal menentukan preferensi masyarakat dan kaum muda: modal sosial, modal ekonomi, dan modal kultural.

Ketidakberterimaan Masyarakat

Permisalan lanskap kota juga menarik. Sebuah kota modern yang dipenuhi oleh ruko, mall, dan real estate –kelas menengah dan kelas atas- tidak serta merta bisa jadi begitu saja. Atau bisa saja dikatakan lanskap ini hadir sebagai akibat massifnya dampak globalisasi terhadap menguatnya ekonomi masyarakat. Tidak, tidak begitu. Bagi kak Dandy, ada lembaga dalam struktur sosial yang memainkan peran lebih untuk mewujudkan kota yang demikian.

Seperti yang tadi kita cermati dalam skema, ada sekelompok orang/sistem dalam struktur sosial ekonomi pasar yang menginginkan wajah kota modern. Mereka menganggap geliatnya ekonomi kota dan kekuatan kota berada di balik lancarnya ekonomi kapitalistik. Uang, uang, dan uang. Sialnya, mereka menang, karena mereka kebetulan menyandera struktur politik pemerintahan. Pemerintah ada di bawah tekanan ekonomi pasar dan kroninya. Di lain pihak, elemen warga yang menginginkan hadirnya ruang publik harus pasrah di bawah tekanan kampanye gigantisme kapitalistik.

Presentation1

Abraham dan Van Schendel (2005, ed) dalam “Illicit Flows and Criminal Things” berusaha menjelaskan gejala yang timbul ketika sebuah struktur sosial membentur dan mengalahkan kedaulatan dan kepentingan rakyat. Saat ketika warga menjadi liyan di negeri sendiri. Teori konsep ini dinamakan “(Il)Licitness dan (Il)legality”. Licitness secara singkat merupakan derajat keberterimaan sebuah tindakan sosial.

Ketika legal (pemerintahan/otoritas politik sah/hukum positif) bertemu dengan keberterimaan masyarakat (licit) akan menghasilkan negara ideal. Sebaliknya akan muncul gerakan-gerakan bawah tanah, masalah perbatasan, atau konflik Raja-Raja lokal/Keraton versus negara jika sesuatu yang tidak sah menurut otoritas resmi pemerintahan (illegal) namun diterima oleh masyarakat (licit).

Hal kontras akan kita lihat bilamana otoritas sah (legal) mendapatkan ketidakberterimaan (illicit) dari warga negara, maka barangkali yang sedang terjadi adalah kapitalisme dan kroninya sedang menggerogoti pemerintahan. Atau sebut saja negata itu failed. Situasi paling parah (anarki) akan terwujud jika illegal (pemerintahan/otoritas tidak sah) berhadapan dengan illicit (ketidakberterimaan) masyarakat. Tinggal tunggu akhir dari sebuah struktur.

Dalam pengantarnya, mereka tertarik untuk menyigi ruang-ruang politik yang timbul akibat interkasi otoritas pemerintahan yang formal dan otoritas sosial yang tidak resmi. We are interested in identifying the political spaces emergent from the interaction of formal political authority and non-formal social authority”

Sebut saja para pelintas batas di daerah perbatasan Kalimantan Barat. Riset lapangan sepanjang 1998 hingga 2001 oleh Reed L. Wadley dan Michael Eilenberg rentang 2002-2003 menunjukkan ketiadaan hukum, otonomi, kesenjangan pembangunan dan ekonomi membuat tindak kriminal terorganisasi (gangsterisme) dan perlawanan di luar jalur hukum merebak luas. Keterpisahan orang-orang di perbatasan membuat gejolak-gejolak tersebut menjadi licit, dapat diterima.

Pergerakan komoditas dan manusia sejatinya melanggar hukum karena melabrak norma hukum formal dengan segala sistemnya. Tetapi, mereka menerima ini sebagai sesuatu yang lumrah dan diterima. Mengutip Wadley dan Eilenberg they are quite acceptable, licit, in the eyes of participants in these transactions and flows.”

Menulislah: menyuarakan kebenaran

memang berat menulis dengan sisi pandang analisa struktur sosial.ungkap kak Dandy lugas. Dalam kata lain, tulisan yang kita sajikan mencakup pendedahan terhadap masalah sebenarnya. Kegiatan ini akan membedah dan mengkritik struktur. Tidak hanya menguraikan panjang lebar apa-apa yang tampak di depan mata. Tidak hanya mengkopi wacana mentah-mentah yang disebarkan para elit . Namun lebih jauh menelisik gejala hingga pada akhirnya jawaban dan ‘kebenaran’ itu muncul secara jelas.

Butuh riset mendalam, data-data yang mendukung, dan tentu saja wawancara. Hal ini membutuhkan riset mendalam dan data yang lebih banyak sekaligus beragama. Kak Dandy menyarankan proses menulis setidaknya melewati proses triangulasi data. Dalam dunia akademik, kegiatan ini merupakan keharusan dalam penelitian kualitatif (sosial kemasyarakatan).

Butuh pengetahuan yang penting dalam proses menulis. Jauh lebih penting lebih penting adalah keterampilan. Semuanya harus dilakukan secara simultan. “sembari menambah pengetahuan, lakukan praktik terus menerus hingga keterampilan itu datang dengan sendirinya” kak Dandy mengakhiri pertemuan dengan ‘memaksa’ kami terus menulis agar tercipta kebiasaan dan keterampilan.

Sehingga pada ujungnya, kita bisa merdeka memilih, antara Raisa atau analisa? Sebab ini soal berpikir atau tidak berpikir. Terserah, mau pilih mana.

***Catatan Kelas Menulis Kepo Angkatan IV***
Pertemuan ke: 9 (Sembilan)
Waktu: Jumat/ 24 Maret 2017
Pukul: 17.00 – 21.00
Materi: Analisis Sosial
Tempat: Brewbrothers Café, Pengayoman Makassar
Pembagi Ilmu: Nurhady Sirimorok