Archive for the ‘Kelas Menulis Kepo’ Category

People-Philippines-91-e1449291699589

primer.com.ph (Seorang turis menggali narasi fotonya melalui talking to the locals)

Wawancara itu seni mengobrol asyik bin serius demi mendapatkan informasi. Strategi mengulik data dan fakta dari seorang sarjana lulusan Amerika tentu beda dengan residivis ahlul penjara. Wawancara merupakan ngobrol yang bertujuan. Tujuan penulis mewawancara setidaknya ada dua: mendapatkan data mengenai objek, dan membangkitkan suasana humanis dalam tulisan. Ingat, pewawancara-lah yang punya tujuan, bukan narasumber.

Sudah barang tentu, tujuan-tujuan itu ada yang bisa tercapai dengan mudah, ada juga yang tidak. Tergantung ruang lingkup informasi yang ingin diperoleh. Semakin dalam fakta dan pengakuan yang ingin diperoleh, semakin butuh waktu dan upaya. Usaha ini dalam rangka menjalin rangkaian obrolan tersebut menjadi cerita yang utuh dan mengandung pesan.

Menurut Daeng Ipul, ada dua jenis wawancara, wawancara terencana dan wawancara spontan. Tapi baginya, ia lebih menyukai wawancara spontan daripada harus menyelesaikan agenda wawancara yang terencana. Saya sepakat dengannya, karena gampang (hehe). Alasan pertama karena ketidakterdugaan itu sendiri. Kedua karena ada perasaan senang yang melambari kita jika berhasil mengulik kisah orang-orang biasa tapi dengan kisah yang luar biasa.

Langkah-langkah berikut bisa menjadi pedoman wawancara:

Identifikasi Narasumber

Mengkategorikan narasumber berdasarkan usia, jenis kelamin, kelompok sosial, pendidikan, dan lain-lain. Tiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda, belum lagi bila mereka memiliki status, strata sosial, dan jenjang pendidikan yang lumayan tinggi.  Tipsnya, siapapun narasumbernya, kuasai bahan dan persona. Kalau perlu, googling dulu sebelum sebelum melakukan proses wawancara. Dalam kata lain, konten pertanyaan itu gak g*blok amat dan tidak up to date.

Mewawancarai tokoh masyarakat juga tidak luput dari tantangan, meski tidak selalu. Katakanlah kategori ini mewakili figur-figur di pemerintahan atau kalangan akademisi. Pertama, perasaan superior mengetahui segala yang berkaitan dengan tema pertanyaan. Bilamana pewawancara tidak tegas mematuhi tema dan outline, maka bincang-bincang akan jatuh ke dalam jurang ceramah yang membosankan dan tidak berkesudahan. Kecuali kalau sudah saatnya makan. Nantinya, terlalu banyak data yang dikumpulkan.

Beda lagi saat mewawancarai narasumber dari kalangan warga biasa. Katakanlah kita ingin mengulik informasi dari seorang lelaki yang berpforesi sebagai petani atau nelayan misalnya. Kunci dari semuanya adalah membangun kepercayaan narasumber terhadap pewawancara. Bagaimana strategi agar si empunya informasi merasa nyaman memberikan keterangan dan bercerita apa saja.

Berikut beberapa strategi wawancara yang diberikan dalam kelas:

Menunjukkan minat untuk mengetahui alias ingin menampakkan sikap ketertarikan yang besar terhadap ilmu/informasi yang dimiliki si narasumber. Kalaupun kita sudah punya informasi awal di kepala, sebaiknya simpan saja dahulu. Berpura-puralah menjadi pandir alias orang yang tidak mengetahui itu sebelumnya.

Mengapa harus begitu? Logikanya, kita datang ke suatu tempat di mana masyarakat asli lebih paham masalah itu dibanding dengan kita yang hanya sehari dua hari menetap di sana. Masih mending jika sehari, tapi bila hanya sejam dua jam? Lebih baik kita menyerahkan langsung kepada ahlinya. “merekalah profesor sesungguhnya, karena mereka langsung belajar dari alam” Daeng Ipul menyarankan seperti itu untuk menekan ego pribadi menjadi lebih hebat dan superior daripada narasumber. Tentu tanpa meninggalkan sikap kritis, skeptis, dan berimbang.

Menyederhanakan bahasa menjadi seerat mungkin dengan pengetahun dan kapasitas narasumber. Apakah itu kosakata, data, argumen, maupun istilah-istilah lainnya yang mungkin tidak akan atau bahkan sulit dimengerti oleh narasumber.

Selalulah konfirmasi penanda-penanda (jarak dan waktu) jika melakukan wawancara. Misalnya, seorang Ibu keluarga korban diskriminasi kasus 1965 menjawab, “saya lahir tahun 1932.” Informasi ini boleh dipastikan kembali ke kelurahan. Tapi bila memang tidak ada yang yakin mengenai hal ini, dalam redaksi boleh ditulis begini, “Ibu X mengatakan ia lahir di tahun 1932 jauh sebelum Jepang masuk, meski saya sendiri tidak terlalu yakin sebab pihak kelurahan juga tidak bisa memastikan hal tersebut.

Selanjutnya, berikan pertanyaan terbuka, bukan pertanyaan tertutup. Ajukan pertanyaan yang bakal terus memancing narasumber untuk menjawab dan bercerita lebih banyak. Misalnya, saya akan mewawancarai seorang perempuan tua yang tinggal di kawasan hutan adat di daerah Fakfak. Di mana mereka menggantungkan mata pencaharian di situ. Saya ingin mengorek informasi tentang berapa penghasilan yang mereka terima.

Pewawancara: “berapa rata-rata pendapatan Ibu sebulan?”
Ibu: “tidak tahu, tapi cukup untuk makan sekeluarga dengan anak-anak.”

Pertama, pertanyaan awal tersebut tidak akan memberi jawaban pasti. Masyarakat Mbaham Matta –sebutan warga di Fakfak- yang mengelola hutan masyarakat akan menikmati panen Pala dua kali dalam setahun: Juni dan Desember. Hasil ini sangant bergantung dengan alam dan musim. Masyarakat selalu mengeluhkan hal ini, bunga Pala yang kering dan berjatuhan karena musim panas yang terlalu lama, atau menjadi tidak terbuahi karena musim hujan yang begitu panjang. Kedua, tidak relevan karena tidak bakalan ada istilah penghasilan rata-rata seorang pekebun yang bertahan hidup dari hasil hutan.

Barangkali, redaksinya bisa diubah jadi seperti ini: “bulan lalu dapat berapa bu?” atau “bu, panen bulan Juni kemarin dapat berapa?” Jawaban pertanyaan ini meski tidak mengambil kesimpulan apa-apa dari informasi rerata income, tapi setidaknya dapat memberikan gambaran dan perbandingan mengenai kondisi keuangan jika ditelisik lebih jauh. Intinya, tulislah keterangan yang bisa dipercaya dan valid. Meski jumlah valid itu hanya pada saat tertentu atau di waktu itu saja.

