Archive for the ‘Catatan Harian’ Category

104452_indofood4

detik.com

Jangan suka makan mi instan, bumbunya bisa bikin kamu bodoh. Itu satu ancaman dari hampir semua orang dewasa waktu saya kecil.

Ibu, teman Ibu, tetangga, teman main, jamaah masjid, guru ngaji TPA, tukang antar air, semua mengatakan hal sama dan mereka percaya. Sebagai anak-anak, saya tidak bisa langsung percaya. Antara percaya dan tidak percaya. Sebagian diri saya percaya, tapi sebagian lagi menganggap itu cuma gertak sambal. Sebab kenyataannya, saya melihat dengan kepala mata sendiri mereka juga hampir tiap hari makan mi instan.

Saya benar-benar tidak tahu ungkapan itu asalnya dari mana. Tiba-tiba saja, ujaran itu menjadi nasihat yang diterima luas anak-anak ketika itu. Kalimat itu jadi menakutkan bagi anak-anak SD di sekolahan yang kala itu saling berburu Rangking di kelas. Percayalah, saat itu kami semua berburu enam posisi tertinggi. Rangking satu dua tiga dan level tingkat harapan. Otomatis tidak ada yang menginginkan menjadi bodoh.

Dulu, ada seorang teman SD, namanya Ridho (bukan nama sesungguhnya). Pernah satu kesempatan saya diajak kerumahnya. Kemudian mendapati di bawah kasurnya ada satu dus berisi mi instan merek Megah Mie. Sementara di atasnya ia sementara melahap mi instan. Kiri kanan bibirnya dipenuhi serbuk-serbuk bumbu yang menempel bergerak-gerak mengikuti gerakan mulutnya. Saya langsung terkaget-kaget, mungkin shock.

“mungkin mi instan telah membuat teman saya ini jadi malas ke sekolah dan jarang kerja PR.” Saya sempat membatin yang tidak-tidak. Tidak ada bukti bahwa teman baik saya itu kurang bisa menangkap pelajaran gara-gara Megah Mie. Tapi, semua orang di sekolah selalu menghubungkan pengaruh Ridho yang hampir selalu terlihat mengunyah mi instan dengan kurang fokusnya ia di kelas. Baiklah, saya mengakui, hubungan saya waktu kecil tidak begitu baik dengan mi instan.

***

Tapi ada satu kejadian yang membuat kami sejenak semua melupakan ancaman itu “Tukar Sepuluh Bungkus Gratis Satu Indomie”. Momen yang tidak lebih sebulan itu jadi kegiatan mengumpulkan bungkus mi instan merek Indomie rasa apa saja. Anak-anak-tua-muda-Ibu-ibu semua punya koleksi masing-masing. Siapa yang giat dia yang dapat.

Kami, anak-anak yang saling bertetangga tidak mau kalah. Meski saya tahu kebanyakan mereka tidak suka Indomie, tapi semangat begitu membara. Beramai-ramai setiap siang dan sore, apalagi di hari Minggu, kami berkeliling kompleks. Membuka tiap penutup bak sampah masing-masing rumah. Tidak luput tempat pembuangan sampah RW kami sambangi. Lokasinya berada di ujung pojok gang RT, dulunya masih berupa rawa berair. Penuh semak tinggi-tinggi yang menyimpan misteri, becek, dan ughhhh baunya minta ampun. Salah sedikit, bisa terperosok. Bau tidak sedap tidak kami pedulikan, yang penting senangnya bisa rame-rame.

Paling gembira itu kalau kami menemukan bungkus Indomie yang logonya masih utuh (kalau tidak utuh, si Engkoh tidak mau terima). “Yuhu, dapat,” sorak kami berganti-ganti. Terlebih setelah mengorek-ngorek sampah yang bercampur tanah becek dan sampah lainnya, kami menemukan sebentuk makhluk coklat berbuku-buku hampir transaparan: cacing. Duh, lezatnya. Lumayan bisa digunakan memancing Ikan Balbal (Bale Balang) alias ikan lumpur di sawah belakang RT sebelah.

Setelah itu, menjelang maghrib, berangkatlah kami menuju dua tempat yang selalu mengakrabi kami. Dua toko terbesar se-RW kala itu. Kami menyebutnya ‘Aci’ Dekat’ dan ‘Aci’ Jauh’, mengacu letaknya yang ujung pukul ujung. Entah kenapa waktu itu kami lebih memilih toko Aci Jauh. Mungkin waktu itu karena semua orang menukarkan bungkus Indomie di situ. Sehari-hari, satu RW memang sering belanja di situ karena barangnya lengkap.

