Archive for the ‘Kelas Menulis Kepo’ Category

dyscalculia-1024x449 (1)

Nyaris setiap hari di sekolah, Dinda* bermain dengan sketch book miliknya dan pensil khusus gambar sketsa. Kira-kira dua puluh lima halaman sudah berserakan ke mana-mana. Beberapa lembar masih bersisa dengan karakter bikinan-nya sendiri.

Anak ini cukup ‘komik’ di antara tiga belas siswa kelas delapan yang lain. Pembawaannya riang sepanjang hari. Tak pernah berhenti mulutnya cerocos apapun. Termasuk saling membalas serapah, berdebat sengit dengan teman laki-laki, dan bergosip dengan sesamanya siswa perempuan.

Tubuhnya besar menjulang. Kacamatanya membantu mengurangi minus yang ia derita. Sekaligus tempat berlindung yang sempurna bagi matanya yang bulat hitam dan relatif besar dari teman-temannya. Hal yang menurut saya istimewa, ia bisa tetap enjoy menggambar sambil ngobrol atau lempar makian dengan teman-teman di depan dan sebelah kiri-kananya.

Meski begitu, ia akan terlihat lesu dan tidak fokus ketika mata pelajaran matematika dimulai.  Ketika ia mulai stress, ia mulai sedih sendiri. Ketika tiap jeda, saya bertanya apakah mereka paham atau tidak, hanya Dinda memasang wajah sedih.

“Nda mengerti, pak” jawabnya sambil menjatuhkan wajahnya ke bawah dan menggelengkan kepalanya. Ketika saya ulangi lagi setelah penjelasan yang lebih sederhana, saya kembali bertanya.

“belum mengerti” jawabnya dengan suara disedihkan. Ia ulangi lagi jawaban itu hingga tiga kali tanpa saya tanya. Seakan sebuah pengakuan bahwa ia memang tidak bisa. Saya tak bisa berbuat apa-apa.

Setiap kali itu pula, berulang kali Hakima yang bangkunya berada tepat di depannya mencoba menjelaskan. Anak ini memang jadi partner in crime Dinda. Tapi selalu siap memberikan yang terbaik jika Dinda (kadang hanya Dinda sendiri) tidak mengerti pelajaran yang disajikan, utamanya Matematika.

Dalam satu pertemuan di kelas, saya mendampingi mereka mengerjakan matematika dalam bentuk project. Sudah tiga puluh menit anak itu duduk menekuri jangka, busur derajat, kertas karton, dan spidol berwarna. Ia duduk di lantai kelas bersama teman kelompoknya yang lain.

Meski begitu, ia juga tidak tahu bagaimana dan akan diapakan semua alat-alat itu. Ia cuma memegang peralatan tersebut dan siap membantu jika dibutuhkan. Pada akhirnya, ia hanya bertugas membuat garis lurus, dan menebalkan garis-garis menggunakan spidol pada koordinat rotasi yang telah ditentukan. Pekerjaan utamanya telah selesai, Dinda, nama anak ini, hanya kebagian menyempurnakan apa yang sudah diselesaikan.

Menyaksikan Dinda yang nampak mulai serius mengerjakan project matematika di kelas, teman sekelompok menanggapi dengan canda, “nda seperti Dinda yang kami kenal. Dinda itu harusnya berkutat dengan pensil dan buku gambar.” Selebihnya mengiyakan sambil senyum dan menggoda Dinda. Di kepalanya, masih berputar-putar mengenai konsep derajat negatif-positif dan arahnya ke mana jika clockwise atau anti-clocwise.

Ia tidak bisa mengerti konsep derajat dan arah dengan baik dan sempurna. Jika teman-temannya mengerti dalam dua hingga tiga kali ilustrasi. Ia butuh waktu lebih banyak. Jika penjelasan saya yang berulang-ulang tidak juga bisa dipahami, maka ia akan pasrah tetap gagal memahami.

Sebulan ini, saya kebetulan dipercaya menangani persiapan international test yang akan diadakan di sekolah. Test ini dibuat sedemikian rupa menguji kemampuan matematis anak, utamanya –sekitar 85 persen- konsep bilangan. Bahkan termasuk pelajaran ketika mereka kelas enam di bangku SD, mengurutkan bilangan pecahan terkecil hingga terbesar. Masalah inipun, Dinda kebingungan. Raut wajahnya yang dibuat ‘disedih-sedihkan’ –bukan Dinda namanya kalau tidak bisa selalu nampak gembira di hadapan teman-temannya- menatap saya. Ditatap seperti itu, saya jadi merasa kasihan.

Jelas ia khawatir nilainya jeblok. Bahkan, pada sesi terakhir, soal akan didikte dan peserta menjawab soal dalam waktu sepuluh hingga dua puluh detik. Tertulis dengan terang saja, Dinda kebingungan, apalagi jika dibacakan. Ujian ini memang terstandar dari sono-nya. Ketidakmampuan anak sudah jelas akan terbaca di mana letaknya. Sebulan menangani kelas delapan, saya menduga Dinda terkena diskalkulia.

“iya, Dinda itu cukup bermasalah dengan mata pelajaran hitung-hitungan, matematika dan termasuk sains fisika.” Erwin, guru pendamping khusus di kelas menjelaskan kondisi Dinda pada saya.

“tapi, cuma itu saja. Yang lain (pelajaran non-matematik) ia bisa mengerti dengan baik.” Ia menambahkan, barangkali saja anak ini memang malas untuk berurusan dengan matematika. Mengambil jalur aman dengan tidak pernah berusaha sebaik mungkin untuk mencapai skor KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum).

Tetap pada dugaan awal, saya mengira Dinda diskalkulia. Dengan bukti bahwa ia mengalami directional confusion (kebingungan arah) dan kebingungan konsep bilangan serta operasi-operasi dasar matematis. Ringkasnya, diskalkulia adalah kesulitan belajar matematika atau mengerjakan soal hitungan.