Bikin Outline Wawancara

Membuat kerangka daftar pertanyaan membuat proses wawancara menjadi efektif dan tetap pada fokus tema yang ingin digali. Sehingga outline ini berfungsi sebagai panduan dan koridor. Pengingat bagi penulis agar tidak melenceng-melebar dalam mengajukan pertanyaan.

Sebagai contoh, subjek yang ingin digali adalah bagaimana  perjalanan kesuksesan suatu kelompok masyarakat berjuang mengelola pertanian di lahan kering. Meski di situ ada sosok yang banyak berjasa dalam menginisiasi pemberdayaan petani, tapi kita harus ingat untuk meminimalkan dominasi personal sang tokoh dalam tulisan. Tidak bermaksud mengurangi apa yang sudah diupayakan si pelopor karena jasa mereka jelas tidak bisa terhapus. Keinginan kita adalah menjaga sikap konsisten pada tema dan tulisan yang utuh dan informatif. Hal yang harus selalu diperhatikan dalam wawancara tersebut jelas: pertanian lahan kering.

Di lapangan, outline ini bisa berubah. Bisa jadi lebih lebar dari sebelumnya. Contoh, ketika kita menemukan pernyataan menarik yang berpotensi besar dikaji lebih lanjut untuk menghasilkan satu lagi informasi utuh yang baru. Tipsnya, quote itu boleh kita simpan untuk kita tanyakan lebih jauh di lain waktu, atau sekalian mengganti topik dengan topik menarik tadi.

Riset Sebelum Wawancara

Manfaat lainnya, outline membantu kita merumuskan sudut pandang yang lebih segar dan baru bagi para pembaca. Jika ingin mewartakan profiling seorang sosok yang dicintai publik, sebaiknya banyak membaca dulu. Lakukan riset-riset mengenai kepribadian, aktivitas, dan kontribusinya bagi masyarakat. Jangan lupa, bacalah sejumlah hasil wawancara yang pernah dilakukan media-media sebelumnya untuk menghindari pertanyaan yang itu-itu melulu. Jangan sampai informan merasa bosan mengulangi menjawab hal yang sama berulang-ulang. Perulangan ini juga mesti dihindari karena pembaca jelas menginginkan hal baru.

Meski begitu situasinya bisa saja berbeda jika penulis menemukan narasumber yang karakternya supel dan luwes dalam menghadapi pewarta. Suatu waktu, Daeng Ipul hendak mewawancarai Agustinus Wibowo, penulis seri perjalanan Titik Nol, Selimut Debu, dan Garis Batas. Dari segi persiapan, ia sudah melakukan yang menurutnya terbaik. Mencari kumpulan hasil wawancara yang tercetak di berbagai media demi mendapatkan sudut pertanyaan yang fresh dan tajam. Lalu kemudian ia menuliskan beberapa poin penting pada selembar paper sebagai panduan.

Namun kemudian situasinya kemudian berubah. Pribadi travel writer yang menjelajah Asia selama lebih sepuluh tahun itu begitu cair sehingga infromasi yang tersampaikan juga mengalir seperti air. “poin saya belum sampai di situ, tapi ia (bahkan) sudah menjawab dua bahkan tiga pertanyaan yang belum saya ajukan” kenang Daeng Ipul.

Gunakan Pendekatan Humanis

Seperti yang kita jelaskan poin sebelumnya, bahwa sangat penting membangun kepercayaan diri narasumber. Salah satunya dengan melakukan pendekatan yang lebih manusiawi. Bukan hanya sebagai sekedar pemberi dan penerima informasi.  Tapi lebih condong kepada intensi (maksud) untuk menerima pengetahuan, menyatukan gagasan, dan berdiskusi secara sehat. Syaratnya, komunikasi yang baik ini membutuhkan minimal satu pihak untuk menjadi pendengar yang baik. Perlihatkan intensi sungguh-sungguh untuk mendengar. Kesediaan untuk mendengar sepenuh hati memungkinkan narasumber juga akan memberikan informasi dengan senang hati.

Contohnya, memuji makanan yang disajikan dan mengajaknya mengobrol sebentar tentang hal yang disukai dan lekat dengan kehidupan narasumber. Sampaikan itu dengan tulus dan rasa antusias yang tidak berlebihan. Beberapa tahun silam, saya pernah mengobrol tentang bagaimana kehidupan sehari-hari seorang keluarga pendatang daerah Bau-Bau di Fakfak. Istri pemilik rumah begitu ramah dan terkenal dengan masakan lautnya yang begitu gurih dan mewah.

Saya terus saja menyantap dan memuji makanan yang ia sajikan dengan melimpah di sebuah kain putih yang dibentangkan di ruang tamu. Sembari itu, pertanyaan dan diskusi kami mengalir dengan begitu lancar.

Peluh saya keluar tak tertahankan. Aroma pedas manis dari kuah kuning ikan merah segar berbumbu rempah Pala terus menyerobot penciuman saya. Senyumnya tersimpul senantiasa selama perbincangan. Matanya berbinar sambil sesekali menyilahkan saya untuk terus menambah porsi piring yang terus berkurang. Meski tidak yakin sepenuhnya, saya menyangka ia sumringah karena melihat saya begitu lahap, tidak berhenti mengunyah sambil cerita, dan tidak segan-segan mencicipi semua makanan yang terhidang (wajar, sudah gratis, enak pulak!) Di akhir saya pulang dengan beroleh informasi berharga dan perut yang terisi penuh.

Jalan lainnya bisa dengan menggunakan medium kedekatan dengan anak-anak. Seorang blogger, Andi Arifayani berhasil menggali sekelumit kehidupan Adi, seorang murid SD sekaligus tukang parkir di bilangan jalan protokol Makassar. Hasil wawancara membawanya menemukan nama-nama anak lain yang juga berprofesi seperti Adi.

Tanpa pendekatan yang baik ke anak-anak, ia mungkin tidak bisa menelisik lebih dalam dengan serangkaian wawancara ke teman-teman Adi yang lain di sekolah.  Hasil pendekatan yang baik ini menimbulkan refleksi mendalam bagi penulis bahwa “julukan Kota Layak Anak (KLA) bagi Makassar terasa sangat jauh jika melihat situasi Adi dan ratusan tukang parkir anak yang bekerja selepas menanggalkan seragam sekolah dan menantang terik siang setiap hari

Siapkan Alat Perekam dan Buku Catatan

Kedua media tersebut pastinya sangat membantu mendokumentasikan hasil wawancara. Entah itu nantinya berupa skrip hasil rekaman audio atau sekedar catatan di notes. Selain itu, kita tidak bisa selamanya mengandalkan ingatan untuk merekam bagian-bagian penting yang di garis bawahi pada kerangka informasi yang kita butuhkan. Tanpa bisa ditolak lagi, dua-duanya penting.