Saya ingat persis, dengan baju kotor, badan bau sampah, dan ujung-ujung rambut yang lecek kena tanah lumpur, kami (lebih dari tiga orang) masuk ke toko Aci yang bersejarah. Sendal kami becek meninggalkan jejak-jejak coklat tidak diinginkan berbentuk model Swallow.

Kalau kawan baca Laskar Pelangi bagian deskripsi toko tempat Lintang beli kapur untuk SD Gantong, begitulah kira-kira tempat ini. Padat penuh jualan. Sekali senggol, menara barang dagangan siap menelan kami. Bila lima orang pembeli masuk, bersenggolan pasti tidak terhindarkan. Kecuali di bagian gudang belakang. Tenang, tidak ada adegan salah satu dari kami jatuh cinta pandangan pertama pada anak perempuan Engkoh sebaya kami sebagaimana Lintang bertemu A Ling. Saat itu, meski kami merasa gagah-gagahnya karena berhasil membawa pulang Indomie, dan tentu saja, cacing, kami seperti aib, kotor. Lagipula, anak-anak Engkoh, laki-laki.

Kala itu, Engkoh berbadan besar siap dengan kalkulator di bagian tengah toko. Ujung jemari tangannya besar-besar melebihi ruas tombol angka-angka di situ. Ia menekan dan menghitung berapa bawaan kami hari itu.

Ketika melongo, tampak bungkus Indomie bersusun berbaris-baris dan nyaris menyentuh langit-langit toko. Menghitung usaha kami hari itu, rasanya seperti cacing di tengah kepungan orang tua Anaconda. Di dalam, sudah banyak orang tersenyum puasa menerima lima hingga bungkus Indomie mereka.

Begitulah. Meski hasil perburuan Indomie kami cukup memuaskan, semua hasilnya diserahkan ke rumah masing-masing. Karena yang terpenting adalah: cacing. Walau demikian, tetap saja, nama buruk Indomie mulai membaik di mata kami. Terima kasih Indomie, terima kasih Engkoh***

Kunjungi tulisan lainn Project #15HariMenulis di:
a. Perihal Mi Instan (Irmawati)
b. Mie Instan (A. Citra Pratiwi)
c. Pagi Makan Indomie, Malam Minum Promag (Hasymi Arif)
d. Mi Instan yang Bersejarah (Andi Arifayani)
e. Mi Instan dan Bulan Terang (Ma’ruf M Noor)
f. Cinta di Semangkuk Mie Rebus (Atrasina Adlina)

Quotefancy-120123-3840x2160

quotefancy.com

Bahaya itu, begitu nyata. Tapi menjadi takut, itu pilihan.

Siapa sih yang tidak tidak pernah cemas, khawatir, dan takut? Hampir semua kita menyimpan beragam kekhawatiran di benak masing-masing. Keresahan tersebut juga dipastikan senantiasa ada seiring bergulirnya roda kehidupan. Tapi waktu selalu berjalan tanpa pernah tahu kita resah atau senang.

Jenis kecemasan manusia juga berbeda-beda tergantung peran yang sedang dijalankan. Ketakutan orang tua jauh berbeda dengan ketakutan yang dirasakan anak-anak. Ketakutan remaja beda dengan dengan ketakutan kakek-nenek. Kalaupun jenis kecemasan itu ada yang sama, bisa jadi kadarnya juga berbeda. Ketakutan saya terhadap kecoa masih mending daripada seorang teman yang phobia kecoa. Kecemasannya jauh lebih tinggi dibandingkan saya yang sekedar suka saja. Berikut ini kekhawatiran terbesar yang saya rasakan.

Sakit fisik permanen

Ada orang-orang tertentu yang meski fisiknya dikalahkan penyakit, tapi batinnya dan suara jiwanya kukuh sebagaimana masih sehat. Sebagai contoh, professor Morrie Schwartz dan Stpehen Hawking. Karya dan pemikiran mereka lahir pada masa-masa kritis menghadapi ancaman maut yang tiba-tiba.

Saya kemudian tidak bisa membayangkan bila akan datang suatu penyakit atau sebab yang melumpuhkan fisik dan jiwa. Menimpa diri saya sendiri, keluarga, atau kerabat dekat. Ketika membaca sejumlah biografi, menderita penyakit permanen seperti menahan beban tidak terperikan. Hidup yang gemuruh tiba-tiba meredup, menahan penyakit hingga ajal menjemput. Belum lagi orang-orang terdekat akan menanggung akibatnya. Mereka bakal jadi repot seumur hidupnya.