Gejala-gejala Diskalkulia

Defenisi cukup komprehensif mengenai diskalkulia dijelaskan Department for Education and Skills (2001) di Inggris bahwa diskalkulia merupakan kondisi yang mempengaruhi kemampuan siswa memeroleh keterampilan matematis. Murid dengan diskalkulia kemungkinan memiliki kesulitan memahami konsep-konsep bilangan, kekurangan intuisi terhadap bilangan, dan mengalami masalah mempelajari angka-angka dan prosedur-prosedur. Meski anak dengan diskalkulia menjawab dengan benar atau menggunakan metode yang tepat dalam mengerjakan soal, mereka melakukannya secara mekanis tanpa disertai kepercayaan diri.

Padahal tanpa pengetahuan matematis yang memadai, anak dikhawatirkan tidak cukup tangkas dan tanggap dalam sejumlah aktivitas keseharian. Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya anak-anak jelas akan membutuhkan kemampuan mengelola uang, mengukur satuan berat dan waktu, dan persen. Ini mensyaratkan siswa memiliki keterampilan estimasi dan kecakapan berhitung yang terdapat dalam pecahan, pengukuran, dan aljabar sederhana.

Meski konteks terhadap pelajaran tersebut diturunkan ke dalam masalah yang sangat nyata di sekelilingnya, siswa harus mengerti konsep abstrak agar bisa memahami langkah-langkah dan prosedur logis dari matematika. Sesegera mungkin, pendidik pasti akan mengubah itu ke dalam bentuk simbol. Plus dengan banyak peraturan dan prosedur yang harus dipenuhi. Kemampuan transfer nyata-abstrak inilah yang cukup lambat terjadi pada anak dengan diskalkulia.

Ketika bidang ini pertama kali diteliti, kala itu tahun 80-an. Joffe menyebutkan 61 persen anak-anak pengidap diseleksia (lemah bahasa) juga lemah dalam matematika. Minimnya kesadaran anak terhadap bahasa menjadikan mereka juga lebih kebingungan terhadap bahasa simbol matematika. Waktu itu, banyak masih diperdebatkan mengenai keilmiahan studi yang dilakukannya. Tapi, semua orang berasumsi bahwa siswa yang lain, 39 persen sisanya, anak diseleksia bebas diskalkulia.

Penelitian Kosc (1986) menyebutkan diskalkulia sebagai gangguan fungsi otak (brain abnormalities). Kekacauan struktur terhadap kemampuan matematis yang berasal dari genetis atau bawaan bawaaan malfungsi pada salah satu bagian otak, tanpa disertai gangguan fungsi mental secara umum.

Setelah 20 tahun berlalu, beberapa penelitian poluler yang menyebutkan bahwa tidak hanya anak dengan diseleksia yang bisa terkena dampak diskalkulia. Tapi murid normal sekalipun bisa mengamali diskalkulia. Ini yang membuat saya menduga Dinda mengalami indikasi diskalkulia.

Kenyataannya masih sangat sedikit yang kita ketahui mengenai diskalkulia, penyebabnya, maupun metode penanganannya. Anak diskalkulia murni (tanpa diseleksia) yang memiliki ‘kelemahan’ terhadap bilangan, akan memiiki kognitif dan kemampuan bahasa setara dengan anak normal, dan bahkan terhitung istimewa dalam pelajaran non-matematis.

Jangan Salah Langkah

Matematika punya sifat naturalnya sendiri. Pelajaran ini dibangun dalam struktur otak anak berdasarkan berdasarkan apa yang sudah ia ketahui sebelumnya. Matematika secara logis membutuhkan rentetan pengetahuan yang tidak boleh melangkahi satu sama lain. Misalnya, siswa harus menguasai sistem persamaan linear sebelum melangkah pada materi fungsi linear. Tidak bisa tidak. Oleh karenanya, membimbing anak-anak sampai memenuhi persyaratan dalam satu materi itu sungguh penting. Pendampingan sebaiknya dilakukan hingga tuntas dengan mempertimbangkan level pencapaian siswa.

Bilangan dan aritematika merupakan pokok materi awal bagi hampir semua siswa ketika mempelajari matematika. Keduanya juga merupakan konsep paling sering yang bisa jadi akan ditemui manusia sepanjang hidupnya. Jika dalam tahap ini seorang murid gagal, maka kondisi ini akan menentukan apa yang selanjutnya terjadi. Tahap berikutnya menjadi timpang, secara akademik dan emosional.

Di sekolah terdapat Ruang Khatulistiwa (bukan nama sesungguhnya) di mana siswa special need (berkebutuhan khusus) diberikan perlakuan khusus. Di ruangan ini terdapat dua guru pendamping khusus yang ditugaskan melakukan treatment sesuai kondisi murid. Utamanya terkait pembelajaran dengan berbagai metode yang memudahkan anak apabila mereka kesulitan di kelas.

Guru Pendamping Khusus (GPK) melakukan observasi di kela setiap hari sejak pagi hingga lepas jam pelajaran terakhir. Sembari mencatat progress siswa, ia merancang treatment bagi siswa yang membutuhkan. Bedanya, bila setiap guru mata pelajaran merancang kegiatan belajar per kelas, guru pendamping merancang program belajar individu.

Tapi, sekali lagi, Dinda adalah anak normal dengan kemungkinan diskalkulia. Ia bukannya tidak bisa berubah. saya, guru-guru yang lain, dan orang tuanya yang harus memberikan perhatian lebih. Kami-lah yang harus berubah pada Dinda. Utamanya dalam mengajarkan dirinya untuk bisa ‘jadi lebih hidup dan bergairah’ dalam matematika.