Namun, jika pendekatan awal ke narasumber tidak berjalan mulus, perangkat itu akan jadi pasung yang sempurna bagi informan untuk tidak mengeluarkan pernyataan dan fakta yang benar-benar berharga.

Belum lagi jika kita terkendala dengan waktu wawancara yang demikian sempit, pastinya kita membutuhkan tenaga dan strategi ekstra lebih untuk meluluhlantakkan ego narasumber agar bersedia memberikan informasi yang kita butuhkan. Tipsnya: lakukan adaptasi selekas dan sesegera mungkin untuk mencapai klik dengan informan.

Berusaha Sabar dan Fokus Menjalin Cerita Utuh

Lain lagi dengan laporan mendalam. Dalam mewartakan isu-isu sensitif seperti kaum minoritas dan terpinggirkan, waktu yang lebih lama nyaris mutlak dibutuhkan. Observasi, pendekatan kesana kemari, wawancara beberapa orang sembari terus melakukan konfirmasi keakuraran berita. Begitu kira-kira berulang-ulang. Olehnya, sering jenis laporan ini tidak muncul dalam hitungan menit, bisa sampai berhari-hari atau hitungan minggu.

Sajian-sajian yang bergizi ini bisa dilirik sejenak di situs berita Kumparan, Tirto, atau Mongabay Indonesia. Mereka punya tim yang fleksibel terhadap waktu agar tercipta sebuah laporan yang tidak asal menarik, tapi berpihak pada kekebenaran dan keakuratan. Sejalan dengan marwah ideal jurnalisme. Membaca berita yang lengkap dan akurat tentu bakal membuat netizen lebih jernih memandang persoalan.

Kisah Boro Suban Nicolaus (akrab disapa Om Niko) yang diwawancarai tim Mongabay Indonesia bisa jadi bahan bacaan permulaan. Jauh di jantung pedalaman hutan perawan Kalimantan, ia bersama orang-orang Dayak Punan menjaga hutan seluas 17.400 meter persegi dari amukan perusahaan sawit dan tambang batubara.

Satu dekade lebih dua tahun mereka telah menrawat hutan adat dengan mendirikan LP3M (Lembaga Pemerhati dan Pemberdyaan Punan Malinau). Dari tulisan tersebut, kita bisa membayangkan bagaimana wawancara dilakukan tanpa meninggalkan aspek-aspek manusiawi yang melekat pada diri Om Niko yang sejatinya bukan merupakan orang Dayak. Kampungnya di Flores bagian timur.

Poin pentingnya barangkali: tetaplah fokus pada tema. Tidak perlu terlalu detil tentang tokoh. Tetaplah bersetia pada tema yang dibangun. Sehingga pada nantinya, wawancara yang kita buat tidak menghamba pada tokoh. Tapi pada bagaimana membuat wawancara bekerja demi memenuhi hasrat kefokusan dan kekonsistenan tema yang telah dirancang sebelumnya.

Nah, selamat mewawancara!

Tugas: Mewawancarai sosok orang per-orang/lembaga komunitas/tema tertentu. Tidak perlu mendatangi orang-orang hebat. Carilah orang-orang/tempat-tempat biasa tapi dengan kisah tidak biasa yang punya potensi menginspirasi orang lain untuk berbuat hal positif yang sama. Ketentuan: 1) gunakan lebih dari lima orang narasumber sebagai usaha menyajikan cerita yang utuh, objektif, dan berimbang. 2) setidak-tidaknya, mengadakan observasi dan kunjungan selama seharian di tempat objek utama demi menghadirkan narasi yang menarik dengan deskripsi yang kuat. Deadline: Sebelum 7 April 2017

*Catatan Kelas Menulis Kepo IV
Waktu: Jumat, 17 Maret 2017
Pukul: 17.00 – 21.00 WITA
Materi: Teknik Wawancara
Pembagi Ilmu: Daeng Ipul, Lelaki Bugis, Kak Iqko, Tari Artika.

romantical-love-painting-photo6

virginia-gieremek.wikispaces.com

Ternyata menulis deskripsi itu butuh usaha panjang, kadang membingungkan, dan melelahkan. Sebelum kelas di mulai, saya sudah mengalami mental block tidak akan berhasil. Namun, saya berkeras dalam hati bahwa saya harus mulai. Jujur, saya tidak terbiasa menulis dan menjelaskan objek ke dalam deskripsi. Hanya di beberapa postingan bulan-bulan terakhir dilandasi semangat trial and error.

Selama ini, jenis tulisan yang bisa saya tawarkan hanya offering information and sometimes I do reflection writing. Oke, memang ada deksripsi, namun hanya sebatas memasukkan unsur indera penglihatan dan opini pribadi. Memasukkan unsur nuansa, perasaan, dan atomosfir dalam tulisan itu sesuatu yang benar-benar baru bagi saya. Barangkali, ini pula yang dirasakan oleh satu dua teman peserta Kelas Menulis Kepo.

Setelah mengutak-atik laman Andreas Harsono (penulis buku Agama Saya Adalah Jurnalisme), tulisan-tulisan di Pantau, kemudian mengikut kelas Kepo Inititative, maka mulailah sedikit-sedikit saya terbuka dengan deskripsi.

Lalu, setelah membaca beberapa bahan tulisan deksripsi di postingan sebelumnya, saya dirasuki perasaan bahwa deskripsi memegang peranan penting dalam membuat tulisan bergerak aktif di kepala. Deskripsi membuat orang lain bisa memahami konteks apa yang sebenarnya terjadi, termasuk suasana dan perasaan yang menyelimuti saat itu.

Dahulu, saya sering salah menyangka bahwa deksripsi hanya diperkenankan dalam feature kategori human interest, atau laporan-laporan khas panjang ala jurnalisme Pantau dan Pindai, Panajournal, dan macam-macam.

Beda dengan majalah-majalah politik Amerika yang memang terbiasa menuliskan laporan panjang, di Indonesia ini masih terhitung baru. Kebiasaan menguraikan peristiwa mendalam secara panjang-detail-hidup ini baru-baru saja mulai bergeliat di Indonesia. Ini sependek pengatahuan saya, bisa jadi salah.

Nah, justru disinilah hebatnya. Bagian inilah yang menggugah ketika dibaca. Sebab saya justru menyukai membaca tulisan panjang sekitar 1500 hingga 3000 kata ke atas. Membaca lebih banyak dan panjang akan mengasah kemampuan deeper thinking, berpikir lebih jauh dan dalam, sama halnya dengan membaca buku.

Di jaman pertukaran dan seliweran informasi yang tidak kenal ampun, berita tercepat adalah berita yang laku. Berita mendalam (seperti media cetak dan majalah) menjadi tidak relevan lagi dan sekedar pelengkap dari berita instan yang laporannya on the spot. Laman-laman tersebut ini menawarkan sebuah penulusuran mendalam, sudut pandang yang tidak biasa, dan menyigi kisah-kisah hingga titik akhir.