Kecemasan ini muncul ketika Jane menceritakan semua pengalamannya dalam memoar ‘Travelling to Infinity’. Ia mengisahkan bagaimana hampir 24 jam hidupnya setiap hari digunakan mengurus dan merawat Stephen Hawking, suaminya. Semua itu dilakukannya karena kasih sayangnya begitu besar, utamanya setelah mereka memiliki tiga orang anak yang juga butuh diperlakukan sebagaimana mestinya. Oleh karena massifnya pengalaman itu, Jane tidak rela membiarkan penyakit lain dan emosi negatif, masuk ke dalam keluarganya. “jika di dalam rumah sudah bersarang penyakit jiwa, janganlah membiarkan penyakit hati juga ikut masuk.”

Nah, teman-teman, berdoalah, semoga kita semua –dengan perkenaan Nya- diberi kesehatan, keberkahan, dan umur panjang. Amiin.

Malaria kambuh

Sempat merasakan hidup setahun bersama masyarakat di Papua Barat, saya pulang dengan rekor dihajar malaria sampai tiga kali. Dua kali terserang malaria tropica. Dua bulan sebelum masa tugas berakhir, parasitnya lebih ganas lagi dan akhirnya dokter mendiagnosa malaria tertiana.

Oke, saya berhutang banyak sama dokter (lupa namanya) yang bertugas di rumah sakit Katolik di daerah Pasar Seberang Fakfak . Orangnya masih muda, lulusan universitas di Semarang. Juga sama Suster Vitaline yang pernah bekerja di rumah sakit di Jogja. Pernah saya datang periksa waktu maghrib. Rumah sakit sudah tutup. Tidak ada pelayanan lagi sejak siang. Lalu barangkali karena merasa kami sama-sama orang rantau dan tidak punya keluarga, akhirnya Suster memanggil dokter di rumahnya yang letaknya di belakang gereja. Kemudian Alhamdulillah akhirnya tertangani.

Setelah malaria pertama muncul, kedua dan ketiga di situ lagi. Keperluan ambil obat atau periksa darah. Untuk memastikan bibit malaria masih ada atau tidak, tiap seminggu atau dua minggu, harus periksa darah lagi. Juga demi memastikan obat terus jalan atau sudah waktunya berhenti.

Suatu kali, sang dokter pernah menasehati agar rajin minum obat. “malaria tertiana (yang ganas) itu parasitnya menyerang di hati/hepar. Jadi, obatnya harus dua minggu dikonsumsi tanpa henti. Obat itu yang akan mem-push parasit-parasit hingga benar-benar hilang dari situ. Kalau satu kali saja kamu berhenti minum obat, maka parasitnya bakal tidak hilang-hilang (dan tetap hidup dalam kondisi dorman/tidur). Nah, bila suatu saat daya tahan tubuh kamu turun, parasit itu akan aktif lagi. Lalu, malaria akan kambuh.” Begitulah kira-kira titahnya.

Oke, belum lama ini, ketakutan itu muncul lagi. Saya coba konsultasikan ke seorang teman di rumah sakit. S (saya), T (teman).

S: Gejala saya bla..bla…bla… sudah berlangsung tiga hari.

T: Apakah ada mimisan? apakah demamnya naik turun? sebelum demam apakah muncul rasa dingin? Susah bab?

S: bla…bla…bla..(saya jawab sesuai kondisinya)

T: oh, mungkin malaria muncul lagi. Coba datang ke dokter ini di jalan ini atau di jalan itu. Mereka ahli penyakit infeksi tropis. Jangan tunda-tunda segera periksa darah pada saat demam/menggigilnya muncul (aturannya persis sama waktu masih di Papua)

S: oh, okey. Makasih (sambil dag dig dug tak keruan). Awalnya saya merasa gejala ini muncul karena kebanyakan minum sirop. Tapi jawaban tadi benar-benar wow.

Hari keempat dan kelima Alhamdulillah sudah baikan tanpa obat sama sekali. Sejujurnya saya takut periksa darah. Kalau memang benar-benar malaria lagi, rasanya tidak sanggup harus menenggak obat malaria super pahit itu. Warnanya hijau gelap ada bintik-bintik hitamnya. Terus diminumnya tiga butir sekali waktu. Kombinasi tiga serangkai tadi membuat mulut rasanya begitu pahit meski setelahnya diimbangi sebutir permen. Pahitnya belum juga hilang-hilang. Oke, itu bukan bagian terburuknya. Penyakitnya yang meyerang sel darah itu akan membuat kepala pusing selama satu minggu.