Memang ada satu cara membuat lompatan besar seorang siswa dalam mempelajari matematika. Cara ini akan memberikan siswa sejumlah banyak soal-soal yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu. Sehingga lama-kelamaan siswa akan semahir mahir memainkan bentuk-bentuk penyelesaian dalam matematika.

Namun, metode ini begitu sulit diterapkan bagi anak dengan diskalkulia, terutama bawaan diseleksia. Mengerjakan begitu banyak soal tanpa disertai review, revisi, dan catatan kemajuan siswa sama saja melakukan upaya yang sia-sia. Kemampuan bahasa yang lemah (utamanya bahasa simbol matematika) membuat mereka jauh lebih bingung dari yang seharusnya. Mencari untung, malah buntung.

Jalan paling tepat, ialah menyeimbangkan antara ‘penguasaan materi’ dan ‘perkembangan.’ Struktur program pengajaran haruslah beradaptasi dengan catatan-catatan perkembangan tersebut.

Intervensi Anak dengan Diskalkulia

Sebagaimana lazimnya proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) yang sukses, seorang pendidik harus mengetahui dua hal. Pertama, pengetahuan tentang kondisi siswa, dan pengetahuan tentang mata pelajaran yang diampu. Boleh-boleh saja seorang guru memiliki kecakapan yang istimewa dalam bidang matematika. Namun belum tentu ia akan mengajar efektif jika ia luput mengetahui perkembangan belajar masing-masing anak.

Sebelumnya, saya sudah sebutkan beberapa gejala dan tanda diskalkulia, atau umumnya kesulitan belajar matematika. Kebingungan arah, kebingungan bahasa matematis, dan kebingunan konsep bilangan. Beberapa tanda lain seseorang mengalami diskalkulia, ialah memori jangka pendek, kecepatan mengerjakan soal, kecemasan serta stress yang berlebihan, dan kebingungan spasial.

Khusus yang terkahir disebutkan, ini berhubungan dengan kesulitan-kesulitan visual. Kecerdasan ini dibutuhkan untuk mengerjakan soal-soal geometri, menentukan nilai tempat, dan khususnya aljabar yang banyak menggunakan diskriminasi visual. Misalnya, anak tidak bisa membedakan dengan tepat visual “x berpangkat 2” dan “x kali 2”.

Meski begitu, bukan berarti tidak ada hal bisa kita lakukan untuk mengatasinya. Prinsip pertama ialah menggunakan pengetahuan dan kompetensi anak saat itu sebagai bahan dalam membuat program pembelajaran inidividu. Bukan dengan menyamakan situasinya dengan teman-teman kelasnya yang lain. Menyajikan mentah bahan pembelajaran (prosedur matematis) yang ia tidak ketahui membuat ia akan kehilangan kepercayaan diri dan kesempatan mendapatkan pelajaran sesuai tingkatan pemahamannya.

Selanjutnya ialah menyderhanakan bahasa. Pendidik atau guru pendamping sebaiknya menggunakan bahasa-bahasa yang terkait erat dengan kehidupan keseharian murid. Tidak hanya itu, komunikasi dengan bahasa sederhana itu harus dilengkapi gambar dan ilustrasi yang memadai sesering mungkin, bagaimanapun caranya.

Paling terakhir, sikap rendah diri dari orang-orang sekeliling, terutama guru. Secanggih apapun metode yang dimiliki seorang guru untuk mengajarkan satu topik matematika, insya Allah tidak akan sukses membuat setiap anak paham. Sangat mungkin sekali seorang anak bingung dengan cara alternatif yang disampaikan guru, namun yang lain mudah saja mengerti.

Jika setiap pendidik memahami hal ini, ia tidak akan memaksakan menerapkan gaya mengajarnya pada setiap anak atau setiap kelas. Sebaliknya ia akan mengakui bahwa setiap anak memiliki pola pikir dan gaya belajar yang berbeda-beda. Sehingga sebelum mengajar, ia sudah menyiapkan beberapa alternatif metode yang memperhatikan kondisi gaya belajar dan tingkatan pengetahuan yang berbeda.

Sebulan mengamati Dinda, saya merasa anak ini istimewa dengan caranya sendiri. Ia cukup baik dalam pelajaran lain yang memproses kata (Bahasa, PKn, dan IPS) dan psikomotorik (Art, Choir, dan Teater). Saya tidak memiliki kapastitas memberikan tes resmi pada anak ini terkait dugaan pribadi saya diskalkulia.

Jauh pikiran saya dari memasukkan Dinda ke Ruang Khatulistiwa agar ia mendapatkan treatment. Saya cukup percaya hipotesa Butterworth (2005) dan Landerl (2004) bahwa diskalkulia (dalam perkembangannya) muncul sebagai problem spesifik tentang memahami dan menyerap cepat konsep dasar dan fakta-fakta bilangan. Dalam kata lain, anak dengan diskalkulia bukan berarti ‘bodoh matematika,’ tetapi, merujuk kembali Butterworth terdapat “several major gaps in their knowledge.” Gaps ini yang mesti dikejar dan dipantau sedemikian rupa agar menjadi program pembelajaran yang ramah siswa.

Jadi, mudah saja bukan? Bukan dengan mengucilkan anak-anak tanpa kemampuan matematis, tapi dengan pendekatan yang benar, perlakuan yang tepat, mereka akan bisa mengejar keteringgalan. Setelah itu, mereka juga akan mengejar teman-temannya yang lain. Satu ketika, setelah barangkali berbulan-bulan kemudian, saya bisa melihat Dinda melemparkan senyum selebar-lebarnya pada jam pelajaran matematika. Semoga.