Seperti biasa, kelas dimulai dengan masing-masing memberikan komentar mengenai kendala dalam menyelesaikan tugas tulisan deskripsi. Saya rangkum dalam poin-poin berikut ini:

  1. Saat mulai merangkai paragraf, penulis biasanya melupakan hal-hal detil ketika mereka berada di tempat observasi. Menurut Om Lelaki Bugis, memang begitu keadannya. Sering kali aktivitas observasi luput mencatat hal-hal yang sebenarnya penting. Solusinya, pengamatan terhadap objek dan peristiwa dilakukan dengan membawa notes ataupun perangkat elektronik untuk memudahkan mengingat apa yang terjadi di lapangan. Jadi, sambil observasi berlangsung, kegiatan mencatat juga berjalan beriringan. Jalan keluar yang kedua, bisa dengan bantuan foto.Visualisasi nyata foto membantu penulis memberikan deskripsi yang lengkap mengenai tempat dan perincian suatu lokasi dengan presisi.
  2. Kesulitan membangun dan menerjemahkan suasana yang kita rasakan ke dalam sebuah tulisan yang atmosfirnya juga bisa dirasakan sama persis oleh pembaca. Kata Om Lelaki Bugis, semua tulisan yang kami buat “begitu kering” tanpa suasana yan hadir dalam tulisan. Alasannya kami cenderung meninggalkan deskripsi sebagai suatu yang terbatas oleh apa yang disaksikan oleh mata saja. Walhasil, proses membaca akan menjadi monoton lalu membosankan. Jujur, pada fasa inilah saya mengalami kemandekan yang entah kenapa begitu lama. Saya coba berpikir, bagaimana memulai proses transfer mood- atmosphere-nuance ke dalam suatu tulisan. Saya mencoba mencari literatur mengenai hal ini, tapi konteknya selalu sastra, bacaan fiksi.

    Ada saran yang menarik Leila S. Chudori, penulis novel Pulang dan jurnalis senior Tempo, “Deskripsikan! Hindari kata sifat, deskripsikan apa yang sebenarnya terjadi. Misalnya saya sedih, gambarkan saja apa yang membuat si “saya” ini sedih.

    “Deskripsi bukan hanya asal sebut apa yang kita saksikan. Bukan acara absen benda apa saja yang ada, atau siapa saja yang hadir. Deskripsi adalah seni menggambarkan situasi yang ada: orang, benda, suasana, udara, aroma, hingga perasaan. Tak jarang dalam deskripsi diselipkan metafora”

  3. Selalu merasa belum cukup dengan informasi yang diperoleh. Tentunya, pertama, ini bisa disiasati dengan menyiapkan segala sesuatunya sebelum melakukan observasi. Misalnya, menentukan fokus atau selalu taat pada fokus. Agar, ketika observasi, penulis bisa selalu teringat dengan fokus tulisan dan tidak terpancing melebarkan sudut pandang menjadi tidak terarah.

    Kedua, menyusun daftar pertanyaan wawancara yang sejalan dengan fokus tulisan. Ketiga, melakukan observasi tidak hanya sekali, tapi bisa dua hingga tiga kali. Tidak dipungkiri kita memerlukan proses adaptasi dan penerimaan terhadap masyarakat. Tahapan ini memerlukan waktu yang tidak sebentar, malah bisa jadi waktunya begitu lama. Misalnya dalam produk-produk jurnalistik seperti laporan investigatif, atau penulisan terkait budaya dan sejarah.

Inilah hasil coba-coba tulisan deskripsi yang kami buat. Meski ada kelemahan dari segi suasana, tapi teman-teman telah menunjukkan upaya sebuah penulisan deskriptif yang apik. Logikanya sudah mulai runut meski hanya mengandalkan indera penglihatan. Ke depan, pasti akan lebih baik lagi. Selamat menikmati!

deskripsi2

deskripsi1

Koridor dengan Segala Aktivitasnya (Helmiyaningsi)
Saat mentari menyapa. Saat kuliah pagi akan berlangsung. Saat itulah koridor ini tampak bersih dan tak berpenghuni, yang terlihat hanyalah bangku panjang kosong serta alas kaki yang berserakan. Di saat seperti ini, yang terdengar hanyalah suara tukang parkir yang membangunkan penghuni koridor (sapaan bagi mereka yang tinggal di sekretariat) untuk memindahkan kendaraannya ke parkiran.

Saya ingat sewaktu menjadi mahasiswa baru dulu jika ingin ke Mushollah, saya lebih memilih untuk mengelilingi gedung FIB dibanding harus menyusuri koridor. Meski saya harus berjalan cukup jauh, tapi itu tidak masalah. Lebih baik seperti itu dibanding saya harus bertemu dengan banyak senior di koridor.

Ruang Tunggu Kantor dan Ucapan Terima Kasih yang Tidak Terucap (Hasymi Arif)
Dari semua kesibukan ruang tunggu pagi itu, dia bisa dibilang salah seorang yang paling sering berdiri, berjalan dan juga berlari. Seperti yang terlihat pagi itu, dia menyambut pengunjung yang baru tiba, menanyakan keperluan mereka dan dengan senang hati menjelaskan berbagai macam prosedur yang ada. Dia juga terlihat sering berada di depan sebuah mesin cetak otomatis, menekan salah sebuah tombol pada mesin itu, dan kemudian kertas kecil tercetak berisi nomer antrean.

Dia memberikannya kepada pengunjung, kemudian mempersilakannya menunggu. Kadang juga ada pengunjung yang meminta kursi. Dia kemudian memenuhi permintaan mereka. Dia mengambil kursi, kadang  diangkat, tapi lebih sering diseret, kemudian menyerahkan kursi itu kepada pengunjung. Kadang lagi, dia terlihat terlihat tegesa. sepertinya memenuhi perintah atasan. Dan semua aktivitas itu tidak bisa dilakukannya tanpa berdiri, berjalan, ataupun berlari kecil. Bisa jadi, satu-satunya kesempatan dia untuk duduk adalah pada waktu istirahat.

Dari Tukang Batu, Pengumpul Barang Bekas Hingga Memiliki Mobil (Anna Asriani Muhlis)
2008 Pak Hasan membuka tempat pengumpulan barang bekas seperti botol plastik minuman, plastic ember,  botol kaleng, besi, dan kertas. Lokasinya berada di daerah Antang Raya. Bila berada disekitar Antang tidak jauh dari Masjid Pannara, dikarenakan Antang Raya sekarang satu jalur, maka untuk ke lokasi tersebut harus memutar arah, jadi ketika anda sedang berada di perempatan yang sebelum jembatan Pannara, bila melihat pos polisi maka anda belok kanan sepanjang jalan itu anda akan melihat sebelah kiri pengumpulan barang bekas yang akan nampak barang tersebut dibungkus karung putih, kelihatan tenda biru,sedangkan disampingnya terdapat beberapa pohon, samping kanannya terdapat rumah,  sedangkan didepannya tanah kosong yang dibatasi oleh jalan aspal lokasi menuju Jalan Abdullah Daeng Sirua.