Pernah akhir tahun lalu juga merasakan gejala yang sama. Waktu itu, periksa di puskesmas. Saya berharapnya sekedar bawa pulang antibiotik dan lain-lain. Tapi, waktu itu perawat merasa saya sudah gawat. Sebaiknya diopname saja. Jawabannya yang tidak terprediksi. Namun akhirnya saya pulih dengan sendirinya setelah total istirahat lima hari.

Apa itu berarti saya jadi cukup kebal karena bisa pulih sendiri? Hehe. entahlah. Tapi, terus terang, muncul gejala itu saja sudah buat merinding mengingat malaria, periksa darah, dan minum obat.

Berhenti belajar

Saya takut bila suatu ketika, saya berada dalam situasi terlalu nyaman yang membuat saya berhenti belajar. Berhenti membaca, berhenti saling berdiskusi, berhenti saling berbagi informasi dan praktik-praktik baik, berhenti menulis, berhenti sekolah lebih tinggi, misalnya.

Biasanya, orang-orang yang berada dalam kondisi seperti itu, justru memiliki kecenderungan mendeterminasi yang besar. Bila diskusi, sedikit sekali ia mau mendengarkan orang lain. Mereka hanya memiliki intensi menyampaikan hal yang menurutnya orang lain pasti belum tahu. Menyanggah orang-orang dengan ‘ah, teori’ dan semacamnya. Mereka kontra dengan perubahan-perubahan dan budaya belajar. Zen R.S mengistilahkan sikap ‘tong kosong nyaring bunyi’ dengan anti-intelektualisme, sikap kontra terhadap intelektualisme.

Belajar di sini tidak saya artikan sebagai proses formal belaka, tapi belajar tanpa jangka waktu. Menjadi pembelajar seumur hidup. Belajar dari siapa saja, sumber dari mana saja, dan di manapun berada. Cuma kesombongan yang membuat orang-orang berhenti belajar, lalu merendahkan orang lain.

Apapun yang bakal ditekuni, inginnya posisi itu memberikan saya kesempatan belajar lagi, lagi, dan lagi. Saya membayangkan hal itu sungguh banyak manfaatnya.  Minat kita jadi lebih luas. Kita jadi bisa mengembangkan pengetahuan di bidang lain, sama atau bahkan lebih menarik dari yang kita tekuni selama ini. Sudut pandang jadi lebih lebar dan fleksibel. Sebab kita bertemu dan bekerja sama dengan banyak orang. Mempertimbangkan semua pemikiran, melibatkan mereka semua, dan mengikutkan mereka dalam setiap pengambilan keputusan. Belajar dan bertumbuh bersama banyak orang, bukan one man show. Di samping itu, manfaat lainnya kita bakal menjadi lebih kritis. Persoalan dipikir matang-matang, dari bermacam hasil pemikiran, lalu diputuskan secara bijaksana.

Nah, inilah ketakutan terbesar yang saya miliki. Kalau kamu?

Eits, daripada memusingkan segala ketakutan itu, mari hadapi saja hidup ke depannya dengan lebih berani. Seperti kata Will Smith di atas.

#15HariMenulis

 

 

vlcsnap-2015-09-09-18h23m15s429

Ai Hashimoto dan bento buatannya sendiri (Litte Forest)

Jika seseorang bertanya padaku, “hal apa yang belum sempat kamu lakukan?” Saya akan menjawab dengan begitu banyak hal. Mungkin seperti kebanyakan orang. Kita semua ingin melakukan hal-hal mulia. Nyatanya, hingga hari ini impian itu belum tercapai. Buat sekolah gratis bagi anak-anak tidak mampu,  mendirikan rumah baca anak-anak di sekitaran rumah, atau bahkan menaikkan haji orang tua.

Oke, itu jangka panjang. Kali ini, biarkan saya menjawab dengan satu perihal sederhana. Sebab ternyata, hal ini begitu krusial, menghabiskan energi bertahun-tahun lamanya. Saya ingin belajar memasak.