Referensi:
Mathematics for Dyslexics (Including Dyscalculia)3rd edition
. Steve Chinn and Richard Ashcroft. John Wiley and Sons, Ltd. England. 2007.
*bukan nama sesungguhnya

large_svoCpGHaFH1kERyxrK4pg08wkB82i4HAVNy6Wbr3lfE

REUTERS/Lucky Nicholson

Tanpa orang-orang yang telah mengbadikanan kisahnya, kita tidak akan pernah tahu bagaimana kehidupan di bumi bekerja: dulu, sekarang, dan akan datang.

Secara sadar sepenuhnya, kita berhutang besar pada penulis yang menghabiskan separuh hidupnya menulis, menelaah, menyigi, dan menuangkan pikiran dan maupun pengalamannya lewat sebentuk karya. Buku yang akhirnya kita semua bisa baca. Manis ilmunya kita serap. Tanpa tulisan pula, kita tidak akan pernah tahu ada sebentuk kehidupan unik, secuil informasi, dan seonggok inspirasi yang datang dari kehidupan orang lain.

Buku ibarat puzzle tak bertepi tentang kehidupan anak manusia dan alamnya. Akan selesai ketika manusia juga musnah pada waktunya. Tiap orang akan mengisi kekosongan puzzle dengan keping karya masing-masing. Sebuah karya tulisan atau buku menjadi dorongan bagi orang lain untuk menuliskan (menyempurnakan) bagian lain. Tulisan adalah manfaat-seratus-tahun yang bisa kita bagi ke orang lain.

***

Kelas menulis baru saja usai. Sore hingga malam pukul sembilan, beberapa hasil tugas menulis sosok dibahas intens. Cukup banyak pelajaran hari itu yang kami peroleh. Setiap kesalahan, entah itu tata cara penulisan maupun detail-detail yang kurang, selalu jadi pelajaran baru.

Meski lelah, kami tidak rela dan bakal merasa rugi melewatkan ”kelas” selanjutnya. Tanpa berpindah tempat sama sekali, kami memalingkan wajah di sisi kanan. Tempat sosok lelaki berkaos abu-abu tanpa kerah itu duduk. Bola matanya tampak cukup besar di balik kacamata. Lelaki ini cukup istimewa karena beberapa teman Kelas Menulis Kepo menyukai karya-karyanya. Beliau asli dari Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Meski begitu, ia sudah lama menetap di kota sejuk, Bogor.

Pertama kali saya bertemu langsung sosoknya yaitu dua tahun silam. Saat itu Senandung Kopi Kahayya, agenda pegelaran panen kopi masyarakat Dusun Kahayya, di lereng gunung  Bawakaraeng. Acara dihelat malam hari, di puncak sebuah bukit yang dinginnya menusuk tulang. Waktu itu ia diminta ‘mendinginkan’ terpaan kuat angin gunung lewat sejumlah sajak rindunya yang hangat. Dia adalah Khrisna Pabichara.

Meski tampak bugar seperti biasa, ia mengaku kurang sehat. Masih beradaptasi dengan panasnya mentari di langit kelembapan malam hari di Makassar. Nafasnya seperti tertahan. Kemungkinan ia refleks menahan gerak hidung dan tenggorokan yang gatal agar tidak mendengus. Sehingga suara dahak dan batuk tidak keluar mencolok.

Sebagai informasi, kedatangannya selama sepuluh hari di Makassar untuk membuat sebuah karya (lagi). “sebenarnya bukan sepuluh hari, lebih sedikit dari itu, cuma tiga hari.”

Pengakuan kak Khrisna, karyanya benar-benar ia rampungkan -128 halaman- hanya dalam tiga hari. Tujuh hari selebihnya kegiatan jalan-jalan, observasi, penggalian bahan cerita, macam-macam. Mendengar pernyataannya, rasanya seperti déjà vu. Saat sekolah menengah, di sampul belakang LKS, ada pesan penting. Dari seorang George Washington: “jika saya punya waktu 9 jam untuk menebang pohon, maka 7 jam pertama saya gunakan pertama untuk mengasah parang.”

Bagi seorang Khrisna, tulisan merupakan eksekusi pasti dari pergulatan pemikiran atas kehidupan yang dititipkan Tuhan pada dirinya. “makanya, menulis itu harus jadi pekerjaan yang utama, bukan sampingan.”

“Dulu, aktivitas saya menulis dari malam hingga pukul 7 atau 8 pagi. Tapi, setelah memasuki umur sekian (paruh baya), saya merasa kebiasaan ini harus diubah. Setelah itu, pola menulis saya hanya hingga (pukul) 2 atau 3 malam. Setelah itu harus istirahat”

Ia menjelaskan, tulisan butuh kesegaran, dalam arti bacaan kita harus segar untuk pembaca. Nah, bagaimana mau segar kalau ditulis pada tengah malam buta hingga dini hari? Tipsnya, ia mulai belajar mengelola waktu dan menjaga tulisan-tulisanya dihasilkan dari waktu yang segar: pagi hari.

Dalam kondisi ekstase, menurut pengakuannya, dia bisa mengetik 50 kata dalam 1 menit. Duh, kami tidak sempat bertanya, dorongan apa yang bisa menyebabkan dirinya ter-ekstase begitu hebat?

Kemampuan menggarap fiksi dengan baik merupakan hasil berlatih yang tidak sebentar. Beberapa orang yang terdekat dengannya, sambil melirik Om Lelaki Bugis, pernah ia tuliskan satu persatu sebagai latihan mengarang tokoh-tokoh fiksi. Relasi pertemanan yang erat itu membantu Khrisna dalam membangun penokohan dalam karya novelnya.