Lelaki tua asal Bulukumba ini merantau ke Kota Makassar pada tahun 1986 yang awalnya bekerja sebagai tukang kayu, lalu ditahun 1989 sebagai gelandangan atau “payabo”. Dulunya tinggal sekitar daerah Perumahan Panakukkang Asindo  yang sekarang berdiri beberapa rumah mewah. Pak Hasan memiliki sembilan anak dan satu istri.

Kedai Kopi (Andi Citra pratiwi)
Tanah berpasir di tepi jalan nampak kering. Butiran pasirnya berterbangan saat angin bertiup. Tapi tak tercium aroma khas tanah, seperti aroma tanah selepas hujan yang selalu memanggil kembali memori masa kecil. Hanya tercium aroma debu bercampur asap kendaraan yang memaksa saya untuk bergegas memasuki bangunan di tepi jalan itu, kedai kopi favorit saya.

Tidak seperti kedai kopi di seberang jalan yang pintunya dibuat tetap terbuka, kedai favorit saya ini mengadopsi konsep in door dengan pintu geser yang selalu ditutup rapat. Cukup sulit membuka pintu geser berbahan dasar kayu itu. Otot lengan harus berkontraksi kuat-kuat, lalu badan harus ikut mendorong ke samping hingga celahnya cukup untuk dilewati. Setelah berhasil meloloskan badan melalui celah yang terbuka secukupnya, saya bergegas ke meja kasir yang hanya berjarak sembilan langkah dari pintu masuk. Setelah memesan segelas coklat dingin dan sepiring pisang goreng keju pada pria berseragam hitam dan berambut gondrong, saya melangkah dengan sedikit terburu-buru, menuju meja di ujung ruangan.

Pasar Kalimbu di Dini Hari (Andi Rahmat Asgap)
Di pagi itu, saat cahaya bulan belum digantikan oleh teriknya matahari saya berjalan di  sebuah tempat, di mana tempat itu dijadikan tempat transaksi sayur-sayuran yang nantinya akan diecerkan oleh pedagang di losnya masing-masing. Mobil-mobil pick up mulai terlihat di emperan toko JL.Veteran Utara, Makassar. Lembaran kol yang berserakan di jalan juga banyak terlihat, transaksi jual beli berlangsung di tempat itu. Kantongan merah dipenuhi oleh sayuran yang mungkin disukai juga oleh kelinci itu dijinjing oleh pemuda mengenakan kupluk dan tas selempang yang melekat di tubuhnya, dan wanita paruh baya yang meletakkan kantongan merah lainnya diatas timbangan sambil menggoreskan pulpen di kertasnya juga terlihat di pagi itu

Pertemuan dengan Idil Fitra (Muh. Sultan A Munandar S)
Duduk di teras masjid, saya nikmati tubuhku meregang karena pegal yang terasa selama perjalanan. Seorang anak lelaki dengan kulit sawo matang, kaos berwarna putih  dan bercelana pendek merah sedikit kumal. Memakai tas selempangan kecil yang selalu di bawanya, muncul dari dalam membawa pembersih lantai. Tangannya yang tidak terlihat kuat begitu lincah terlihat. Aktivitasnya sangat sibuk, saya perhatiakan dengan seksama, begitu lincah membersihkan lantai, kadang harus kembali dari awal lagi kalau ada seseorang yang masuk masjid lalu meninggalkan jejak kakinya, hal kecil di sudutpun tak luput dari matanya. Kaca masjid yang awalnya buram mengkilap seketika. Setapak demi setapak kakinya yang kecil melangkah bagai seorang balerina. Pikirku mungkin anak ini adalah merbot mesjid atau remaja mesjid.

Karena Berbagi Itu Menyenangkan (Herviana)
Ketika melewati sederetan kursi di lantai satu. Terdengar suara-suara tawa. Sesekali terdengar suara percakapan orang-orang yang berkumpul di kursi-kursi itu namun hanya terdengar samar. Setelah melewati sederetan kursi, kami pun belok kiri menuju tangga sekitar dua meter. Setelah itu belok kanan menaiki tangga pertama. Lalu belok kanan lagi menaiki tangga kedua. Taraa.. sampailah kita di lantai dua.

Sesampainya di lantai dua, kami berusaha mencari tempat terbaik untuk duduk bersama. Sementara itu, kemenakan saya lari kesana-kemari memutari deretan sofa hijau yang tertata rapih di bagian tengah. Sementara ada beberapa kursi juga di sebelah kiri dan kanan yang berjarak sekitar satu meter dari kursi hijau itu. Deretan sofa itu berjumlah sekitar enam meja persegi panjang dengan 2 sofa panjang di bagian panjang meja dan dua sofa pendek di masing-masing meja yang di tata layaknya meja makan. Ukurannya sesuai dengan panjang dan lebar meja.

Satu Siang di Perpustakaan (Mujahid Zulfadli AR)
Aroma khas lembar-lembar buku yang dibolak balik segera menyeruap ketika memasuki ruangan perpustakaan. Bau yang selalu saya rindu dimanapun berada. Saya memilih duduk di bangku deretan awal, bersitatap langsung dengan loket. Waktu sudah menunjukkan pukul dua lebih lima menit. Sudah sejak sejam yang lalu, deretan meja bagian depan ini miskin penghuni. Hanya ditempati dua orang pengunjung. Perkiraan saya karena letaknya yang hanya berjarak tidak sampai dua meter dari loket peminjaman dan pengembalian buku. Barangkali orang-orang tidak ingin mendapat gangguan kecil jika para pengunjung melewati bahu-bahu mereka. Sesekali diselingi percakapan antara petugas jaga dan peminjam buku, hal yang normal.

“Rumah” Paling Nyaman di Kampus (Abd Hamid Zainal)
Studio satu yang digunakan sebagai tempat menerima tamu atau hanya sekedar berbincang antarkru dulunya berlatarkan cat warna oranye dan hanya ada tulisan besar EBS yang warnanya mengikuti logo. Namun kini tulisan EBS terlihat lebih kecil dari sebelumnya, disisi kiri atasnya ditambahkan tulisan Since 1988 yang menandakan tahun lahirnya EBS. Menengok ke bawah dari tulisan tersebut,  terdapat tulisan On air didalam kotak persegi panjang berlatar biru dan The starter dengan warna tulisan putih yang berada didalam kotak berwarna merah. Kedua tulisan ini menandakan EBS adalah tempat belajar siaran bagi seorang pemula seperti saya. Masih dari sisi kiri, terdapat gambar kecil piringan hitam lengkap dengan simbol tangga nada dan tak lupa gambar hati.