Sejarahnya begini. Dari kecil hingga lepas SMP, seribu persen saya bergantung pada masakan buatan Ibu. Kebetulan di rumah kami, bergiliran sepupu dan kerabat tinggal. Ada laki-laki dan perempuan. Mereka semua pintar memasak. Saya juga heran kenapa. Tapi yang sering membantu Ibu memasak tentu saja sepupu perempuan. Maka, sejak masih SD, secara otomatis hilanglah kesempatan bergulat di dapur. Rekor paling hebat, bagian saya adalah beli minyak tanah.

Periode selanjutnya ada peningkatan. Sedikit kemajuan. Ketika masa-masa SMA, ibu sering menunjuk saya jadi chef bagi adik di rumah. Adik ada tiga orang. Waktu itu satu di SMP dan dua lagi masih SD. Bangun pagi lepas shalat subuh, langsung siap-siap bikin nasi goreng. Tiga biji cabai panjang, dua siung bawang merah, satu siung bawang putih, dan garam. Saya tidak akan pernah melupakan rumus itu: warisan Ibu. Mungkin karena tidak punya bakat alami, rumus berhenti sampai di situ. Tidak ada perkembangan, dan saya juga mulai bosan. The end.

Masuk kuliah, saya jadi sering makan di luar. Lalu dapur sakral itu kembali sepenuhnya ke tangan Ibu Ibu dan sepupu. Saya terpaksa dipensiun-dinikan dari dapur. Padahal sebenarnya ingin sekali saya membantu Ibu memasak. Belajar bagaimana mengolah bahan-bahan masakan dan bumbu jadi satu. Saya menengok dapur kala malam saja. Bikin kopi, rebus mi instan, dan lagi-lagi disuruh beli gas melon tiga kilogram.

Periode berikutnya, waktu saya ke Fakfak, Papua Barat jadi relawan pengajar selama satu tahun. Di sana, saya diangkat anak piara oleh Esten Bahba. Beliau Kepala Kampung Bahbadan, sekaligus tokoh adat marga Bahba. Ibu piara bernama Mama Yeri, yang berarti Ibu dari Yermias, anak pertamanya. Namun sering dipanggil Yeri. Bapak piara, mama piara, Yeri, dan Jeper, adiknya Yeri, semua jago masak.

Bagi masyarakat di sana, dapur adalah denyut kehidupan keluarga dalam satu rumah. Tiap waktu makan, mereka berkumpul di depan tungku yang masih menyala dan berbunyi gemerutuk. Sambil makan, disitulah interaksi banyak terjadi. Utamanya bila malam tiba.

Tungku itu diletakkan di tengah-tengah dapur. Jika api sudah mengecil, bilah kayu itu disorongkan lagi atau ambil lagi kayu baru. Agar suasana tetap hangat di tengah dinginnya malam. Sebab, setelah makan mereka tidak perlu repot-repot beranjak. Dapur juga berfungsi sebagai kamar tidur. Biasanya api langsung dimatikan dan digantikan lampu minyak. Satu dua kalipan (anyaman pandan hutan) dihamparkan, selimut dikeluarkan, dan semuanya siap terlelap.

Lagi-lagi, karena keadaan, saya jadi tidak bersemangat belajar memasak. Bumbu yang ada begitu sederhana, biji pala (asam pala) dan garam. Tidak ada bumbu instan lain. Dulu pakai masako pun saya sering gagal, duh, pengen nangis rasanya. Masak juga harus menggunakan kayu. Sementara paling canggih, saya hanya pernah pakai kompor parafin.

Di sini, saya ingin berterima kasih ke Jeper, adik piara yang begitu peduli. Tanpa dia, mungkin dulu saya sudah sering kelaparan kalau pulang dari sekolah. Jadi, mereka semua: bapak, mama, dan dua adik piara yang masih kecil mulai meninggalkan rumah pukul 8 atau 9 pagi. Mereka berangkat menuju kebun yang terletak di dalam hutan.

Bertanam keladi (umbi hutan), cabai, tembakau, buah merah, pisang tanduk, dan lain-lain. Nanti mereka balik sebelum jingga menghilang di ufuk. Begitu setiap hari. Di sana malah lebih gila lagi cara masaknya. Pakai bambu. Kalau sudah siang, mereka rebus keladi, masak air, rebus ikan kali, atau rebus perasan buah merah, semua-semuanya pakai bambu.

Pertanyaannya. Bagaimana cara saya makan siang? (hihi) Mama Yeri sudah menginstruksikan kalau pulang sekolah, Jeper tidak boleh langsung menyusul ke kebun. Tapi tinggal dulu memasak untuk tuang guru (sapaan untuk bapak guru). Di sini, saya sering merasa sedih selalu merepotkan Jeper yang masih duduk di kelas lima SD.