“dalam proses pencarian bentuk tulisan, boleh-boleh saja kita meniru. Gunakan ATM (amati, tiru, dan modifikasi).” Kelancaran menulis bukan hanya diperoleh dengan berlatih. Tapi karena si penulis menguasai bahan tulisan yang akan digarap. “tulislah dari sudut yang kamu kuasai.” Dirinya mengakui jika gaya tulisannya mula-mula sangat dipengaruhi sejumlah sastarawan ternama, termasuk Seno Gumira Ajidarma. Lama kemudian barulah ia menemukan sendiri gaya menulisnya.

Tambahnya, “gaya itu ditemukan tidaknya hanya lewat membaca tapi juga harus menulis.” Membaca banyak karya-karya pengarang yang dikagumi tidak lantas membuat kualitas karya kita sama persis dengan yang kita tuliskan. Harus dengan menulis, menulis, dan menulis.

Bagaimana Memulai Menulis?

Tulislah Sebanyak-banyaknya
“jika baru mulai belajar menulis, kejar kuantitas saja dahulu. Menulis adalah pekerjaan yang sangat bisa diikhtiarkan. Karena Anda tidak akan pernah belajar jika tidak pernah melakukan kesalahan apapun” Sangat mungkin seorang menjadi terampil dengan menulis. Khrisna sudah membuktikan itu di tahun-tahun sebelum kami semua bertemu di kelas ini. Salah satu kuncinya, keras dan disiplin terhadap diri sendiri.

Khrisna menyarankan agar kami menulis sebanyak-banyaknya tanpa beban. Terkhusus bagi kami yang menggunakan media blog dalam menulis, ia menyarankan sebaiknya tidak mengunggah semua karya ke media sosial. Sebagian yang kita anggap pantas untuk dibaca orang, itulah yang kita pamerkan pada publik.

Tulislah Karena Rasa
Banyak yang menulis, kata Khrisna, bukan karena cinta dan rasa yang ia miliki. Tulisan mereka tinggal kata-kata kering yang tidak hidup. Jiwa tulisan yang ia tinggalkan tidak mencerminkan apa-apa, bahkan kepribadian si penulis. Padahal,“apa yang ditulis dari hati, akan lesap juga ke dalam hati (para pembaca)” begitu katanya. Karya yang ditulis karena rasa ini, akan bertahan, jauh bahkan hingga setelah akhir hidup penulis.

Tulislah dengan Kreatif
Salah satu tipsnya adalah dengan rajin membuka kamus. Kamus menyediakan bahan mentah dari tulisan: kata. Termasuk sinonim (persamaan kata) agar penulis tidak mengulangi kata yang sama dengan arti yang berbeda. Maka, rajin-rajinlah buka kamus. Tidak semua hal yang kita maksudkan dapat terwakili oleh kata-kata yang itu-itu saja. Eksperimen dengan bahasa itu sesuatu yang mengasyikkan dan berpotensi memajukan penggunakan bahasa Indonesia, begitu yang pernah saya baca.

“(untuk) tiruan bunyi saja, tersedia 800 kata. Kata yang digunakan sebagai bunyi daun kering beda dengan bunyi daun basah yang jatuh ke lantai” Khrisna menyarankan agar kami mencoba-coba menggunakan dan membiasakan kembali kata-kata lama.

Daripada menggunakan manyun untuk membahasakan gerak bibir yang maju, mengapa tidak memakai “bibir Anita menggelepay” misalnya. Kesannya lebih enak diucapkan. Tidak susah. Dan lebih penting lagi, sangat terasa kebaruannya.

Mengapa Harus Menulis?

Kata pepatah, “gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan namanya.” Hidup seorang manusia itu hitung mundur, bukan hitung maju. Setiap manusia punya batas usia berbeda-beda. Jika seorang anak manusia berkalang tanah tanpa menulis, atau kisahnya dituliskan, maka apa yang bisa dititipkan pada sejarah?

“Menulislah. Kalau benar-benar Anda tidak bisa menulis, lakukanlah hal yang bisa orang lain tuliskan.” pesan Khrisna mengutip perkataan salah seorang Presiden Amerika Serikat yang kesekian.

Kita bisa memilih satu, atau bahkan kedua pilihan itu. Tapi, ingat, tidak semua orang sangup (punya kesempatan) melakukan hal besar lalu namanya terekam dalam sejarah. Beruntungnya, pilihan menulis adalah pilihan yang sangat mudah.

Seorang cerdik cendekia Muslim, Imam Al Ghazali, pernah berujar, “kalau kalian bukan anak seorang raja atau ulama besar, maka menulislah.” Menulis, di jaman itu, bahkan di saat sekarang adalah arena pertukaran dan penyebaran ilmu pengetahuan. Olehnya, semua buku dan karya yang dihasilkan merupakan amal jariyah yang pahalanya mengalir terus pada penulis hingga hari kimat tiba.

Sekarang, jika Anda benar-benar sudah mulai menuliskan satu dua kata: rampungkan. Selesaikan, apa yang sudah kita mulai. Kata Daeng Ipul, semua bahan sudah kami sampaikan. Namun ada tiga hal yang tidak bisa diajarkan: ketekunan, keingintahuan, dan kedisiplinan.

cropped-picture1

thefloatingschool.wordpress.com

”sejak awal, kami percaya kekuatan ada pada (masyarakat) lokal. Kami selalu titipkan pesan pada fasilitator untuk datang memfasilitasi, bukan menggurui”

Pagi menunjukkan belum pukul tujuh hari Minggu (8/4) pekan kemarin. Tapi rumah di bilangan Perintis Kemerdekaan ini sudah sibuk sejak tadi. Empat fasilitator dan dua relawan sudah memenuhi ruang tamu. Kehadiran mereka mendesakkan barang-barang yang sudah lebih dulu ada di sana. Di tengah terletak dua papan tulis kecil ukuran setengah meter, enam buah laptop yang dibiarkan terbungkus rapi, kardus berisi buku penuh buku pelajaran dan buku tulis, satu kardus lagi berisi perlengkapan gambar, kertas, keperluan administrasi dan prakarya. Sesaat lagi mereka bertolak menuju Pelabuhan Laut Maccini Baji di Kabupaten Pangkep. Dari sana perjalanan dilanjutkan via laut selama sekitar 20 menit menuju Pulau Satando, Pangkep.