Rumah Nalar (Rahmawati)
Ruang perpustakaan bercat biru yang terhubung dengan ruang tengah, dihuni oleh jejeran buku-buku genre penelitian, organisasi, dan pengembangan diri. The Sage Handbook of Qualitative Research, terjemahan How to Win Friends, dan Perahu Pinisi, adalah beberapa judul buku yang ada disini. Pekarangan rumah terpampang lewat jendela kayu perpustakaan yang memenuhi dinding selatan tembok, berhadapan langsung dengan pintu perpustakaan.

Melalui jendela perpustakaan, kulihat dua orang perempuan berbaju hitam putih baru saja turun dari motor matic. Mereka saling menatap, tertegun di tempat mereka memarkir motor. Salah seorang di antaranya menggaruk kepala, yang lain mendorong temannya untuk berjalan lebih dulu. Nyaris semenit berlalu dan mereka belum beranjak. Sesekali mereka menoleh ke kiri kanan, sibuk menguat-nguatkan diri, sampai akhirnya mereka berjalan lambat-lambat menuju pintu rumah. Aku hanya tersenyum geli.

Keseharian Seorang Penambal Ban (Irmawati)
Minggu siang itu, saya mendapati ia memakai pakaian yang senada, celana selutut, baju kaos, dan topi yang dikenakan, semuanya berwarna abu-abu. Melihat saya berdiri, ia memberikan kursi yang ia duduki dan mempersilakan untuk menempatinya lalu ia mengambil kursi lain.

Saya pun memulai percakapan dengan menanyakan apakah hari ini sudah banyak pengendara yang ia layani. Ia menjawab bahwa hari ini sedang sepi dan menjelaskan lebih lanjut bahwa jika hari hujan, ban kendaraan jarang ada yang bermasalah. Sambil mengobrol, Pak Irfan mengapit sebatang rokok dengan jari telunjuk dan jari tengah. Sesekali ia menghisapnya sambil terus melanjutkan obrolan.

Kurawat Senyum di Wajah Mereka (Fitriani Ulma)
Matahari dengan terpaan sinarnya menerjang wajah dan seluruh tubuhku. Siang yang cerah dengan udara yang begitu terik terasa. Hembusan angin yang bertiup meruntuhkan dedaunan yang kering. Lima belas menit dengan scooter merah yang kugunakan telah membawaku tepat di depan mereka yang sedang berkumpul menungguku. Mereka yang memenuhi ruang ingatanku akhir-akhir ini. Wajah-wajah yang selalu tersenyum ceria menari-nari di pelupuk mata.

Meraka adalah sekelompok anak yatim. Seorang anak yang tidak memiliki bapak yang harus benar-benar berjuang untuk tetap melanjutkan sekolah dan membantu ibunya bekerja dalam mempertahankan kehidupannya. Mereka yang membuat hidupku menjadi lebih bernilai. Mereka yang membuatku mampu melihat banyak orang khususunya anak yatim dhuafa yang membutuhkan uluran tangan. Mereka membuatku ingin berbagi.

Pasar Senggol di Simpang Jalan Cendrawasih (Baizul Zaman)
Di tempat  inilah lokasi Pasar Senggol yang selalu ramai dibicarakan orang itu berada. Disini harga barang-barang seperti pakaian dan pernak pernik lainnya relatif lebih murah dibandingkan dengan yang dijual di pusat-pusat perbelanjaan seperti Mall atau toko-toko besar yang banyak terdapat di ruas-ruas jalan besar Kota Makassar.

Jika kita melintas pada siang haridi tempat ini,sama sekali tidak tampak ada aktivitas orang-orang yang melakukan transaksi  jual beli. Kita hanya bisa melihat kios-kios kosong tanpa ada barang yang dipajang sedikit pun. Para pemilik kios juga tidak ada disitu. Suasananya pun tampak lengang. Kendaraan bebas berlalu lalang disitu. Saya sendiri, setiap saat melewati tempat itu selalu membayangkan, jika ada orang yang baru berkunjung ke Makassar dan hendak mencari pasar Senggol disiang hari, pasti ia akan kesulitan untuk menemukanya.

Kedai Kopi dan Ceritanya (Tismi Dipalaya)
Siang itu matahari sedang semangat-semangatnya bersinar. Seperti silet yang mengiris-iris kulit ia menyapa. Peluh pun tidak terhindarkan dan membuat saya dan seorang teman menyerah dan memilih untuk menepi. Dari arah Jl. Pengayoman motor kami berbelok ke arah kanan tepat sebelum restoran cepat saji berwarna merah dengan logo seorang lelaki tua berkacamata. Jalan masuk tampak lengang, beberapa orang tampak sedang mengatur deretan kursi dan meja di sebelah kiri jalan. Seorang lelaki berseragam satuan pengamanan di sisi kanan jalan sedang menghisap sebatang rok ok begitu dalam seperti sedang tenggelam di lautan pikirannya. Kemudian ia embuskan kepulan asap pelan-pelan seperti sedang membelai seorang bayi mungil, begitu hati-hati.

Pertemuan: Kelima
Waktu: Jumat / 4 Maret 2017
Pukul: 17.00 – 21.00 WITA
Tempat: Café Brewbrothers Panakukang, Makassar
Materi: Review Tugas (Observasi dan Deskripsi)

atmosphere-literature_250df2253eb0d153

aos.iacpublishinglabs.com

Pertemuan kali ini akan mengupas tentang penulisan deskriptif. Di awal, kami membaca tulisan Mati Untuk Pengingat Mati dari Ruris Hastiani. Tulisan ini didaulat sebagai tulisan deskripsi Kelas Menulis Kepo ketika masih berjalan di angkatan satu. Bagi saya yang tidak terbiasa menggunakan deskripsi suasana dalam tulisan, karya ini memikat sejak pertama kali saya baca.

Pertama, kisah ini menceritakan satu proses kejadian dengan jeli. Alur mundur digunakan untuk menjelaskan seorang laki-laki yang mengantarkan rekannya ke rumah sakit. Masih sehat kemarin-kemarin. Namun di hari itu, ia mendapati tubuh kekar itu terkapar tak berdaya menunggu jantung hidup kembali. Namun bukan sehat yang di dapat, upaya menunda kematian selama dua jam dengan resitusi jantung paru ujung-ujungnya juga kematian.

Kematian memang hal yang biasa, begitu biasanya karena terjadi setiap detik. Di samping karena sebagian besar umat manusia tidak memperdulikannya sebab kematian selalu diiringi dengan kelahiran banyaknya manusia-manusia yang baru. Tapi, seperti kata Joseph Stalin, “cerita sejuta kematian adalah statistik, namun cerita satu kematian adalah sebuah tragedi.” Tragedi inilah yang sedang coba digambarkan Ruris dalam tulisannya.