Tiap hari, saya memulangkan anak-anak pukul dua belas siang. Saya sendiri kadang pulang ke rumah ketika pukul satu. Saat itulah Jeper berperang di dapur. Ketika pulang, makanan sudah tersedia di bawah tungku, masih panas-panasnya. “tuang guru, koret nawangge” saya hafal sekali teriakannya. Dalam bahasa Suku Iha, itu berarti, “mari makan.”

Selama setahun makan di rumah, makanan yang paling enak itu lahir dari tangan Mama Yeri, mama piara. Meski masakanya sederhana, tapi lezat. Saya pernah disajikan sayur pepaya muda yang di parut. Sekilas nampaknya rasanya akan biasa-biasa saja. Tapi setelah masuk di lidah dan bercampur dengan liur. Kemudian digoreng kesana kemari di dalam mulut, muncullah kenikmatannya. Ajaib. Saya pernah tanya ke Mama, kalau itu rahasianya dari bumbu. Ia pandai meracik asam pala dan bumbu-bumbu lokal lain. Semua masakan, apakah itu ikan, daging, atau sayur, bahan utamanya memang buah Pala. Selebihnya adalah kreativitas dan kepekaan terhadap rasa.

Lalu, yang bikin lemas itu kalau mereka tidak pulang dalam waktu tiga empat hari dan menginap di rumah kebun. “tuang guru, kitong ada mo bermalam di ruma kebun. Nanti Jeper sama bapa ade (adik ipar) masak baru kasi makan tuang guru” kata Mama Yeri. Kalau sudah begitu, saya tidak bisa makan masakan spesial mama.

Episode sedih selanjutnya ialah ketika dua tahun belakangan ini, Ibu menetap sementara di Padang, Sumatera Barat. Sekali lagi, kesempatan belajar memasak itu hilang. Sebelum berangkat, ia pernah menawari saya belajar masak. Namun, apa daya, kaki saya terlalu berat mengangkat pisau. Saya dianggap terlalu pemalas mengikuti aktivitasnya di dapur dari pagi hingga jelang siang.

Dalam pandangan awam saya, dapur itu seperti ruangan tempat kegiatan multi-tasking terjadi dengan intens. Memotong sayur, memotong bawang, rebus air, tumis kangkung dan segala macam hal terjadi secara bersamaan. Itu membuat saya pusing kalau melihat dapur. Secara otomatis itu menurunkan nafsu belajar memasak.

Meski begitu, sejalan berlalunya waktu, keinginan saya untuk bisa masak sendiri juga belum padam. Satu kali, keluhan ini pernah saya sampaikan ke salah satu teman. Ia punya warung makan kecil yang semua menu adalah hasil eksperimennya sendiri. Lantas dia bilang begini, “oh gampang, datang saja ke warung kalau karyawanku sudah pulang. Di dapur ada bahan-bahan yang bisa kamu racik sesukamu. Oh untuk awal, kita mulai tumis kangkung dulu.” Waktu itu, saran bantuannya begitu menyihir dan menenangkan. Saya menyesal menyia-nyiakan kesempatan itu karena sekarang ia pindah ke kota lain.

Barangkali, saya memang anti-tesa dari karakter Mikage dalam novel “Kithcen” nya Banana Yoshimoto. “Aku tak bisa tidur di tempat lain selain dapur.” Tokoh itu menjadikan dapur sebagai tempa sakral. Konon, ibu-ibu di Jepang pada umumnya juga begitu. Baginya, dapur menjadi satu-satunya tempat di mana ia tak merasa kesepian. Ia jatuh cinta dengan dapur. Tempat ia dikelilingi panci bekas pakai dan sisa ceceran sayur, ditemani langit malam berbintang di jendela.

Keseruan masak-memasak juga saya saksikan dalam film Little Forest. Bagaimana orang Jepang yang tinggal di desa memperlakukan bahan makanan dengan sangat bijaksana. Apakah itu dari hasil kebun sendiri atau dari hutan. Pola hidup itu memberikan pengaruh besar pada jenis makanan yang terus berganti tiap musim berubah. Meski saya tidak bisa memasak, sungguh mata saya berbinar menyaksikan Ai Hashimoto menghidupkan dapurnya.

Begitulah cerita saya. Semoga saya punya waktu dan kesempatan lagi belajar memasak. Amiin. Nah, adakah yang mau berbaik hati mengajarkan saya? Hehe…

#15HariMenulis