Namun sebelum berangkat, mereka harus memastikan segala persiapan rampung di dua tempat sekaligus, di Kota Makassar dan di Kabupaten Pangkep. Seorang perempuan bercelana training di antara mereka sibuk sedari tadi. Rahmiana Rahman namanya, disapa kak Ammy oleh beberapa fasilitator dan volunteer The Floating School. Satu-satunya pekerjaan yang harus ia selesaikan sendiri ialah memastikan semua fasilitator dan volunteer yang tersebar di sejumlah tempat siap bergerak menyukseskan kelas minggu itu.

Jemarinya sibuk menyentuh dan menggeser layar ponsel pintar milik. Matanya selalu awas memastikan segalanya beres sebelum beralih ke hal lain. Lewat ponsel biasa, sebagian besar waktunya pagi itu ia gunakan menelepon ke sana ke mari dengan nada antusias. Suara Ammy cukup kencang membangunkan volunteer untuk segera bersiap-siap. Termasuk memastikan Daeng Sikki -navigator Kapal Fitra Jaya 03- untuk siap menjemput di dermaga, memastikan segala perlengkapan terbawa, bekal sarapan pagi. Juga memastikan siswa-siswa di Pulau Saugi dan Pulau Sapuli siap dijemput dan diantar ke Pulau Satando. Sambil terbahak ia menyudahi pecakapan terakhir pagi itu dan menutup telepon.

“mari kita berangkat” katanya dengan riang.

Mobil yang kami tumpangi harus singgah tiga kali menjemput volunteer. Meski baru, The Floating School menarik animo pegiat komunitas menengok metode dan inisiatif baru ini tiap minggunya. Normalnya, volunteer dibatasi karena angkutan kapal yang terbatas. Sehingga beberapa volunteer yang mendaftar terpaksa ditolak dan mengantri untuk mengikuti The Floating School berikutnya.

Pekan ini relawan yang beruntung bisa menumpangi “Kapal Fitra Jaya 03” ada Ari dan Teguh. Mereka berdua baru saja ‘turun gunung’ setelah mengadakan Sokola Kaki Langit di Kabupaten Barru, tetangga Pangkep. Dua jam perjalanan darat harus mereka tempuh untuk bergabung bersama yang lain. Kaki celananya masih terlipat ketika mereka berdua kami lihat sampai sampai di dermaga. Kendaraan roda dua yang mereka tumpangi dari Barru langsung ke sini masih membekas di kendaraan roda dua automatic. Tanpa merasa lelah, ia menghambur lagi mengikuti The Floating School. Ada juga Tiny dari Komunitas Penyala Makassar yang sedang merampungkan Pustaka Ceria dan agenda bantu-bantu Kelas Inspirasi Konawe.

Pagi itu, kami belum berangkat karena masih menunggu Rahmat HM Mato, salah satu inisiator juga. Saat itu, pukul 09.20 ia baru sampai di tepi dermaga. “baruka pulang ini dari urus kursus mingguannya PEC (Pangkep English Club). Itu dulu kukasi’ selesai, baru ke sini” katanya minta maaf tapi sumringah bisa berkumpul lagi dengan volunteer dan fasilitator. Selama perjalanan, Daeng Sikki tampak santai di ruang kemudi. Hari ini laut cukup tenang.

Mengapa harus Floating School?

Sekolah ini adalah inisiasi Ammy bertiga bersama Nunu Al Marwah Asrul dan Rahmat HM Mato. Proposal sekolah ini lalu diajukan untuk memperebutkan grant “YSEALI Seads for The Future”. Sebanyak 400-an proposal yang masuk dari seluruh negara, hanya tiga dari Indonesia yang berhasil diterima, salah satunya The Floating School. Alasan terpilihnya The Floating School untuk didanai karena program ini memiliki rencana keberlanjutan bagi masyarakat di tiga pulau yang terkena dampak.

“Pada mulanya, mereka berkunjung ke pulau-pulau tersebut untuk mengetahui keadaan masyarakat setempat dan menggali kebutuhan mereka” kata Ammy yang merupakan alumnus Jurusan Bahasa Inggris UNM 2006 ini menjelaskan. Ammy dan kawan-kawan lalu mencari data untuk memulai program ini. Mereka lalu mencari data lewat sajian angka-angka BPS tahun 2010. Bermula dari data besar lalu mengerucut ke data kecil hingga muncullah keputusan membuat sekolah ini.

Akhirnya mereka menemukan sekolah-sekolah yang masih sulit secara akses dan ekonomi itu berada di Jeneponto dan Pangkep. Kenapa memilih Pangkep? Selain karena kedekatan Rahmat HM Mato yang mengenal dekat Pangkep, mereka juga berpikir bahwa Pangkep butuh untuk dibantu dari segi pendidikan.

Ammy mengatakan, di Pangkep ada 117 pulau kecil dan 87 pulaunya berpenghuni. Ini berarti 75 persen infrastruktur sekolah –ini jika semua pulau didirikan sebuah sekolah- butuh bantuan karena terisolir dari darat. Baik dari segi sumber daya manusia maupun sarana-sarana penunjang pembelajaran lain. Belum lagi dengan Pulau yang berbatasan dengan Bali, sekitar 10 jam menembus laut sulawesi ke selatan. Alasan-alasan itu yang menggerakkan mereka memilih Pangkep.