Kedua, tulisan pendek ini punya pesan semenjak dari judul. Ia meninggalkan paragraf terakhir –tanpa menggurui- untuk selalu mengingat pemutus kehidupan manusia: maut. Ketiga, tulisan ini meski deskriptif, tapi masih disertai penjelasan informatif mengenai istilah-istilah kesehatan dan singkatan asing.

Cuplikan “Mati Untuk Mengingat Mati”:

Seorang lagi berdiri di kepala si Bapak, sebuah sungkup melekat di hidungnya. Dokter terus memompa kantong hijau yang tersambung melaui sebuah selang dengan sungkup tadi untuk mengalirkan udara. Selain jantung, pernafasan si Bapak juga harus dibantu oleh alat dan manusia.

Saya sendiri berdiri di samping emergency trolley (troli untuk meletakkan obat-obatan untuk penanganan pasien gawat dan darurat) bertugas untuk segera menyediakan dan menyuntikkan obat-obatan yang dibutuhkan. Hampir dua jam RJP terus dilakukan. Keringat sudah bercucuran dari petugas yang melakukan RJP. dua kali nadi si Bapak teraba kembali selama proses RJP namun lagi-lagi menghilang. Dan harus kemabli dirangsang dengan memompa jantungnya.

Susana begitu hening saat dokter telah menyatakan kematian si Bapak. Sebuah monitor yang terhubung dengan dada si Bapak melalui kabel berwarna-warni terus berbunyi dan menampakkan garis datar. Lagi-lagi ada kuasa Tuhan di atas segala upaya manusia.

Pria yang menemani masih mematung nampak begitu syok. Tangannya terus memegang handphone menghubungi keluarga si Bapak yang berada di Bandung untuk memberi kabar.

Dia tidak pernah menyangka kejadian seperti ini akan menimpa temannya yang berusia beberapa tahun lebih tua darinya. Mereka datang bersamadalam keadaan sehat. Ia pun mengantar si Bapak kerumah sakit hanya dalam keadaannya yang masih sadar.

Saya sendiri yang dari awal menerima si Bapak di UGD masih sempat  menanyai apa yang ia keluhkan. “Kenapaki’ Pak?” saya menayainya sambil memeriksa nadinya yang sudah begitu lemah. “Sakit” hanya itu yang si Bapak  katakan namun pria yang mengantarnya tadi mengatakan bahwa perasaannya tidak enak. Tangan dan kakinya sudah begitu dingin saat saya sentuh. Tensinya pun sudah tidak terukur. Dokter pun segara mengambil tindakan cepat saat itu. Tak lama, beberapa dokter dan teman perawat sudah berkumpul. Namun lagi-lagi serangan jantung tak butuh waktu lama untuk seorang pasien menjadi tak sadarkan diri. 

Satu tulisan lagi yang punya daya pikat deskriptif, judulnya Persalinan Terakhir oleh Eko Rusdianto. Bagaimana seorang perempuan penyandang disabilitas di Makassar selibat asmara dengan pengayuh becak yang juga merupakan tetangganya sendiri.

Si perempuan menjalani hubungan diam-diam tanpa diketahui keluarganya. Akhirnya suatu ketika terkuak jika ia kemudian hamil. Penderitaan yang ia alami di sepanjang waktu itu membuat dirinya berjanji, “ini yang terakhir kalinya.

Ia menjadi trauma dengan semua hal yang telah lewat. Apalagi, menurut pengakuannya, sang pengayuh becak yang tidak bertanggung jawab pernah berujar untuk membunuhnya jika sampai melaporkan dirinya.

Sama dengan tulisan Ruris, meski tulisan ini jauh menguak lebih dalam, keduanya sangat atraktif menampilkan adegan. Seperti film, dua tulisan ini menayangkan cuplikan dengan deskripsi paling menarik sekaligus paling tragis untuk menggoda pembaca menelisik tulisan hingga akhir.

Berikut beberapa paragraf dari “Persalinan Terakhir”

Sore hari ia bangun dari tidur. Suara kakinya mengentak dari lantai dua. Dengan sepasang kaki yang kecil—akibat penyakit polio yang menyerangnya sedari kecil—ia beringsut menuruni anak tangga kayu dengan tumpuan pantat. Ia tersenyum lebar, dan kita bisa melihat sebagian giginya yang menghitam. Sela bibirnya selalu mengeluarkan air liur.

Nia, perempuan berumur 31 tahun, adalah penyandang tunawicara. Saya menyapanya dan ia hanya tertawa kecil.

Hari itu di rumahnya, di satu kawasan pasar di Makassar, ia terlihat riang. Nazar sembilan bulan lalu, yakni berpuasa selama tiga hari, sebentar lagi tunai.

“Kenapa harus puasa?” tanya saya.

Ia tetap tertawa kecil, lalu mengucapkan beberapa kata yang tak saya pahami. Sejenak berdiri dan berjalan menuju dapur, badannya berguncang hebat, doyong ke kiri dan kanan. Pergelangan tangannya membengkok. Ia membasuh muka lantas menuju pintu kamar mandi.

Kini Nia duduk berhadapan dengan saya. Di dekat kami ada ayunan. Seorang bayi perempuan, berusia sembilan bulan, terlelap di atas ayunan sembari memegang botol dot.

Itu adalah buah hatinya, dengan nama secantik satu bunga yang tumbuh dari wilayah beriklim subtropis. Ketika Nia duduk di dekatnya, sepasang mata si bayi terbuka pelan. Dengan lembut, Nia memukul-mukul kaki putrinya dan terus mengayun. Ketika kaki mungil si bayi menjenjang dan bergoyang, seakan hendak tengkurap, derai tawa sang ibu terlepas.

Si bayi terbangun dan menangis.

Nia kesulitan merangkul buah hatinya dalam ayunan. Apriani, tantenya, dengan segera menyudahi diri melipat pakaian. Ia menuju si bayi, menggendong dan menenangkan dalam dekapan. Nia berada di sampingnya dan mengelus kaki putrinya dengan lembut.

Kecuali mungkin untuk Nia, keluarga terdekat tak menyangka ponakannya bakal hamil.

***
Menurut Lelaki Bugis, tulisan yang baik adalah tulisan yang mampu menghidupkan suasana sehingga dapat menyeret pembaca ke dalam situasi hidup dalam tulisan. Demi menghidupkan nuansa dalam tulisan, tidak ada jalan lain kecuali: deskripsikan.

Nah, sebelum menuangkan hal-hal detil, tentunya penulis harus melakukan observasi. Observasi merupakan kegiatan pengamatan yang bertujuan untuk mendapatkan informasi.