Lalu kenapa harus tiga pulau yang berdekatan Pulau Saugi, Sapuli, dan Satando? Mereka menginginkan memulai dampak dari cakupan wilayah yang terdekat. Ketiga warga pulau ini masih berkerabat dekat satu sama lain. ‘Tiga Pulau Satu Kampung’ julukan ini diberikan karena ketiga pulau masih merupakan wilayah kampung yang sama, Desa Mattiro Baji.

Mereka tetap yakin untuk bisa melakukan keduanya, sehingga pendidikan yang ditampilkan masih fokus dan sejalan dengan tujuan pertama. Akhirnya, mereka membuat sekolah yangmenggabungkan pendidikan dan economic value. Pendidikan memang jembatan untuk meraih dan memperbesar kemungkinan-kemungkinan masa depan yang lebih baik, termasuk ekonomi. Tidak terkecuali anak-anak ini.

Perkembangan yang dibanggakan

Inisiasi ini masih baru. Meski begitu, ada sejumlah hal yang terjadi di luar ekspektasi. Itu membuat Ammy senang sekaligus bangga. Pertama, ia menargetkan hanya bisa merekrut 50 siswa. Kemudian mereka akan belajar selama tiap pekan saban minggu selama enam bulan hingga Agustus mendatang.

Setelah running, ternyata 90 anak berusia 13 – 20 tahun yang memiliki niat besar menjadi siswa. “Jumlah ini memberikan gambaran tingginya minat mengikuti The Floating School. Setidaknya niatan anak-anak  mereka memberi gambaran tingginya minat mereka mengikuti The Floating School.” Kata Ammy senang.

Selain itu, hal yang tidak mereka duga ialah animo fasilitator yang berhasil mereka rekrut sejauh ini. “saya sangat bersyukur memiliki fasilitator yang amazing.”  Rentang waktu dua bulan, Ammy berbangga para pengajar dengan skill yang baik ikut turun tangan mengabdi di pulau kecil ini. Sebab selain keterampilan mereka memiliki semangat mengajar tinggi dan fleksibilitas dalam hal menyampaikan pembelajaran ke anak-anak.

Ammy sangat senang dengan karakter dan perubahan mereka sepanjang ini. Perekrutan fasilatator tidak hanya mencakup aspek kompetensi, tapi juga kemauan bekerja selama setengah tahun tanpa jeda dengan fleksibilitas tinggi. Ia mengutarakan kesenangannya karena dengan ide besar yang mereka miliki mudah diterima fasilitator waktu itu. “Tidak sulit mentransfer isi kepala kami ke dalam benak-benak mereka.”

Ia dan timnya sadar tengah melakukan semacam intervensi sosial di tengah-tengah masyarakat. Mereka ketemu lingkungan baru yang harus dikelola dengan serius. Apalagi ini menyangkut dua aspek penting, pendidikan dan ekonomi. Satando, Saugi, dan Sapuli adalah tempat asing bagi mereka sebelum ini, lingkungan yang baru. Kekhawatiran untuk diterima juga ada sebelum mereka masuk. Tapi semuanya tertepis.

Sambutan masyarakat lokal yang mereka terima luar biasa. Sebaliknya The Floating School justru diterima dengan tangan terbuka. Justru, beberapa ide kelas-kelas itu berdasarkan ide dari warga. Seperti kelas prakarya, misalnya. Observasi sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya. Meski baru memasuki pekan kelima pembelajaran, sudah sejak 28 November mereka telah mengeksekusi segala persiapannya. Mulai pencarian funding hingga observasi ke tiga pulau.

Ammy tersenyum lebar dan membelalakkan mata, ia mengaku jika ini adalah sekolah apung pertama di Indonesia. Mereka menyewa Kapal Fitra Jaya 03 untuk membawa pangajar, buku-buku, dan relawan untuk mengajar di tiga pulau berbeda. Walau begitu, demi mengefektifkan mobilisasi, pekan-pekan terakhir ini semua kelas dipusatkan di satu pulau saja, Pulau Satando.

Aktivisme Sosial Merubah Masyarakat?

Mereka belum bisa menjawab sejauh itu. Tapi ilustrasinya, Ammy melihat sedikit demi sedikit ada perilaku yang menurut mereka positif. Misalnya, tanpa kendala berarti langsung diterima oleh masyarakat. Bisa saja mereka dicegat, tidak diperbolehkan mengangkut anak-anak belajar dari Pulau Saugi dan Sapuli lalu memulangkannya kembali setelah belajar. Mereka berani dan percaya dengan The Floating School sejak awal kedatangannya.

Hal kedua adalah, kepercayaan diri masyarakat, khususnya anak-anak memang meningkat. Pekan pertama mereka masih malu-malu menyanyi. “Hanya di awal saja mereka  masih malu-malu, sekarang di suruh menyanyi pun mereka sudah pede.” kata Ammy.

Jamal misalnya, di kelas fotografi ia dari awal sudah menunjukkan bakat alami. Tiga pekan lalu ia dipinjami kamera saku oleh faslitator. Ia berkeliling kampung dan berhasil mengambil sekira 10 gambar. Kesemuanya punya cerita yang menarik dan sudut pandangnya juga tidak biasa bagi ia yang baru saja memegang kamera. “senang sekali melihat ada anak yang seperti itu di Floating School” terang Nunu Al Marwah Asrul, rekan Ammy yang juga bersama-sama mendirikan The Floating School.

Faslitator kelas menyanyi dan musik dan kelas menulis adalah orang Pangkep asli, dan berdiam di kota Pangkep. Hasilnya, anak-anak merasa punya proksimitas dan percaya diri yang besar untuk berkreasi di depan para pengajar.

Di Kelas menulis contohnya, sepanjang yang saya amati, Idrus dan Wani mampu menunjukkan aspek bahasa yang baik. Pada satu sesi oleh fasilitator mereka berdua diajak menghabiskan waktu di luar kelas mengamati kehidupan kampung. Tiga puluh menit kemudian, secara tiba-tiba mereka bisa merangkai larik-larik puisi tentang Pulau Satando dan kehidupan mereka sebagai anak-anak laut.

“Kami percaya kami bisa membuat anak-anak ini memamerkan sesuatu. Apa yang berharga dari kampung-kampung mereka.” Di akhir bulan ke-enam, kami akan melakukan pameran karya dan kreasi di Pulau Cambang-Cambang. Pulau ini merupakan pusat wisata di daerah Pangkajene Kepulauan. Ammy membayangkan misi The Floating School akan jauh melampaui apa yang telah mereka raih dua bulan ini.

Kepercayaan ini rencananya akan dibayar lunas dengan baik oleh tim The Floating School. Mereka sudah menyiapkan satu pegelaran. Kelas Musik akan memamerkan kelihaiannya dan membuat video rekaman, Kelas Foto akan mengadakan pameran foto, Kelas Menulis akan menyajikan sebuah peluncuran buku karya anak-anak, dan banyak lagi.

Kehadiran anak-anak juga berada lebih dari 90 persen. Fakta ini yang membuat Ammy dan tim begitu gembira. Meski tadi anak-anak ada yang minta izin tidak masuk karena besok murid yang kelas 3 SMA akan mengikuti UNBK.

Pada intinya, Ammy percaya pada proses. Hasil akhir hanyalah manis-manis yang masih tersisa. Buahnya sudah kita peroleh lewat usaha proses membelajarkan anak-anak itu sendiri. Bertumbuh bersama anak-anak, masyarakat dan semua relawan merupakan hal yang sangat layak mereka jalani seiring bersama.

Sejauh mana upaya ini akan berhasil?

“kekuatan sebenarnya ada pada masyarakat dan local leader yang bersinergi positif dengan The Floating School.” Olehnya itu Ammy yang juga English Teacher di Bosowa International School ini selalu menitipkan pesan pada fasilitator untuk bertindak sebagai penggali sekaligus pembimbing yang baik. Bukan sebagai guru yang datang mengajar, dan bukan pula sebagai guru yang serba tahu.

Tidak usah jauh-jauh, mereka merasa begitu terbantu dengan Bu Ramlah. Dengan pintu dapur yang selalu terbuka, ia memasak tiap pekan tanpa pernah sekalipun absen. Nyaris ia merelakan 15 orang tim fasil dan relawan menghabiskan jatah makan siang di rumahnya yang hanya berjarak sepelemparan batu dari sekolah. Saya melihat ia juga mengambil bagian sibuk-sibuk mondar-mandir ketika tim sudah merapat ke dermaga.

Ada sosok Pak Amri, Kepala Dusun Sapuli dan Pak Arman guru di pulau yang sama. Dua orang ini getol mendukung kegiatan rutin belajar mingguan The Floating School. Juga Ibu Bur, Kepala Sekolah SD Saugi, penyedia makan siang jika tim berada di Dusun Saugi, Pulau Saugi.

Sehingga, boleh dikata tiga pulau ini bersekongkol positif pada Ammy dan kawan-kawan. Tapi, permufatakan baik ketiga pulau yang masih satu desa ini tentu saja masih bisa dikembangkan lebih jauh. Ruang-ruang interaksi harus dibuka lebar untuk memancing masyarakat semakin terbuka dan mengembangkan inisiasi bentuk pendidikan alternatif di kampung mereka sendiri.

Pada akhirnya, seperti yang dikatakan Ammy, “kami ingin membuat sekolah ini tidak hanya nampak, tapi bisa berdampak.” Bila masyarakat yang sudah urun rembug langsung, besar sekali kemungkinan gerakan ini bisa berdampak bahkan untuk waktu yang lama.

Sampai kapan The Floating School?

Sepanjang hari itu saya merasa tidak tega mengganggu kesibukannya demi ngobrol sebentar. Bolak-balik ia mengatur ruangan tiga ruangan kelas SMP-SMA Satap (Sekolah Satu Atap) segera setelah tiba di Pulau Satando. Setelah itu ia juga langsung mengurusi bahan bakar genset kelas komputer dan musik. Memastikan anak-anak di delapan jenis kelas hadir, menjamin keperluan para pengajar (fasilitator) dan anak-anak tersedia, termasuk mengecek kesiapan makan siang, dan banyak lagi.

Tubuhnya lincah bergerak ke sana ke mari tidak bisa diam sekalipun. Sebentar saja, ia sudah menghilang ke mana mengamati delapan kelas hari itu berjalan dengan lancar. Saya tidak heran ia bisa seaktif itu di lapangan. Beberapa tahun sebelumnya, ia merupakan tokoh di balik berdirinya SiGi (Sahabat Indonesia Berbagi) Chapter Makassar, mengarsiteki SoulMaks Magazine, aktif sebagai pembicara tentang peran perempuan.

Di tengah rasa lelahnya dalam perjalanan darat pulang dari Pangkep, ia masih semangat menjawab sejumlah pertanyaan saya.“kami sementara cari funding agar tidak hanya anak di tiga pulau ini yang ikut, tapi beberapa pulau lagi yang berada di sekitarnya. Semoga bisa beli boat baru untuk calon Sekolah Kreatif nantinya” kata Ammy tersenyum menatap refleksi masa depan di hadapannya.

Matahari sore itu sudah harus tenggelam. Para fasilitator pulang berpisah jalan masing-masing. Ammy masih harus mengurusi siswanya yang tinggal asrama di bilangan protokol dekat Pantai Losari. Pekerjaan ini masih belum terhenti. Masih ada sekitar empat bulan lagi. Itu berati masih enam belas pekan lagi sebelum The Floating School tersisa. Bagi Ammy, terus bekerja adalah pilihan yang tidak bisa ditawar-tawar.