Dengan mendatangi sebuah tempat, mengamati seseorang, atau menceritakan sebuah peristiwa, lalu tinggal sejenak melakukan pengamatan, penulis memperoleh setidaknya tiga manfaat: bisa memperoleh data tanpa komunikasi verbal, tidak menggantungkan data dari ingatan seseorang, dan paling penting ialah penulis bisa mencatat hal-hal sewaktu peristiwa berlangsung.

Observasi itu, bisa sekali dan bisa juga dilakukan berulang-ulang. Utamanya jika ada detail yang belum lengkap. Biasanya, observasi yang lebih dari sekali berguna untuk meng-kroscek (mengonfirmasi) sesuatu yang belum begitu jelas. Begitu penjelasan kak Ikko.

Showing not Telling. Meninggalkan banyak kata-kata sifat dalam tulisan tidak akan memberikan gambaran nyata suasana dan detil yang dideskripsikan. Sebaliknya justru membuat pembaca membayangkan hal yang sebenarnya tidak mengarah tepat ke sasaran objek. Mengumpamakan deskripsi itu seperti membayangkan sebuah segitiga terpancung. Bagian paling atas merupakan detil-detil kecil (khusus) yang semakin lama ke bawah semakin besar (ide umum)/

Deksripsi membuat pembaca turut membayangkan apa yang kita rasakan dan saksikan saat menyaksikan objek/suasana yang telah kita garap. Itulah tujuan menulis deskriptif.

Mendeskripsikan karakter tokoh juga membutuhkan deskripsi yang lugas dan tegas. Demi mendapatkan keterangan jelas mengenai tokoh, penulis sebaiknya tidak hanya mencukupkan diri dengan observasi. Tapi juga melakukan riset (bertanya, mencari bahan tulisan) dan wawancara untuk mendapatkan nuansa humanis dari tokoh yang sedang dibincangkan.

Langkah dalam menulis deksripsi ialah sebagai berikut:

1. Memilih hal yang ingin dideskripsikan. Bisa jadi itu sebuah orang/tokoh/karakter, tempat, benda, dan suasana.
2. Memperkenalkan hal yang ingin dideskripsikan
3. Melibatkan panca indera. Kemudian transfer apa yang kita lihat-dengar-rasakan-baui-sentuh pada sebuah kalimat apik.
4. Menggunakan perumpaan/asosiasi jika ada hal-hal yang sulit dijelaskan dengan gamblang.

Namun, di balik semua aturan itu, ada garis yang tidak boleh sama sekali dilanggar. Apa itu? don’t make an assumption, judgement, and conclusion.  tidak melakukan asumsi, tidak melakukan pelabelan, dan tidak membuat kesimpulan. Satu-satunya garis yang harus dipatuhi ya hanya satu ini: giring pembaca ke dalam suasana.

Kita coba mengambil contoh dari karakter Nyonya Pho dalam novel Sang Pemimpi, tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata.

Nyonya Pho bertubuh tinggi besar. Rambutnya tebal, disemir hitam pekat dan kaku seperti sikat. Alisnya seperti kucing tandang. Bahunya tegap, dadanya tinggi, dan raut mukanya seperti orang terkejut. Sesuai tradisi  Hupo, ia bertato, lukisan naga menjalar dari punggung sampai ke bawah telinga, bersurai-surai dengan tinta Cina. Bengis, tega, sok kuasa, dan tak mau kalah tersirat jelas dari matanya…

Nyonya Lam Nyet Pho, turunan prajurit Hupo, semacam capo, ketua preman pasar ikan. Ia pemilik gudang ini dan penguasa 16 perahu motor. Anak buahnya ratusan pria bersarung yang hidup di perahu dan tak pernah melepaskan badik dari pinggangnya. Beperkara dengan nyonya ini urusan bisa runyam….

Pendeskripsian di atas sudah membuat kita bisa membayangkan bagaimana garangnya sosok Nyonya Pho. Alih-alih mengatakan “sangar” dan “bengis” pada dirinya, Andrea Hirata justru meninggalkan banyak penanda dan bukti-bukti otentik tentang Nyonya Pho, bahwa ia memang sosok yang keras.

Deskripsikan lebih jauh

Pada pertemuan ini, para pembagi ilmu yang hadir terutama Om Lebug dan Kak Ikko menyajikan beberapa tulisan yang bisa dijadikan referensi untuk menulis deskripsi dan suasana.

1. Makassar dalam Mie, Anna Asriani Muhlis
2. Suatu Sore Bersama Manz Zelmerlow, Kak Ikko
3. For Whom Metallica Sings, Om Lebug
4. Kota yang Layak Untuk Adi, Andi Arifayani

Setelah kelas pun, diskusi juga masih dilanjutkan di platform online. Om Lebug selaku penjaga sekolah menginisiasi membuat notes di grup media sosial tentang tulisan-tulisan layak baca bagi peserta Kelas Menulis Kepo Empat. Khususnya mengenai tema pertemuan sore itu, deskripsi.

Jika kami minta lebih, tentunya bisa lebih panjang lagi daftarnya. Tapi, saya pikir, lebih baik kami mencukupkan diri dengan apa yang ada di depan mata, dan mulai mempraktekkan apa yang sudah kami pelajari. Teman-teman yang juga kepingin belajar, sila dicermati beberapa postingan di bawah ini. Enjoy!

Tulisan Ipul Dg. Gassing (penjaga sekolah): berisi tentang bagaimana membuat tulisan yang runut dan deskriptif tentang sebuah perjalanan (travel writing)

1. Semalam di Tulehu
2. Bertemu Jalan Putus di Mamuju

Tulisan-tulisan deskripsi Nurhady Sirimorok. Ia termasuk yang cukup hebat dalam jajaran pembagi ilmu di Kelas Menulis Kepo. Menulis di blog merupakan sampingannya selain pekerjaan utama sebagai peneliti, penerjemah, fasilitator masyarakat, dan editor.

1. Jendela Gerak dan Sejarah
2. Ketika Media Massa Melongok Orang Desa
3. Pelajaran Pertama Tentang Berkarya

Tulisan-tulisan lain dari laman ‘Pantau’ dan ‘Panajournal’:

1. Kopi Terakhir di Kebagusan (karya feature)
2. Semalam di Cimiring
3. Namaku Bre Redana

Tugas: Mendeskripsikan Suasana di sebuah lokasi yang jamak ditemui sehari-hari. Pengambilan lokasi yang familiar di gunakan untuk mempermudah melakukan kunjungan lebih dari satu kali jika dibutuhkan melakukan observasi ulang. Barangkali ada data atau wawancara yang masih dibutuhkan demi keutuhan satu rangkaian tulisan/cerita.

*Catatan Kelas Menulis Kepo Angkatan IV Pertemuan Keempat
Waktu: Jumat 24 Februari 2017
Pukul: 17.00 – 21.00 WITA
Tempat: Café Brewbrothers, Panakukang Makassar
Pembagi Ilmu: Ruris Hastiani, Lelaki Bugis, Tari Artika